Hai, untuk jurnal hari ini aku mau cerita tentang salah satu pemuda asal Sumber yang kami jumpai saat hendak berjalan-jalan mengelilingi rumah warga! Kami berpapasan di jalan lalu ditawari untuk main ke rumahnya. Ia adalah Mas Gatot.
Rumahnya, jujur harus kuacungi jempol. Asik banget. Letaknya berada di lantai 2 dan katanya dibangun sendiri secara bertahap, mungkin kalau sekarang sering disebut ‘unfinished’ kali ya. Baru saja selesai tahun kemarin, 2018. Di depan pintu masuk rumah ada kursi untuk duduk-duduk santai yang terbuat dari bambu, cocok untuk hanya duduk dan minum segelas kopi sambil baca koran hahahaha.
Kegiatannya sehari-hari adalah menjadi petani, peternak, dan juga menjadi bagian dari berbagai macam komunitas. Biasanya Mas Gatot akan menghabisi waktu di sawah sampai pukul 10 pagi, dan setelahnya acara bebas! Menyesuaikan dengan acara yang akan ada. Terdengar seperti hidup yang menyenangkan bukan?
Itulah mengapa aku memutuskan untuk menceritakannya! Kami berbincang cukup lama di rumahnya sampai dapat melihat dan memberi makan kepada kambing-kambingnya juga. Ini hal yang aku dapatkan!
– Ia mempunyai total 21 kambing ettawa (induk dan anak) serta, 2 sapi yang dipelihara di belakang rumahnya.
– Semua ternak milik pribadi.
– Untuk kambing, yang ia manfaatkan adalah susunya.
– Yang dijual adalah anak kambingnya.
– Untuk sapi yang dimanfaatkan adalah kotorannya untuk biogas. Ia punya alatnya dan pernah disosialisasikan ke warga tapi, tidak ada yang tertarik.
– Sapinya dibuat tabungan.
– Tidak mengikuti koperasi ternak karena hanya ia yang mempunyai kambing ettawa.
– Mendatangkan dokter sendiri untuk ternaknya.
– Membuat kopi, wine, dan biogas juga. Sekarang tengah belajar membuat keju.
– Distributor kopi bersama temannya yang suka kopi juga. Dulu pernah main ke Merapi dan melihat banyak biji kopi yang terbuang begitu saja. Karena orang-orang disana tidak tau cara mengolahnya. Ia bersama temannya lalu bekerja sama.
– Ikut komunitas teather juga, Kalanari.
– Sebenarnya masih belajar menanam, belun berani memegang sawah jadi masih belajar dengan polybag.
– Karena ia menanam mint, ia bekerja sama dengan temannya bernama Pak Liem untuk membuat teh.
– Anak pertama dari dua bersaudara, adiknya kerja di Magelang.
Mas Gatot lalu cerita tentang air di Desa Sumber yang tidak susah untuk didapatkan. Para petani tidak perlu menunggu pergantian musim untuk menanam beberapa tanaman. Tetapi, air bersih sudah mulai berkurang karena adanya tambang pasir di utara daerah Tutup Ngisor. Katanya sampai berhektar-hektar. Sama Mas Gatot dicoba untuk menanam pohon sengon, tapi hanya beberapa yang tumbuh. Dan sekarang menjadi tempat di mana ia ngarit rumput untuk ternaknya.
Mas Gatot ini juga aktif dalam acara-acara desa dan tradisi. Termasuk Festival Tlatah Bocah. Ia bercerita dulu mendapatkan sponsor untuk festival dan sekarang beralih menjadi gotong royong bersama warga untuk modal. Yang mengikuti festival ini biasanya bisa mencapai 6-7 komunitas. Berbeda dengan Festival Lima Gunung yang lebih ke warga di lereng gunungnya ketimbang komunitas.
Satu hal yang membuatku kagum terhadap Mas Gatot dan merupakan alasan terbesar kenapa aku mengetik ini sekarang adalah, rasa cinta terhadap desanya sendiri. Satu hal yang aku sadari lagi adalah, sebagian besar pemuda disana akan pergi merantau ke kota lain untuk bekerja. Berbeda dengan Mas Gatot yang memilih untuk menetap di Dusun Sumber. Karena menurutnya ‘Buat apa sekolah tinggi-tinggi, pinter tapi tidak bisa meningkatkan desa sendiri’.
Ia dahulu sempat bekerja di Jakarta selama 2 tahun, kemudian Kalimantan Timur selama 6 bulan. Namun, memutuskan pulang setelah Gunung Merapi meletus di tahun 2010.
Keinginannya adalah untuk meningkatkan desanya. Maka dari itu, ia sedang belajar membuat berbagai macam variasi makanan dan minuman dari apa yang ada di sekitarnya.
Membuat Timus dengan Ibu Ika!
Merebus tela lalu dihaluskan dengan garpu, lalu diberi garam dan gula. Dibentuk lonjong-lonjong untuk yang tidak ada isi dan bulat-bulat untuk yang isinya coklat! Aku kebagian tugas untuk menggoreng kloter pertama.
Sembari memasak Ibu Ika bercerita tentang bagaimana awal mulanya sanggar dibangun,
Dimulai dengan dulu anak-anak latihan di rumah mertua Ibu Ika yang atapnya sudah rusak. Jadi, susah untuk latihan saat hujan. Ditambah lagi dengan tamu Australia yang akan datang sekitar 30 orang. Seorang kawan menawari Pak Untung untuk membangun sanggar, yang kemudian disetujui oleh Pak Untung. Seluruh warga desa membantu proses pembangunan, benar-benar dikerjakan dengan cepat karena tamu dari Australia yang akan datang. Sekitar kurang dari 1 bulan, sanggar serta rumahnya selesai dibangun.
Setelah timus siap, kami lalu duduk di kursi sebelah sanggar. Jujur, timus coklatnya enak banget! Hahaha. Di luarnya crispy karena dilumuri tepung beras, ketelanya terasa lembut dan hangat, dan sesaat setelah itu juga coklat hangat yang lumer terasa di lidah. Hmm, enak deh pokoknya! Apalagi dengan teh hangat menemani.
Kami menikmatinya sambil bercerita tentang pengalaman live-in sebelumnya, arisan, pengajian, dan toleransi di Sumber. Oiya, aku belum sempat bercerita di blog tentang toleransi di area perumahanku~ nanti aku kubuat blog khusus ya.
3. Tugas yang menyalin dari Google?
Jadi, kami diantar Lala untuk mencari daun pandan di rumah warga. Tapi, karena tidak menemukannya, Lala mengajak kami ke rumah Eva untuk bertanya dan membantunya. Ternyata saat kami sampai, Eva tengah mengerjakan tugas bersama 2 temannya yang lain bernama Vira dan Vida.
Awalnya, aku mengira bahwa tugas mereka adalah mengoreksi sebuah laporan. Jadi, aku biasa saja saat menemani mereka ke jasa fotokopi. Tapi kemudian, karena Aruna berada di sebelah mereka saat di dalam jasa fotokopi, ia menyadari bahwa yang mereka lakukan ternyata adalah MEMBUAT sebuah laporan.
Laporan dari Google mereka print, lalu dicoret beberapa kata yang kurang membantu, diketik ulang, lalu print.
Hmm, pasti di sekolah belum pernah diajari cara membuat ‘Source’. Padahal penting banget ini! Kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita begitu saja tanpa mencantumkan ‘Sumber’. Hal-hal seperti ini seharusnya dipelajari di sekolah, aku juga mulai membuat Source dengan cara yang benar di kelas satu Sekolah Menengah Pertama.
4. Pipa sanggar buntet!
Aruna tertidur saat ini terjadi. Jadi, aku keluar dan memutuskan untuk menggambar kursi di samping sanggar. Kemudian terlihat warga mulai berdatangan ke sanggar untuk membantu atau hanya sekadar menemani. Disitu benar-benar terasa kerjasama dan gotong-royong dari warga Sumber. Ada yang mengangkat pipa, membersihkannya, mencangkul tanahnya, memasangnya kembali, dan menguburnya. Semua dilakukan dengan tertawa dan ikhlas. Mungkin memang sudah jadi hal biasa ya di desa ini.
Aku lalu bertanya kepada Ibu Ika ‘Kenapa bu, kok bisa?’ Yang kemudian dijawab dengan ‘Sudah terlalu banyak tamu yang datang’. Tapi, kalau kata seorang bapak-bapak ‘Sisa sabun dari kulitnya orang Perancis sama Australia itu awet’ lalu semuanya tertawa. Ada sekitar 7 warga yang semuanya adalah laki-laki. Jujur, aku agak senang karena sanggar jadi ramai hehehe.
5. Ke masjid dengan Ibu Salamah~
Kali ini, aku yang memanggil Ibu Salamah ke rumahnya. Saat kami berjalan ke masjid, beliau memberi tahu jalan pintas agar tidak perlu melewati jalan besar menuju rumahnya. Kemudian, kami berangkat ramai-ramai bersama Angel, Naila, dan Ove.
Di masjid pun ternyata juga ramai! Aku sempat bersalaman dengan Mbah Prapto sebelum sholat maghrib.
Sama juga ketika sholat isya, masjid terlihat cukup ramai. Ada anak kecil bernama Aisyah yang merupakan adik dari Syifa. Mereka berada di Dusun Sumber untuk mengunjungi rumah nenek dan aslinya tinggal di Jakarta. Sepanjang sholat, Aisyah berlari-lari memutari masjid kecil ini.
6. Menonton TV
Sama seperti hari sebelumnya, kegiatan kami akan diakhiri dengan tiduran di depan TV bersama Ibu Ika tercinta dan Lendra. Malam itu kami menonton sinetron yang sama dan Dunia Punya Cerita (karena sama Lendra).
Kami menonton tentang pengobatan alternatif yang unik-unik di Indonesia. Ada yang bayar sampai berpuluh-puluh juta dan ada juga yang sampai sekarang masih ada di kepalaku dan Aruna. Pijat alternatif yang ketika sang pemijat merasakan ada suatu penyakit, ia akan mengeong seperti kucing. Hahaha kami tertawa terbahak-bahak saat menonton itu, terutama Aruna. Aku lalu ketiduran di samping Ibu Ika di depan TV.
Tapi, kemudian terbangun dan terkejut karena belum membuat logbook. Akhirnya aku dan Aruna membuat logbook sambil menonton film bersama.
Sekian untuk hari ini!!








