Tadinya, kami berencana untuk pergi ke candi. Tapi, karena bangunnya jam 5.30, jadi gagal deh. Akhirnya aku menghabiskan pagi itu di dapur bersama Ibu Ika dan ponakannya, Renata. Aku membantu Ibu Ika mengupas bawang dan menggoreng bakwan disambi dengan Ibu Ika yang bercerita tentang masa kecilnya di Dusun Sumber (Saat-saat mau bertemu bapak), aku list saja ya
- Dulu Ibu Ika tinggal bersama simbahnya di Dusun Sumber.
- Ibunda Ibu Ika pergi ketika Ibu Ika masih duduk dikelas 3 SD.
- Menempuh pendidikan di SD Kanisius Sumber, SMP Kanisius Sumber, dan SMK Pius Penjahit.
- Tapi ketika SMK, Ibu Ika memutuskan untuk keluar karena membutuhkan banyak biaya untuk bahan-bahan menjahit.
- Dulu takut kalau minta uang tapi tidak ke Sawah membantu simbah.
- Bertemu dengan Pak Untung di Dusun Sumber karena ibundanya tinggal di Sumber.
- Menikah di tahun 2001 di Gereja Katolik Santa Maria Lourdes Sumber dengan tema Hanoman (dilihat dari fotonya).
Menata bibit cabai
Jadi, selain mempunyai warung. Ibu Ika juga merawat bibit-bibit cabai lho, bibit-bibit cabainya datang dari Gunung Menoreh yang kemudian dirawat oleh Ibu Ika dan dijual kembali seharga Rp 50.000 tambah Rp 5.000 kalau ingin diantar. Lebarnya akan diisi 16 bibit cabai dan panjangnya akan diisi 24 bibit cabai. Jadi, total akan mendapatkan kurang lebih 384 bibit cabai.
Proses penataan ini tidak semudah itu lho! Aku dan Aruna menghabiskan waktu 2 jam untuk menata sekitar 4 tempat cabai. Kami melakukannya sambil bernyanyi-nyanyi dan membahas tentang ibu-ibu kami yang ada di Jogja bersama dengan Ibu Ika.
Membuat semen untuk kandang ayam Pak Untung
Ternyata oh ternyata, Pak Untung dulu juga mempunyai ternak. Tapi, berhenti karena sanggar sudah mulai sibuk dengan kegiatannya. Hingga hanya tersisa beberapa ayam. Pak Untung bilang, beliau buka peternak. Melainkan penggemuk hewan saja. Orang-orang di Dusun Sumber juga biasanya hanya penggemuk ternak karena, ‘orang-orangnya tidak telaten’ kata Pak Untung.
Kami diminta untuk membuang tanah ke kebun belakang. Nah sebelum itu, aku meminjam angkong dulu ke rumah Pak Muhtajab. Yang terlihat memiliki 3 sapi dan beberapa kambing serta ayam disamping rumahnya. Aku pun berniat untuk bertanya beberapa hal seputar ternak kepada beliau saat mengembalikan angkong, yang langsung diterima dengan hangat.
Aku kembali ke Sanggar untuk melanjutkan membuat semen bersama Ibu Ika, Pak Untung, dan Lendra yang menghabiskan waktu sekitar satu jam.
Interview panjang dengan Pak Muhtajab
Saat mengembalikan angkong, aku bersama Aruna mulai bertanya-tanya santai tentang ternak milik Pak Muhtajab ini. Ternyata 2 dari 3 sapi disana bukan punya Pak Muhtajab, tapi beliau sudah merawat mereka semua dari mereka benar-benar masih kecil (1 betina dan2 jantan). Kambing-kambing dan ayamnya juga sudah beliau rawat dari masih kecil. Beliau bilang merasa senang ketika melihat ternaknya tumbuh sehat dan memuaskan dagingnya, ketika disembeleh.
Seluruh ternak kepunyaanya digunakan untuk tabungan. Ketika membutuhkan sesuatu, biasanya akan menjual ayamnya untuk tambahan. Dan beliau juga ternak yang hanya menggemukkan saja, tidak mesti dijual saat qurban. Kalau sudah besar, ya langsung dijual.
Beliau juga tidak mengikuti koperasi ternak. Karena menurutnya, memang sih menggampangkan tapi, selalu ada satu anggota yang bermalas-malasan dan merugikan anggota lainnya. Jadi, beliau memilih untuk tidak menjadi anggota dan melakukan semuanya mandiri. Termasuk dengan memanggil dokter (kata Pak Muhtajab beliau hanya tinggal mengirim pesan dengan aplikasi Whatsapp dan orangnya akan datang, tarifnya Rp 50.000 jika suntik untuk hewan).
Setelah bercerita tentang ternak, beliau kemudian bercerita tentang pekerjaannya di Malaysia saat dulu merantau untuk 7 tahun. Perjalanannya sungguh panjang, pindah-pindah tempat dari Johorbahru sampai ke Penang. Beliau menceritakan itu dengan sangat rinci, membuat otakku sedikit pusing. Beliau juga bercerita bagaimana ia bertemu istrinya di Malaysia dan memutuskan untuk menikah di Purworejo (rumah istrinya) lalu pindah ke Dusun Sumber ke tempat Pak Muhtajab.
Istrinya sekitar 7 bulan yang lalu kembali bekerja di Malaysia, menyisakan Pak Muhtajab dan anak laki-lakinya, Azam yang tinggal berdua sekarang. Beliau bilang istrinya akan pulang 2 tahun sekali.
Kemudian percakapan mulai masuk ke tradisi di Dusun Sumber. Kami langsung berpikiran untuk menetralkan pikiran dulu dan kembali dengan notes dan pulpen. Pak Muhtajab menyetujui ide kami.
Belajar menari Krincing Manis versi SD :b
Akhirnya! Hal yang ingin aku lakukan tercapai hehe. Tarian yang kami pelajari kali ini adalah tarian Krincing Manis yang versi anak SD. Meskipun kami belajar menari hanya sekitar 1 jam (karena setelah itu ada 2 murid SMA datang untuk konsultasi) tapi, lumayan lah kami bisa mencoba menari tarian khas sedikit!
Oiya, aku sempat bertanya juga tentang cerita dibalik tarian krincing manis kepada Intan dan Mas Thur dan jawaban mereka adalah ‘Dewi menari pake krincing trus mukanya manis’. Uhm, kurang tau juga sih karena kami Hanya belajar intro dari tariannya *emot ketawa*
Menggambar warung Ibu Ika
Karena hari pertama memang sudah ingin menggambar warung dan juga, setelah berjalan-jalan aku mulai menyadari bahwa warung di Dusun Sumber lumayan banyak. Ya, banyak untuk ukuran Dusun Kecil menurutku. Karena, disetiap jalan pasti ada saja warung! Dan kerennya, mereka semua tetap bisa berdiri meskipun letaknya berdekatan. Itu keren sih, menurutku.
Saat menggambar itu juga, aku berpikir kapan lagi ada waktu untuk ke tempat Pak Muhtajab? Orang menari kita selesai begitu saja, jadi aku membangunkan Aruna dan menyampaikan ideku untuk ke tempat Pak Muhtajab saat itu juga.
Interview lebih panjang lagi dengan Pak Muhtajab
Langsung saja ya, kita list tradisi yang masih ada di Dusun Sumber :
- Bersih Kuburan/Sri Kuburan
Dilaksanakan pada hari-hari besar (mulut, ruwah, suroh, atau hari-hari jawa)
- Sadranan
Acara yang jauh lebih besar, orang yang punya leluhur yang disarekan di Sumber juga mengikuti. Tanggal 25 jawa. Yang muslim tahlilan, yang kristem/katolik misa.
- Lapanan
Pengajian umat muslim
- Ruwahan
Mengirimkan doa untuk arwah (ada genduri)
- Sawang Nganten / Sawen Mayat
Mengunjungi makam saudara. Setelah itu dipercaya harus cuci-cuci agar semua hawa buruk hilang, bahkan sarung dan peci ditaruh luar sebelum masuk rumah. Ibu Ika juga pernah cerita tentang tanaman cabenya yang terserang hama ketika dulu ada orang yang lupa cuci-cuci sebelum masuk ke rumah bibit cabe.
- Mitoni
7 bulanan bagi ibu hamil di kehamilan pertama. Semua serba 7 (Genduri). Dipercaya dapat melancarkan proses melahirkan dan kesehatan bayi.
- Ngapati
4 bulanan bagi ibu hamil.
- Wiwitan
Kalau mau panen (ada yang masih melakukannya, ada yang nggak. Ada sajennya. Ada yang panennya dibawa ke masjid. Sodaqoh lalu makan bersama, mendoakan agar panen lebih bagus, tambah rejeki, dan bersyukur.
- Brokohan
Mengubur ari-ari bayi yang baru lahir, kalau ini setauku memang masih dilakukan sampai saat ini.
GENDURI :
1. Tumpeng Rosul : Nasi gurih kelapa
Mengirim Rosul.
2. Sego Golong : Mangkok kecil, nasi dengan ayam panggang
Mengirim Nabi Adam dan Siti Hawa.
3. Ambeng : Nasi Liwet ( mengirim arwah yang sudah meninggal )
Mengirim Nabi Ilyan dan Nabi Hidris, menjaga alas dan air.
4. Tumpeng Cagak : Bentuknya tumpeng, tapi tidak pakai kelapa ( berbakti kepada orangtua yang masih hidup, mendoakan agar panjang umur yang bermanfaat )
Mengirim Nabi Sulaiman, ngerajani (sugeh).
Berganti sesuai dengan agama yang dipeluk keluarganya, contohnya
‘Saya mengirim Rosul yang menjadi kepercayaan kamu dan keluargamu’. Jadiiiii, disesuaikan.
Kami menghabiskan waktu di rumah Pak Muhtajab selama kurang lebih satu seperempat jam, dan otakku sudah menguap. Kami juga diajari cara membagi Genduri tersebut.
Pucuk dari tumpeng diberikan kepada yang membuat, begitu juga dengan separuh badan ayam dan kepalanya. Sisanya dibagikan dengan sama rata sesuai dengan orang yang datang (diutamakan yang sepuh dahulu).
Saat kami tengah kebingungan dengan cara membagi Genduri, Ibu Ika datang dan mengajak kami ke Jembatan Jokowi karena hari sudah mulai gelap. Dan benar saja, jam Sudah menunjukkan pukul 5! Wah, sungguh berjalan dengan cepat. Kami lalu berfoto bersama dan bertukar nomer telfon. Kemudian aku dan Aruna pamit.
Jembatan Jokowi dengan Ibu Ika
Aku jalan ke jembatan jokowi dengan semangat 45, apalagi kami akan makan mie ayam disana. Ibu Ika saja sampai rela berjalan kaki lho, menemani kami yang tidak boleh naik motor ini. Tapi, pulangnya sih sudah minta Pak Untung untuk menjemput hahahaha.
Kami lalu juga membantu mendorong Ibu Ika ketika ada tanjakan, menarik tangan beliau dan pastinya menyemangati beliau. Tapi …. Ketika kami sampai … tet tewuew wuew …
Kemana semua orang? Hiyaaaa ternyata, tutup wihiiiii. Akhirnya yang aku dan Aruna lakukan Hanya pergi ke tengah jembatan dan mengambil beberapa foto.
Sungai Senowo terlihat berwarna cokelat, persis seperti warna susu cokelat ultra. Kami lalu mendengar suara motor yang akan menyebrangi jembatan, membuat kami berlari juga karena jembatannya tidak bisa dibilang ‘Jembatan Besar’.
Jujur, imajinasiku awalnya ketika mendengar Jembatan Jokowi adalah, sebuah jembatan dengan lukisan muka Pak Jokowi dan bendera merah putih dibelakangnya. Layaknya jembatan di Jogja gitu. Dan ternyata jauh sekali dengan bentuk aslinya. Aku dan Aruna lalu kembali dengan berjalan kaki duluan (Ibu Ika kan nanti naik motor). Kami sempat berlari dan melakukan jalan cepat agar lebih cepat sampai, tapi mustahil T^T padahal hari sudah mulai gelap. Bahkan sampai ada kupu-kupu yang hampir menabrak kepalaku. Aku lalu hanya melakukan stretching tangan sambil berjalan ke sanggar.
Mie Ayam Yang Ada
Aku dan Aruna kemudian membeli mie ayam dan bakso untuk makan malam bersama Ibu Ika, kami menggunakan tempat ketika membelinya! Mungkin seharusnya bisa saja kami berusaha membuat percakapan dengan si ibu pembuat mie tapi, ia terlihat sangat jutek ketika kami datang dan pesan. Jadi, mungkin dilain waktu saja
Kami sampai ke sanggar dan langsung pergi ke dapur mengambil sendok dan mangkok khusus untuk Ibu Ika. ‘Monggo ndoroo’ kataku sambil meletakkan mangkok untuk bakso. Ibu Ika lalu tertawa. Kami menghabiskan mie ayam itu sambil menonton TV dengan Ibu Ika dan Lendra. Kalau mau jujur soal rasa, sebenarnya tidak terlalu buruk. Tapi, tidak yang terbaik juga. Sepertinya yang di Jembatan Jokowi itu enak sih.
Setelah makan, kami menonton TV dan melihat adanya berita tentang bom di Monas. Aku dan Aruna kaget, wah ketinggalan berapa informasi ini. Biasanya langsung tau semua karena main Twitter.
Kami lalu sempat bermain kartu dengan Lendra dan berakhir ketiduran di depan TV.
Sekiaaan!









