DAY 1 di Dusun Sumber! (2 Desember 2019)

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari keberangkatan aku dan Aruna ke Dusun Sumber di Magelang! Perasaanku sih, campur-aduk antara senang dan gelisah. Ya, semoga semuanya lancar, pikirku pagi itu. Pukul 6:30 kami sudah sampai di Terminal Jombor diantar oleh ayah dan ibuku naik mobil. Begitu sampai, 3 bis Cemara Tunggal sudah terlihat rapi berbaris. Aku dan Aruna lalu pamit dan langsung masuk ke dalam bis!

Di dalam bis,

  • Perjalanan di bis memakan waktu sekitar 35 menit. Dari jam 6:35-07:00.
  • Banyak Pekerja Negeri Sipil, nenek-nenek, dan murid sekolah yang menggunakan bis Cemara Tunggal.
  • Total ada 18 penumpang dengan aku dan Aruna.
  • Sepanjang perjalanan, aku hanya memperhatikan jalan dan berimajinasi di dalam kepalaku. Banyak pikiran tentang ‘Ah, ini dia awal perjalanan’, ‘Jadi ini sudah dimulai?’, ‘Apakah akan berjalan dengan lancar?’.
  • Dan juga, sebenarnya agak ngantuk! Tapi, aku melirik ke sebelah kiri dan melihat Aruna yang merem-melek seperti ngantuk. Jadi, aku mengurungkan niatku.
  • Jalanannya cukup ramai sih, tapi tidak macet! Makanya kami sampai dengan cepat.
  • Saat sudah hampir sampai, kami diturunkan di seberang terminal. Kami bergandengan tangan dengan erat karena jalannya cukup ramai hahaha, cukup seram sih tapi kami berhasil menyebrang setelah sekitar 5 menit menunggu.

Setelah itu, kami naik angkot Pak Sis ke Dusun Sumber langsung, perjalanan ditempuh selama 26 menit dari Terminal Muntilan. Pak Sis ini khusus mengantar kami ke Dusun Sumber lho! Karena memang, tidak ada kendaraan umum yang pergi kearah Dusun Sumber lagi. ‘Karena peminatnya sudah sedikit, dulu sempat ada’ kata Pak Sis. Yang nantinya aku sadari lagi bahwa, semua orang telah beralih menggunakan sepeda motor mereka masing-masing. Jadi, pilihan terakhir untuk kesana ya menggunakan kendaraan pribadi atau ojek.

Pak Sis ini sudah menarik angkot sekitar 25 tahun, biasanya pergi kearah Selatan Muntilan (ke arah Jogja). Dan kalau ramai, biasanya saat Pon atau Kliwon saat pasar ramai, bisa menghasilkan Rp 200.000-Rp 250.000 se-hari. Kalau hari biasa, sudah agak sepi sekarang. Karena, orang-orang sudah mempunya kendaraan pribadi masing-masing. Kalau yang muda, pasti akan bergantung dengan ojek online. Pak Sis juga bercerita kalau lebih mendahulukan penumpang biasa ketimbang murid sekolah, karena murid sekolah selalu ingin bersama dengan satu sama lain. Jadi, agak sedikit ribet kalau memang sedang ramai.

Dan juga ternyata, beliau dulu suka menonton sepak bola di stadion Maguwo! Lumayan dekat dengan rumah. Tapi, beliau berhenti setelah penontonnya mulai terbilang rusuh. Setuju sih, aku lama-lama juga berpikir bahwa penontonnya lebih suka tawuran daripada sepak bola. Apalagi kalau lewat stadion setelah ada tanding bola, isinya sampah!

Di Dusun Sumber,

Kami sempat berkenalan dan mengobrol dengan Ibu Ika dan Pak Untung sebentar. Rumahnya jujur, asik banget! Terbuka gitu. Tempat favoritku adalah 2 kursi panjang di sebelah sanggar yang biasanya merupakan tempat di mana Ibu Ika dan Pak Untung menghabiskan waktu. Biasanya sih untuk duduk, tidur, dan makan. Ya, bersantai gitu. 

Oiya, yang mengagetkan juga. Di situ ada wifi-nya lho! Tinggal bayar Rp 2.000 dan kamu akan dibantu oleh Ibu Ika untuk menyambungkan telepon pintar dengan wifi. Nah, maka dari itu juga orang-orang suka nongkrong di tempat itu!

Seharian itu kami habiskan untuk mengenal Dusun Sumber! Sebenarnya masih agak bingung mau melakukan apa, tapi kami berusaha untuk melakukan sesuatu! 

Memetik cabai dengan Ibu Ika dan Ibu Salamah!

Kami berjalan ke sawah Ibu Ika (yang jarang dilakukan oleh beliau, biasanya pakai motor katanya), huhu jadi terharu ;’) Dan bertemu Ibu Salamah yang sudah berada di sawah. Sambil kami memetik cabai, aku berusaha mengajak berbicara Ibu Salamah. Ternyata, Ibu Salamah biasanya membantu kalau saat panen saja (biasanya ber-3 dengan Pak Untung). Beliau punya sawah sendiri yang diburuhkan ke orang lain.

Karena aku pernah mengobrol dengan Ibu Darmawati tentang cabai (coba baca blog ‘keliling-keliling sekitar rumah’!), aku jadi lebih tau sedikit tentang tanaman cabai. Di Dusun Sumber, cabai dijual Rp 22.000/kg, Rp 3.000 lebih mahal dari yang dikatakan Ibu Darmawati. Cabai Ibu Ika dipanen per-7 hari, tapi sebelumnya dipanen per-4 hari. Sebenarnya, disesuaikan saja sih dengan banyaknya cabai yang berwarna merah, kalau sudah banyak ya dipanen. 

Kami berada di sawah sekitar setengah jam saja, karena hari sudah mulai terasa panas. Tapi, kami  berhasil memanen satu setengah sawah Ibu Ika! Sawah Ibu Ika ada 2, turunan dari simbah beliau. Bentuk sawahnya bukan kotak-kotak, lebih bisa dibilang terasering. Sawah Ibu Ika bersebelahan dengan posisi satu di atas dan satunya lagi berada persis di bawahnya.

  Membersihkan warung Ibu Ika

Selain bertani, Ibu Ika juga punya warung! Warungnya sudah tidak buka beberapa hari, jadi berdebu. Kami juga menata tepung dan gula di etalase kayu. Warung ini ada sebagai kegiatan sehari-hari Ibu Ika, karena dulu saat asam lambungnya kambuh, beliau tidak memiliki kegiatan apa-apa untuk dilakukan di rumah. Karena semakin cepat lelah juga, sekarang Ibu Ika lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sawah. 

Yang aku paling kaget adalah, ada kulkas es krim! Wow, godaan berat ini. Entah kenapa menurutku keren, biasanya warung di dekat rumah saja kalau menjual es krim hanya akan menggunakan kulkas biasa. Tapi, disini tidak. Bahkan es krimnya saja, es krim stick yang jarang aku lihat di Jogja.

Persediaan barang di warung bu Ika dibeli di Pasar Talun, biasanya sih kalau bisa diantar akan minta diantar. Tapi, Ibu Ika juga biasa ke pasar dengan motornya. 

Karena warungnya berada di dekat jalan besar. Jadi, banyak murid sekolah yang mampir untuk jajan atau orang-orang yang lewat dengan motor untuk membeli rokok. Seperti Siwi dan Anis, murid SMP Kanisius yang mampir untuk membeli minuman botol. Aku pun mencoba membuat percakapan dan kami berjanji untuk bermain bersama! 

Kemudian, Aruna pergi mandi dan Ibu Ika pergi ke pasar. Jadi, aku menjaga warung sendirian. Sebenarnya, aku ingin mengambil sketchbook ku ke kamar tapi, karena aku diminta menjaga warung, aku mengurungkan niatku dan hanya memperhatikan jalan yang dilewati beberapa murid sekolah dan Pegawai Negeri Sipil. Ya, siang itu aku melihat sekitar 3 Pegawai Negeri Sipil yang lewat menggunakan motor dan juga beberapa anak SMA. Kalau anak SMP dan SD sih, jalan kaki. Ketika duduk di warung, aku juga mendengar suara air dari got kecil di seberang jalan yang terdengar cukup deras.

Berkenalan dengan Lendra!

Uhm … awalnya aku mengira namanya Rendra … lalu Aruna membenarkan sekaligus mengklarifikasinya setelah sehari kami berada disana. Hehehe, shoutout to Aruna!

Anak kedua Ibu Ika dan Pak Untung yang duduk di kelas 5 SD di SD Kanisius Sumber. Lendra ini sedang dalam masa ujian, jadi pulangnya awal. Katanya sih baru selesai ujian tematik, tapi ketika Aruna bertanya besok ujian apa, ia menjawab dengan ‘Tidak tahu’ (mantaaap!)

Lendra ini suka bermain Freefire, game tembak-tembakan yang ada di telepon pintar. Kalau dilihat sih, dia memang anaknya suka bermain. Jadi, ketika melihat keberadaan kartu, aku mengajaknya untuk bermain yang kemudian disetujui olehnya. Tapi, kami bermain tidak lama karena kurang seru bermain hanya 3 orang :/

Main ke rumah Eva

Hmmmm, bagaimana aku harus memulai ini. Kami diantar ke rumah Eva (yang merupakan anak dari Ibu Salamah) oleh Lendra. Tak kusangka, Eva anaknya se-pendiam itu. Kami berada di rumahnya sekitar kurang lebih satu jam (hujan deras turun saat kami berada disana!) tapi jujur, terasa lebih lama dari itu. Eva-nya benar-benar tidak mengobrol sama sekali! Aku dan Aruna mencoba dengan keras untuk membuat percakapan dengannya tapi Eva sepertinya tidak tertarik hahaha. Kebetulan juga kami pergi kesana saat dia sedang tidur siang, yang lalu dibangunkan oleh Pak Jumardi karena kami datang. Mungkin karena itu juga.

Terkadang ia menjawab dengan suara yang sangat kecil, membuatku harus mendekat. Ya, bayangkan saja bagaimana aku bisa mendengarnya dengan keadaan hujan deras di luar? Kami bahkan juga sempat bermain ABC 5 Dasar yang lagi-lagi bukan permainan yang seru untuk dimainkan 3 orang. Beberapa informasi tentang Eva yang aku dapatkan!

  • Hobinya bermain WhatsApp dan nonton sinetron.
  • Sahabatnya ada 3 di sekolah.
  • Sekolah di SMP 1 Dukun.
  • Anak kedua dari 2 bersaudara, kakaknya bekerja di Malaysia sekarang.
  • Lahir dan besar di Sumber.

Tapi, kami benar-benar dijamu dengan hangat oleh Ibu Salamah dan Pak Jumardi. Bahkan disuguhi energen coklat hangat dan jetkolet. Pak Jumadi kemudian duduk di ruang tamu bersama kami. Kami lalu sempat tentang beliau,

  • Pak Jumardi ini asli Desa Sumber.
  • Sedang menanam padi setelah cabai tidak muncul.
  • Hasil panennya dikirim ke Pasar Talun menggunakan motor sendiri.
  • Kalau ke Pasar Muntilan akan dikirim menggunakan mobil.
  • Bapak Jumardi dan Ibu Salamah tidak mempunyai kegiatan lain selain bertani, pokoknya ke sawah di pagi-siang hari dan sisanya dihabiskan bersama keluarga di rumah.
  • Ibu Salamah jarang ke pasar, biasanya kalau ke pasar hanya untuk membeli bawang dan daging untuk masak.

Pokoknya berusaha untuk membuat suasana tidak canggung! Dan juga, aku bertanya tentang masjid di Dusun Sumber. Ibu Salamah yang rutin pergi ke masjid lalu mengajakku untuk pergi bersama. 

Rebahan UwU

Karena di luar hujan dan tidak banyak hal yang kami bisa lakukan, kami memutuskan untuk pergi ke kamar dan tiduran di kasur berlapis selimut dan sarung. Jujur, aku jarang tidur sebelum matahari terbenam, biasanya hanya ketika sakit saja. Tapi, berbeda untuk hari itu. 

Dengan hawa yang dingin dan suara derasnya hujan yang menemani, berbaring di atas kasur yang empuk sambil meringkuk dengan sarung yang membalut membuatku perlahan-lahan masuk ke alam mimpi. 

Merupakan tidur sore pertamaku yang sungguh nyenyak!

Sholat Maghrib dan Isya di masjid bersama Ibu Salamah!

Ini adalah hal lain yang jarang aku lakukan di rumah. Meskipun, aku telat pergi ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah karena ketiduran, tapi aku tetap pergi. Sedihnya sih, jadi sudah sepi. Berbeda dengan saat aku pergi untuk sholat Isya. Bersyukur banget, Ibu Salamah datang untuk khusus mengajakku sholat berjamaah. 

Malam itu, tidak terlalu banyak jamaah perempuan. Hanya sekitar 6 jamaah perempuan. Dan tidak bermaksud untuk terdengar alim, aku merasa tenang ketika sholat di masjid. Senang gitu bisa sholat bersama warga sana.

Membuat tempe!

Kami diajak Ibu Ika membeli tempe di rumah Ibu Sutarmini. Sebenarnya aku hanya sebentar berada di sana, karena pergi ke masjid. Tapi, aku juga sempat mencoba membungkus kok! Katanya sih, tempe-tempe ini akan dikirim ke Padang karena ada pesanan untuk kawinan. Biasanya dijual dengan warga setempat saja. Kedelainya dibeli di pasar dan dibungkus sendiri dengan daun pisang dan ditunggu 2 hari (sampai putih-putihnya keluar).

Menonton TV *baca sinetron 😉

Hari itu, kami akhiri dengan menonton TV bersama Ibu Ika, Lendra, dan Pak Untung yang kemudian menyusul. Kami menonton sinetron Samudra Cinta yang menayangkan episode perdana mereka. Jujur, tidak ada faedahnya memang. Tapi, terasa menyenangkan tiduran di depan TV bersama-sama seperti itu! Apalagi kan, aku juga jarang banget nonton TV. Jadi, itu adalah salah satu kesempatanku melihat kabar pertelevisian Indonesia.

Ceritanya, drama banget. Pemeran utama perempuannya dibuat lemah, tidak berani mengatakan keadaan sebenarnya dan tidak berani bertindak. Video editing-nya penuh dengan zoom in. Kalau satu orang berbicara hal yang menurut mereka mengejutkan, nanti seluruh pemain akan di-shoot reaksinya dengan filter zoom in. Pemilihan angle kamera kalau shoot full face juga, sama terus. Sepertinya, editornya menggunakan iMovie hahaha.

Setelah kami menonton TV, kami pergi ke kamar dan membuat logbook dan tiduuur. Sekian untuk ceritanya! Sebenarnya masih penyesuaian diri juga karena bingung mau melakukan apa T^T

memetik cabai
ke rumah Eva bersama Lendra
hujan deras di rumah Eva
membuat tempe di rumah Ibu Sutarmini
editannya mantaaaaap

Tinggalkan Komentar