Nonton film!!!

Hai, kembali lagi dengan refleksi baru di blog ini! Hehe

Tanggal 12 Maret 2020 hari Kamis lalu, aku dan Aruna pergi ke markas Jaladwara dan menonton 5 film tentang nelayan sekaligus! Sungguh hari yang produktif ya :b

Kami menonton film dari Kampung nelayan di Jambi, nelayan ikan malung yang mencari gelembung udara, nelayan teripang di Makassar, nelayan di Teluk Jakarta, sampai nelayan perempuan di Demak. Dan jujur, aku dapat banyak sekali informasi baru setelah menonton! Seperti,

Mengukur dengan Depa

Dari video yang kami tonton, ada 2 nelayan berasal dari Makassar dan Jakarta yang mengukur kedalaman laut dengan Depa. Saat menonton aku sudah sempat menghitung kalau 3 depa = 5 meter, jadi 1 depa sekitar 1,7 meter.

Resiko Besar Nelayan Ketika Menyelam Menggunakan Kompresor

Ketika menonton, jujur aku sangat kaget dan bingung. Apa ya alasan kuat mereka untuk tetap melakukan penyelaman terutama dengan kompresor? Padahal sudah jelas bahwa itu sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Apa tidak ada keinginan untuk menangkap kekayaan laut lain?

Gelembung Ikan

Gelembung ikan yang berfungsi untuk membantu ikan mengapung ini juga baru aku ketahui ….. harganya juga baru tahu. Penasaran sih sama rasanya!

Peralatan Yang Dibuat Sendiri Untuk Menyelam

Cukup kaget sih dengan ini, apalagi dengan ‘regulator’ yang terlihat terbuat dari bungkus kaleng. Apakah itu higienis dan aman? T.T

Nelayan Perempuan Indonesia di Demak

Gelembung ikan yang berfungsi untuk membantu ikan mengapung ini juga baru aku ketahui ….. harganya juga baru tahu. Penasaran sih sama rasanya!

Semua perjuangan awal mereka dimulai dari Ibu Masnu’ah, pendiri Puspita Bahari. Sebuah organisasi penggerak nelayan Indonesia. Beliau berhasil membuat 31 nelayan perempuan di Demak diakui statusnya sebagai seorang nelayan perempuan dan memiliki perlindunga dari negara.

Perjuangan Ibu Masnu’ah menurutku sangatlah keren. Tidak semua manusia bisa berani berjuang dengan penuh kesabaran sepertinya. Mengajak dan memberi tahu perempuan-perempuan atas hak mereka untuk belajar, berorganisasi, dan dilindungi negara.

Semoga kedepannya aku juga bisa seberani Ibu Masnu’ah!

RISET

Suku Duano

Suku Duano banyak bertempat tinggal di daerah Pantai Timur Jambi, Kampung Nelayan, Tanjung Jabung Timur. Di Kampung Nelayan ada berbagai macam suku yang tinggal di sana seperti suku Bugis, Melayu, Jawa, Sunda, Banjar, Minang, Madura, dan juga Duano.

Tradisi Sumbun yang dilakukan setahun sekali pada bulan April-Juni awalnya hanya dilakukan oleh Suku Duano secara turun menurun, yang kemudian dilakukan juga oleh warga suku lainnya di Kampung itu. Tradisi Sumbun mempunyai filosofi dan mengajarkan agar ramah dan menghormati laut.

Dari sisi populasi, Suku Duano yang menetap di daerah ini terbilang tidak begitu banyak, kurang dari 100 kepala keluarga, atau setara kurang dari 400 jiwa. Dan mayoritas pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan penangkap ikan laut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Duano_di_Tanjung_Solok

https://www.liputan6.com/regional/read/2514744/tradisi-unik-suku-duano-di-tepi-sungai-jambi

Gelembung Udara Ikan

Gelembung Udara Ikan memiliki fungsi penting bagi ikan yaitu, membantu untuk mengapung sehingga tidak harus berenang terus menerus untuk mempertahankan posisinya di air. Ikan yang tidak memiliki gelembung ikan adalah ikan yang tinggal di laut dalam dan ikan yang memiliki tulang rawan.

Gelembung ikan harganya sangat fantastis karena sumber kolagennya tinggi dan dipercaya dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Di China, gelembung ikan dikenal sebagai makanan mewah yang dibuat sup.

Gelembung Ikan yang paling mahal adalah yang diambil dari Ikan Gulama yang ditemukan diperbatasan Papua Nugini dan harganya mencapa Rp300.000.000,-

Harga gelembung ini juga dipengaruhi oleh jenis kelamin ikannya. Bila jantan pinggirnya akan cenderung berbentuk tipis tapi tengahnya tebal. Kalau betina cenderung tebal tapi tengahnya sedikit. Maka dari itu, harga gelembung jantan lebih tinggi harganya daripada betina.

https://www.agronet.co.id/detail/indeks/info-agro/2998-Gelembung-Ikan-Isi-Perut-yang-Mahal-dan-Kaya-Manfaat

https://news.detik.com/berita/d-3547089/menjala-ratusan-juta-rupiah-dari-gelembung-ikan-di-merauke

Menyelam Menggunakan Kompresor

Menyelam menggunakan kompresor terbilang sangat berbahaya karena tidak adanya filter kompresor. Gas karbondioksida yang dihasilkan mesin kompresor dihirup langsung oleh nelayan sehingga mengakibatkan racun masuk ke tubuh dan menyebar.

Dari penilitian yang dilakukan oleh media.neliti.com di Kabupaten Seram, Maluku terbilang bahwa

‘Semua responden yang menggunakan kompresor pernah mengalami kecelakaan. Sedangkan responden yang tidak menggunakan kompresor hanya 78% yang pernah mengalami kecelakaan. 46.2% responden yang menggunakan kompresor, pernah mengalami perdarahan. Pada responden yang tidak menggunakan kompresor, hanya 8.3% yang pernah mengalami perdarahan. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa pemakaian kompresor ada kecenderungan mempengaruhi kejadian perdarahan.’

Ada juga ‘Decompression Sickness’ yang terjadi karena perubahan tekanan udara dari yang normal ke tinggi dengan sangat cepat. Sehingga organ seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh darah tidak dapat menyesuaikan.

https://kumparan.com/kumparannews/bahaya-menyelam-menggunakan-kompresor-lumpuh-tuli-hingga-meninggal

Kerang Hijau Di Teluk Jakarta

Dari hasil penilitian Validnews Oktober 2019 di Teluk Jakarta, ditemukan bahwa kerang hijau mengandung cukup banyak logam berat di dalamnya. Hewan ini memang memiliki kemampuan menangkap logam berat dan tak memiliki organ hati untuk menghancurkan racun. Sehingga semua ditampung di dalam dagingnya.

Dikutip dari Etty Riani, seorang Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di IPB University. Beliau mengatakan bahwa kerang hijau punya manfaat biofilter ketimbang dijadikan santapan dan bisa dimanfaatkan untuk penyerapan B3 di perairan Jakarta.

Rata-rata kandungan merkuri (Hg) dalam kerang hijau di Teluk adalah 63,10 ppm dan batas maksimum logam berat dalam olah pangan yang dikeluarkan BPOM berkisar antara 0,01-1,0 ppm.

Tambahan menjawab pertanyaan kemarin di markas, ‘Mau gak makan kerang hijau Teluk Jakarta?’

tidak terimakasih, madam :p

Budidaya Teripang

Budidaya Teripang dilakukan untuk melestarikan tripang yang terancam punah. Mengingat bahwa Teripang adalah biota laut yang memiliki harga yang tinggi, membuat orang-orang berbondong-bondong mencarinya.

Budidaya teripang biasanya dilakukan oleh masyarakat di pesisir pantai karena dibutuhkan lokasi budidaya yang terjangkau airnya. Proses pembesaran teripang sampai panen biasanya 4-5 bulan dengan berat 300-500 gram per ekor. Makanan teripang adalah plankton yang ada di perairan. Nah, agar plankton tumbuh subur diberi kotoran ayam yang dicampur dengan dedak halus dan air.

Panen dilakukan saat air surut dan dilakukan berkali-kali karena teripang akan turun dengan lumpur dan kembali naik saat air kembali.

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/terancam-punah-riset-teripang-terus-dikembangkan

https://news.kkp.go.id/index.php/budidaya-teripang-dengan-kurung-tancap/

Perjalanan Makanan Laut

Latihan membuat Photo Story!

Kami melewati sebuah warung di sudut jalan Gang Kates. Karena melihat seseorang tengah melakukan sesuatu, kami memutuskan untuk mampir sebentar.
Ternyata setelah kami bertanya, si ibu ini sedang mengupas kacang!
Nah, karena jempolnya sudah tidak kuat, si ibu ini menggunakan ‘alat bantu’. Yap! Palu berwarna hitam itu yang membantunya untuk mengupas kacang.
Ini adalah saat kulit kacang ‘dipalu’ pelan sampai hancur.
Kemudian biji kacangnya diambil dengan tangan dan pisahkan dengan kulit.
Si ibu berkata bahwa kacang-kacang tadi akan digoreng. Digoreng untuk apa? Hmm nah itu, aku kurang tau. Namanya saja lupa bertanya ㅠㅠ tapi sukses terus untuk ibu!
Kemudian kami lanjut berjalan sampai melewati sebuah sekolah. Di depan sekolah ini terlihat hanya ada satu penjual saja, yaitu si ibu penjual bakso tusuk ini.
Ibu ini bercerita bahwa ia baru datang setelah hujan agak reda. Hm, momen yang pas banget ya disaat dingin-dingin setelah hujan makan bakso!
Sewaktu berada di sana, si ibu ini sangat ramah. Ia memperbolehkan kami memotret dan tak jarang menunjukkan senyuman.
Sukses terus untuk ibu! Kapan-kapan pengen coba baksonya deh 🙂

Kenali Sekitar 2.0 OwO

Hai, kembali lagi dengan tantangan baru! UwU

Kali ini aku melakukan tantangan yang pernah aku lakukan sebelumnya lhooo, hehe. Yap! Seperti yang kalian bisa baca di judul, aku mengelilingi rumahku beradius 2 KM. Dan kali ini, aku melakukannya dengan Aruna (di hari Jumat)! Kalian bisa cek blognya (wanderlust-soul01.blogspot.com). Kira-kira siapa aja yang aku ajak bicara yaaa? Selamat membaca!

Kamis, 27 Februari 2020

Pagi itu, aku memulai perjalanan jam 9 pagi dan matahari sudah bersinar terik. Awalnya agak bingung sih mau tanya-tanya ke siapa. Harusnya sih lebih percaya diri ya, kan udah pernah :b perasaanku juga seperti itu. Rasanya lebih percaya diri aja gitu, lebih yakin. Tapi, masih bingung mau mulai gimana wakaka. Pikiranku sih ingin bertanya ke orang yang memiliki warung. Karena pada Kenali Sekitar 1.0 kemarin, aku sudah bertanya kepada 2 orang petani.

Entahlah, aku ingin saja membuat obrolan santai dengan pemilik warung sambil duduk-duduk menikmati XD. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti di sebuah warung setelah berkeliling singkat.

Aku duduk, memesan segelas es teh dan mulai berpikir bagaimana caranya memulai obrolan. Mungkin setelah beberapa menit, kami memulai obrolan dari jam buka warung.

Warung Azriel

Usut punya usut ternyata Azriel merupakan nama dari anak pertama bapak pemilik warung, Pak Arip. Beliau berasal dari Kuningan, Jawa Barat dan pindah ke Jogja tahun 1999 setelah bersekolah. Beliau pindah ke daerah Ngaglik kurang lebih bulan Desember 2019 dan langsung memilih membuat warung ‘Indomie’.

Sebelumnya, beliau berjualan ketoprak di daerah Godean. Tapi pindah karena lingkungan yang menurutnya ‘Buruk’.

‘Ada yang ternak babi didekat warung, aromanya tercium’ kata Pak Arip. Karena melihat adanya tempat ‘nganggur’ dari internet, beliau memilih untuk pindah dan memulai bisnis baru ini dengan istrinya.

Istri beliau orang Jawa Barat juga, di Cikarang tepatnya dan bekerja di sebuah restoran disana. Pindah ke Jogja setelah menikah dengan Pak Arip 2 tahun lalu.

‘Belum sempat ambil gerobaknya mbak, lagipula masih musim hujan. Susah’ jawab beliau ketika aku bertanya kenapa tidak berjualan ketoprak lagi. ‘Padahal belum ada yang jualan ketoprak ya mbak di sini’ lanjutnya.

Orangtua beliau juga mempunyai bisnis sebagai ‘Pemborong buah’ dan setelah anak-anaknya dibekali, nformasi tentang berbisnis, mereka mengikuti jejak orangtuanya untuk berjualan. Pak Arip memiliki 7 saudara. Salah satunya meninggal dunia, 5 memilih membuat warung di Jogja, dan yang 1 bekerja di Jakarta. ‘Kalau saya sih pernah berkunjung ke Jakarta, cuma gak kuat mbak. Perasaannya beda’ kata Pak Arip.

Kelima saudara beliau yang berada di Jogja juga membuka semacam warung layaknya Pak Arip, hanya target konsumennya saja yang berbeda karena warungnya terletak di dekat UGM, UPN, dan Sanata Dharma.

Beliau rupanya telah berkeliling Jogja ketika pertama kali datang, kata beliau karena kerja dan harus ikut orang. Dari daerah Gejayan ke UGM dan beberapa daerah lainnya. Tapi, Pak Arip bercerita betapa tidak sukanya beliau untuk kerja ikut dengan oranglain. ‘Capek mbak. Dikejar terus’ kata beliau. Dari situlah, Pak Arip memutuskan membuat bisnisnya sendiri.

Warungnya dibuka dari jam 05.00-24.00 setiap harinya. Pergi berbelanja ke Pasar Gentan pukul 6 pagi dan dilanjutkan dengan memasak untuk warung. ‘Enaknya sih, bisa sambil di rumah. Kalau capek, ada anak’ kata beliau.

Beliau kemudian bercerita kenapa memilih menjadi penjual, beliau bercerita bahwa dari kecil sudah diajarkan bahwa penjual itu mulia. ‘Kalau butuh apa-apa pasti kan nyari penjual tho mbak’ lanjutnya.

Beliau juga rupanya tidak menghitung pengeluaran dan pemasukan. Ketika berbelanja, ya membeli sesuai kebutuhan saja. Pusing katanya kalau dihitung semua. Nah, ini yang kebanyakan aku lihat dari pedagang sekitar rumah. Mereka jarang sekali menghitung keuntungan/kerugian! Ya, karena suka dan bisa saja. Yang penting uang tetap ada. Keren yak!

Jumat, 28 Februari 2020

Pagi hari jam 10, aku berjanjian dengan Aruna untuk melakukan tugas ini bersama. Kami membuat janji untuk bertemu di depan masjid seperti biasa. Setelah sekitar 5 menit kepanasan di bawah matahari ^^ akhirnya Aruna datang. Dan kami memulai eksplorasi!! Tujuan kami pertama adalah Pasar Gentan!!!

Jamu Di Pasar Gentan

Setelah sekitar beberapa menit berkeliling pasar, kami bertemu dengan deretan penjual dawet dan jamu. Aku pun memulai percakapan dengan bertanya ‘Jamu ya bu?’ yang kemudian dibalas dengan sangat ramah ‘Iya nok, tapi udah habis’.

Waaahhhh, kami langsung bertanya dari jam berapa si ibu mulai berjualan yang ternyata dimulai dari jam 7 dan jam 11 pasti sudah pulang. Kami lalu berkata akan datang besok untuk mencicipi jamu Ibu Atun.

Ibu Atun ini rumahnya di utara Universitas Islam Indonesia, jadi lumayanlah ya dari Pasar Gentan. Dulu sempat jualan di Pasar Sleman tapi pindah ke Pasar Gentan lebih dari 10 tahun yang lalu. ‘Kalau di Pasar Pakem udah banyak mbak soalnya’ kata Ibu Atun.

Ternyata oh ternyata … di Pasar Gentan yang jualan jamu hanya 2 lho! Yang satunya lagi berasal dari Pakem. Kami tidak bertemu sih, sayangnya. Karena si penjual jamu tersebut sudah pulang.

Bisnis jamu Ibu atun ini ternyata sudah turun temurun dari simbah, jadi ada resep tersendiri katanya. Jamu yang dijual ada kunyit asem, beras kencur, dan uyup-uyup. Bahan-bahannya beliau beli sendiri di Pasar Beringharjo sekitar sebulan sekali, jadi langsung beli banyak dan bisa mencapai 5 juta. ‘Ongkos kesananya juga lumayan, kan harus naik mobil’ kata beliau.

Satu hal yang membuatku kaget adalah, beliau ternyata menggunakan aplikasi Gojek lho setiap harinya, dari rumah ke Pasar Gentan. ‘Nggak bisa naik motor e mbak’ merupakan alasan kenapa si ibu tidak menggunakan motor sendiri. Beliau dikaruniai 2 anak dan keduanya merupakan laki-laki. Yang besar belum menikah dan yang kecil masih kuliah. ‘Susah mbak, nek lanang‘ curhat Ibu Atun ketika kami tanya akankah diturunkan resep jamunya.

Ibu Atun mulai membuat jamu sekitar pukul 2 atau 4 pagi. Jadi, memang fresh setiap harinya. Bahkan kalau jamu botolan, kalau ada pembeli berniat menunggu, akan langsung dibuatkan oleh Ibu Atun ditempat.

Oiya, Ibu Atun kadang masih menumbuk kunyit sendiri lho. Meskipun berat dan capek tapi rasanya lebih enak. Sekali numbuk bisa 2 KG. ‘Kalau pakai blender kan berair tho mbak, jadi beda’ kata beliau.

Sayangnya, karena kami datang agak siang jadi belum bisa merasakan. Dengar dari cerita Ibu Atun sih, langganannya ada banyak. Terutama perempuan atau ibu menyusui.

Ketika kami tanya kenapa memilih berjualan jamu, Ibu Atun menjawab dengan berkata bahwa sudah menjadi keahliannya membuat jamu, sebenarnya ada peluang untuk hal lain tapi sekalian juga ingin melestarikan tradisi dan pengobatan tradisional. ‘Lha dokter, perawat sekarang juga minum jamu kok mbak’ lanjut Ibu Atun.

Selain jamu, Ibu Atun juga menjual barang-barang titipan orang. Seperti sabun mandi, jamu instan, lulur, dan madu. Kata beliau kalau jualan sekarang tetap harus ada jualan sampingan selain jamu. Mungkin untuk menambah pemasukan juga ya.

Kami juga sempat bertanya tentang masalah modal dan pemasukan ‘Pusing mbak, nek dihitung’ jawab beliau. Memang begitu kah ya? Jarang ada orang menghitung masalah modal dan pemasukan, apalagi kalau itu bisnis pribadi. Yang penting uang ada.

Setelah itu, kami pamit dan berjanji akan datang besok untuk mencicipi jamu Ibu Atun.

Aku dan Aruna kemudian melanjutkan perjalanan berkeliling-keliling sekitar!!

Terimakasih sudah membaca!

DENAH

Nonton Film!

Hai! Gya kembali lagi dengan tantangan di Ekspedisi Remaja 2.0 wihiiiiii. Di ER 2.0 ini kami mempunyai tema lhooo …. yaitu tentang Masyarakat Pesisir dan Perikanan! Maka dari itu, kami memulainya dengan membaca sebuah makalah milik mahasiswa ITB tahun 2018, Adam Irwansyah Fauzi dan menonton film dari Ekspedisi Indonesia Biru berjudul ‘Huhate’.

Nah, dari film ada beberapa hal nih yang bikin aku kepo! Aku list saja ya.

  • Jika mereka bertemu nelayan asing, apa tindakan pertama yang mereka lakukan?
  • Apakah ‘Fish Finder’ yang digunakan adalah bagian dari subsidi pemerintah?
  • Ada gak sih koperasi nelayan di Tomalou, Maluku Utara? Jika iya, apakah membantu?
  • Ada tidak sih bahan bakar selain solar?

Sekarang waktunya, opiniku ~~

  • Keren Nelayan di Tidore menolak menggunakan Cantrang karena dapat merusak lingkungan. Mengingat bahwa memancing menggunakan Cantrang lebih mudah.
  • Selain kemarin membahas tentang kurangnya koordinasi pemerintah dengan pemerintah daerah, aku menemukan sebuah komentar dari video tentang masalah korupsi daerah yang masih merajalela sehingga dana tidak sampai ke nelayan. Hm, susah juga kalau seperti ini. Sebaiknya pemerintah punya cara untuk memastikan bahwa dana bisa sampai.
  • Oiya, dan seharusnya tepat pada kebutuhan nelayan di masing-masing daerah!
  • Aku sudah baca tentang adanya BaKamLa atau Badam Keamanan Laut Republik Indonesia. Yang ternyata terdapat banyak tersangka korupsi bahkan diawal tahun baru ini. Wow, aku tidak kaget. Padahal kalau ini bisa dimaksimalkan akan berperan besar bagi negara ini. Jadi, ketika nelayan lokal bertemu/melihat kapal asing mengambil ikan bisa langsung menghubungi.
  • Setelah membaca tulisan milik Kumparan, aku baru tau bahwa masyarakat Tomalou sebagian besar merupakan nelayan dari jaman dahulu. Dan hanya sebagian kecil yang bertani. Berarti memang sudah turun menurun ya.
  • Nah, setelah ikan-ikan hasil tangkapan didaratkan, yang perempuan mempunyai pekerjaan mengambil hasil ikan (biasa disebut dibo-dibo). Setelah mengetahui itu, aku malah jadi penasaran ada gak sih perempuan yang bekerja diatas kapal atau berlayar? Mungkin ada tapi menggunakan kapal tradisional ya.

Refleksi nonton film :

Menurutku filmnya menarik! Aku jadi lebih tau tentang bagaimana nelayan berlayar, apa saja yang perlu disiapkan, dan yang paling mengejutkan adalah modalnya yang sangat besar! Aku penasaran sih kenapa mereka tetap bertahan menjadi nelayan. Bayangkan saja berapa usaha yang sudah dikeluarkan dengan upah mereka yang bahkan tidak tentu.

Refleksi baca makalah :

Hm, aku membaca makalah di pagi hari dengan menghiraukan berbagai macam kesalahan penulisan yang ada. Kemudian, aku membacanya ulang dengan Aruna dan kami berakhir kebingungan bersama. Ya, tulisannya penuh dengan typo atau kesalahan penulisan. Bahkan ada paragraf yang tidak selesai. Ada juga, informasi-informasi yang tidak valid dan aneh. Mungkin ini juga reaksi kakak-kakaknya membaca tulisanku sih :b tapi terlepas dari itu, memang ada beberapa informasi baru. Seperti pengelompokan berat kapal, Gross Ton).

Referensi:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51202794

https://news.detik.com/berita/d-4859223/kpk-tahan-tersangka-kasus-korupsi-proyek-bakamla/1

https://kumparan.com/ceritamalukuutara/pengalaman-kala-berkunjung-ke-tomalou-kampung-nelayan-di-tidore-1sZ6Gj4d1vL

Sekian, pembahasan awal tentang nelayan. Terimakasih sudah membaca!!

Sesuatu di Dusun Sumber

Haiiii, Gya disini setelah menyelesaikan jurnal lima hari kemarin! Hehe. Nah, kali ini gilirannya untuk membahas salah satu topik yang aku temui disana dan yang menurutku cukup menarik. Topiknya adalah ….

Membuang sampah sembarangan

Gemes banget aku, ketika melihat orang-orang tidak membuang sampah pada tempatnya. Padahal itu adalah hal yang paling simple untuk dilakukan! Huft, kenapa orang-orang tidak ada rasa bersalahnya ya? Atau bahkan terpikirkan akibat setelahnya?

Sewaktu aku pergi ke Dusun Sumber, aku berkenalan dengan beberapa anak disana. Saat kami sedang mengobrol/berbaur, tiba-tiba saja salah satunya membuang bungkus es krim yang telah selesai ia makan ke selokan. Dibuang dengan cueknya. Langsung saja, aku dan Aruna tegur tanpa ragu.

Itu jika ada kami, lalu kalau biasanya gimana ya? Apakah ada yang menegurnya juga? Hmmm, terkadang bingung juga sih, kenapa bisa kebanyakan orang melakukan hal seperti itu padahal justru tinggalnya dekat dengan alam. Karena faktanya, salah satu tetanggaku juga ada yang memiliki kebiasaan seperti itu. Sering sekali membuang di selokan kecil (atau got) yang letaknya di sebelah sawah. Padahalkan seharusnya ia tau bahwa itu juga sumber air untuk petani.

Kenapa ya? Kalau aku pikir-pikir lagi sih, orangtua berperan penting banget dalam hal ini. Untuk menjaga dan mendidik anak-anak mereka untuk memiliki lifestyle hidup yang bersih.

Tapi faktanya lagi, masih banyak dari mereka yang membuang sampah di sungai! Suatu pagi saat kami hendak berjalan-jalan mengelilingi Dusun Sumber, kami berpapasan dengan seorang ibu yang hendak pergi ke sungai dengan sebuah ember hitam penuh. Kami menyapa dan bertanya ‘Mau kemana bu?’ Dan dijawab ‘Ke sungai mbak, mau buang sampah’ dan langsung melanjutkan aktivitasnya.

Dari 5 hari ku berada disana juga, sepertinya warga memang mengurusi sampahnya masing -masing, tidak ada yang namanya ‘Pengambil sampah’ yang datang ke rumah-rumah warga. Dan Bank Sampah yang dulu sempat ada, juga berhenti beroperasi karena masyarakat yang kurang berkontribusi. Berarti memang, mau tidak mau harus mengurus masalah sampah sendiri, kan?

Mungkin karena kurangnya informasi dan kesadaran diri itu tadi, yang membuat warga membuang sampahnya di sungai atau mungkin membakarnya. Ada tiga kemungkinan sih kenapa itu masih dilakukan (menurutku),

1. Males ribet

Indonesia banget ini …. tapi, kalau aku lihat lagi ya. Membuang sampah bagi orang indonesia kan umumnya memang hanya ‘Memasukkan semuanya dalam sebuah kantong plastik’ tanpa memilah, tanpa tau apa itu 3R atau bagaimana melakukannya. Mereka, sudah terbiasa dengan hanya membuang/membakar.

2. Kurangnya informasi

Nah, ini juga. Warga-warga tidak tau apa akibatnya nanti dalam jangka panjang setelah membuang sampah di sungai atau membakar sampah. Yang mereka ketahui adalah, sampahnya sudah hilang dari penglihatan mata mereka. Padahal sampah tersebut masih tetap akan ada wujudnya, bahkan sampai beratus-ratus tahun ke depan.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi juga. Telepon pintar seharusnya bisa mengatasi permasalahan ini. Apalagi ditambah adanya Televisi dan koran. HHHhhHHH

Atau seharusnya langsung dilakukan aksi nyata dari sebuah lembaga? Layaknya di kota-kota besar. Karena setelah aku membaca sebuah artikel milik Bapak Hamdani tahun 2018 di Kompasiana, aku baru sadar bahwa industri-industri besar melakukan program peduli lingkungan hanya di kota-kota besar saja untuk diliput atau dengan kata lain #pencitraan.

Tapi, sebenarnya ya … yang paling penting itu adalah

3. Kepekaan dan rasa sayang terhadap lingkungan dari diri sendiri

hahahaha ini kenapa jadi cheesy begini??

Kebanyakan mungkin juga sudah mengetahui apa yang terjadi dengan dunia. Tapi, tidak memiliki niat untuk melakukan apapun. Hmmmmm, susah juga kan?

Kalau sudah sampai seperti ini, menurutku sebaiknya RT/RW/Desa melakukan program Peduli Lingkungan untuk seluruh warganya. Karena peran penting dipegang oleh orangtua, seharusnya dapat mendidik anak-anaknya untuk dapat menjaga lingkungan dan kebersihan. Karena kalau tidak dimulai sekarang, hal ini akan berputar terus layaknya roda sampai nanti akibatnya baru terasa.

Salah satu hal lagi yang menurutku agak membantu anak-anak muda untuk menjaga lingkungan di kota-kota adalah dengan adanya beberapa trend dari Sosial Media. Yang membuat semakin banyak anak muda sadar dan mulai untuk take the new steps.

Sayangnya, di Dusun Sumber itu kebanyakan anaknya baru menggunakan telepon pintar untuk bermain game. Ini kembali lagi ke orangtua juga untuk mengawasi dan mendidik.

Hehehe, segini dulu untuk blogku! Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau banyak kata-kata yang salah

Bye!

FINAL DAYYY (6 Desember 2019)

Wah, hari terakhir! Gak kerasaaa, hari ke-4 kemarin juga terasa lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Kenapa ya? 

Kami pagi itu akhirnya pergi ke pasar bersama Mas Gatot! Katanya sih, pasarnya jauh! Jadi penduduknya jarang pergi ke pasar. Tadinya, kalau kita ke pasar sendiri mau menggunakan sepeda. Tapi, Mas Gatot berbaik hati untuk mengantarkan kami ke pasar melewati sawah dengan berjalan kaki! Perjalanan pun dimulai pukul 5:40 pagi 🙂

Sebelum langsung ke pasar, kami ke rumah Mas Gatot dulu untuk memanggilnya. Kami sempat kebingungan bagaimana akan memanggilnya karena tidak ada tanda-tanda adanya manusia dari dalam.

Tapi kemudian, ia terlihat keluar dari rumah orangtuanya (kami naik ke lantai 2 rumahnya), ia menyusul dan mengambil jaket hitamnya. Kami segera berangkat ke pasar! tapi, sebelum itu pamit dulu ke ibunya Mas Gatot yang tengah memberi makan ayam-ayam.

Di jalan menuju pasar!

Rute kami melewati sawah untuk berangkat! Seger banget sih, hijau-hijau gitu dan basah karena embun. Sebenarnya tidak terlalu terasa sesuatu yang ‘WOOOOOW’ karena ya ….

tiap hari aku juga lewat sawah dan pas kecil juga sering banget main ke sawah setiap sore sampai ditegur petani. Tapi, pastinya ada charming point yang berbeda lah yawww /hiyahiya/

Pertama, 

Yang aku lihat disini tuh, tanamannya kebanyakan padi dan cabai! Banyaaaak bangeeeet. Entah hanya penglihatanku saja atau bagaimana tapi, jagung lebih jarang(?)

Soalnya kebetulan, kalau di daerah rumahku orang-orang lebih sering menanam padi, cabai, dan jagung. Disana pastinya ada, cuman lebih banyak petani yang memilih menanam padi dan cabai. 

Tidak bisa dipastikan juga mengapa, karena petani tuh memang punya favoritnya masing-masing! Kalau ditanya ke petani yang menanam cabai pasti, jawabnya karena lebih gampang dari menanam tanaman yang lain. Dan jika ditanya ke petani jagung, mereka juga akan menjawab hal yang sama! Hahaha 

Jadi, memang sesuai selera sih! Karena kan pengairan disana tidak memiliki kesulitan juga.

Kalau masalah cepat panen … jagung malah lebih cepat dari padi atau bahkan padi merah! 

Kedua, 

Ada sampah di sawah! Sewaktu jalan ke pasar, aku melihat ada bungkusan makanan semacam wafer keju. Hmmmm sepertinya anak-anak disini masih kurang dalam hal buang sampah pada tempatnya T.T kenapa ya?

Ketiga,

Satu hal yang membuatku berkata ‘WOWWWW’ adalah setelah Aruna menunjuk kearah belakangku dan terlihat Gunung Semeru dan Gunung Merapi yang berada disamping satu sama lain! Wah, biasanya dari rumahku hanya merapi yang terlihat!

Dan ya, sepanjang perjalanan kami menikmati udara di pagi hari ~ 

Oiya, aku juga melihat ada pembibitan cabai juga seperti milik Ibu Ika!

Makan bubur super murah~ (•o•)

Tempat bubur ini sepertinya hits banget sih, karena RAMeEeee banget! Semuanya berburu sarapan iniiiii. Banyak yang dibungkus juga soalnya!

Kami memesan 3 bubur pedas (ini porsinya banyak banget!!!!) dan segelas air putih (untukku dan Aruna). Kami juga mengambil 2 gorengan/orang. Ada yang bisa menebak berapa uang yang kami habiskan? 

Jeng jeng jeng

Rp 12.000 saja!

Jujur, aku kaget. Aku pikir satu porsi mungkin akan seharga Rp 5.000 :’) 

Rasanya sih, pedas. Itu saja yang kuingat, mungkin besok lagi akan ku pilih yang tidak pedas agar bisa fokus ke rasa aslinya. Bubur itu tersaji dengan beberapa potongan kecil tahu dan kacang panjang. Porsinya lumayan banget, kami sampai makan lumayan lama karena harus diproses secara perlahan hahahah

Pasar Talun!

Hmmm, ini bodoh sih. Kami tidak bertanya apapun ke pedagang! Tapi, juga salah satunya karena kami harus pulang siang itu jam 1 (((alasan))) jadi kami di Pasar Talun benar-benar hanya untuk belanja dan jajan untuk 30 menit.

Ibu Ika sudah memberikan kami list titipan belanjanya. Beliau bilang punya lele goreng di rumah jadi, kami hanya ikut saja untuk pagi itu. Hanya membeli bawang merah, bahan-bahan jamu, dan tahu disebuah toko di dalam pasar. 

Pasarnya lumayan besar! Dan ramaiiiiiii. Ada berbagai macam yang dijual disana seperti kebutuhan makanan sehari-hari, baju-baju, dan bahkan tempat-tempat makanan/minuman. Kami juga sempat jajan beberapa hal hehe. Ada gethuk, tahu bakso, dorayaki blueberry, dan juga semacam adonan panjang bertaburan gula bubuk. Kami menghabiskan Rp 13.500 untuk jajan itu dan langsung berjalan balik ke sanggar

Perjalanan ke sanggar . . .

Pulang ke sanggar, matahari yang sudah naik berada di depan mata kami persis. Wah, sungguh menyenangkan UwU diperjalanan pulang ini, kami mencoba membuat percakapan dengan Mas Gatot dengan tradisi di Sumber ((crosscheck)) karena kepala kami kan pusing banget ya …. tapi lalu, Mas Gatot menjelaskan bahwa pembagiannya itu ya tergantung berapa orang yang datang dan berapa banyak makanan yang dibuat. 

Uhm … oke … kemarin complicated banget soalnya, udah kayak pertemananku saja T.T /eh malah curhat/

Diperjalanan pulang ini, kami melihat beberapa warga Desa Dukun, tengah membuat got di samping jalan besar. Ada lumayan banyak warga yang ada dan semuanya turun tangan! Kami pun melanjutkan perjalanan.

Kembali ke Sanggar!

– Bekel : Ini kalau di upin-ipin, Mei-mei jagonya! Misalnya, ada 6 batu. Nah, kamu harus mengambil satu per-satu dengan caraaaa …

1. Lempar bebas 6 batu secara bersamaan (ini menentukan lokasi batunya ya, tidak boleh berpindah).

2. Biasanya ada 1 batu yang akan dijadikan semacam ‘ketua’. Jadi, batu itu yang akan lempar ke atas. Jadi lempar keatas, ambil batu lain(boleh langsung berapa banyak pun), dan tangkap batu yang kamu lempar ke atas tadi. Jadi, HARUS GESIT BANGET. Aku juga gak jago-jago amat ini, katanya kemampuan motorikku lemah T.T

 (Kalau belum mengerti, silahkan menonton mei-mei bekel di youtube. Terimakasih)

– Yeye : Lompat tali dengan karet!

– Engrang : Permainan tradisional yang terbuat dari bambu dan benar-benar membutuhkan keseimbangan! Tau kan?

– Pong-pong bolong : Semuanya mengepalkan tangan dan menyusunnya tinggi. Bernyanyi 

‘Pong-pong bolong, gulu merah, gulu sapi. Pecah endhog e …… (siji/kabeh) BYAR!

Riuri-riuri mbyang ambyang widadari mak cleret kembang e opo? 

Kembang …..

Kembang …….  si ……

Nah, intinya yang terakhir itu kalian harus membuat tembang! 

Setelah itu juga, Aruna sempat belajar nembang lho. Nembang Pangkur. Aku sih, sudah pasti tidak bisa ya hahahaha. Pokoknya kata Pak Untung, kalau belum bisa tidak boleh berhenti. Soalnya, kalau sudah bisa pasti langsung tertanam (katanya dulu beliau tidak tidur semalaman untuk belajar nembang). Setiap lagu punya guru lagu sendiri dan setiap orang punya *cengkok-cengkok masing-masing. 

*cengkok : ciri khas suara.

Renata, oleh-oleh, mandi, packing 🙂

Kami sempat bermain bersama Renata yang tengah disuapi makan, dia ini makannya susah banget!! Kami sampai ngakak+bingung cara nyuapinnya karena harus nunggu mulutnya terbuka dulu dan langsung ‘hap’ masukkan bubur bayinya.

Setelah itu, kamu bersiap-siap pulang! Wihiii, sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk kami packing-packing dan mandi. Kami juga memberi oleh-oleh kecil untuk Ibu Ika, berupa dompet dan sabun. Dan juga, foto keluarga di depan sanggar bersama Pak Untung, Lendra, Ibu Ika, dan Mas Thur.

Setelah itu, sambil menunggu Pak Sis datang, kami duduk/tiduran di area gamelan bersama Mas Thur. Ia ini salah satu pemuda di Dusun Dunber (uhmmm gapapa lah masukin kategori pemuda aja).

Kayaknya tidak banyak cerita soal Mas Thur, tapi sebenarnya aku dan Aruna juga banyak mengobrol dengannya. Seperti saat tiduran ini, kami sempat membuka facebook dan mencari pacar Mas Gatot HAHAHA soalnya Mas Thur gak punya :b kemudian berkolaborasi indie gamelan😂 ya pokoknya kami akhiri dengan tertawa-tawa.

Tepat, saat angkot Pak Sis terlihat. Bu Ika mengajak kami ke rumah Sekar untuk tradisi ‘Among-among’ memperingati hari kelahiran berdasarkan penanggalan jawa. Sayangnya, kami hanya dapat menikmati beberapa suap nasi, urap, dan kerupuk. Yang menikmati juga terlihat hanya kerabat-kerabat terdekat saja. Setelah itu kami langsung naik angkot~~

Angkot – Bis Cemara Tunggal

Selama perjalanan di angkot yang aku rasakan sedikit mual. Entah kenapa. Mana ada permen di kantong. Hmm, cobaan besar. 

Dan perjalanan pulang ini jauh lebih cepat! Tiba-tiba saja aku langsung melihat jalanan kota dan boom, sampai di terminal Muntilan dengan selamat.

Kami harus menunggu bis Cemara Tunggal lumayan lama. Mungkin sekitar 1 jam kalau dihitung. Kata bapak-bapak petugas bis sih, setelah yang dari Muntilan berangkat, yang dari Jombor juga berangkat.

Selama menunggu ada seorang bapak-bapak yang mendekat ke kami. Duduk di belakang kursi kami dan berbicara sendiri, kemudian berusaha berbicara ke kami. Aku agak merasa tidak nyaman jadi, aku berdiri dan sesekali memperhatikannya. Kemudian, setelah 30 menit akhirnya berjalan berpindah posisi. Syukurlah, dia terlihat seperti ingin mengganggu soalnya.

Kemudian kami mengobrol dengan seorang bapak yang menunggu bis Cemara Tunggal juga. Beliau dari Kalimantan, pindah Jogja kelas 3 SD bersama orangtua dan sering ke Muntilan untuk mengambil rongsokan karena di Jogja banyak saingan. Beliau juga bercerita bahwa dulu Jogja enak hawanya, sejuk apalagi untuk bersepeda. Yang kemudian disetujui olehku dan Aruna.

Tadinya juga, aku ingin menanyakan nama beliau. Tapi, sepertinya tidak ada waktu yang pas dan akan malah terlihat aneh jika aku bertanya nama. Jadi, aku mengurungkan niat.

Bis kami kemudian datang! Akhirnyaaa! Penumpang di bis kali ini lebih bervariasi sih, lebih ke sama tujuannya, untuk ke Jogja (maksudku tidak banyak yang turun ditengah jalan, hampir semua turun di terminal Jombor).

Selama di bis, yang aku lakukan adalah mengamati jalanan. Cukup banyak kendaraan yang ada di jalan hari itu, mungkin karena hari jumat ya. Sempat macet juga tapi, kemudian lancar kembali. Sampai seorang simbah laki-laki masuk dan mulai mengucapkan permintaan restu untuk nembang dalam bahasa Jawa.

Jujur, aku tidak mengerti satu kalimat penuh tapi, ada beberapa kata yang ku tangkap menghasilkan bahwa tembang itu adalah tentang dunia dan akhirat. Diakhiri dengan pentingnya untuk tidak meninggalkan sholat 5 waktu sehari-hari. Wow, keren juga sebenarnya, sangat lantang. Kemudian, beberapa meter sebelum sampai di terminal, beliau turun dengan uang-uang yang diberikan penumpang bis dan mengucapkan terimakasih terutama kepada supir dan kondektur.

Sesaat sebelum sampai, sebelum bis memutar balik memasuki terminal. Seorang mbak-mbak yang ternyata adalah mahasiswi ini menuruni bis, namun kemudian terlihat masuk lagi ke dalam. Sang kondektur pun bingung. Rupanya, ia tidak tau jika bis akan memasuki terminal. Aku mengetahuinya karena mendengar percakapannya dengan sang kondektur tepat saat bis memasuki terminal.

Yeay! Kami akhirnya sampai dengan selamat! Kami menuruni bis dengan perlahan sambil memegang tas yang berada di pangkuan. Tepat saat akan turun, aku menengok ke belakang untuk mengecek apakah ada yang tertinggal dan ternyata ada! Sesuatu berwarna hitam yang ternyata adalah topi milik Aruna. Reflek, aku langsung kembali dan hampir menjatuhkan tasku. Untuk sang bapak kondektur baik membantuku mengangkat tas dan turun dari bis. 

Ekspedisi triwulan pertama kami berakhir sampai disana! Hehe

Rasanya, legaaa. Karena jujur, sama seperti waktu refleksiku saat hari ke-3 bahwa ada rasa tekanan dari dalam diri sendiri. Dan sampai detik ini juga, aku sedang berusaha untuk settle it down. 

Tapi, asik kok! Aku mencoba hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, benar-benar ditinggal tanpa jadwal ditempat yang juga belum aku ketahui dengan sangat dalam sebelumnya. Awalan yang terlalu menyenangkan dan selo (Kakak-kakak Jaladwara sangat setuju dengan point ini). Ada BANYAAAAK hal yang masih perlu dilatih lagi tapi, seperti series film yang sedang ku tonton sekarang. Katanya ’Trust the process’ /cie ilaaah/

Ya, semoga ke depannya bisa JAUH lebih baik lagi dari ini. (‘HARUSSSSS’ kata kakak-kakak Jaladwara yang tengah membaca).

byebyeee

awal jalaaaan
Gunung Merbabu dan Gunung Merapi!
cantik yeaaa
bubur ft. hp kita selama eskpedisi!
pulangnya sudah panas 🙂
ini malam sebelumnya bilang mau ke pasar juga, hMMMMM (ini Mas Thur!)
packing done!
angkot Pak Sis
Among-among
Ibu Ika, Mas Thur, dan Mas Gatot
Di angkot (Aruna sedang SMS Kak Rintha!)
plastics …..
sampai di Jombor!

DAY 4 (5 Desember 2019)

Tadinya, kami berencana untuk pergi ke candi. Tapi, karena bangunnya jam 5.30, jadi gagal deh. Akhirnya aku menghabiskan pagi itu di dapur bersama Ibu Ika dan ponakannya, Renata. Aku membantu Ibu Ika mengupas bawang dan menggoreng bakwan disambi dengan Ibu Ika yang bercerita tentang masa kecilnya di Dusun Sumber (Saat-saat mau bertemu bapak), aku list saja ya

  • Dulu Ibu Ika tinggal bersama simbahnya di Dusun Sumber.
  • Ibunda Ibu Ika pergi ketika Ibu Ika masih duduk dikelas 3 SD.
  • Menempuh pendidikan di SD Kanisius Sumber, SMP Kanisius Sumber, dan SMK Pius Penjahit.
  • Tapi ketika SMK, Ibu Ika memutuskan untuk keluar karena membutuhkan banyak biaya untuk bahan-bahan menjahit.
  • Dulu takut kalau minta uang tapi tidak ke Sawah membantu simbah.
  • Bertemu dengan Pak Untung di Dusun Sumber karena ibundanya tinggal di Sumber.
  • Menikah di tahun 2001 di Gereja Katolik Santa Maria Lourdes Sumber dengan tema Hanoman (dilihat dari fotonya).

Menata bibit cabai

Jadi, selain mempunyai warung. Ibu Ika juga merawat bibit-bibit cabai lho, bibit-bibit cabainya datang dari Gunung Menoreh yang kemudian dirawat oleh Ibu Ika dan dijual kembali seharga Rp 50.000 tambah Rp 5.000 kalau ingin diantar. Lebarnya akan diisi 16 bibit cabai dan panjangnya akan diisi 24 bibit cabai. Jadi, total akan mendapatkan kurang lebih 384 bibit cabai.

Proses penataan ini tidak semudah itu lho! Aku dan Aruna menghabiskan waktu 2 jam untuk menata sekitar 4 tempat cabai. Kami melakukannya sambil bernyanyi-nyanyi dan membahas tentang ibu-ibu kami yang ada di Jogja bersama dengan Ibu Ika.

Membuat semen untuk kandang ayam Pak Untung

Ternyata oh ternyata, Pak Untung dulu juga mempunyai ternak. Tapi, berhenti karena sanggar sudah mulai sibuk dengan kegiatannya. Hingga hanya tersisa beberapa ayam. Pak Untung bilang, beliau buka peternak. Melainkan penggemuk hewan saja. Orang-orang di Dusun Sumber juga biasanya hanya penggemuk ternak karena, ‘orang-orangnya tidak telaten’ kata Pak Untung.

Kami diminta untuk membuang tanah ke kebun belakang. Nah sebelum itu, aku meminjam angkong dulu ke rumah Pak Muhtajab. Yang terlihat memiliki 3 sapi dan beberapa kambing serta ayam disamping rumahnya. Aku pun berniat untuk bertanya beberapa hal seputar ternak kepada beliau saat mengembalikan angkong, yang langsung diterima dengan hangat. 

Aku kembali ke Sanggar untuk melanjutkan membuat semen bersama Ibu Ika, Pak Untung, dan Lendra yang menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Interview panjang dengan Pak Muhtajab

Saat mengembalikan angkong, aku bersama Aruna mulai bertanya-tanya santai tentang ternak milik Pak Muhtajab ini. Ternyata 2 dari 3 sapi disana bukan punya Pak Muhtajab, tapi beliau sudah merawat mereka semua dari mereka benar-benar masih kecil (1 betina dan2 jantan). Kambing-kambing dan ayamnya juga sudah beliau rawat dari masih kecil. Beliau bilang merasa senang ketika melihat ternaknya tumbuh sehat dan memuaskan dagingnya, ketika disembeleh. 

Seluruh ternak kepunyaanya digunakan untuk tabungan. Ketika membutuhkan sesuatu, biasanya akan menjual ayamnya untuk tambahan. Dan beliau juga ternak yang hanya menggemukkan saja, tidak mesti dijual saat qurban. Kalau sudah besar, ya langsung dijual. 

Beliau juga tidak mengikuti koperasi ternak. Karena menurutnya, memang sih menggampangkan tapi, selalu ada satu anggota yang bermalas-malasan dan merugikan anggota lainnya. Jadi, beliau memilih untuk tidak menjadi anggota dan melakukan semuanya mandiri. Termasuk dengan memanggil dokter (kata Pak Muhtajab beliau hanya tinggal mengirim pesan dengan aplikasi Whatsapp dan orangnya akan datang, tarifnya Rp 50.000 jika suntik untuk hewan). 

Setelah bercerita tentang ternak, beliau kemudian bercerita tentang pekerjaannya di Malaysia saat  dulu merantau untuk 7 tahun. Perjalanannya sungguh panjang, pindah-pindah tempat dari Johorbahru sampai ke Penang. Beliau menceritakan itu dengan sangat rinci, membuat otakku sedikit pusing. Beliau juga bercerita bagaimana ia bertemu istrinya di Malaysia dan memutuskan untuk menikah di Purworejo (rumah istrinya) lalu pindah ke Dusun Sumber ke tempat Pak Muhtajab.

Istrinya sekitar 7 bulan yang lalu kembali bekerja di Malaysia, menyisakan Pak Muhtajab dan anak laki-lakinya, Azam yang tinggal berdua sekarang. Beliau bilang istrinya akan pulang 2 tahun sekali.

Kemudian percakapan mulai masuk ke tradisi di Dusun Sumber. Kami langsung berpikiran untuk menetralkan pikiran dulu dan kembali dengan notes dan pulpen. Pak Muhtajab menyetujui ide kami.

Belajar menari Krincing Manis versi SD :b

Akhirnya! Hal yang ingin aku lakukan tercapai hehe. Tarian yang kami pelajari kali ini adalah tarian Krincing Manis yang versi anak SD. Meskipun kami belajar menari hanya sekitar 1 jam (karena setelah itu ada 2 murid SMA datang untuk konsultasi) tapi, lumayan lah kami bisa mencoba menari tarian khas sedikit!

Oiya, aku sempat bertanya juga tentang cerita dibalik tarian krincing manis kepada Intan dan Mas Thur dan jawaban mereka adalah  ‘Dewi menari pake krincing trus mukanya manis’. Uhm, kurang tau juga sih karena kami Hanya belajar intro dari tariannya *emot ketawa*

Menggambar warung Ibu Ika

Karena hari pertama memang sudah ingin menggambar warung dan juga, setelah berjalan-jalan aku mulai menyadari bahwa warung di Dusun Sumber lumayan banyak. Ya, banyak untuk ukuran Dusun Kecil menurutku. Karena, disetiap jalan pasti ada saja warung! Dan kerennya, mereka semua tetap bisa berdiri meskipun letaknya berdekatan. Itu keren sih, menurutku.

Saat menggambar itu juga, aku berpikir kapan lagi ada waktu untuk ke tempat Pak Muhtajab? Orang menari kita selesai begitu saja, jadi aku membangunkan Aruna dan menyampaikan ideku untuk ke tempat Pak Muhtajab saat itu juga.

Interview lebih panjang lagi dengan Pak Muhtajab

Langsung saja ya, kita list tradisi yang masih ada di Dusun Sumber :

  • Bersih Kuburan/Sri Kuburan

Dilaksanakan pada hari-hari besar (mulut, ruwah, suroh, atau hari-hari jawa)

  • Sadranan 

Acara yang jauh lebih besar, orang yang punya leluhur yang disarekan di Sumber juga mengikuti. Tanggal 25 jawa. Yang muslim tahlilan, yang kristem/katolik misa.

  • Lapanan 

Pengajian umat muslim

  • Ruwahan

Mengirimkan doa untuk arwah (ada genduri)

  • Sawang Nganten / Sawen Mayat

Mengunjungi makam saudara. Setelah itu dipercaya harus cuci-cuci agar semua hawa buruk hilang, bahkan sarung dan peci ditaruh luar sebelum masuk rumah. Ibu Ika juga pernah cerita tentang tanaman cabenya yang terserang hama ketika dulu ada orang yang lupa cuci-cuci sebelum masuk ke rumah bibit cabe.

  • Mitoni 

7 bulanan bagi ibu hamil di kehamilan pertama. Semua serba 7 (Genduri). Dipercaya dapat melancarkan proses melahirkan dan kesehatan bayi. 

  • Ngapati 

4 bulanan bagi ibu hamil.

  • Wiwitan

Kalau mau panen (ada yang masih melakukannya, ada yang nggak. Ada sajennya. Ada yang panennya dibawa ke masjid. Sodaqoh lalu makan bersama, mendoakan agar panen lebih bagus, tambah rejeki, dan bersyukur.

  • Brokohan

Mengubur ari-ari bayi yang baru lahir, kalau ini setauku memang masih dilakukan sampai saat ini.

GENDURI :

1. Tumpeng Rosul : Nasi gurih kelapa 

Mengirim Rosul.

2. Sego Golong : Mangkok kecil, nasi dengan ayam panggang 

Mengirim Nabi Adam dan Siti Hawa.

3. Ambeng : Nasi Liwet  ( mengirim arwah yang sudah meninggal )

Mengirim Nabi Ilyan dan Nabi Hidris, menjaga alas dan air. 

4. Tumpeng Cagak : Bentuknya tumpeng, tapi tidak pakai kelapa ( berbakti kepada orangtua yang masih hidup, mendoakan agar panjang umur yang bermanfaat )

Mengirim Nabi Sulaiman, ngerajani (sugeh).

Berganti sesuai dengan agama yang dipeluk keluarganya, contohnya

‘Saya mengirim Rosul yang menjadi kepercayaan kamu dan keluargamu’. Jadiiiii, disesuaikan.

Kami menghabiskan waktu di rumah Pak Muhtajab selama kurang lebih satu seperempat jam, dan otakku sudah menguap. Kami juga diajari cara membagi Genduri tersebut.

Pucuk dari tumpeng diberikan kepada yang membuat, begitu juga dengan separuh badan ayam dan kepalanya. Sisanya dibagikan dengan sama rata sesuai dengan orang yang datang (diutamakan yang sepuh dahulu).

Saat kami tengah kebingungan dengan cara membagi Genduri, Ibu Ika datang dan mengajak kami ke Jembatan Jokowi karena hari sudah mulai gelap. Dan benar saja, jam Sudah menunjukkan pukul 5! Wah, sungguh berjalan dengan cepat. Kami lalu berfoto bersama dan bertukar nomer telfon. Kemudian aku dan Aruna pamit. 

Jembatan Jokowi dengan Ibu Ika

Aku jalan ke jembatan jokowi dengan semangat 45, apalagi kami akan makan mie ayam disana. Ibu Ika saja sampai rela berjalan kaki lho, menemani kami yang tidak boleh naik motor ini. Tapi, pulangnya sih sudah minta Pak Untung untuk menjemput hahahaha. 

Kami lalu juga membantu mendorong Ibu Ika ketika ada tanjakan, menarik tangan beliau dan pastinya menyemangati beliau. Tapi …. Ketika kami sampai … tet tewuew wuew …

Kemana semua orang? Hiyaaaa ternyata, tutup wihiiiii. Akhirnya yang aku dan Aruna lakukan Hanya pergi ke tengah jembatan dan mengambil beberapa foto. 

Sungai Senowo terlihat berwarna cokelat, persis seperti warna susu cokelat ultra. Kami lalu mendengar suara motor yang akan menyebrangi jembatan, membuat kami berlari juga karena jembatannya tidak bisa dibilang ‘Jembatan Besar’.

Jujur, imajinasiku awalnya ketika mendengar Jembatan Jokowi adalah, sebuah jembatan dengan lukisan muka Pak Jokowi dan bendera merah putih dibelakangnya. Layaknya jembatan di Jogja gitu. Dan ternyata jauh sekali dengan bentuk aslinya. Aku dan Aruna lalu kembali dengan berjalan kaki duluan (Ibu Ika kan nanti naik motor). Kami sempat berlari dan melakukan jalan cepat agar lebih cepat sampai, tapi mustahil T^T padahal hari sudah mulai gelap. Bahkan sampai ada kupu-kupu yang hampir menabrak kepalaku. Aku lalu hanya melakukan stretching tangan sambil berjalan ke sanggar. 

Mie Ayam Yang Ada

Aku dan Aruna kemudian membeli mie ayam dan bakso untuk makan malam bersama Ibu Ika, kami menggunakan tempat ketika membelinya! Mungkin seharusnya bisa saja kami berusaha membuat percakapan dengan si ibu pembuat mie tapi, ia terlihat sangat jutek ketika kami datang dan pesan. Jadi, mungkin dilain waktu saja :/

Kami sampai ke sanggar dan langsung pergi ke dapur mengambil sendok dan mangkok khusus untuk Ibu Ika. ‘Monggo ndoroo’ kataku sambil meletakkan mangkok untuk bakso. Ibu Ika lalu tertawa. Kami menghabiskan mie ayam itu sambil menonton TV dengan Ibu Ika dan Lendra. Kalau mau jujur soal rasa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi, tidak yang terbaik juga. Sepertinya yang di Jembatan Jokowi itu enak sih.

Setelah makan, kami menonton TV dan melihat adanya berita tentang bom di Monas. Aku dan Aruna kaget, wah ketinggalan berapa informasi ini. Biasanya langsung tau semua karena main Twitter.

Kami lalu sempat bermain kartu dengan Lendra dan berakhir ketiduran di depan TV.

Sekiaaan!

menari bersama Pak Untung
dengan Pak Muhtajab,. Dengan kamera handphone-nya ….
warung ibu Ika!
perjalanan ke Jembatan Jokowi!
Sungai Senowo
Jembatan Jokowi!
Mie ayam yang adaa
byebyeee

DAY 3 (4 Desember 2019)

Hari ini, kami sarapan bubur dan gorengan yang dibeli di tempat Ibu Murni. Sebelum berangkat Ibu Ika sudah berpesan kalau ‘Orangnya agak kepo’, jadi kami sudah siap-siap untuk kepo juga dengan Ibu Murni!

Ibu Murni ini rupanya sudah lama berjualan gorengan, sudah sekitar 40 tahun. Beliau asli dari Muntilan, tapi pindah ke sana setelah menikah di tahun 1974 karena suami. Anaknya 4 dan semuanya merantau, kebetulan saja saat kami berada di sana anak pertamanya sedang di rumah. Cucunya juga 4 dan sudah ada yang bekerja.

Dulu sebelum jualan gorengan juga sempat jualan sembako dan peralatan listrik di tempat yang sama. Iya, katanya tidak pernah pindah. Dari awal sudah di situ. Beliau biasanya membuat adonan di sore hari sehingga saat pagi hari tiba hanya tinggal menggoreng saja. Ada 8 jenis gorengan yang dijual dengan harga satuan Rp500. Sayangnya saat kami berada di sana, sudah banyak yang habis (padahal kami ke sana masih pagi, pukul 05:45). Memang bukanya jauh lebih pagi sih dan juga, rumahnya berada di sisi jalan utama, jadi orang-orang akan sering lewat dan mampir untuk menu sarapan.

Kami lalu diajak membuat adonan, yang langsung kami terima dengan senang hati. Katanya nanti akan WA Ibu Ika untuk mengabari. Kemudian, ia melontarkan pertanyaan yang membuat aku dan Aruna cukup terkejut. Beliau bertanya tentang tarif kami tidur di rumah Ibu Ika. Aku dan Aruna kompak melirik satu sama lain, akhirnya aku balas dengan kalimat ‘Tidak tau e bu’ yang dengan pasti dijawab dengan nada protes dan menyebutkan nominal tarif anak yang tidur di sana sebelumnya. Setelah itu kami pamit untuk pulang. 

Jujur, gorengannya enak banget! Apalagi kami makan saat memang masih hangat dan crispy. Rasanya gurih, keterbalikan dengan bubur yang rasanya lebih terasa hambar menurutku. Dan tak terduga, aku mendapatkan 2 jackpot! Yap, 2 lalat terlihat terkapar lemas di dalam bungkusan bubur seharga Rp1.000 ini. Ya, semoga saja tidak membawa penyakit ya.

Sebenarnya, kami ingin pergi ke gereja dan bertanya beberapa hal tapi ketika kami sampai disana, tidak ada orang yang ada. Padahal kemarin kami bertemu dengan seorang suster saat melewati gereja sebelum ke rumah Mas Gatot. Jadi, kami memutuskan untuk duduk menunggu di depan warung seberang gereja.

Tak diduga, kami berhasil berbicara dengan sang pemilik warung dan juga pelanggannya. Sebenarnya lebih ke pelanggannya sih, karena pemilik warungnya sedang sibuk mengupas bawang.

Bu Tini adalah nama sang pemilik warung. Beliau berasal dari Muntilan dan dikaruniai satu anak laki-laki yang bersekolah di SMA PL Muntilan. Beliau biasanya mulai memasak pukul 3 pagi.

Tepat saat kami basa-basi seperti itu. Seorang bapak pelanggan Ibu Tini keluar dari warung setelah menyantap sarapannya. Kami kemudian berbincang sebentar dengan bapak yang bernama Pak Ridho ini.

  • Beliau ternyata menjual ikan pindang yang dikirim dari Pati dan sampai di Pasar Muntilan pukul 12 malam. 
  • Dari Muntilan lalu berkeliling dengan motor dan ronjot untuk berjualan.
  • Asli Semarang, keluarga berada di Semarang. 
  • Anaknya 5, yang 3 ada di Jawa.
  • Anak ke 3 dari 4 bersaudara.
  • Dulu sempat keliling Sumatera, dari Siah – Lampung untuk jual rongsok-rongsokan mainan selama 15 tahun.
  • Lalu ke Papua mengikuti anaknya ke pasar di sana selama 4 tahun.
  • Kakak-kakak dan ponakannya di Papua menjual alat dapur, pakaian, dan sepatu.
  • Sebenarnya kalau boleh, ingin balik ke Papua (keluarga di sana finansialnya lebih stabil, jauh di atas kata Pak Ridho) tapi, istrinya melarang.
  • 1 besek seharga Rp 2.500, 1 ikat isinya 40 ikan.
  • Bisa beli/barter dengan rongsok.

Sebenarnya Pak Ridho terlihat ingin sekali kembali ke Papua, tapi ketika aku bertanya apakah beliau memang suka jalan-jalan, beliau menjawabnya dengan ‘Iya’. Aku lalu berkata bahwa hal yang terpenting adalah bapak suka dengan pekerjaan yang dilakukan. 

Beliau kemudian melanjutkan perjalanan (mungkin karena aku ajak bicara terus hahaha) dan kami juga pamit untuk berjalan-jalan lagi.

2.  Mencoba mengayak padi

Saat kami melihat ada 5 petani yang sedang membersihkan padi, aku dan Aruna lalu tertarik untuk mencoba. Kami mendatangi mereka dan melihat prosesnya. Jadi ada 2 cara. Yang satu dengan mengayak (padi yang tidak ada isinya akan jatuh) atau yang seperti disaring dan dikipas secara bersamaan. Kami mencoba opsi yang kedua, itu saja semuanya sudah berkata ‘Nanti gatel lho tangannya’. Beras-berasi itu nantinya akan dijual ke penggilingan. Satu kali panen (2 sawah) bisa sampai 15 karung kalau bagus, kalau panennya jelek tidak sampai sepuluh karung.

Karena tidak mungkin untuk berkenalan dengan semuanya, aku mencoba berkenalan dengan salah seorang ibu-ibu yang ternyata merupakan kakak dari Pak Jumadi alias kakak ipar Ibu Salamah.

Beliau bernama Ibu Remi (awalnya aku mendengar Remen, tapi kemudian aku klarifikasi dengan Ibu Salamah). Anaknya 2, cewek dan cowok. Tinggal di Grogolan bersama ibu dan anak-anaknya. Dulu setelah menikah, dalam tahun yang sama langsung dikaruniai dua anak. Karena alasan itu, suaminya yang berasal dari Indramayu pergi meninggalkan rumah dan keluarga. 

Beliau diupahkan beras untuk membersihkan padi ini, biasanya memang jadi buruh untuk panen.

3. Tamu yang datang

Setelah kami berkeliling dusun, kami lalu duduk di kursi sebelah sanggar bersama Ibu Ika, tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam yang datang. Kami pikiri itu tamu-nya Pak Untung, eh tapi ternyata …. Itu adalah Kak Inu. Aku bingung sih, kaget hahaha. Kemudian Kak Rintha menyusul.

Kami lalu melakukan pengecekan log book dan refleksi yang dilakukan kurang lebih se-jam. Perasaanku jauh lebih tenang sih setelah refleksi itu. Seperti terluruskan kembali hahaha. Karena memang dari hari awal, pikiranku sudah banyak banget tentang ekspedisi ke Dusun Sumber ini. Banyak hal yang aku cemaskan dan takut ku sesali sendiri. Tapi, disatu sisi lagi penyesalan bukan terdengar seperti bagian diriku. Pasti ada, tapi aku tidak pernah berkalut-kalut. Karena menurutku, hidup ya seperti itu. Ketika ada yang seperti itu, aku malah terdorong untuk ‘Yuk kembali lagi?’. 

Nah, tapi di hari-hari sebelumnya tuh aku merasa ada tekanan dari diriku sendiri (iya, ini yang aku coret-coret di log book) tapi, kemudian Kak Inu dengan sulapnya mampu menangkapku dan berkata ‘Jangan dipikirin. Pokoknya kalau kalian stuck, hubungi kami’. Ya, terasa lebih baik.

4. Balado terong ter-enak

Makan siang hari itu, mungkin adalah makan siang ter-spesial versiku di Sumber. Aku tidak mau bohong tapi, balado terong Ibu Ika adalah balado terong ter-enak yang pernah aku makan. Bahkan lebih enak dari punya Ibu Indah. Meskipun tidak pedas sama sekali dan versinya berbeda dengan milik Ibu Indah tapi, sangat cocok dilidahku! Rasanya lebih kearah manis ketimbang pedas, tidak pedas sama sekali malahan. Mungkin karena lidahku sangat Jogja jadi cocok dengan sambal yang manis.

5. Membantu Pak Untung memindahkan tanah.

Siang hari itu aku, Aruna, Lendra, Pak Untung, dan Bu Ika bekerja sama memindahkan tanah kesisi pojok halaman yang mendekati jalan. Sebenarnya, melelahkan banget sih terutama punggungku. Aku beberapa kali akan berkata ‘Boyokku’ dengan nada ala nyanyian Anang Hermansyah ‘Jodohku’. 30 menit terasa lebih lama saat melakukannya.

6. Bermain dengan Intan dan Lala

Akhirnya kami menemukan anak yang gampang diajak berbaur. Oiya, sepertinya aku lupa mengatakan bahwa anak di Sumber kebanyakan pemalu dan mereka susah untuk membuat percakapan. Tapi, berbeda dengan Intan. Anaknya emang supel dan gak pemalu. Awalnya sih, waktu belum ada topik pembicaraan masih malu-malu. Tapi, begitu kami klik dengan satu topik bersama langsung deh.

Tebak, topik yang kami bicarakan apa? Ya, adik Aruna tercinta Nara! Asal kalian tau saja, ternyata Nara sudah besar, sudah bisa PDKT dengan cewek saudara-saudara T^T ya mungkin udah masuk ke batas menggelikan sih. Intan kemudian mulai curhat dan Aruna tertawa terbahak-bahak menemukan sisi baru dari adiknya itu.

Kami juga sempat jajan es jeruk dan es tape di warung. Intan juga bercerita kalau dia itu anak SMP Tara Kanita dan sering pergi berkunjung ke Jogja karena kedua kakaknya bekerja dan sekolah di Jogja. Ia bahkan sering menonton di bioskop. Jauh lebih sering dia kayaknya, dari aku.

Meskipun anaknya seru, tapi kebiasaan buruknya Intan bikin aku gemes banget. Buang sampahnya suka sembarangan. Dia sudah 2 kali buang sampah di depan mataku begitu saja, dan ya langsung ku tegur. Ia langsung membalas ‘Eh, eh iya mbak’ sambil menunjukkan giginya.

Tadinya, hari itu aku dan Aruna ingin latihan menari atau gamelan. Tapi dibatalkan sama Pak Untung, beliau berkata ‘Narinya besok aja ya’. Yasudaaaah.

7. Ke masjid dengan Ibu Salamah

Rutinitas setiap hari di Dusun Sumber haha. Aku menggunakan waktu berangkat untuk bertanya-tanya sedikit tentang tradisi sebelum ramadhan kepada Ibu Salamah. Beliau lalu menyebutkan Sadranan dan Genduri. Sadranan dilaksanakan sebelum ramadhan, setiap tanggal 25 kalender jawa. Setiap rumah memasak sendiri-sendiri lalu nanti digabung di sanggar membuat tumpeng besar. Ada gorengan, kering-keringan, lauk, dll. Dilakukan seluruh warga dusun. Ibu Salamah juga bilang bahwa mereka akan membagi-bagi pisang, pisang apa saja saat sudah matang. Tapi, beliau tidak tau makna dibaliknya apa.

Kalau untuk Genduri, ini juga dilakukan sebelum ramadhan. Untuk mendoakan arwah-arwah leluhur dulu. Kalau ini, suatu keluarga membuat genduran lalu baru warga sekitar datang (acaranya lebih personal). Di beberapa dusun sudah tidak dilaksanakan lagi tapi, di Dusun Sumber masih kuat.

Aku menanyakan ini di waktu berangkat dan pulang sholat maghrib dan isya. Bahkan saat pulang sholat isya, seorang ibu bernama Ibu Tri juga menjawab pertanyaanku bersama dengan Ibu Salamah.

Sebelum tidur, aku dan Aruna sempat bermain tapok nyamuk dengan Lendra dan Sekar. Tapi, karena Sekar ketinggalan terus, kami memutuskan untuk bermain kartu biasa. Permainan lalu dihentikan karena besok mereka harus sekolah! Malam itu, kami tidak menonton sinetron karena channelnya tidak ada sinyal. Jadi kami memijat Ibu Ika sambil menonton televisi dengan channel lain. Aku memijat kaki dan Aruna memijat kepala Ibu Ika. Tapi, kemudian berakhir dengan aku memijat kaki kiri dan Aruna kaki kanan. Kemudian, kami semua berakhir ketiduran di depan TV.

membersihkan padi
membantu Pak Untung
Intan!
astaga, gak sadar kalau blur! But can you spot the balado terong?

Sekian untuk hari ini!!

DAY 2 (3 Desember 2019)

Hai, untuk jurnal hari ini aku mau cerita tentang salah satu pemuda asal Sumber yang kami jumpai saat hendak berjalan-jalan mengelilingi rumah warga! Kami berpapasan di jalan lalu ditawari untuk main ke rumahnya. Ia adalah Mas Gatot.

Rumahnya, jujur harus kuacungi jempol. Asik banget. Letaknya berada di lantai 2 dan katanya dibangun sendiri secara bertahap, mungkin kalau sekarang sering disebut ‘unfinished’ kali ya. Baru saja selesai tahun kemarin, 2018. Di depan pintu masuk rumah ada kursi untuk duduk-duduk santai yang terbuat dari bambu, cocok untuk hanya duduk dan minum segelas kopi sambil baca koran hahahaha.

Kegiatannya sehari-hari adalah menjadi petani, peternak, dan juga menjadi bagian dari berbagai macam komunitas. Biasanya Mas Gatot akan menghabisi waktu di sawah sampai pukul 10 pagi, dan setelahnya acara bebas! Menyesuaikan dengan acara yang akan ada. Terdengar seperti hidup yang menyenangkan bukan?

Itulah mengapa aku memutuskan untuk menceritakannya! Kami berbincang cukup lama di rumahnya sampai dapat melihat dan memberi makan kepada kambing-kambingnya juga. Ini hal yang aku dapatkan!
– Ia mempunyai total 21 kambing ettawa (induk dan anak) serta, 2 sapi yang dipelihara di belakang rumahnya.
– Semua ternak milik pribadi.
– Untuk kambing, yang ia manfaatkan adalah susunya.
– Yang dijual adalah anak kambingnya.
– Untuk sapi yang dimanfaatkan adalah kotorannya untuk biogas. Ia punya alatnya dan pernah disosialisasikan ke warga tapi, tidak ada yang tertarik.
– Sapinya dibuat tabungan.
– Tidak mengikuti koperasi ternak karena hanya ia yang mempunyai kambing ettawa.
– Mendatangkan dokter sendiri untuk ternaknya.
– Membuat kopi, wine, dan biogas juga. Sekarang tengah belajar membuat keju.
– Distributor kopi bersama temannya yang suka kopi juga. Dulu pernah main ke Merapi dan melihat banyak biji kopi yang terbuang begitu saja. Karena orang-orang disana tidak tau cara mengolahnya. Ia bersama temannya lalu bekerja sama.
– Ikut komunitas teather juga, Kalanari.
– Sebenarnya masih belajar menanam, belun berani memegang sawah jadi masih belajar dengan polybag.
– Karena ia menanam mint, ia bekerja sama dengan temannya bernama Pak Liem untuk membuat teh.
– Anak pertama dari dua bersaudara, adiknya kerja di Magelang.

Mas Gatot lalu cerita tentang air di Desa Sumber yang tidak susah untuk didapatkan. Para petani tidak perlu menunggu pergantian musim untuk menanam beberapa tanaman. Tetapi, air bersih sudah mulai berkurang karena adanya tambang pasir di utara daerah Tutup Ngisor. Katanya sampai berhektar-hektar. Sama Mas Gatot dicoba untuk menanam pohon sengon, tapi hanya beberapa yang tumbuh. Dan sekarang menjadi tempat di mana ia ngarit rumput untuk ternaknya.

Mas Gatot ini juga aktif dalam acara-acara desa dan tradisi. Termasuk Festival Tlatah Bocah. Ia bercerita dulu mendapatkan sponsor untuk festival dan sekarang beralih menjadi gotong royong bersama warga untuk modal. Yang mengikuti festival ini biasanya bisa mencapai 6-7 komunitas. Berbeda dengan Festival Lima Gunung yang lebih ke warga di lereng gunungnya ketimbang komunitas.

Satu hal yang membuatku kagum terhadap Mas Gatot dan merupakan alasan terbesar kenapa aku mengetik ini sekarang adalah, rasa cinta terhadap desanya sendiri. Satu hal yang aku sadari lagi adalah, sebagian besar pemuda disana akan pergi merantau ke kota lain untuk bekerja. Berbeda dengan Mas Gatot yang memilih untuk menetap di Dusun Sumber. Karena menurutnya ‘Buat apa sekolah tinggi-tinggi, pinter tapi tidak bisa meningkatkan desa sendiri’.

Ia dahulu sempat bekerja di Jakarta selama 2 tahun, kemudian Kalimantan Timur selama 6 bulan. Namun, memutuskan pulang setelah Gunung Merapi meletus di tahun 2010.

Keinginannya adalah untuk meningkatkan desanya. Maka dari itu, ia sedang belajar membuat berbagai macam variasi makanan dan minuman dari apa yang ada di sekitarnya.

Membuat Timus dengan Ibu Ika!

Merebus tela lalu dihaluskan dengan garpu, lalu diberi garam dan gula. Dibentuk lonjong-lonjong untuk yang tidak ada isi dan bulat-bulat untuk yang isinya coklat! Aku kebagian tugas untuk menggoreng kloter pertama.


Sembari memasak Ibu Ika bercerita tentang bagaimana awal mulanya sanggar dibangun,

Dimulai dengan dulu anak-anak latihan di rumah mertua Ibu Ika yang atapnya sudah rusak. Jadi, susah untuk latihan saat hujan. Ditambah lagi dengan tamu Australia yang akan datang sekitar 30 orang. Seorang kawan menawari Pak Untung untuk membangun sanggar, yang kemudian disetujui oleh Pak Untung. Seluruh warga desa membantu proses pembangunan, benar-benar dikerjakan dengan cepat karena tamu dari Australia yang akan datang. Sekitar kurang dari 1 bulan, sanggar serta rumahnya selesai dibangun.


Setelah timus siap, kami lalu duduk di kursi sebelah sanggar. Jujur, timus coklatnya enak banget! Hahaha. Di luarnya crispy karena dilumuri tepung beras, ketelanya terasa lembut dan hangat, dan sesaat setelah itu juga coklat hangat yang lumer terasa di lidah. Hmm, enak deh pokoknya! Apalagi dengan teh hangat menemani.


Kami menikmatinya sambil bercerita tentang pengalaman live-in sebelumnya, arisan, pengajian, dan toleransi di Sumber. Oiya, aku belum sempat bercerita di blog tentang toleransi di area perumahanku~ nanti aku kubuat blog khusus ya.


3. Tugas yang menyalin dari Google?


Jadi, kami diantar Lala untuk mencari daun pandan di rumah warga. Tapi, karena tidak menemukannya, Lala mengajak kami ke rumah Eva untuk bertanya dan membantunya. Ternyata saat kami sampai, Eva tengah mengerjakan tugas bersama 2 temannya yang lain bernama Vira dan Vida.


Awalnya, aku mengira bahwa tugas mereka adalah mengoreksi sebuah laporan. Jadi, aku biasa saja saat menemani mereka ke jasa fotokopi. Tapi kemudian, karena Aruna berada di sebelah mereka saat di dalam jasa fotokopi, ia menyadari bahwa yang mereka lakukan ternyata adalah MEMBUAT sebuah laporan.


Laporan dari Google mereka print, lalu dicoret beberapa kata yang kurang membantu, diketik ulang, lalu print.

Hmm, pasti di sekolah belum pernah diajari cara membuat ‘Source’. Padahal penting banget ini! Kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita begitu saja tanpa mencantumkan ‘Sumber’. Hal-hal seperti ini seharusnya dipelajari di sekolah, aku juga mulai membuat Source dengan cara yang benar di kelas satu Sekolah Menengah Pertama.


4. Pipa sanggar buntet!

Aruna tertidur saat ini terjadi. Jadi, aku keluar dan memutuskan untuk menggambar kursi di samping sanggar. Kemudian terlihat warga mulai berdatangan ke sanggar untuk membantu atau hanya sekadar menemani. Disitu benar-benar terasa kerjasama dan gotong-royong dari warga Sumber. Ada yang mengangkat pipa, membersihkannya, mencangkul tanahnya, memasangnya kembali, dan menguburnya. Semua dilakukan dengan tertawa dan ikhlas. Mungkin memang sudah jadi hal biasa ya di desa ini.


Aku lalu bertanya kepada Ibu Ika ‘Kenapa bu, kok bisa?’ Yang kemudian dijawab dengan ‘Sudah terlalu banyak tamu yang datang’. Tapi, kalau kata seorang bapak-bapak ‘Sisa sabun dari kulitnya orang Perancis sama Australia itu awet’ lalu semuanya tertawa. Ada sekitar 7 warga yang semuanya adalah laki-laki. Jujur, aku agak senang karena sanggar jadi ramai hehehe.


5. Ke masjid dengan Ibu Salamah~

Kali ini, aku yang memanggil Ibu Salamah ke rumahnya. Saat kami berjalan ke masjid, beliau memberi tahu jalan pintas agar tidak perlu melewati jalan besar menuju rumahnya. Kemudian, kami berangkat ramai-ramai bersama Angel, Naila, dan Ove. 

Di masjid pun ternyata juga ramai! Aku sempat bersalaman dengan Mbah Prapto sebelum sholat maghrib. 


Sama juga ketika sholat isya, masjid terlihat cukup ramai. Ada anak kecil bernama Aisyah yang merupakan adik dari Syifa. Mereka berada di Dusun Sumber untuk mengunjungi rumah nenek dan aslinya tinggal di Jakarta. Sepanjang sholat, Aisyah berlari-lari memutari masjid kecil ini. 


6. Menonton TV
Sama seperti hari sebelumnya, kegiatan kami akan diakhiri dengan tiduran di depan TV bersama Ibu Ika tercinta dan Lendra. Malam itu kami menonton sinetron yang sama dan Dunia Punya Cerita (karena sama Lendra).

Kami menonton tentang pengobatan alternatif yang unik-unik di Indonesia. Ada yang bayar sampai berpuluh-puluh juta dan ada juga yang sampai sekarang masih ada di kepalaku dan Aruna. Pijat alternatif yang ketika sang pemijat merasakan ada suatu penyakit, ia akan mengeong seperti kucing. Hahaha kami tertawa terbahak-bahak saat menonton itu, terutama Aruna. Aku lalu ketiduran di samping Ibu Ika di depan TV.

Tapi, kemudian terbangun dan terkejut karena belum membuat logbook. Akhirnya aku dan Aruna membuat logbook sambil menonton film bersama.

Sekian untuk hari ini!!

diajak main ke tempat Mas Gatot
timus isi coklat!
total timus yang kami buat
kami yang siap menikmati
Eva, Vira, Lala, dan Vida
sketch-ku! Akan aku update setelah diwarnai dengan baik hehe
wow …….

DAY 1 di Dusun Sumber! (2 Desember 2019)

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari keberangkatan aku dan Aruna ke Dusun Sumber di Magelang! Perasaanku sih, campur-aduk antara senang dan gelisah. Ya, semoga semuanya lancar, pikirku pagi itu. Pukul 6:30 kami sudah sampai di Terminal Jombor diantar oleh ayah dan ibuku naik mobil. Begitu sampai, 3 bis Cemara Tunggal sudah terlihat rapi berbaris. Aku dan Aruna lalu pamit dan langsung masuk ke dalam bis!

Di dalam bis,

  • Perjalanan di bis memakan waktu sekitar 35 menit. Dari jam 6:35-07:00.
  • Banyak Pekerja Negeri Sipil, nenek-nenek, dan murid sekolah yang menggunakan bis Cemara Tunggal.
  • Total ada 18 penumpang dengan aku dan Aruna.
  • Sepanjang perjalanan, aku hanya memperhatikan jalan dan berimajinasi di dalam kepalaku. Banyak pikiran tentang ‘Ah, ini dia awal perjalanan’, ‘Jadi ini sudah dimulai?’, ‘Apakah akan berjalan dengan lancar?’.
  • Dan juga, sebenarnya agak ngantuk! Tapi, aku melirik ke sebelah kiri dan melihat Aruna yang merem-melek seperti ngantuk. Jadi, aku mengurungkan niatku.
  • Jalanannya cukup ramai sih, tapi tidak macet! Makanya kami sampai dengan cepat.
  • Saat sudah hampir sampai, kami diturunkan di seberang terminal. Kami bergandengan tangan dengan erat karena jalannya cukup ramai hahaha, cukup seram sih tapi kami berhasil menyebrang setelah sekitar 5 menit menunggu.

Setelah itu, kami naik angkot Pak Sis ke Dusun Sumber langsung, perjalanan ditempuh selama 26 menit dari Terminal Muntilan. Pak Sis ini khusus mengantar kami ke Dusun Sumber lho! Karena memang, tidak ada kendaraan umum yang pergi kearah Dusun Sumber lagi. ‘Karena peminatnya sudah sedikit, dulu sempat ada’ kata Pak Sis. Yang nantinya aku sadari lagi bahwa, semua orang telah beralih menggunakan sepeda motor mereka masing-masing. Jadi, pilihan terakhir untuk kesana ya menggunakan kendaraan pribadi atau ojek.

Pak Sis ini sudah menarik angkot sekitar 25 tahun, biasanya pergi kearah Selatan Muntilan (ke arah Jogja). Dan kalau ramai, biasanya saat Pon atau Kliwon saat pasar ramai, bisa menghasilkan Rp 200.000-Rp 250.000 se-hari. Kalau hari biasa, sudah agak sepi sekarang. Karena, orang-orang sudah mempunya kendaraan pribadi masing-masing. Kalau yang muda, pasti akan bergantung dengan ojek online. Pak Sis juga bercerita kalau lebih mendahulukan penumpang biasa ketimbang murid sekolah, karena murid sekolah selalu ingin bersama dengan satu sama lain. Jadi, agak sedikit ribet kalau memang sedang ramai.

Dan juga ternyata, beliau dulu suka menonton sepak bola di stadion Maguwo! Lumayan dekat dengan rumah. Tapi, beliau berhenti setelah penontonnya mulai terbilang rusuh. Setuju sih, aku lama-lama juga berpikir bahwa penontonnya lebih suka tawuran daripada sepak bola. Apalagi kalau lewat stadion setelah ada tanding bola, isinya sampah!

Di Dusun Sumber,

Kami sempat berkenalan dan mengobrol dengan Ibu Ika dan Pak Untung sebentar. Rumahnya jujur, asik banget! Terbuka gitu. Tempat favoritku adalah 2 kursi panjang di sebelah sanggar yang biasanya merupakan tempat di mana Ibu Ika dan Pak Untung menghabiskan waktu. Biasanya sih untuk duduk, tidur, dan makan. Ya, bersantai gitu. 

Oiya, yang mengagetkan juga. Di situ ada wifi-nya lho! Tinggal bayar Rp 2.000 dan kamu akan dibantu oleh Ibu Ika untuk menyambungkan telepon pintar dengan wifi. Nah, maka dari itu juga orang-orang suka nongkrong di tempat itu!

Seharian itu kami habiskan untuk mengenal Dusun Sumber! Sebenarnya masih agak bingung mau melakukan apa, tapi kami berusaha untuk melakukan sesuatu! 

Memetik cabai dengan Ibu Ika dan Ibu Salamah!

Kami berjalan ke sawah Ibu Ika (yang jarang dilakukan oleh beliau, biasanya pakai motor katanya), huhu jadi terharu ;’) Dan bertemu Ibu Salamah yang sudah berada di sawah. Sambil kami memetik cabai, aku berusaha mengajak berbicara Ibu Salamah. Ternyata, Ibu Salamah biasanya membantu kalau saat panen saja (biasanya ber-3 dengan Pak Untung). Beliau punya sawah sendiri yang diburuhkan ke orang lain.

Karena aku pernah mengobrol dengan Ibu Darmawati tentang cabai (coba baca blog ‘keliling-keliling sekitar rumah’!), aku jadi lebih tau sedikit tentang tanaman cabai. Di Dusun Sumber, cabai dijual Rp 22.000/kg, Rp 3.000 lebih mahal dari yang dikatakan Ibu Darmawati. Cabai Ibu Ika dipanen per-7 hari, tapi sebelumnya dipanen per-4 hari. Sebenarnya, disesuaikan saja sih dengan banyaknya cabai yang berwarna merah, kalau sudah banyak ya dipanen. 

Kami berada di sawah sekitar setengah jam saja, karena hari sudah mulai terasa panas. Tapi, kami  berhasil memanen satu setengah sawah Ibu Ika! Sawah Ibu Ika ada 2, turunan dari simbah beliau. Bentuk sawahnya bukan kotak-kotak, lebih bisa dibilang terasering. Sawah Ibu Ika bersebelahan dengan posisi satu di atas dan satunya lagi berada persis di bawahnya.

  Membersihkan warung Ibu Ika

Selain bertani, Ibu Ika juga punya warung! Warungnya sudah tidak buka beberapa hari, jadi berdebu. Kami juga menata tepung dan gula di etalase kayu. Warung ini ada sebagai kegiatan sehari-hari Ibu Ika, karena dulu saat asam lambungnya kambuh, beliau tidak memiliki kegiatan apa-apa untuk dilakukan di rumah. Karena semakin cepat lelah juga, sekarang Ibu Ika lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sawah. 

Yang aku paling kaget adalah, ada kulkas es krim! Wow, godaan berat ini. Entah kenapa menurutku keren, biasanya warung di dekat rumah saja kalau menjual es krim hanya akan menggunakan kulkas biasa. Tapi, disini tidak. Bahkan es krimnya saja, es krim stick yang jarang aku lihat di Jogja.

Persediaan barang di warung bu Ika dibeli di Pasar Talun, biasanya sih kalau bisa diantar akan minta diantar. Tapi, Ibu Ika juga biasa ke pasar dengan motornya. 

Karena warungnya berada di dekat jalan besar. Jadi, banyak murid sekolah yang mampir untuk jajan atau orang-orang yang lewat dengan motor untuk membeli rokok. Seperti Siwi dan Anis, murid SMP Kanisius yang mampir untuk membeli minuman botol. Aku pun mencoba membuat percakapan dan kami berjanji untuk bermain bersama! 

Kemudian, Aruna pergi mandi dan Ibu Ika pergi ke pasar. Jadi, aku menjaga warung sendirian. Sebenarnya, aku ingin mengambil sketchbook ku ke kamar tapi, karena aku diminta menjaga warung, aku mengurungkan niatku dan hanya memperhatikan jalan yang dilewati beberapa murid sekolah dan Pegawai Negeri Sipil. Ya, siang itu aku melihat sekitar 3 Pegawai Negeri Sipil yang lewat menggunakan motor dan juga beberapa anak SMA. Kalau anak SMP dan SD sih, jalan kaki. Ketika duduk di warung, aku juga mendengar suara air dari got kecil di seberang jalan yang terdengar cukup deras.

Berkenalan dengan Lendra!

Uhm … awalnya aku mengira namanya Rendra … lalu Aruna membenarkan sekaligus mengklarifikasinya setelah sehari kami berada disana. Hehehe, shoutout to Aruna!

Anak kedua Ibu Ika dan Pak Untung yang duduk di kelas 5 SD di SD Kanisius Sumber. Lendra ini sedang dalam masa ujian, jadi pulangnya awal. Katanya sih baru selesai ujian tematik, tapi ketika Aruna bertanya besok ujian apa, ia menjawab dengan ‘Tidak tahu’ (mantaaap!)

Lendra ini suka bermain Freefire, game tembak-tembakan yang ada di telepon pintar. Kalau dilihat sih, dia memang anaknya suka bermain. Jadi, ketika melihat keberadaan kartu, aku mengajaknya untuk bermain yang kemudian disetujui olehnya. Tapi, kami bermain tidak lama karena kurang seru bermain hanya 3 orang :/

Main ke rumah Eva

Hmmmm, bagaimana aku harus memulai ini. Kami diantar ke rumah Eva (yang merupakan anak dari Ibu Salamah) oleh Lendra. Tak kusangka, Eva anaknya se-pendiam itu. Kami berada di rumahnya sekitar kurang lebih satu jam (hujan deras turun saat kami berada disana!) tapi jujur, terasa lebih lama dari itu. Eva-nya benar-benar tidak mengobrol sama sekali! Aku dan Aruna mencoba dengan keras untuk membuat percakapan dengannya tapi Eva sepertinya tidak tertarik hahaha. Kebetulan juga kami pergi kesana saat dia sedang tidur siang, yang lalu dibangunkan oleh Pak Jumardi karena kami datang. Mungkin karena itu juga.

Terkadang ia menjawab dengan suara yang sangat kecil, membuatku harus mendekat. Ya, bayangkan saja bagaimana aku bisa mendengarnya dengan keadaan hujan deras di luar? Kami bahkan juga sempat bermain ABC 5 Dasar yang lagi-lagi bukan permainan yang seru untuk dimainkan 3 orang. Beberapa informasi tentang Eva yang aku dapatkan!

  • Hobinya bermain WhatsApp dan nonton sinetron.
  • Sahabatnya ada 3 di sekolah.
  • Sekolah di SMP 1 Dukun.
  • Anak kedua dari 2 bersaudara, kakaknya bekerja di Malaysia sekarang.
  • Lahir dan besar di Sumber.

Tapi, kami benar-benar dijamu dengan hangat oleh Ibu Salamah dan Pak Jumardi. Bahkan disuguhi energen coklat hangat dan jetkolet. Pak Jumadi kemudian duduk di ruang tamu bersama kami. Kami lalu sempat tentang beliau,

  • Pak Jumardi ini asli Desa Sumber.
  • Sedang menanam padi setelah cabai tidak muncul.
  • Hasil panennya dikirim ke Pasar Talun menggunakan motor sendiri.
  • Kalau ke Pasar Muntilan akan dikirim menggunakan mobil.
  • Bapak Jumardi dan Ibu Salamah tidak mempunyai kegiatan lain selain bertani, pokoknya ke sawah di pagi-siang hari dan sisanya dihabiskan bersama keluarga di rumah.
  • Ibu Salamah jarang ke pasar, biasanya kalau ke pasar hanya untuk membeli bawang dan daging untuk masak.

Pokoknya berusaha untuk membuat suasana tidak canggung! Dan juga, aku bertanya tentang masjid di Dusun Sumber. Ibu Salamah yang rutin pergi ke masjid lalu mengajakku untuk pergi bersama. 

Rebahan UwU

Karena di luar hujan dan tidak banyak hal yang kami bisa lakukan, kami memutuskan untuk pergi ke kamar dan tiduran di kasur berlapis selimut dan sarung. Jujur, aku jarang tidur sebelum matahari terbenam, biasanya hanya ketika sakit saja. Tapi, berbeda untuk hari itu. 

Dengan hawa yang dingin dan suara derasnya hujan yang menemani, berbaring di atas kasur yang empuk sambil meringkuk dengan sarung yang membalut membuatku perlahan-lahan masuk ke alam mimpi. 

Merupakan tidur sore pertamaku yang sungguh nyenyak!

Sholat Maghrib dan Isya di masjid bersama Ibu Salamah!

Ini adalah hal lain yang jarang aku lakukan di rumah. Meskipun, aku telat pergi ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah karena ketiduran, tapi aku tetap pergi. Sedihnya sih, jadi sudah sepi. Berbeda dengan saat aku pergi untuk sholat Isya. Bersyukur banget, Ibu Salamah datang untuk khusus mengajakku sholat berjamaah. 

Malam itu, tidak terlalu banyak jamaah perempuan. Hanya sekitar 6 jamaah perempuan. Dan tidak bermaksud untuk terdengar alim, aku merasa tenang ketika sholat di masjid. Senang gitu bisa sholat bersama warga sana.

Membuat tempe!

Kami diajak Ibu Ika membeli tempe di rumah Ibu Sutarmini. Sebenarnya aku hanya sebentar berada di sana, karena pergi ke masjid. Tapi, aku juga sempat mencoba membungkus kok! Katanya sih, tempe-tempe ini akan dikirim ke Padang karena ada pesanan untuk kawinan. Biasanya dijual dengan warga setempat saja. Kedelainya dibeli di pasar dan dibungkus sendiri dengan daun pisang dan ditunggu 2 hari (sampai putih-putihnya keluar).

Menonton TV *baca sinetron 😉

Hari itu, kami akhiri dengan menonton TV bersama Ibu Ika, Lendra, dan Pak Untung yang kemudian menyusul. Kami menonton sinetron Samudra Cinta yang menayangkan episode perdana mereka. Jujur, tidak ada faedahnya memang. Tapi, terasa menyenangkan tiduran di depan TV bersama-sama seperti itu! Apalagi kan, aku juga jarang banget nonton TV. Jadi, itu adalah salah satu kesempatanku melihat kabar pertelevisian Indonesia.

Ceritanya, drama banget. Pemeran utama perempuannya dibuat lemah, tidak berani mengatakan keadaan sebenarnya dan tidak berani bertindak. Video editing-nya penuh dengan zoom in. Kalau satu orang berbicara hal yang menurut mereka mengejutkan, nanti seluruh pemain akan di-shoot reaksinya dengan filter zoom in. Pemilihan angle kamera kalau shoot full face juga, sama terus. Sepertinya, editornya menggunakan iMovie hahaha.

Setelah kami menonton TV, kami pergi ke kamar dan membuat logbook dan tiduuur. Sekian untuk ceritanya! Sebenarnya masih penyesuaian diri juga karena bingung mau melakukan apa T^T

memetik cabai
ke rumah Eva bersama Lendra
hujan deras di rumah Eva
membuat tempe di rumah Ibu Sutarmini
editannya mantaaaaap