Hai, kembali lagi dengan refleksi baru di blog ini! Hehe
Tanggal 12 Maret 2020 hari Kamis lalu, aku dan Aruna pergi ke markas Jaladwara dan menonton 5 film tentang nelayan sekaligus! Sungguh hari yang produktif ya :b
Kami menonton film dari Kampung nelayan di Jambi, nelayan ikan malung yang mencari gelembung udara, nelayan teripang di Makassar, nelayan di Teluk Jakarta, sampai nelayan perempuan di Demak. Dan jujur, aku dapat banyak sekali informasi baru setelah menonton! Seperti,
Mengukur dengan Depa
Dari video yang kami tonton, ada 2 nelayan berasal dari Makassar dan Jakarta yang mengukur kedalaman laut dengan Depa. Saat menonton aku sudah sempat menghitung kalau 3 depa = 5 meter, jadi 1 depa sekitar 1,7 meter.
Resiko Besar Nelayan Ketika Menyelam Menggunakan Kompresor
Ketika menonton, jujur aku sangat kaget dan bingung. Apa ya alasan kuat mereka untuk tetap melakukan penyelaman terutama dengan kompresor? Padahal sudah jelas bahwa itu sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Apa tidak ada keinginan untuk menangkap kekayaan laut lain?
Gelembung Ikan
Gelembung ikan yang berfungsi untuk membantu ikan mengapung ini juga baru aku ketahui ….. harganya juga baru tahu. Penasaran sih sama rasanya!
Peralatan Yang Dibuat Sendiri Untuk Menyelam
Cukup kaget sih dengan ini, apalagi dengan ‘regulator’ yang terlihat terbuat dari bungkus kaleng. Apakah itu higienis dan aman? T.T
Nelayan Perempuan Indonesia di Demak
Gelembung ikan yang berfungsi untuk membantu ikan mengapung ini juga baru aku ketahui ….. harganya juga baru tahu. Penasaran sih sama rasanya!
Semua perjuangan awal mereka dimulai dari Ibu Masnu’ah, pendiri Puspita Bahari. Sebuah organisasi penggerak nelayan Indonesia. Beliau berhasil membuat 31 nelayan perempuan di Demak diakui statusnya sebagai seorang nelayan perempuan dan memiliki perlindunga dari negara.
Perjuangan Ibu Masnu’ah menurutku sangatlah keren. Tidak semua manusia bisa berani berjuang dengan penuh kesabaran sepertinya. Mengajak dan memberi tahu perempuan-perempuan atas hak mereka untuk belajar, berorganisasi, dan dilindungi negara.
Semoga kedepannya aku juga bisa seberani Ibu Masnu’ah!
RISET
Suku Duano
Suku Duano banyak bertempat tinggal di daerah Pantai Timur Jambi, Kampung Nelayan, Tanjung Jabung Timur. Di Kampung Nelayan ada berbagai macam suku yang tinggal di sana seperti suku Bugis, Melayu, Jawa, Sunda, Banjar, Minang, Madura, dan juga Duano.
Tradisi Sumbun yang dilakukan setahun sekali pada bulan April-Juni awalnya hanya dilakukan oleh Suku Duano secara turun menurun, yang kemudian dilakukan juga oleh warga suku lainnya di Kampung itu. Tradisi Sumbun mempunyai filosofi dan mengajarkan agar ramah dan menghormati laut.
Dari sisi populasi, Suku Duano yang menetap di daerah ini terbilang tidak begitu banyak, kurang dari 100 kepala keluarga, atau setara kurang dari 400 jiwa. Dan mayoritas pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan penangkap ikan laut.
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Duano_di_Tanjung_Solok
https://www.liputan6.com/regional/read/2514744/tradisi-unik-suku-duano-di-tepi-sungai-jambi
Gelembung Udara Ikan
Gelembung Udara Ikan memiliki fungsi penting bagi ikan yaitu, membantu untuk mengapung sehingga tidak harus berenang terus menerus untuk mempertahankan posisinya di air. Ikan yang tidak memiliki gelembung ikan adalah ikan yang tinggal di laut dalam dan ikan yang memiliki tulang rawan.
Gelembung ikan harganya sangat fantastis karena sumber kolagennya tinggi dan dipercaya dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Di China, gelembung ikan dikenal sebagai makanan mewah yang dibuat sup.
Gelembung Ikan yang paling mahal adalah yang diambil dari Ikan Gulama yang ditemukan diperbatasan Papua Nugini dan harganya mencapa Rp300.000.000,-
Harga gelembung ini juga dipengaruhi oleh jenis kelamin ikannya. Bila jantan pinggirnya akan cenderung berbentuk tipis tapi tengahnya tebal. Kalau betina cenderung tebal tapi tengahnya sedikit. Maka dari itu, harga gelembung jantan lebih tinggi harganya daripada betina.
https://news.detik.com/berita/d-3547089/menjala-ratusan-juta-rupiah-dari-gelembung-ikan-di-merauke
Menyelam Menggunakan Kompresor
Menyelam menggunakan kompresor terbilang sangat berbahaya karena tidak adanya filter kompresor. Gas karbondioksida yang dihasilkan mesin kompresor dihirup langsung oleh nelayan sehingga mengakibatkan racun masuk ke tubuh dan menyebar.
Dari penilitian yang dilakukan oleh media.neliti.com di Kabupaten Seram, Maluku terbilang bahwa
‘Semua responden yang menggunakan kompresor pernah mengalami kecelakaan. Sedangkan responden yang tidak menggunakan kompresor hanya 78% yang pernah mengalami kecelakaan. 46.2% responden yang menggunakan kompresor, pernah mengalami perdarahan. Pada responden yang tidak menggunakan kompresor, hanya 8.3% yang pernah mengalami perdarahan. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa pemakaian kompresor ada kecenderungan mempengaruhi kejadian perdarahan.’
Ada juga ‘Decompression Sickness’ yang terjadi karena perubahan tekanan udara dari yang normal ke tinggi dengan sangat cepat. Sehingga organ seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh darah tidak dapat menyesuaikan.
https://kumparan.com/kumparannews/bahaya-menyelam-menggunakan-kompresor-lumpuh-tuli-hingga-meninggal
Kerang Hijau Di Teluk Jakarta
Dari hasil penilitian Validnews Oktober 2019 di Teluk Jakarta, ditemukan bahwa kerang hijau mengandung cukup banyak logam berat di dalamnya. Hewan ini memang memiliki kemampuan menangkap logam berat dan tak memiliki organ hati untuk menghancurkan racun. Sehingga semua ditampung di dalam dagingnya.
Dikutip dari Etty Riani, seorang Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di IPB University. Beliau mengatakan bahwa kerang hijau punya manfaat biofilter ketimbang dijadikan santapan dan bisa dimanfaatkan untuk penyerapan B3 di perairan Jakarta.
Rata-rata kandungan merkuri (Hg) dalam kerang hijau di Teluk adalah 63,10 ppm dan batas maksimum logam berat dalam olah pangan yang dikeluarkan BPOM berkisar antara 0,01-1,0 ppm.
Tambahan menjawab pertanyaan kemarin di markas, ‘Mau gak makan kerang hijau Teluk Jakarta?’
tidak terimakasih, madam :p
Budidaya Teripang
Budidaya Teripang dilakukan untuk melestarikan tripang yang terancam punah. Mengingat bahwa Teripang adalah biota laut yang memiliki harga yang tinggi, membuat orang-orang berbondong-bondong mencarinya.
Budidaya teripang biasanya dilakukan oleh masyarakat di pesisir pantai karena dibutuhkan lokasi budidaya yang terjangkau airnya. Proses pembesaran teripang sampai panen biasanya 4-5 bulan dengan berat 300-500 gram per ekor. Makanan teripang adalah plankton yang ada di perairan. Nah, agar plankton tumbuh subur diberi kotoran ayam yang dicampur dengan dedak halus dan air.
Panen dilakukan saat air surut dan dilakukan berkali-kali karena teripang akan turun dengan lumpur dan kembali naik saat air kembali.
http://www.satuharapan.com/read-detail/read/terancam-punah-riset-teripang-terus-dikembangkan
https://news.kkp.go.id/index.php/budidaya-teripang-dengan-kurung-tancap/
Perjalanan Makanan Laut













































































