DAY 3 (4 Desember 2019)

Hari ini, kami sarapan bubur dan gorengan yang dibeli di tempat Ibu Murni. Sebelum berangkat Ibu Ika sudah berpesan kalau ‘Orangnya agak kepo’, jadi kami sudah siap-siap untuk kepo juga dengan Ibu Murni!

Ibu Murni ini rupanya sudah lama berjualan gorengan, sudah sekitar 40 tahun. Beliau asli dari Muntilan, tapi pindah ke sana setelah menikah di tahun 1974 karena suami. Anaknya 4 dan semuanya merantau, kebetulan saja saat kami berada di sana anak pertamanya sedang di rumah. Cucunya juga 4 dan sudah ada yang bekerja.

Dulu sebelum jualan gorengan juga sempat jualan sembako dan peralatan listrik di tempat yang sama. Iya, katanya tidak pernah pindah. Dari awal sudah di situ. Beliau biasanya membuat adonan di sore hari sehingga saat pagi hari tiba hanya tinggal menggoreng saja. Ada 8 jenis gorengan yang dijual dengan harga satuan Rp500. Sayangnya saat kami berada di sana, sudah banyak yang habis (padahal kami ke sana masih pagi, pukul 05:45). Memang bukanya jauh lebih pagi sih dan juga, rumahnya berada di sisi jalan utama, jadi orang-orang akan sering lewat dan mampir untuk menu sarapan.

Kami lalu diajak membuat adonan, yang langsung kami terima dengan senang hati. Katanya nanti akan WA Ibu Ika untuk mengabari. Kemudian, ia melontarkan pertanyaan yang membuat aku dan Aruna cukup terkejut. Beliau bertanya tentang tarif kami tidur di rumah Ibu Ika. Aku dan Aruna kompak melirik satu sama lain, akhirnya aku balas dengan kalimat ‘Tidak tau e bu’ yang dengan pasti dijawab dengan nada protes dan menyebutkan nominal tarif anak yang tidur di sana sebelumnya. Setelah itu kami pamit untuk pulang. 

Jujur, gorengannya enak banget! Apalagi kami makan saat memang masih hangat dan crispy. Rasanya gurih, keterbalikan dengan bubur yang rasanya lebih terasa hambar menurutku. Dan tak terduga, aku mendapatkan 2 jackpot! Yap, 2 lalat terlihat terkapar lemas di dalam bungkusan bubur seharga Rp1.000 ini. Ya, semoga saja tidak membawa penyakit ya.

Sebenarnya, kami ingin pergi ke gereja dan bertanya beberapa hal tapi ketika kami sampai disana, tidak ada orang yang ada. Padahal kemarin kami bertemu dengan seorang suster saat melewati gereja sebelum ke rumah Mas Gatot. Jadi, kami memutuskan untuk duduk menunggu di depan warung seberang gereja.

Tak diduga, kami berhasil berbicara dengan sang pemilik warung dan juga pelanggannya. Sebenarnya lebih ke pelanggannya sih, karena pemilik warungnya sedang sibuk mengupas bawang.

Bu Tini adalah nama sang pemilik warung. Beliau berasal dari Muntilan dan dikaruniai satu anak laki-laki yang bersekolah di SMA PL Muntilan. Beliau biasanya mulai memasak pukul 3 pagi.

Tepat saat kami basa-basi seperti itu. Seorang bapak pelanggan Ibu Tini keluar dari warung setelah menyantap sarapannya. Kami kemudian berbincang sebentar dengan bapak yang bernama Pak Ridho ini.

  • Beliau ternyata menjual ikan pindang yang dikirim dari Pati dan sampai di Pasar Muntilan pukul 12 malam. 
  • Dari Muntilan lalu berkeliling dengan motor dan ronjot untuk berjualan.
  • Asli Semarang, keluarga berada di Semarang. 
  • Anaknya 5, yang 3 ada di Jawa.
  • Anak ke 3 dari 4 bersaudara.
  • Dulu sempat keliling Sumatera, dari Siah – Lampung untuk jual rongsok-rongsokan mainan selama 15 tahun.
  • Lalu ke Papua mengikuti anaknya ke pasar di sana selama 4 tahun.
  • Kakak-kakak dan ponakannya di Papua menjual alat dapur, pakaian, dan sepatu.
  • Sebenarnya kalau boleh, ingin balik ke Papua (keluarga di sana finansialnya lebih stabil, jauh di atas kata Pak Ridho) tapi, istrinya melarang.
  • 1 besek seharga Rp 2.500, 1 ikat isinya 40 ikan.
  • Bisa beli/barter dengan rongsok.

Sebenarnya Pak Ridho terlihat ingin sekali kembali ke Papua, tapi ketika aku bertanya apakah beliau memang suka jalan-jalan, beliau menjawabnya dengan ‘Iya’. Aku lalu berkata bahwa hal yang terpenting adalah bapak suka dengan pekerjaan yang dilakukan. 

Beliau kemudian melanjutkan perjalanan (mungkin karena aku ajak bicara terus hahaha) dan kami juga pamit untuk berjalan-jalan lagi.

2.  Mencoba mengayak padi

Saat kami melihat ada 5 petani yang sedang membersihkan padi, aku dan Aruna lalu tertarik untuk mencoba. Kami mendatangi mereka dan melihat prosesnya. Jadi ada 2 cara. Yang satu dengan mengayak (padi yang tidak ada isinya akan jatuh) atau yang seperti disaring dan dikipas secara bersamaan. Kami mencoba opsi yang kedua, itu saja semuanya sudah berkata ‘Nanti gatel lho tangannya’. Beras-berasi itu nantinya akan dijual ke penggilingan. Satu kali panen (2 sawah) bisa sampai 15 karung kalau bagus, kalau panennya jelek tidak sampai sepuluh karung.

Karena tidak mungkin untuk berkenalan dengan semuanya, aku mencoba berkenalan dengan salah seorang ibu-ibu yang ternyata merupakan kakak dari Pak Jumadi alias kakak ipar Ibu Salamah.

Beliau bernama Ibu Remi (awalnya aku mendengar Remen, tapi kemudian aku klarifikasi dengan Ibu Salamah). Anaknya 2, cewek dan cowok. Tinggal di Grogolan bersama ibu dan anak-anaknya. Dulu setelah menikah, dalam tahun yang sama langsung dikaruniai dua anak. Karena alasan itu, suaminya yang berasal dari Indramayu pergi meninggalkan rumah dan keluarga. 

Beliau diupahkan beras untuk membersihkan padi ini, biasanya memang jadi buruh untuk panen.

3. Tamu yang datang

Setelah kami berkeliling dusun, kami lalu duduk di kursi sebelah sanggar bersama Ibu Ika, tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam yang datang. Kami pikiri itu tamu-nya Pak Untung, eh tapi ternyata …. Itu adalah Kak Inu. Aku bingung sih, kaget hahaha. Kemudian Kak Rintha menyusul.

Kami lalu melakukan pengecekan log book dan refleksi yang dilakukan kurang lebih se-jam. Perasaanku jauh lebih tenang sih setelah refleksi itu. Seperti terluruskan kembali hahaha. Karena memang dari hari awal, pikiranku sudah banyak banget tentang ekspedisi ke Dusun Sumber ini. Banyak hal yang aku cemaskan dan takut ku sesali sendiri. Tapi, disatu sisi lagi penyesalan bukan terdengar seperti bagian diriku. Pasti ada, tapi aku tidak pernah berkalut-kalut. Karena menurutku, hidup ya seperti itu. Ketika ada yang seperti itu, aku malah terdorong untuk ‘Yuk kembali lagi?’. 

Nah, tapi di hari-hari sebelumnya tuh aku merasa ada tekanan dari diriku sendiri (iya, ini yang aku coret-coret di log book) tapi, kemudian Kak Inu dengan sulapnya mampu menangkapku dan berkata ‘Jangan dipikirin. Pokoknya kalau kalian stuck, hubungi kami’. Ya, terasa lebih baik.

4. Balado terong ter-enak

Makan siang hari itu, mungkin adalah makan siang ter-spesial versiku di Sumber. Aku tidak mau bohong tapi, balado terong Ibu Ika adalah balado terong ter-enak yang pernah aku makan. Bahkan lebih enak dari punya Ibu Indah. Meskipun tidak pedas sama sekali dan versinya berbeda dengan milik Ibu Indah tapi, sangat cocok dilidahku! Rasanya lebih kearah manis ketimbang pedas, tidak pedas sama sekali malahan. Mungkin karena lidahku sangat Jogja jadi cocok dengan sambal yang manis.

5. Membantu Pak Untung memindahkan tanah.

Siang hari itu aku, Aruna, Lendra, Pak Untung, dan Bu Ika bekerja sama memindahkan tanah kesisi pojok halaman yang mendekati jalan. Sebenarnya, melelahkan banget sih terutama punggungku. Aku beberapa kali akan berkata ‘Boyokku’ dengan nada ala nyanyian Anang Hermansyah ‘Jodohku’. 30 menit terasa lebih lama saat melakukannya.

6. Bermain dengan Intan dan Lala

Akhirnya kami menemukan anak yang gampang diajak berbaur. Oiya, sepertinya aku lupa mengatakan bahwa anak di Sumber kebanyakan pemalu dan mereka susah untuk membuat percakapan. Tapi, berbeda dengan Intan. Anaknya emang supel dan gak pemalu. Awalnya sih, waktu belum ada topik pembicaraan masih malu-malu. Tapi, begitu kami klik dengan satu topik bersama langsung deh.

Tebak, topik yang kami bicarakan apa? Ya, adik Aruna tercinta Nara! Asal kalian tau saja, ternyata Nara sudah besar, sudah bisa PDKT dengan cewek saudara-saudara T^T ya mungkin udah masuk ke batas menggelikan sih. Intan kemudian mulai curhat dan Aruna tertawa terbahak-bahak menemukan sisi baru dari adiknya itu.

Kami juga sempat jajan es jeruk dan es tape di warung. Intan juga bercerita kalau dia itu anak SMP Tara Kanita dan sering pergi berkunjung ke Jogja karena kedua kakaknya bekerja dan sekolah di Jogja. Ia bahkan sering menonton di bioskop. Jauh lebih sering dia kayaknya, dari aku.

Meskipun anaknya seru, tapi kebiasaan buruknya Intan bikin aku gemes banget. Buang sampahnya suka sembarangan. Dia sudah 2 kali buang sampah di depan mataku begitu saja, dan ya langsung ku tegur. Ia langsung membalas ‘Eh, eh iya mbak’ sambil menunjukkan giginya.

Tadinya, hari itu aku dan Aruna ingin latihan menari atau gamelan. Tapi dibatalkan sama Pak Untung, beliau berkata ‘Narinya besok aja ya’. Yasudaaaah.

7. Ke masjid dengan Ibu Salamah

Rutinitas setiap hari di Dusun Sumber haha. Aku menggunakan waktu berangkat untuk bertanya-tanya sedikit tentang tradisi sebelum ramadhan kepada Ibu Salamah. Beliau lalu menyebutkan Sadranan dan Genduri. Sadranan dilaksanakan sebelum ramadhan, setiap tanggal 25 kalender jawa. Setiap rumah memasak sendiri-sendiri lalu nanti digabung di sanggar membuat tumpeng besar. Ada gorengan, kering-keringan, lauk, dll. Dilakukan seluruh warga dusun. Ibu Salamah juga bilang bahwa mereka akan membagi-bagi pisang, pisang apa saja saat sudah matang. Tapi, beliau tidak tau makna dibaliknya apa.

Kalau untuk Genduri, ini juga dilakukan sebelum ramadhan. Untuk mendoakan arwah-arwah leluhur dulu. Kalau ini, suatu keluarga membuat genduran lalu baru warga sekitar datang (acaranya lebih personal). Di beberapa dusun sudah tidak dilaksanakan lagi tapi, di Dusun Sumber masih kuat.

Aku menanyakan ini di waktu berangkat dan pulang sholat maghrib dan isya. Bahkan saat pulang sholat isya, seorang ibu bernama Ibu Tri juga menjawab pertanyaanku bersama dengan Ibu Salamah.

Sebelum tidur, aku dan Aruna sempat bermain tapok nyamuk dengan Lendra dan Sekar. Tapi, karena Sekar ketinggalan terus, kami memutuskan untuk bermain kartu biasa. Permainan lalu dihentikan karena besok mereka harus sekolah! Malam itu, kami tidak menonton sinetron karena channelnya tidak ada sinyal. Jadi kami memijat Ibu Ika sambil menonton televisi dengan channel lain. Aku memijat kaki dan Aruna memijat kepala Ibu Ika. Tapi, kemudian berakhir dengan aku memijat kaki kiri dan Aruna kaki kanan. Kemudian, kami semua berakhir ketiduran di depan TV.

membersihkan padi
membantu Pak Untung
Intan!
astaga, gak sadar kalau blur! But can you spot the balado terong?

Sekian untuk hari ini!!

Tinggalkan Komentar