A little intro …

Disclaimer, this post is written in English. There will be lots of rambling, TMIs, useless stuff I wrote. So, read at your own risk!

Hey … I’m back after … a month?? Well, here’s a stronger version of me trying to tell you stories about what is up with my life right now. I feel like I’ve never really talked about my daily life here, or just about my feelings and thoughts in general. Always been caught up in the feeling of anxiousness whenever I try to write something, it’s been a lot better tho. I couldn’t even read my old posts a few months ago, now I can!! And I don’t get anxious or feel like a disappointment!! Little secret improvement to celebrate with myself.

Well, how did that happen? I don’t know as well, part of the process of growing up, I guess? But, I did experience a bunch of new things in the past couple of months. Have I told you all that I started doing an internship in a startup company? Had to blend in with people who are 6-10 years older than me? Had to suddenly adapt from school-field to a working field? Had to use secret techniques to be able to fit in?

Well, I’ll tell you more about that in a different blog post but yes, a lot has happened. It’s kinda crazy to say that I am able to receive this big opportunity at the age of 16, truly a privilege. I got to meet people with different personalities, backgrounds, ideas, and characteristics. Experienced crazy shit that’s way too dramatic for my 16 years old existence, walked out from that crazy shit, able to be okay after, and managed to build more happy memories. It’s kinda weird to say but I’m so relieved after everything has happened, I can’t deny but I was scared. 

Experiencing that at such an early age when it’s not something that I should be even facing in the next couple years was very …. hard. I won’t get into the details or the context but I hope that kinda gives you a little information about things that I was facing.

Anyways, despite that! I was able to get closer with the other folks. Just like a book I read in the Philosophy class last year titled “The Nonsense Guide to Conflict and Peace”. From that book I realised that even because of the conflicts that are happening, there will always be a positive side to it. For example, there is a conflict between housing A and housing B, I mean of course it’s not so great, right? But from another perspective, it can also be seen that it brings the residents of housing A closer together as a community, as well as housing B (i hope that makes sense). I realised that a couple months ago and now here I am experiencing it in real life. Crazy!

Hence why, yesterday I could go on a getaway trip with the bros (Mas Dian and Mas Thesa!). Haha yes, this post is made because I want to share with you all about the trip I went on yesterday with them! The others went back to their hometown for Eid Mubarak, so there were just the three of us in Jogja. 

We planned on going to Parangtritis beach because … why not. I’ve literally been hanging out with them for the past week and we always hung out at the office. So, it’s time to see some nature lolll.

It was probably the randomest trip I’ve ever been on so far. We left at about 8 AM, stayed at the beach till 11, decided to rest at the office (which means we had to go all the way to the north), and at 4 pm we left to go to Bukit Bintang (Mbak Don, Mas Qq, and Mas Wahid came to join us in Bukit Bintang).

That was my first time going on an all-day trip with a motorcycle strolling around Jogja with my friends. Don’t worry! I will write a blog about yesterday’s trip in my next post (it’ll be in Indonesian tho, cause I tried writing it in English but it just doesn’t sound right). Other than that, I just had to highlight our fun conversations from talking about uni, uni majors, the intentions of going to uni, plans after working, perspective on how would you want to raise kids, how self control is really hard for men, and etc. The convo we had was probably the one that made the trip ten times more fun. The people and the conversations … ain’t it such a good way to be spending your last holiday? Having good conversations with the people you enjoy hanging out with. 

Anyways, that trip ended pretty late. I got home at about 11 PM but it was so fun and I’d do it all over again. Please wait for my next post for the details of the trip, cause I’m kinda excited to share haha. 

Whoops, it’s getting late. All I’m going to say is that, I’ll be trying to post more here and share with you all my stories! I hope this little intro could be a good beginning on how this blog will kinda end up looking. See you all next time, toodles!

– 16th May 2021.

Terima Kasih, Kelana Maya!

1. Selama proses merancang hingga menyelesaikan penelitian & melakukan presentasi, bagian mana saja yang kalian nikmati? Sila ceritakan dengan singkat.

Sebelumnya, mungkin harus kita ganti dulu pertanyaannya ke “Apakah kamu menikmati proses merancang hingga menyelesaikan penelitian?” sesuai dengan tahapan pertama Socratic Question untuk mengklarifikasi terlebih dahulu.

Wkwk, kabor. Bercanda, Kak😭

Wah, kita harus kembali ke ± 1 bulan yang lalu ketika Gya dan Litak masih kebingungan untuk memilih mau meneliti apa. Awalnya kesulitan banget untuk menemukan benang merah dari peta pikiran dengan topik Teknologi di Perikanan yang tim Sashimi buat. Tim sashimi sampai sempat konsultasi dengan Kak Inu karena aku dan Litak tidak menemukan benang merah dari apa yang kami tulis HAHAHAHA, alias bingung sendiri. Padahal, balasan pesan Kak Inu adalah,

[5:22 PM, 1/28/2021] Kak Inu: Teknologi kan luas tuh

[5:22 PM, 1/28/2021] Kak Inu: Kalian urain dl apa aja. Lalu lihat yg paling logis buat dilakukan dan diteliti apa

[5:22 PM, 1/28/2021] Kak Inu: Aku udh liat sih dr sini

[5:22 PM, 1/28/2021] Kak Inu: 😬

[5:22 PM, 1/28/2021] Kak Inu: Tp coba kalian temuin dl

Tapi kami tetap bingung. 

“Opo yo lit, kok aku malah tambah ruwet” (“Apa ya lit? Kok aku malah tambah bingung”)

“Haiyo podo”  (“Lha iya, sama”)

Di atas merupakan contoh percakapan nyata yang cukup merangkum kebingungan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih tema berhubungan dengan teknologi yang sudah ada, “fish finder”. Mengingat bahwa di pertemuan dengan Aruna.Id, Kak Utari juga menjelaskan mengenai teknologi tersebut. 

Singkat cerita, aku dan Litak sudah mulai berjalan dua minggu mencoba mendalami topik itu, kemudian petir pun menyambar. Kalau aku tidak salah, kami sadar bahwa meneliti tema itu dalam waktu kurang lebih satu bulan pasti akan sangat sulit. Tidak mungkin bisa. “Ambis banget ya kalian” mungkin akan seperti itu komentar-komentar yang keluar. Alhasil, judul kami ganti di tanggal 12 Februari 2021 menjadi “Media sosial sebagai alat untuk peningkatan kesadaran anak muda terhadap laut dan perikanan”. Alias, diubah menjadi teknologi yang sangat dekat dengan kehidupanku dan Litak sebagai generasi Z. 

Lika-liku pencarian judul itu yang menurutku menarik! Pantesan kalau di Twitter suka lihatt orang-orang bertanya soal judul skripsi ya, banyak juga candaan tentang judul yang ditentang dosen. Jadi mengerti wkwkw

2. Selama proses tersebut, apa saja tantangan yang kalian alami dan bagaimana kalian menghadapinya? (termasuk masalah manajemen waktu dan kerja tim)

Selama proses Kelana Maya, pastinya banyak banget kendala yang aku alami. Mari kita coba list!

  1. Self-Control. Sebenarnya ini sempat aku bahas juga waktu sesi dengan Kak Inu di tahap 2. Dengan aktivitas dan proses pertumbuhan yang sedang aku hadapi sekarang, aku lumayan sulit untuk bisa melakukan ini. Banyak banget yang lagi terjadi di hidupku! Untungnya sekarang sudah lebih baik, di belakang ini semua ada banyak drama kehidupan yang sebenarnya sudah malas juga untuk aku bahas. 
  1. Manajemen waktu. Semua yang berhubungan dengan waktu sih. Ibarat memilih virtue dan pleasure, bukan? Menurutku di tahap 3 ini, aku sudah agak lebih baik. Lebih banyak waktu yang diluangkan untuk bertemu dengan teman kelompokku untuk membahas masalah penulisan. 
  1. Selesai banyak atau tidak sama sekali. Ini jelas tercerminkan di workplan kami, entah kenapa memang begitu cara kerja kami. Begitu bertemu, langsung menyelesaikan banyak hal, yang sebenarnya aku kurang tahu ini hal baik atau tidak. Ya, harusnya sih sudah bisa belajar untuk mencicil tugas. Ini sebenarnya melelahkan buat fisik. Pertemuan terakhir kami di sebuah cafe memakan waktu 6 jam untuk merampungkan penulisan, itu punggung dan mata rasanya sudah tidak bisa dideskripsikan lagi. Pulang-pulang langsung tepar! Jadi aku pikir ini poin yang penting.

3. Apa saja hal baru (yang berkesan), yang kalian dapatkan selama proses membuat penelitian di tahap 3? (pengetahuan/wawasan/keahlian baru)

Pertama, pastinya cara menulis. Dari mulai mengutip, mengambil sebuah argumen, dan menarik benang merah dari semua tulisan yang akan jadi dasar penulisan. Ini dari titik awal sih, dari mulai pencarian topik sudah harus bisa melihat benang merah. Melihat sebuah benang merah ternyata bukanlah pekerjaan yang mudah, 

“gimana ya biar argumen yang dibuat ini bisa lebih diperkuat?”

atau,

 “gimana ya biar apa yang ada di kepala bisa ditumpahkan ke tulisan?”

Pengalaman aku dan Litak, kami harus merekam suara terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa menuliskan argumen yang ingin kita sampaikan. Penemuan bahan untuk menulis landasan teori juga ditemukan sembari menulis, jadi bingung sendiri haha.

Kedua, melakukan pekerjaan secara runtut. Ini belum sepenuhnya terjadi sih, karena lucunya saat penulisan kami melompati Bab II dahulu. Saat itu langsung kami berikan Bab I dan Bab ke III untuk dilakukan pengecekan. Sekarang kalau dipikir, ya pantas kebingungan ketika penulisan landasan teori hahaha.

Ketiga, pastinya tentang isu laut dan perikanan. Aku jadi harus menelusuri isu ini lebih lanjut, yang sebelumnya jarang aku telisik dan hanya sebatas “tahu”.

4. Ceritakan hal-hal yang kalian sesali terjadi selama tahap 3, jika ada. Dan, jika bisa diulang, hal apa saja yang akan kalian perbaharui/ubah dalam proses membuat penelitian (termasuk dalam manajemen waktu & kerja tim)? 

Kalau udah soal merubah sesuatu dalam proses, agak sulit bagiku untuk menjawab. Namun, menurutku aku akan meluangkan waktu lebih di penulisan, terlebih di landasan teori. Menurutku, jika bisa diperbaiki mungkin akan disambungkan dengan teori “Continuous Information” dan data yang kami dapatkan bisa lebih dikaitkan dengan argumen-argumen yang dibuat. Data kemarin sepertinya hanya lebih untuk penguat argumen saja. 

Selain itu, sepertinya aku belum menemukan hal lain yang ingin aku ganti. Karena dari perjalanan tahap 3 ini, aku juga tetap belajar tentang teman setim yang sudah kukenal selama kurang lebih 5 tahun. Tetap ada miskomunikasi dari kami, namun kemudian sebuah kesepakatan ditetapkan bahwa komunikasi memang sangat penting dan harus selalu memberi kabar. Setelah miskomunikasi, kami sudah menggunakan Workplan dan proses pengerjaan jauh lebih tertata setelah itu.

5. Adapun target lain dari program KM ini yaitu tentang keterampilan mengatur waktu dan kerja sama tim. Coba ceritakan singkat manfaat yang kalian dapatkan dari tahap 3 ini, terkait kedua hal tersebut. Adakah hal baru yang kalian kenali dari diri sendiri terkait kedua hal tersebut.

Di tahap 3 aku sudah lebih sering meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman setim sih! Terutama ketika proses penulisan. Aku menemukan diriku suka membuat Work Plan hahaha, wow mengejutkan. Mengenai hal apa yang akan kita tulis, argumen apa yang ingin kita buat, dan dari situ data apa yang harus ada untuk memperkuat. Keterampilan untuk melihat dari akar, mungkin itu yang ingin aku perkuat lagi dan sudah mulai muncul. 

Kerja sama tim menurutku tidak ada masalah signifikan sih! Akhirnya bisa satu tim dengan Litak setelah saat SMP tidak pernah dikelompokkan bersama. Sama-sama belajar juga, aku juga menyesuaikan agar bisa saling sama-sama nyaman.

6. Terkait pelajaran filsafat, hal apa saja yang kalian (coba) terapkan selama proses di tahap 3 ini? Ceritakan manfaat yang kalian dapatkan dengan menerapkan hal tersebut. Dan apakah hal ini akan kalian berencana menerapkan untuk seterusnya?

Mengenai pelajaran Filsafat sebenarnya lebih diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Asumsi dan klarifikasi dari awal kelas sudah sangat menonjol dan membantu untuk lebih berhati-hati lagi ketika beropini atau berbicara. Seperti yang aku sampaikan di atas mengenai keterampilan untuk melihat dari akar atau dalam filsafat istilahnya dapat melihat “matahari”, sudah mulai aku berusaha terapkan bahkan di kehidupan sehari-hari. Layaknya pengalamanku beberapa minggu yang lalu diwawancara oleh salah satu LSM, dengan bentuk pertanyaan “Setuju tidak kalau pemerintah membuat …?”

Jawabanku bukan setuju atau tidak setuju. Aku menjawab tergantung, aku harus tahu dulu siapa pembuatnya, untuk apa itu, nantinya akan bagaimana, baru aku bisa menjawab setuju atau tidak. Jawaban paling beda sepertinya, karena setelah aku menjawab “tergantung”, mereka langsung bertanya kembali “kalau boleh tau, kenapa?”. Usai aku menjelaskan, sang videografer langsung tersenyum sambil berkata “Kalau aku disuruh menjawab pertanyaan yang sama, jawabannya juga kayak gitu sih. Harus tahu dulu backgroundnya”

Ya, iyalah kalau di filsafat mah baru bayangan itu! Masa langsung setuju atau tidak setuju, mau dibawa kemana negara ini wakakaka. Hal-hal simpel seperti ini yang aku rasa sangat dipengaruhi setelah belajar pelajaran filsafat. Ketika aku bertukar pikiran dan mengobrol dengan orang lain jadi lebih menyenangkan dan jelas juga!

7. Terkait isu laut & perikanan, hal apa yang akan kalian lakukan/praktikkan usai program Kelana Maya? (Dari hal yang paling kecil hingga rencana bikin project, jika ada).

Rencana ke depan terkait isu laut dan perikanan … belum aku pikirkan lebih lanjut sebenarnya. Tapi, kalau BINSAR membuat acara dengan isu ini dan kolaborasi bersama lembaga lain seperti Econusa … hm … bisa kita pikirkan. Untuk kelanjutan penelitian, aku dan Litak belum memikirkan juga sih, tapi dari komentar-komentar kemarin ketika presentasi, sepertinya asik juga kalau kita lanjutkan. 

Saat penelitian kemarin, sebenarnya ingin juga untuk membuat sebuah contoh konten dan membuat polling (apakah disukai atau tidak) agar mendapatkan jawaban lebih konkrit. Tapi tidak sempat!

Sekian dari refleksi kali ini, terima kasih! Sampai jumpaa~~

Teknologi di Perikanan

Hari Jumat kemarin, merupakan hari terakhir Kelana Maya tahap 2. Waw, tidak terasa bung! Sudah 4 pekan kami lewati, menemui dan mendengar narasumber-narasumber dengan cerita dari sisi mereka masing-masing. Sebuah pengalaman daring yang “bagaikan ombak” kalau Lita biasanya bilang. 

Kelas terakhir ini, kami mendapatkan kesempatan untuk bisa berbincang langsung dengan nelayan JARI dan dari Aruna.id! Sebelum tahap 2 sih, aku dan teman-teman sudah mendalami sedikit tentang Aruna.id. Kami menonton “Sunrise At The Sea”, sebuah film tentang awal mula Aruna dibentuk. Dulu ketika mendengar website Aruna.id, aku langsung berpikir bahwa itu sebuah website yang berhubungan dengan nama teman seperjuanganku di Kelana Maya, yap nama mereka sama-sama Aruna! Ternyata, Aruna.id merupakan sebuah aplikasi perikanan e-commerce Indonesia. 

Aku lumayan tertarik mengenai teknologi di bidang perikanan, apalagi setelah membaca buku bacaan “Konflik Sosial Nelayan, Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan.” Di buku itu terdapat beberapa perspektif tentang bagaimana dampak teknologi di kehidupan para nelayan. Aku jadi penasaran dengan bagaimana implikasinya di kehidupan secara nyata dan di era 4.0 sekarang ini. Bagaimana sih cara teknologi dapat membantu kehidupan nelayan?

Jadi, aku tanyakan pertanyaan itu langsung ke Pak Amir dan Pak Bun dari JARI, serta Mbak Utari dari Aruna.id. Melihatnya dari 2 perspektif nelayan langsung dan seseorang yang berada di siklus perikanan, aku bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa teknologi bisa sangat merugikan. Bahkan menurut Pak Amir, setelah listrik dan ponsel genggam masuk ke Poto Tano, NTB, tradisi-tradisi baik menjadi hilang. Beliau bercerita bahwa dahulu ketika mereka masih menggunakan lampu minyak, nelayan-nelayan di sana akan menunggu bulan untuk berbincang. Wih, romantis banget. Aku mendengarnya saja sampai tersenyum sendiri. Selain itu, komunikasi jadi berkurang. Mungkin karena sekarang semua sapaan berada di aplikasi layaknya Whatsapp jadi tidak perlu lagi untuk bertemu secara tatap muka untuk berkomunikasi. 

Mbak Utari juga menguatkan opini tersebut. Dari perspektif beliau, perlu diketahui dulu permasalahan yang sedang dialami nelayan. Bukan hanya dilihat dari “Oh, teknologi akan memudahkan”. Tidak bisa semuanya dipikul rata seperti itu. Selama ini aku berpikir teknologi di bidang perikanan hanya sampai fish-finder, kapal. Ternyata jauh lebih dari itu lho!

Sektor Pemasaran, misalnya. Seperti apa yang tengah digeluti Aruna.id sekarang ini. Dengan bantuan teknologi, proses jual-beli nelayan bisa langsung ke konsumen. Dari domestik hingga internasional. Aruna.id juga membantu membina nelayan di desanya, terdapat 31 titik “Rumah Nelayan Aruna” yang tersebar di Indonesia. 

Masih berhubungan dengan teknologi, aku juga penasaran tentang overfishing. Selama ini yang aku tahu tentang teknologi di perikanan kebanyakan adalah fish-finder, dampak dari beberapa kasus menceritakan bahwa fish-finder sangat merugikan ekosistem bawah laut karena membuat nelayan bisa melakukan overfishing. Jadi, kemarin aku bertanya ke Mbak Utari akan hal itu, peran edukasi menangkap ikan. Biasanya yang ditangkap hanya 1 komoditas, jadi penting bagi nelayan untuk tau banyak ikan di pasar dan pesaingnya. Ajaran tangkap ikan jenis beda, alat tangkap beda, dan  ikan-ikan tertentu sesuai musim. 

Lalu juga dengan anak-anak muda penerus nelayan. Beberapa orang tua, asumsinya tidak ingin anaknya meneruskan di jejak yang sama. Sama seperti yang terjadi di pertanian Indonesia sekarang ini, kebanyakan orang tua akan berkata 

“Ngga usah jadi nelayan, miskin” 

Seperti pengalaman Mbak Utari sendiri yang tidak didukung orang tuanya untuk ikut masuk di siklus perikanan. Tapi ada beberapa nelayan yang menitipkan pekerjaan nelayan sebagai warisan atau hidayah. Anak-anak muda yang dulu tidak mau meneruskan menjadi nelayan punya mimpi untuk bisa membantu komoditas nelayan. 

Kelas kemarin aku senang sih, aku merasa telah mengklarifikasi beberapa hal yang selama ini menjadi sebuah pertanyaan sepanjang kelas Kelana Maya. Aku juga belajar dan mengenal hal-hal baru! Seperti kehidupan di Poto Tano, model pengelolaan, dan kesepakatan-kesepakatan nelayan. 

Kata akhir yang ingin aku highlight!

“Yang dibutuhkan adalah solusi bukan teknologi. Dan coba pertimbangkan apakah teknologi itu bisa masuk atau tidak.”

Terima kasih atas ceritanya, Mbak Utari, Pak Bun, dan Pak Amir 😀

“Anak-anak nelayan?” (Refleksi-180121)

Kelas kemarin aku bertemu dengan Pak Parid Ridwanuddin! Aku harus cerita bahwa seneng banget dengerin Pak Parid cerita, penuh dengan semangat. Huhu, asik sekali. 

Kami mulai kelas pukul 7 malam WIB, seperti kelas sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan, jadi aku sudah takut tidak bisa fokus di kelas itu. Seperti biasa, sebelum kelas kami kenalan terlebih dahulu! Beliau ternyata berasal dari Garut, jadi sudah ada ketertarikan dengan laut dari sisi keluarga. 

Kami mendalami kembali perihal nelayan tradisional. Satu pertanyaanku, di kelas sebelumnya dikatakan bahwa nelayan tradisional itu yang kapalnya kurang dari 5GT. Tapi, di kelas ini kurang dari 10 GT. 

Hmmm, kira-kira sebenarnya yang benar yang mana yaaa?

Di kelas kemarin, aku juga mendengar banyak banget masalah dari perikanan! dari proyek reklamasi, pertambangan, minapolitan, sampai ke masalah pariwisata. Aku kemarin malah jadi penasaran dengan keberlangsungan nelayan tradisional di Indonesia. Dari beberapa percakapanku dengan orang-orang di sekitar, kemungkinan besar banyak orang tua nelayan menginginkan anaknya untuk tidak meneruskan menjadi nelayan. Asumsinya, karena mereka menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya. 

“Mending pergi ke kota dan belajar, lalu cari kerjaan. Jadi nelayan nanti miskin”

Aku penasaran, apakah itu yang menjadi salah satu faktor kenapa anak-anak nelayan tidak tertarik meneruskan menjadi nelayan?

Kemarin, aku dapat jawabannya dari Pak Parid. Beliau berkata bahwa itu juga menjadi salah satu alasan kenapa banyak anak nelayan tidak meneruskan menjadi nelayan. Banyak anak nelayan kemudian juga kebingungan bagaimana cara membantu orang tua mereka setelah pulang dari bersekolah.

Padahal, banyak cara juga untuk bisa meningkatkan perikanan di desa nelayan-nelayan. Seperti cerita Pak Parid di tambak udang Pasenna. Di sana, anak-anaknya di dorong untuk kembali pulang dan membantu sesuai minat dan bakat. Misal, membuat video ataupun akuntansi.

Aku juga mendengar banyak hal baru sih, yang paling menarik adalah menjadikan laut sebagai “Ruang Pembuktian” di Sulawesi Utara. Sebelum menangkap ikan ada ritual terlebih dahulu. Misal tidak boleh berbohong atau tidak boleh berantem. Sungguh menarik.

Setelah kelas ini aku jadi tertarik untuk mendalami permasalahan reklamasi. Dahulu, aku belum tau banyak. Kayaknya baru dari video Pak Parid deh! Setelah kelas, aku jadi membahas ini dengan rekan membuat peta pemikiranku, Lita. Lita memberikanku banyak buku dan tautan website untuk dibaca mengenai topik ini. Dan kami membahas dan menyaringnya menjadi beberapa pertanyaan.  

“Gya refleksinya telat lagi!!!”

Langganan banget ya bund~

wwkwkwk maaf! Akhir-akhir ini aku sedang benar-benar kesulitan untuk bisa membagi waktu antara kesibukan dan istirahat. Semua kegiatanku berkumpul di minggu ini :< minggu depan udah selo malah kegiatannya berakhir semua ….. oalah hidup ….

Akhir kata, terima kasih Pak Parid sudah bercerita! Dan terima kasih sudah membaca :>

Nelayan Perempuan (Refleksi-140121)

Kelas kemarin kita kedatangan Kak Ria dari Jakarta! Dan topik yang akan dibicarakan adalah tentang peran perempuan di bidang perikanan. Jadi ingat setahun yang lalu, tepatnya tanggal 12 Maret 2020, aku dan Aruna di Ekspedisi Remaja 2.0 sempat juga membahas perihal topik ini. Setahun yang lalu, kita sudah menikmati video yang menceritakan Ibu Masnu’ah dari Demak yang memperjuangkan hak-hak nelayan perempuan. Jadi, sebelumnya aku sudah mengetahui adanya permasalahan ini. 

Kelas dimulai pukul 7 malam, kalau aku boleh jujur, sebenarnya bukan hal terbaik. Aku sih lebih suka kelas sore ya, hihi. Dan seperti biasa, kami mulai berkenalan! Kelas kemarin mungkin menjadi kelas perdana yang cukup interaktif, Kak Ria selalu mencoba untuk membuat percakapan dua arah dan terus-menerus bertanya kepada kami. 

Kak Ria ternyata tidak hanya mendalami isu perempuan nelayan, ia mendalami seluruh masyarakat pesisir. Perempuan nelayan itu hanya satu isu dari banyak isu perikanan. Bagian dari perikanan yang tidak boleh dilupakan. Aku dapat beberapa info baru juga kemarin! Bahwa semua orang yang berperan dalam proses perikanan adalah seorang nelayan.

Iya sih, benar. 

Tapi yang spesifik untuk memisahkan ikan dengan jaring dan pekerjaan-pekerjaan kecil namun penting lainnya … sepertinya belum pernah dengar.

Hm, sepertinya ini berhubungan dengan permasalahan pengakuan dari masyarakat tentang nelayan perempuan. Kemarin Kak Ria bercerita bahwa langkah awal untuk mendapatkannya dimulai dari nelayan perempuan yang mengakui dirinya sebagai nelayan. Ketika ditanya perihal pekerjaan, mereka harus dengan lantang menjawab “Nelayan” bukan seorang “Ibu Rumah Tangga”. Mereka harus bisa yakin bahwa apa yang dilakukan bukan hanya sebatas membantu suami, tapi sebuah pekerjaan yang berhak mendapatkan akses-akses tertentu. 

Jadi, percaya diri juga penting! Kalau kata Kak Inu mah, “Bu Masnuah dikloning harusnya” hahahaha. 

Aku rasa cukup sulit sih kalau sudah masuk ke masyarakat yang bias, karena itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Itu yang “Normal”. Yang pastinya harapan kita semua, itu harus diubah. Tapi, dari kacamataku ini akan menjadi lebih baik dengan generasi baru yang akan datang. Seiring waktu berlalu ya.

Jujur di kelas kemarin kami malah sibuk membahas tentang pentingnya nelayan tradisional/nelayan kecil di sektor perikanan. 

“Sebenarnya peran mereka apa sih?” “Apakah mereka akan hilang?”

Pastinya kalau mereka hilang, rantai perikanan akan hancur. Tapi, apa alasan mereka untuk tetap menjadi nelayan tradisional? 

Kalau dari aku sih, kembali ke prinsip hidup, bukan sih? Kalau dari Kelas Filsafat mah, “Virtue or Pleasure”. Mungkin memang ingin menikmati pekerjaannya, tidak ingin merasa dikejar dan terkekang. Layaknya beberapa petani yang aku wawancarai ketika Kenali Sekitar di Ekspedisi Remaja sebelumnya!

Kami mengakhiri kelas itu dengan pertanyaan yang masih aku pertanyakan itu! 

“Gya Refleksinya Telat!!!!”

Huehuehue iyaaa, sekarang benar-benar sedang dikejar banyak hal wkwkwk. Tapi weekend kemarin, aku, Aruna, dan Kaysan mengikuti sebuah rangkaian program bernama “Case-A-Thon”. Hari Sabtu dan Minggu dipenuhi dengan mendengarkan banyak narasumber dan bertemu teman-teman baru. 

Tiga  kata untuk mendeskripsikan, capek dan seru. Bayangkan 2 hari penuh berada di depan laptop untuk Zoom. Pantesan anak sekolah capek ya /bersyukur atas pilihanku homeschooling tepat sebelum pandemi/. Bahkan screen time laptopku sampai menyentuh 15 jam! 

Jujur, imposter syndrome meningkat setelah mengetahui bahwa panitia-panitia di acara itu adalah anak-anak remaja seumuranku. Keren banget! Apa kabar BINSAR UwU 

Menurutku sesi paling asik sih mendengarkan Kak Nadine, Kak Faye, dan Kak Ayu Kartika Dewi bercerita, seperti ditampar wkwkwk. Disebutkan bahwa refleksi dan logbook itu sangat penting! Hahaha. Aku juga highlight 1 kata, 

“Ambillah resiko sebelum kamu berpikir kamu siap” 

Dan juga untuk mengenali diri dan tidak membandingkan diri … ya bilangnya gampang sih, eksekusinya susah wkwk.

Oh, aku dan Aruna juga sudah punya teman-teman baru lho! Kami berkenalan setelah acara Hari Sabtu dan langsung ngobrol santai bersama sampai langsung buat grup. Grupnya dinamakan “Ukhti-Ukhti Hitz” yang anggotanya berasal dari Magelang, Magetan, Jogja, Jakarta, dan Bogor. Seru!

Kemungkinan besar, seminggu ini akan jadi minggu paling hectic 2021 ku (sejauh ini). Semesta, ayolah bantu aku. 

Terima kasih sudah membaca! Terima kasih juga untuk Kak Ria yang sudah berbagi ❤ sampai jumpa, maaf kalau banyak salah :p

Suku Bajau (Refleksi – 110121)

Hai, hai! Kembali lagi dengan sebuah refleksi Kelana Maya dari perspektif Gya! 

Hari Senin 11 Januari kemarin, kita ada kelas nih dengan Pak Tasfirin Tahara. Sebelum kelas, aku sudah membaca dulu buku yang dibagikan kakak-kakak di Google Classroom tentang “Suku Bajo”. Yaa, setelah membaca sedikit membuat terbayang akan cerita masyarakat sana, meskipun pastinya banyak hal yang masih belum dimengerti juga.

Di kelas kemarin, aku rasa aku mulai dengan awalan yang cukup segar dan siap untuk kelas. Kalau biasanya baru sampai rumah harus duduk tegak lagi, kemarin aku bisa santai-santai dulu sebelum kelas! 

Uhuk, mempersiapkan mental maksudnya

Jadi sebelum pukul 3 sore WIB, aku sudah duduk di meja dengan peralatan tulis.

Sekitar 10 menit sebelum kelas, Kak Inu tiba-tiba memberikan kabar di Whatsapp bahwa kelas diundur 30 menit karena narasumber masih ada acara lain. “ASIK, MUNDUR” batinku saat itu. Eh, beberapa detik kemudian Kak Inu menambahkan “Tapi tetep masuk jam 3 ya, kita refleksi tugas Peta Pemikiran dulu”

HIYAAAAA

Masuklah aku ke kelas Zoom pukul 3 dan kami mulai refleksi singkat mengerjakan tugas Peta Pemikiran sambil menunggu Pak Tasfirin. Refleksi berjalan sekitar 20 menit, berceritalah kami tentang lika-liku pengerjaan tugas. Aku yang dipasangkan dengan Kaysan untuk tugas kemarin bercerita singkat. Dari mulai bagaimana mulai kerjanya, saat pengerjaan, pemilihan waktu, dan sebagainya. Cukup singkat sih, karena kemudian terputus begitu Pak Tasrifin sudah memasuki ruangan. Kelas pun dimulai!

Seperti kelas-kelas sebelumnya, di awal dimulai dengan kenalan terlebih dahulu. Pak Tasrifin Tahara pun memperkenalkan diri beliau sebagai orang yang lahir dan besar di laut dan mulai bercerita tentang Suku Bajo.

“Suku Bajo”, “Suku Bajau”, atau “Suku Sama” adalah satu kelompok yang memiliki wilayah imajiner yang luas, laut adalah jantung mereka. Menurut mereka tidak ada batas-batas di laut, tidak melihat border negara sebagai batasan. Yang menurutku merupakan sesuatu hal sangat baru dan menarik. Mereka hanya kenal 2 suku di dunia, “Sama” atau sesama Suku Bajo dan “Bagai” orang diluar Suku Bajo.

Aku jadi berpikir apakah itu sebenarnya mempengaruhi sesuatu dalam negara-negara yang didatangi Suku Bajo. Kalau dari buku yang aku baca sebelum sesi kelas, tertulis bahwa

“Orang Bajo sudah mencatatkan diri mereka sebagai putra dunia di UNESCO, PBB dan orang Bajo bukan suku milik suatu negara.” 

Jadi, tidak perlukan Suku Bajo menjadi warga suatu negara? Atau diakui sebagai suku di seluruh penjuru dunia? Karena menariknya ini berhubungan dengan topik yang dibicarakan Pak Tasrifin juga tentang kemiskinan. Dengan tidak terhubungnya Suku Bajo dengan negara, tidak ada yang bisa bertanggung jawab atas kehidupan masyarakat Suku Bajo. Mereka juga tidak memiliki hak atas akses hal-hal tertentu, kesehatan dan pendidikan misalnya (Kita tidak masuk konteks bagaimana pemerintah sudah secara rata membantu masyarakatnya). 

Karena kalau dilihat dari kacamataku kemarin, aku juga tidak melihat Suku Bajo berada dalam garis kemiskinan. Kalau ini bukannya kembali lagi ke prinsip hidup masing-masing ya? Dalam pengetahuanku Suku Bajo hidup untuk hidup. Maksudnya, ada pilihan untuk menangkap atau menjual ikan dalam jumlah banyak, untuk mendapatkan lebih banyak pemasukan. Tidak hanya barter dengan orang di darat. 

Ya, tapi aku masih harus mendalami kesulitan yang dirasakan masyarakat Suku Bajo sih.

Keseluruhannya, kemarin aku mengenal lebih tentang Suku Bajo. Sebuah informasi baru bagiku apalagi sampai mengenal stereotip orang-orang terhadap Suku Bajo, bagaimana menyelam di laut merupakan warisan sosial, pengetahuan mereka soal laut yang diwariskan dari nenek moyang dan bahaya-bahaya yang dialami karena kurangnya akses pendidikan. Ayo kita ke Wakatobi! Hahahaha. Kalau lihat rumah Suku Bajo (yang terletak di atas laut terbuat dari kayu), kayaknya seru banget deh! 

Oh iya, satu lagi. Kemarin aku juga kepikiran tentang privasi dan keintiman Suku Bajo dengan keluarga mereka masing-masing. Keren lho …. bahkan 1 kapal saja bisa memuat 3 keluarga! Wow …. my family my team yak.

Terima kasih kepada Pak Tasrifin yang sudah berbagi, terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca! Sampai jumpa di refleksi selanjutnya~ maaf jika ada banyak kesalahan. Stay safe

“Nelayan Tradisional?” (Refleksi – 070121)

Hai, hai! Kembali lagi dengan sebuah refleksi Kelana Maya dari perspektif Gya! 

Hari Kamis 7 Januari kemarin, kita ada kelas nih dengan Kak Wiro Winandi dari Econusa~ Jujur, aku belum pernah mendengar apapun sebelumnya, jadi begitu menyenangkan untuk bisa mendengar ceritanya langsung dari Kak Wiro!

Kak Wiro memulai kelas dengan memperkenalkan Econusa, “Wih apa tuh?”

Jadi, Econusa adalah sebuah yayasan yang memperkenalkan ke anak muda soal laut, membangun kepemimpinan, dan bagaimana menjaganya. Dan ternyata, awalnya dimulai dari hutan lho! Dari hutan di Papua, ke Maluku, lalu baru terjun ke laut. 

Yang aku suka dari cerita Kak Wiro juga adalah, benar-benar dimulai dari dasar banget. Kita ngobrolin dan menyatukan opini tentang “Nelayan Tradisional” agar kita bisa berada di halaman yang sama. Waktu kelas kemarin aku sih aku jawab “Masih menggunakan alat tradisional, perahu misalnya”, dan setelah itu kami pecah seluruh definisi Nelayan tradisional

  • Perahu tidak pakai mesin/Perahu kecil di bawah 5GT.
  • Alat tangkap kayu dan besi.
  • Jarak penangkapan yang tidak terlalu jauh.
  • Setelah ditangkap, biasanya untuk keperluan rumah tangga.
  • Bagian dari suatu adat.

Salah satu contohnya Panglima Laot di Aceh! Ini udah pernah aku baca hihi jadi sedikit tahu deh. 

Sebelumnya aku juga belum tahu kalau Indonesia adalah pemasok 10% komoditas perikanan Indonesia. Waw! Dan jumlah nelayan di Indonesia yang mencapai lebih dari 2,7 juta. 

Jujur, aku jadi tahu banyak hal deh setelah kemarin! Bahkan sesimpel pohon bakau yang disebut ‘mangi-mangi’ sampai menangkap Karaka alias Kepiting Hitam dengan umpan daging hiu di Hutan Bakau Papua. Terus banyak juga daerah-daerah baru yang aku belum pernah dengar sebelumnya~

Ada Pulau Bawean, Gresik yang tradisinya masih kental. Dari cerita kemarin sih, yang bikin menarik soal Bahasa Madura dengan logat melayu itu. Bahkan sampai mengikuti adanya lumba-lumba untuk mengetahui keberadaannya ikan! Kereeeen.

Oiya, kemarin Kak Wiro juga memperlihatkan soal slide 3 Pilar Pembangunan Menuju Laut Mada Depan Bangsa! Ini jadi inget video Bu Susi yang aku tonton semasa liburan~ yang bunyinya

  1. Tidak melanggar hukum.
  2. Tidak merusak lingkungan.
  3. Tidak merugikan nelayan.

Side note, saat kelas Zoom kemarin sebenarnya sedang agak ambyar yak wkwkwk. Malamnya aku hanya tidur 2 jam, posisi masih di kantor karena malamnya harus urus event yang persiapannya belum selesai. Aduh, memang sebuah hari yang indah untuk hidup emang. Jadi, kemarin agak panik-panik diam gitu. 

Meskipun adanya banyak kendala di hari itu, aku tetap enjoy sih dengan Kelas ini! Aku bisa mendengar dan belajar akan hal-hal yang baru. Meskipun kayaknya setengah dari Zoom itu, aku kayak spaced out. Kayak kata-katanya tuh melayang dan aku berusaha memproses satu persatu. Soalnya dibawa keliling Indonesia gitu! Jadi dengan kondisiku di hari itu yang kurang maksimal …. kayak ketinggalan jiwanya wkwkwk.

Tapi itu adalah pengalaman yang luar biasa! Aku melihat apa yang Kak Wiro lakukan sebagai hal yang sangat menginspirasi untuk dilakukan. Terima kasih atas ceritanya, Kak!

“Weh, dah tahap 2 tho???” (Refleksi-040121)

Hai, semuaaa! Kembali lagi dengan sebuah refleksi dari Kelana Maya. Gak kerasa, kemarin kita sudah memasuki tahap 2 lho!

Kaget kan? Sama wkwkwk

Jujur, liburan kemarin tuh bukan liburan rasanya. Tiba-tiba aja udah tahun baru … alias tiba-tiba aja deadline semua tantangan masa liburan akan datang. Panik hamba panik. Jadi, pertemuan kemarin aku agak gugup wkwkwk. Mana lihat di Google Classroom dijadwalkan kelasnya 3 jam. Ya Gusti, itu bakal ngapain … sudah mengintimidasi duluan :0

Karena takut akan mental breakdown saat pertemuan, aku memutuskan untuk Zoom di rumah. Aku memulangkan diri pukul 14:00 WIB. Ketika sampai di rumah, aku langsung bersih-bersih diri dan bersiap-siap untuk masuk ke ruangan Zoom.

Saat masuk, sudah terlihat tuh ada “Bintang Tamu”. Hayoooo, siapa yaaaa kira-kiraaa.

Ternyata, seperti biasa, sebelum kelas dimulai kita main game dulu! Kemarin kita main game yang namanya Obelix, kayaknya ini pertama kalinya aku main game itu. Seru sih .. cuma agak pusing ya. Kebetulan aku anaknya pasrah aja sih, jadi ya, game kemarin ya pasrah wkwkw. Begitu ada yang bilang “Mermaid Day”, aku langsung “OKE”. Kayak udah 20 menitan muter-muter, mencari jawaban, jadi dengan alasan “Mermaid day kayaknya hari suci gitu kan” sepertinya masuk akal HAHAHAAH. Tapi menurutku, kita udah oke dalam hal “crosscheck” sesama kelompok. Kemarin aku kan sempat ketinggalan saat Kay, Runa, dan Lita sedang menjabarkan semua clue satu per-satu, disitu aku juga langsung bertanya “Eh, yang ini tadi apa?” dan dijelaskan kembali oleh Runa. Jadi, aku rasa kita sudah punya setitik cahaya kerjasama.

Menurutku juga, kemarin sudah ada yang berperan seperti ‘Ketua’, Lita kemarin memimpin untuk bersama-sama mengumpulkan clue kok! Kalau dari sudut pandangku sih gitu ya.

Setelah game yang memakan waktu 30 menitan, kita lanjut ke refleksi tantangan selama hiburan! Aku cerita deh~ tentang aku yang mengerjakan semua tantangan liburan mepet dengan tenggat dan lewat tenggat~ wkwkwkw. Emang agak hectic sih Desember kemarin, ditambah time managementku. Rasanya tiap sampai rumah tuh tepar. Sesi curhat dan cerita itu berlangsung sekitar hampir sejam dan kami melanjutkan ke acara selanjutnya~

Saatnya mengungkapkan siapa “Bintang Tamu” yang sudah menemani kita. Tetereret~ ternyata Kak Tilot namanya! Dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Seru deh, denger ceritanya Kak Tilot! Kak Tilot benar-benar seperti membawa kita ke Pulau Penyengat karena ceritanya yang menceritakan keseharian orang-orang di sana. Aku tuh malah penasaran,

“Lembu untuk hari raya di sana pernah nyemplung ke laut gak ya?”

Klo pernah, cara menyelamatkannya gimana ya?”

Karena di video terlihat lembunya seperti terpeleset saat akan masuk pong-pong HAHAHAHA.

Keseluruhan sih, pertemuan pertama kemarin menurutku cukup oke. Meskipun aku masih agak kaget karena sudah mulai kembali, belum kerasa liburannya T.T rasanya beneran kayak dikejar yak wkwkwk.

Apakah ini adulthood?

Oke, sekian dari saya! Terima kasih sudah membaca :p

Belajar Mengelola Data Kualitatif :D (Refleksi-051220)

Hari Sabtu kemarin tanggal 5 Desember 2020, aku berkenalan dengan cara mengolah Data Statistik lebih dalam dengan Tante Shanty. Jujur, aku dulu sudah pernah belajar itu sih ketika Sekolah Dasar. Sama, di Microsoft Excel juga. Tapi aku sudah lupa! Jadi kemarin itu bagai mengingat hehe.

Sebenarnya menarik banget sih, kode-kodenya yang bikin menarik. Tapi, aku tuh jadi mikir

“Lebih efektif langsung tulisan apa angka ya? Kok kalau baca angka jadi bingung”

Mungkin karena belum lihat data yang langsung banyak banget kali ya, jadi masih lebih suka lihat alfabet hihihi.

Terus waktu kita coba tuh, aku sempet ketinggalan! Aku pikir disuruh duplikasi sendiri kan, ternyata dibuat slide sebelahnya. Untung aku koordinasi dengan Lita, kalau tidak bakal ketinggalan banyak sih.

Aku juga belajar soal skala! Ini aku belum pernah denger sih sebelumnya. Membedakan antara nominal, ordinal, interval, dan rasio. Karena kemarin langsung ada contohnya, jadi aku lebih gampang mengerti sih!

Seperti Nominal, itu untuk menunjukkan sesuatu yang lebih penting. Seperti nama. Jadi kalau dari Khan Academy kemarin, seperti menu cafe.

Lalu ada Ordinal, ini yang ada tingkatan atau urutan. Kayak Jenjang Sekolah atau Level di Kumon (#gyathrowback). Interval yang ada range-nya, seperti gaji. Dan terakhir, rasio, ini semuanya bisa! Jadi lebih terperinci. Misal, umur, tinggi badan, atau isian bebas.

Bakal tertarik ga kalau belajar lagi?

Hmmm, sebenarnya tertarik mengolahnya sih. Menantang gitu, kayak keren lihat angka banyak B-). Karena kemarin baru belajar mengolah, jadi aku baru bisa meloihatnya sebagai sesuatu untuk memperkuat riset. Untuk keseluruhan, aku menikmati kelas!

BONUS:

Maaf, Pak Dian (Guru ICT saat aku Sekolah Dasar). Harusnya aku mengingat materi yang Bapak berikan, bukannya ingin cepat-cepat main Varmintz atau Hamster Ball

Weary face

Data Kualitatif! (Refleksi-031220)

Hari Kamis tanggal 3 kemarin, aku kembali lagi mengenal soal data dengan Kelas Kelana Maya! Kali ini, aku belajar soal Data Kualitatif. Kalau dari kelas kemarin sih, aku belajar bahwa data kualitatif itu biasanya lebih fleksibel! Menarik banget sih untuk bisa dapet data dari apapun (pengalaman, perilaku, pemikiran, foto, tindakan, dan video). Meskipun benar kata Om Yanuar,

“Belum tahu aja kalian, bingung lihat datanya banyak banget”

Iya juga ya. Jujur, jadi mengingatkanku ke Kelas Kakak Sofie Syarief soal Media Sosial dan Goal Keeper.

Data Kualitatif = Fenomena

Bisa jadi observasi, etnografi, query, atau Focused Group Discussion. Ih, kayaknya asik juga ya Focused Group Discussion. Bayanganku asik juga kalau bisa saling berbagi opini.

Sebenarnya dari kelas kemarin aku baru sadar akan beberapa hal yang tidak aku tahu sebelumnya. Seperti “Interpretivisme”, ternyata itu adalah interpretasi! Setelah aku mendengar itu, langsung kayak

“Wow, kok gak kepikiran ya kemarin?”

Because you interpret everything you experience! Jadi semuanya pasti subjektif. Lalu dengan konteks yang harus dijelaskan sedetail mungkin dan juga harus mempercayai semuanya sebagai “Kebenaran Objektif”. Tapi ya, tetap kritis juga.

Mungkin lebih tricky sih, karena harus bisa lihat bahwa “Gak semua relatif juga!” Maka dari itu, Socratic Questions dan Plato’s Cave penting! Diakhir kelas, kami juga diajarkan bagaimana wawancara yang baik dan benar. Dari spesifik ke objek, durasi, etikanya, pencatatan ekspresi, sampai ke tidak menuntun percakapan.

Keseluruhan, aku belajar sesuatu yang baru sih! Harus lebih jelas dan detail juga.