packing!

Hai! Besok adalah hari keberangkatan kami ke Dusun Sumber wihiiii

Dan pastinya kami akan packing / mempersiapkan barang-barang kan? Nah, karena aku kebetulan hari ini baru selesai nih! (kemarin hujan, jadi batal beli beberapa hal T^T)

Ini adalah list-nya!

Here are some pictures!

Sekian dulu untuk hari ini, doakan aku dan Aruna lancar untuk perjalanan kami hahahaha

Byebye 😉 sleep tight!

warm hugs

Pertemuan#26 Nov 2019

Hai semua! Kemarin hari Selasa tanggal 26 November 2019, aku dan Aruna bertemu dengan Kak Inu dan Kak Rintha. Kami ber-empat memutuskan untuk bertemu di halte Taman Pintar pukul 09.00 WIB. Selamat membaca!

26 November 2019, 06.00 WIB.

Aku bangun dari tidur lalu turun ke lantai bawah, semalam aku tidur dengan ibu di kamarnya. Dan setelah itu aku sholat dan pergi mandi. Uhm, kali ini tidak rebus air hahaha sudah beberapa minggu ini aku menggunakan air dingin untuk mandi (entah kenapa hehe).

Setelah mandi, berganti baju, dan menyiapkan tas. jam sudah menunjukkan pukul 07.00, aku lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal sarapan. Aku menggoreng cordon blue yang diberikan oleh Tante Yeni (kami main ke rumahnya senin malam). Tak perlu banyak waktu, hanya sekitar 5 menit warnanya sudah terlihat cokelat. Setelah ditiriskan, aku masukkan ke dalam tempat makan.

Tepat setelah itu, orangtuaku berangkat kerja.

Jam 07.12, aku membalas pesan Aruna dan berkata bahwa akan berangkat pukul 7.30 dari rumah.

07.25 WIB

Aku keluar dari rumah dan mengayuh sepedaku. Jalanan pagi itu sudah lumayan ramai, ada hal yang menangkap mataku. Ada dua siswa yang mengenakan seragam putih abu-abu tengah menaiki motor. ‘Lho bukannya sudah mau jam 8 ya’ batinku saat itu.

Aku sampai di depan masjid pukul 07.32 dan panas matahari sudah bersinar terang. Aku sempat ragu dengan pesan Aruna terakhir jadi, aku memutuskan untuk menelepon-nya. Tepat saat itu juga, Aruna lewat dengan kaos berwarna merahnya. Ia melaju begitu saja dengan cepat. Jadi, aku langsung buru-buru menyusul.

Kami melewati rute baru nih! Kalau biasanya kami akan berbelok kearah kanan, kali ini kita langsung lurus ke selatan (seperti tanggal 15). Ini bakal selalu lewat sini terus sih.

Lewat jalan itu sebenarnya lebih seru. Kami melewati ruamh-rumah warga dan bahkan ada sebuah wisma yang teduh dan sejuk.

Aku selalu berusaha untuk menyapa semua orang yang aku lihat di jalan. Mulai dari para petani sampai ke penduduk sekitar yang berada di teras atau menyapu halaman. Aku ingat sekali bahwa aku sempat mencium asap pembakaran sampah tapi mungkin hanya sekali. Tidak seperti di jalan yang biasa kami lewati itu.

Kami sampai di Terminal Condongcatur sekitar pukul 08.00 dan terminal SANGAT sepi. Hanya ada seorang bapak penumpang yang duduk di halte. Kami menunggu kurang lebih 10 menit hingga bis kami, bis 3A datang.

Bis sebelumnya membawa banyak penumpang yang harus transit. Jadi, kami tidak naik bis berdua saja. Ada sekitar 10 orang di dalam bis dan sudah ku pastikan hampir semua akan turun di Terminal Jombor.

Kami melintasi ringroad utara itu dengan kondisi jalan yang ramai lancar.

Dan benar saja dugaanku. Semua orang turun di terminal Jombor kecuali aku dan Aruna. Kami langsung melirik satu sama lain saat itu. Kemudian satu orang lagi masuk ke dalam bis.

Kami menikmat perjalanan sampai disaat dimana seorang lelaki berseragam putih abu-abu masuk ke dalam bis. Ia lalu mengeluarkan uang dan memberikannya kepada petugas. Setelah itu, sebelum duduk, ia mengeluarkan Handphone-nya dan mengambil foto kearah SMKN 3 Yogyakarta sambil cekikikan. Aku lalu melirik ke Aruna dan ia juga ternyata melakukan hal yang sama. Ya … bolos boleh tapi jangan ‘sok iye‘ HAHAHAAHA

Ia setelah itu sadar diri dan duduk di kursi. Pemandanganku kemudian mengarah ke Sekolah Dasar di sisi timur. ‘Lho, kok ditutup gerbangnya? Libur?’ pikirku. Aku sampai mendongakkan kepala untuk melihat. Tapi kemudian, aku melihat banyak motor-motor yang terparkir dan sepatu-sepatu di dekat aula. Kukira hari libur tambahan setelah hari guru!

Saat sampai di dekat hotel Ina Garuda, aku melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 9 kurang 15 menit. ‘Oh, semoga gak telat’ batinku. Dan maka dari itu, ketika sampai di Halte Taman Pintar kami langsung turun dan jalan menuju ke tempat Kak Rintha berada (kakak-kakak Jaladwara mohon jangan ketawa).

Sambil menunggu Kak Inu datang, kami melakukan sesuatu dulu. Hmmmmmmmm jangan kepo, ini rahasia negara.

Lalu setelah Kak Inu datang, kami berjalan kearah Jl. Malioboro. Kami duduk di sisi barat jalan, diatas kursi berbentuk setengah bola.

Kegiatan hari itu dimulai! Kami diminta membuat pertanyaan dari sebuah jawaban. Hoho, unik ya. Jawaban pertama pada tantangan itu adalah

Lalu, kami diminta untuk memilih sebuah jawaban sendiri. Kami diberi waktu 25 menit untuk 5 kata yang ada disekitar sana. Aku memilih rambut, sepatu, gerbang, bangku, dan earphone (ini karena lihat ada orang yang menggunakannya).

Acara setelah itu adalah berpura-pura mengobrol dengan penjual nasi bakar dan jasa gambar orang a.k.a Kak Inu dan Kak Rintha. Jujur, rasanya malah lebih rileks sih dari interview aslinya! Aku sih mendalami peran sebagai interviewer yang sedang digambar hahaha.

Acara kemudian adalah interview yang asli! Jujur, awalnya bingung banget mau tanya-tanya ke siapa. Sempat berpikiran bahwa kami harus beli es dawet dulu agar bisa bertanya-tanya ke pedagangnya tapi, aku tidak mau karena sudah bawa makanan (nanti takut kenyang). Aku dan Aruna sampai berjalan kesisi timur pasar Beringharjo.

Aku kemudian melihat seorang kakek yang tengah menghiasi keranjang bunga dengan kertas, aku memberanikan diri untuk bertanya. Tapi kemudian aku sadar bahwa beliau sudah memiliki kesulitan untuk mendengar. Kalau aku teruskan bertanya, nanti beliau harus fokus ke aku agar bisa mengerti. Jadi, aku mengurungkan niat dan berjalan kembali kearah selatan.

Kami lalu duduk di dekat pohon. Ya .. basa-basi gitu hahaha. Kemudian, aku melihat ke belakang dan tak melihat keberadaan Aruna. ‘Dia ngambil uang?’ pikirku. Aku pun berdiri dan mencarinya. Tapi, kemudian ia terlihat sedang berbicara dengan seorang bapak-bapak yang mengunakan caping berwarna biru.

Setelah itu, aku berniat untuk duduk di sisi

Mindmap riset Dusun Sumber, Magelang

Hai! Kejutan dari kakak-kakak Jaladwara bahwa perjalanan aku dan Aruna akan pergi ke Dusun Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah!

Nah, sebelum melakukan perjalanan kami harus riset dulu dong ….

Kenapa perlu melakukan riset?

Well, supaya kita tidak blank disana. Biar bisa berbaur, ber-interaksi, menggali lebih dalam tentang dusun tersebut.

Dan juga … biar tidak salah kostum 😉

Apa aja sih aktivitas yang ingin aku lakukan disana?

Setelah menonton video dan membaca blog-blog anak-anak yang sebelumnya kesana, aku ingin pergi ke Kali Senowo! Juga memasak makanan khas, bermain dengan anak-anak disana, dan pergi ke sawah (mengikuti kegiatan sehari-hari orang-orang sana).

Oiya, aku juga ingin belajar menari. Jangan kaget, aku ini sebenarnya suka menari heheh

Dan juga bermain gamelan! Aku dari SD sudah belajar bermain gamelan. Dari saron, gong, kenong, kethuk (ini favorit sih, karena cuma mukul mengikuti ketukan bonang), bonang, dan bonang penerus (ini juga dulu paling sering aku mainin).

Kalau tidak … mungkin bisa main ke sawah/main sama anak-anak sekitar. Eksplorasi sekitar juga, mungkin?


Adakah hal yang ingin aku gali saat tinggal di sana?

Hmmm…… aku list ya

  • Karena pasar lokasinya jauh, biasanya kalau belanja sehari-hari dimana?
  • Semua hasil panen dan ternak biasanya dijual kemana? Apakah dikirim ke pasar terdekat? Pengiriman dilakukan oleh siapa?
  • Tujuan berternaknya untuk apa? Apakah ternak itu milik pribadi/bagi hasil dengan orang lain? Yang dijual nanti induknya/anaknya? Jenis ternaknya apa? (Ex sapi impor/lokal)
  • Apakah ternak digunakan sebagai ‘Tabungan’, misal untuk anak sekolah/ketika lebaran dijual?
  • Apakah ada koperasi untuk ternak dan tanamannya?
  • Adakah kegiatan semacam arisan/srawung yang dilakukan rutin?
  • Tradisi apa saja yang ada di Dusun Sumber?
  • Kegiatan belajar menari dan instrumen tradisional di sanggar apakah dilakukan sehari-hari?
  • Apakah dari kecil sudah tinggal di Dusun Sumber? Dari kecil sudah bertani?
  • Biasanya menghabiskan berapa lama di sawah sehari-hari?
  • Kegiatan selain bertani/berternak?

Dan yang terakhir … mindmap!

Terimakasih sudah membaca

warm hugs!

informasi tambahan!

  • Nama bisnya adalah Cemoro Tunggal dan angkotnya berwarna merah
  • Kalau soal kenapa pasar jauh itu unik, mungkin aku belum pernah mendengar daerah yang sampai bilang males ke pasar karena jauh. Jadi pengen tau!

Belajar membuat logbook

Haiii, I’m back!

Minggu ini, aku dan Aruna diminta untuk belajar membuat logbook nih! Kebetulan, aku belum pernah buat (jadi ini pertama kalinya). Aku membuat logbook di tanggal 20, 21, dan 22 November 2019. Selamat membaca!

20 November 2019
21 November 2019

Logbook yang aku buat adalah hari-hariku baru-baru ini! Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau banyak yang kurang atau masih salah.

Terimakasih!

Warm hugs ❤

P.s mungkin akan ku warnai dengan watercolour, doakan tidak merusaknya ya! Hehe

Keliling-keliling sekitar rumah!

Haiii, Gya disinii. Beberapa hari yang lalu aku dan Aruna dapat tantangan baru lagi nih! Kami harus berkeliling-keliling sekitaran rumah dan mencari minimal 2 narasumber! Hope you enjoy reading

Hari pertama, 12 November 2019

Siang itu pukul 14.00, aku berangkat dari rumah. Pikiranku sih, hanya ingin berputar-putar saja. Dari arah utara dahulu, lalu ke arah selatan dan ke barat (sekalian ingin ke pasar untuk membeli ikan buat kucing di rumah!).

Aku langsung mengayuh sepeda ke arah utara, menuju ke jalan yang biasa dilewati oleh para petani dan warga setempat. Jalannya berpasir dan berbatu. Tidak bisa dibliang jalan kecil sih, karena mobil masih bisa melewati jalan tersebut.

Jalannya dikelilingi oleh sawah. Tapi, siang itu tidak terlihat keberadaan bapak/ibu petani. Hanya ada sinar matahari yang setia memancarkan sinarnya.

Sampai sekitar beberapa meter kemudian, aku melihat beberapa sepeda motor terpakirkan di sisi jalan. Tapi, tidak ada orang yang terlihat! Hingga kemudian setelah aku mengayuh lagi, aku melihat sekumpulan ibu-ibu petani yang sepertinya sedang mencabuti sesuatu di bawah tenda terpal berwarna biru. Aku tidak dapat melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan, tapi yang pasti mereka melakukannya sambil berbincang/bercanda dengan satu sama lain! (aku melihat beberapa memperlihatkan giginya).

Sempat terpikirkan olehku untuk berhenti dan menyusul mereka ke tengah sawah. Tapi kemudian, aku memilih untuk tetap melaju karena ingin mencari hal yang lain.

Setelah melewati sawah-sawah, aku melewati rumah-rumah warga. Sebenarnya sudah sering sih lewat sini! Dulu kalau Kumon atau jalan sehat bersama ibu, pasti lewat sini.

Kemudian seiring aku mengayuh, terlihat warna oranye cerah dari sebelah kananku- arah timur. Tiga nenek terlihat sedang mengupas jagung dari kulitnya. Aku lalu berhenti karena melewati gang rumah tersebut (rumahnya agak menjorok ke dalam, tidak di tepi jalan). Kemudian aku membalik arah dan berhenti- ralat, bersembunyi dibalik tembok rumah yang berada disebelah selatan ‘gang’ itu.

Aku kemudian berpikir ‘Haruskah aku datangi?’ uhm …. ‘Masuk gak ya?’. Kira-kira butuh sekitar 3 menit sampai akhirnya aku memberanikan diri dengan mindset ‘Yaudahlah, apapun yang akan terjadi, yang penting udah dicoba’.

Aku membelokkan sepeda ke arah kanan, dengan posisi sudah aku tuntun. Membuka masker dan memperlihatkan senyumku. Nenek-nenek itu menyapaku ramah dengan pertanyaan sejenis ‘Ada apa?’ dan ‘Mau ngapain?’.

Dan … kata-kata yang keluar dari mulutku adalah … ‘Hehe, mau tanya-tanya sedikit boleh?’. Sungguh cara yang bagus untuk memulai, bukan?

oke, itu tadi sarkas.

Mereka langsung menjawabnya dengan sangat ramah dan tersenyum ‘Oh iya siniiii, bolehhhhhh’. Aku lalu menempatkan sepedaku di depan joglo rumah, di samping pot-pot bunga dan langsung naik ke teras rumah itu.

Perkenalkan! Nenek yang menggunakan jilbab berwarna hijau adalah Mbah Wardoyo. Yang duduk diatas adalah Mbah Mul dan yang dibelakang sana adalah ibunda dari Mbah Yoedjim.

Mereka sedang panen jagung (biasanya untuk makan ayam dan brondong). Dalam setahun katanya akan panen jagung/kacang dan padi. Padi dua kali dan Jagung satu kali.

Setelah dilepas semua kulitnya dan dijemur, nanti akan diangkut oleh peternak ayam (rumahnya di ujung utara jalan!) menggunakan, nanti akan digiling dengan mesin.

Rumah tempat kami mengupas kulit jagung ini adalah rumah Mbah Mul. Beliau diberi kepercayaan oleh pemilik rumah yang sudah meninggal untuk menempatinya. Sementara anak dan cucunya merantau semua di luar Jogja (di Jakarta dan di Bandung).

Mbah Mul tinggal di rumah itu sendirian, padahal rumahnya tergolong cukup luas, bahkan setelah bagian utaranya disewakan ke orang lain. Sebelah timur rumahnya adalah dapur dan warung kecil milik Mbah Mul. Berjualan sembako, permen-permen, dan krupuk.

Sudah mulai bertani sekitar 10 tahunan, karena tidak ingin menganggur di rumah (Wow, keren ya?). Tapi, dari kecil memang sudah mulai bertani dengan orangtua. Rumah dan sawah, semuanya turunan dari orangtua (kecuali Mbah Mul yang pindah).

Memilih menanam jagung karena kalau dijual hasilnya lumayan, dijualnya per/petak sekitar 1-2 jutaan. Kalau cabe kata Mbah Wardoyo ‘Tidak ada tenaganya’.

Satu petak ditanam bersama-sama kalau di desa. Ya kira-kira 6-7 orang. Tidak sampai sepuluh pokoknya hahaha. Setiap pagi mengusir burung di sawah tapi, kalau banyak yang menanam ya tidak perlu (burungnya mencar mencari makan).

Mbah Mul, pemilik rumah ini tinggal sendirian karena suaminya telah meninggal (sudah lupa kapan, kata beliau) dan anak-anaknya semua merantau. Di Jakarta 2 anak dan di Bandung 1. Kata Mbah Mul sih, anak dan cucunya jarang pulang ke Jogja. Bahkan ketika lebaran sekalipun.

Tapi, beliau sempat tinggal di Jakarta 3 bulan. Karena Merapi meletus tahun 2010. Tapi, di rumah ponakannya dan katanya tidak betah hahaha.

Keseharian Mbah Mul ya hanya di sawah atau di rumah. Bahkan ke pasar saja jarang, karena sudah langganan dengan pedagang sayur keliling yang naik motor atau ambil dari hasil tanamnya/tetangga. Kalau dagangannya di warung itu, beliau menitipkan ke tetangganya untuk membeli bahan-bahan di pasar.

Mbah Mul bilang, sehari-hari tidak punya target untuk hasil bertaninya. Beliau berkata ‘Yo nek kesel, turu‘ (kalau capek, tidur), ‘Mulainya terserah, jam berapa aja. Nek capek yo mandheg‘ (kalau capek ya berhenti) kata beliau saat ditanya pukul berapa mereka memulai aktivitas.

Mbah Wardoyo dengan ibunda-nya ternyata hanya akan membantu sampai adzan Ashar berkumandang setiap hari ya, beliau kemudian pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitas sebagai ‘Nenek’ dan ‘Ibu rumah tangga’. (Saat mengobrol, sepertinya beliau suka menonton televisi di waktu senggang!).

Di waktu itulah sebenarnya aku juga ingin pamit, tapi kasian dengan Mbah Mul yang sendirian. Jadi, aku memutuskan untuk berada disana lebih lama lagi.

Mbah Mul ini umurnya sudah 80an, tapi masih kuat banget! Masih bisa membungkuk untuk mengambil kulit jagung dan membakarnya, menata jagung-jagung di atas terpal, dan melindungi mereka dari air hujan.

Kenapa kulit jagungnya harus dibakar?

Jawabannya sih, karena dari dulu memang seperti itu. Berbeda dengan daerah bandung yang memanfaatkannya menjadi jenang.

Setelah membantu Mbah Mul memasukkan jagung-jagung ke terpal (karena langit agak gelap, tanda kemungkinan akan hujan) aku pun pamit. Dioleh-olehi sebuah krupuk diplastik yang- tidak bisa aku tolak itu, aku pun pulang.

Tapi, aku tidak langsung pulang begitu saja. Aku memilih untuk pulang lewat jalan yang lebih jauh (naik ke arah utara dulu, lalu belok ke arah barat dan baru turun ke selatan).

Di perjalanan pulang, aku melewati tempat peternak ayam yang terlihat terdapat 2 pemuda sedang sibuk dengan kendaraan mereka. Lalu, aku berbelok ke arah barat melewati sebuah minimarket dengan seorang nenek yang tengah duduk menonton jalanan. Aku tersenyum sambil menundukkan kepala yang disambut dengan senyuman juga.

Bertemulah aku dengan jalanan yang lebih besar. Banyak motor dari arah utara maupun selatan. Aku pun langsung menuju ke arah selatan.

Saat sedang menikmati perjalanan (kan turunan jalannya) aku melihat sebuah keluarga tengah panen jagung juga! Berniat untuk kembali dan merekam hal tersebut, eh! samar-samar aku melihat ada sepeda juga dari arah utara yang tak asing. Aku tak yakin tapi kemudian juga aku tau bahwa itu Aruna! Ia berpakaian santai tanpa mengenakan helm ataupun tas dipunggungnya.

Ternyata Aruna hanya sedang bersepeda saja. Kami berbincang sedikit lalu turun sampai ke arah gang menuju rumahku (karena sudah agak gelap). Berhenti sebentar untuk mengobrol di pertigaan yang kemudian terhenti karena sebuah mobil membunyikan klaksonnya.

Kami lalu berpisah dan pulang!!

Sebenarnya pada tanggal 13 November, aku juga pergi berkeliling. Tapi, tidak menemukan 1 narasumber pun! Hanya dapat oleh-oleh kulit yang gosong setelah bersepeda di jam 12 siang (paginya aku ke rumah Mbah Mul lagi!).

ini dia jagung-jagung yang menarik perhatian ku!
mbah Mul dan jagung-jagungnya

14 November 2019

Pagi itu, aku berangkat jam 8 dari rumah. Hari itu, niatnya akan pergi ke arah selatan. Ke sawah-sawah yang sering aku lewati ketika bersepeda ke kantor ibu.

Matahari belum bersinar terik, jadi masih adem gitu! (ya daripada jam 12 kan …) Jalanan juga ya … tidak bisa dibilang ramai juga. Aku bersepeda ke arah jalan Wali Sanga, lalu ke selatan lagi. Dan baru kusadari bahwa …. itu sebenarnya lebih dari 1 KM dari rumah! Meskipun sudah berputar 2 kali di tempat yang sama itu. Aku kembali bersepeda ke arah utara. Untungnya.

Aku lalu berbelok ke Jl. Taraman Lima. Bersepeda sampai ujung jalan sampai seorang Nenek dengan gendongan dibelakangnya (sepertinya mau panen) yang tengah mengobrol dengan ibu-ibu yang berada di tengah sawah menyapaku. Aku langsung memberhentikan laju sepedaku dan bertanya ‘Boleh liat sawahnya?’. Sang nenek dan si ibu langsung memperbolehkanku dengan semangat.

Aku lalu melihat-lihat sawah milik si ibu yang ternyata, tengah mencabuti rumput disekitar tanaman cabe miliknya. Sementara si nenek, tengah panen cabe di sawah sebelah.

maaf, aku tidak mendapatkan foto close-upnya T.T

Perkenalkan, Ibu Darwati namanya. Umurnya 41 tahun dan sudah bertani sejak kecil. Aku membantunya mencabuti rumput disekitar tanaman cabe beliau. Kami berbicara lumayan lama dan inilah beberapa hal yang kami bicarakan :

  • Kami mencabuti rumput, biar kena matahari, dan tidak terserang hama. sudah beberapa bulan tidak dicabuti soalnya.
  • Ibu Darmawati punya 2 petak sawah yang ditanami, satunya dekat gudang sampah, dan dua-duanya ditanami tanaman cabe. Satu petak sawah di Taraman tidak ditanami karena tidak ada air.
  • Kalau musim hujan Ibu Darwati akan menanam padi, sedangkan kemarau akan menanam cabe/kacang.
  • Dulu sempat kering cabenya, karena telat diairi.
  • Tidak setiap hari harus ke sawah, hanya waktu panen saja ( sistem panennya itu ketika sudah banyak cabe yang merah, jadi belum tentu.)
  • Ibu Darwati sehari-hari tidak pergi ke sawah. Hanya kalau sedang mau panen atau mengairi (apalagi kalau banyak yang nanem juga).
  • Di daerah itu ada penggiliran air (setiap malem minggu), bergantian dengan Ngemplak yang menggunakannya di waktu siang hari.
  • Terkadang tetap beli air (kalau kesusahan air) akan iuran dengan pemilik sawah yang lain. Biasanya 50.000-60.000/petak (standard-nya)
  • Sewaktu aku kesana habis dipanen jadi tidak banyak cabe yang merah.
  • Ketikaku tanya sejak kapan sudah bertani, bu Darwati langsung menjawab ‘Sudah dari kecil bertani, namanya aja anak petani’, lalu tertawa.
  • Menurut bu Darwati, menanam jagung itu ribet perawatannya, jadi tidak pernah menanam jagung. Dan juga butuh air yang subur, karena kalau telat mengairi bisa langsung gagal panen.
  • Beliau memiliki 2 anak, perempuan dan laki-laki. Yang paling besar perempuan, kelahiran 2000 bernama Yulia. Yang kedua laki-laki, kelahiran 2007 yang sudah kelas 6 SD.
  • Ibu Darwati kadang bisa setengah hari berada di sawah. Kadang dzuhur pulang. Tergantung panas atau tidaknya hari itu.
  • Hebatnya ibu Darwati adalah semuanya dikerjakan sendirian. Hanya jika panen saja akan dibantu dengan buleknya.
  • Kata Ibu Darwati, saat hujan pertama (tgl 13 Nov) itu membuat tanaman kuning-kuning. Seperti membawa penyakit.
  • Sekarang susah cabai merah keluarnya. Butuh waktu lebih lama.
  • Dahulu harga cabai sekilo bisa mencapai RP 64.000 tapi sekarang menjadi Rp 19.000/kg.
  • Tikusnya sudah merajalela sekarang!
  • Ibu Darwati pindah ke Jogja menemani bapak beliau, setelah peninggalan ibu.
  • Suami ibu Darwati tinggal di Ngawi.
  • Saat merapi meletus, Ibu Darwati tengah berada di sawah. Beliau rupanya malah mengira itu adalah suara molen yang lewat.
  • Akan beralih ke padi kalau airnya sudah melimpah. Mungkin bisa jadi di bulan Januari.
  • Bapak dan ibu beliau berasal dari Jogja, dan beliau lahir dan besar disini.
  • Ibu Darwati menempuh pendidikan di SD Gentan, SMP Gentan, dan SMK SUNEA. (Entah aku yang salah dengar atau bagaimana. Tapi, SMK SUNEA tidak ku temuka di google).
  • Nnaknya yang perempuan les mata pelajaran UN di tempat mbak Wulan (seseorang yang aku kenal dari Perhimpunan Remaja Taraman).
  • Sedangkan anak laki-lakinya les mata pelajaran di kelurahan yang diadakan setiap sabtu sore.
  • Kegiatan bu Darwati setiap hari ketika menanam cabe adalah, pagi ke sawah lalu pulang ke rumah saat menjelang siang (panas), nanti sore ke sawah lagi. Kalau padi bisa lebih santai katanya. Apalagi kalau banyak yang menanam juga.
  • Di bulan Ramadhan kemarin, sewaktu me-marit di sawah, saking semangatnya sampai kena jari kelingking hingga kuku beliau lepas.
  • Beliau cerita jikalau punya rejeki, beliau ingin membangun rumah/toko di Taraman, lalu nanti dikontrakkan.
  • Menurut Ibu Darwati lebih untung menanam cabe daripada tanaman lainnya. Apalagi padi karena terkadang banyak yang tidak ada isinya.
  • Ketika menanam cabai ini, beliau membeli bibit seharga Rp 7.000/100 biji cabai.
  • Ibu Dareati ini saudaranya banyaaak sekali. Dari sisi ayah dan sisi ibu. Jadi agak sedikit membingungkan bagiku. Tapi, salah satu kakak perempuannya bekerja di Bank Sampah disekitar sana.

Pukul 10.24

Karena matahari mulai menunjukkan sinarnya, aku pun ingin pamit pulang (bodohnya, aku tidak membawa botol minum karena aku kira akan pulang saat masih pagi), jadi aku ingin sekali pulang. Tapi, ternyata ibu Darwati berinisiatif mengantarkanku ke Bank Sampah (sekalian beliau akan pulang dan melihat sawahnya juga). Karena merasa ini waktu yang bagus, aku memutuskan untuk ikut pergi bersamanya.

Beliau lalu menunjukkanku sawahnya seiring kami mengayuh sepeda. Huft, aku sudah terbakar! Aku hanya berpikir untuk mampir sebentar dan bertanya tentang proses lalu pulang.

Sampai di Bank Sampah aku disambut hangat oleh 3 pekerja disana. Dua perempuan (salah satu dari mereka adalah kakak dari ibu Darwati dan satunya lagi merupakan ibu dari teman main masa kecilku) dan satu laki-laki.

Laki-laki tersebut bernama Bapak Andi, yang merupakan pengelola dari Bank Sampah.

Sore di Malioboro

Haiiii, Gya disini.

Kemarin pada hari Kamis 31 November 2019, aku dan Aruna diminta untuk pergi ke ‘Taman’ Museum Halte Vredeburg nih! Kami diminta untuk membawa peralatan untuk menggambar/sketsa dan bersiap-siap untuk tidak melakukan apapun disana. 

Yup! Kami akan mengamati sekitar sambil berduduk tenang disalah satu bangku. Dari awal sih, aku udah antusias banget! Terdengar menyenangkan bagiku.

Aku dan Aruna berjanjian untuk bertemu pada pukul 2 di Terminal Condongcatur. Kami memutuskan untuk berangkat terpisah karena, Aruna memiliki keinginan untuk mampir ke Toko Merah dahulu. Aku pun mulai mengayuh sepeda pada pukul setengah dua siang,

Saat aku mulai bersepeda, matahari sedang bersinar terik diluar. Untungnya, kendaraan juga tidak terlalu banyak siang itu. 

Aku bersepeda sambil menyanyikan beberapa lagu, aku menggunakan masker untuk bersepeda kali ini! Dan jujur, aku akan menggunakan masker juga untuk kedepannya hehehehe. Selain untuk menutupi mulutku agar bisa menyanyi-menyanyi sendiri, aku juga dibantu untuk tidak mengirup debu-debu/polusi.

Aku ingat ada sebuah mobil berwarna putih yang mendahuluiku dan melewati semacam tumpukan pasir/tanah secara cepat. Membuat mereka langsung berterbangan! Aku yang berada tak jauh dibelakang mereka pun harus menutup mata dan menahan nafas diwaktu yang bersamaan.

Jujur, panas banget sih! Aku juga memilih untuk menggunakan celana panjang dengan kaus dan jaket (pengalaman dari sebelumnya). Membuat hawa semakin lebih panas dan baju yang lebih berkeringat.

Saat melewati semacam training dorm untuk kerja di Jepang, terlihat beberapa dari keluarga dan peserta yang sudah bersiap disamping mobil. Sepertinya, mereka akan berangkat malam itu!

Semakin ke Selatan, kendaraan jauh lebih ramai. Aku bahkan melihat tetanggaku yang hendak pulang ke rumah dari sekolah. Aku tak menyapa karena memang kami tidak dekat dan ia adalah orang yang pemalu.

Saat berada di perempatan, aku tidak mengalami kesulitan! Ya, lebih percaya diri lah sekarang. Tidak grogi-grogi seperti awal-awal bersepeda. 

Nah, saat sudah lumayan dekat dengan terminal. Entah kenapa aku masih bisa mencium bau asap. Asap penbakaran sampah. Tidak pagi, tidak siang semuanya selalu ada waktu dimana orang-orang akan membakar sampah. Apakah mereka tau seberapa berbahayanya membakar sampah itu untuk kesehatan dan lingkungan kita?

Saat melewati Toko Merah, aku menengok sedikit untuk melihat keberadaan Aruna. Tapi, sepedanya sudah tidak ada. Aku pun meneruskan menayuh sepeda sampai Terminal Condongcatur.

Oiya, ini pertama kalinya aku bersepeda ke Terminal sendiri lho! Jujur, tidak mengalami kesulitan/ketakutan, yeay! 🙂

Di Terminal ….

Saat pertama kali melihat Aruna, yang aku sadari adalah pilihan baju kami lagi. Kali ini ia yang menggunakan semua serba pendek! Wah, sepertinya memang harus janjian besok hahahaha

Karena kunci sepeda Aruna yang masih berada di Jakarta, aku menguncikan sepeda kami berdua bersama ke besi disana. Kami pun masuk ke halte!

DI halte, lumayan ramai. Ya, ada beberapa orang yang tidak kebagian tempat duduk.

Kami menunggu bis untuk mengarah ke Malioboro sekitar 5 menit. Kemudian bis 2A datang. Sebenarnya, kami ingin naik bis 3A, bis yang tidak melewati perempatan Kentungan (karena pasti macet) tapi, kami dipaksa untuk naik bis itu!

Mas-mas yang berada di halte benar-benar berkata ‘Malioboro sini aja, udah naik, ayo naik!’ membuat kami kebingungan tapi, akhirnya mau tak mau ya kami naik!

Mungkin karena isi bis yang tidak ada banyak penumpang, membuat kami harus mengisinya. Kami harus ke arah Barat dulu, ke Terminal Jombor baru kami akan melewati Jl. AM Sangaji menuju Selatan.

AC bis ini sebenarnya tidak terlalu kencang, membuatku memutuskan untuk pindah ke kursi pojok kanan yang berada tepat dibawah AC. Sedangkan Aruna dipojok kiri.

Lalu mulai dari situ, sepanjang perjalanan aku habiskan tidur hehehehe. Enak banget tidur di Transjogja! Bayangkan saja diluar panas, masuk didalam ada AC, dan kursi empuk. Itu udah mewah sih. Aku ingat betul aku mimpi sesuatu, tapi sayangnya aku lupa jalan cerita dan tokohnya.

Aku benar-benar sudah terbangun saat berhenti di Halte Malioboro 1, tidak jauh dari halte yang kami tuju yaitu, Malioboro 3.

Kata Aruna sih, ada seorang mas-mas yang memperhatikanku dari awal dia masuk bis. Sayangnya, kepekaanku langsung mati begitu saja karena tertidur.

Saat kami sampai, belum terlihat keberadaan kakak-kakak disana! Tapi, tak lama terlihat Kak Rintha dengan baju merahnya. 

Karena aku belum makan siang, kami memutuskan untuk berkeliling mencari makanan. Yang diakhiri dengan makan di sebuah warung yang terletak di parkiran Pasar Beringharjo. 

Hanya aku yang makan. Kak Rintha dan Aruna tidak. Aku pun menikmati ayam dan terongku siang itu, sembari dengan kami yang mengobrol basa-basi tentang beberapa topik.

Setelah aku selesai makan (total Rp 13.000), kami pun kembali ke depan benteng. Tapi, Kak Inu masih belum terlihat keberadaanya. Kak Rintha pun sempat khawatir sampai didetik dimana Kak Inu terlihat menggunakan kaus yang sama. Ia langsung berubah hahaha.

Kemudian, kami duduk dibangku yang tersedia. Kak Khrisna menawari kami cookies buatannya dan wow! Enak banget. 

Setelah itu, Kak Inu mulai menjelaskan apa yang akan kami lakukan. Kak Khrisna juga sempat bercerita tentang pengalamannya travelling dan memiliki hari untuk tidak melakukan apapun. 

Awalnya, bingung sih harus mengamati apa. Karena ada banyak hal yang terjadi. Mulai dari, burung berterbangan, ibu-ibu heboh foto, bapak yang merokok disamping anaknya, murid-murid study tour, dan becak dengan tumpukan keranjang yang melebihi muatan.

Kami mengamati mungkin sekitar 30 menit, lalu kami pindah tempat ke seberang jalan dan mulai menggambar.

Aku awalnya lagi-lagi kebingungan ingin menggambar apa, tapi akhirnya jatuh pada lampu Malioboro yang khas sekali. Belum pernah aku perhatikan detail-detail kecil dari lampu itu. Dari yang tajam, yang tumpul, dan bentuk. 

Aku menghabiskan kurang lebih 20 menit menggambar lampu, yang kemudian aku lanjutkan dengan menggambar Bank BRI dibelakangnya. Aku memang lebih memperhatikan ke detailnya sih. 

Suasananya juga asik banget untuk menggambar dan me-rileks-kan pikiran. Aku sih suka! Meskipun gambarku juga jelek. Mungkin, akan lebih rileks lagi kalau sambil mendengarkan musik. Kalau versiku sih begitu.

Sekitar pukul 5, aku ijin untuk sholat sebentar. Ada masjid berwarna biru yang nyempil diantara bangunan Malioboro. Masjidnya bagus! Aku sudah beberapa kali kesana. Bersih, wangi, dingin, dan terjaga. 

Aku kemudian kembali dan menyelesaikan gambarku sedikit. Kami mengakhirinya dengan berfoto dan membahas hasil dari trip ke Pasar Pundong. Karena matahari sudah mulai tenggelam, kami pun pulang!

Aku dan Aruna kembali naik Transjogja lagi, kali ini kami bersama Kak Rintha menunggu bis bersama di halte. Bis kemudian datang sekitar 5 menit kemudian, lalu kami pamit untuk pulang duluan.

Didalam bis, sama seperti waktu berangkat tidak banyak penumpang. Ya, mungkin sekitar 7 orang. Kami memilih untuk duduk disamping kanan bis dan menikmati perjalanan pulang itu. 

Tapi, tak lama setelah kami naik. Kami ditanyakan halte mana yang dituju. Setau kami sih, bis itu langsung menuju Condongcatur. Tapi, ternyata salah. Kami disuruh turun di halte terminal Giwangan dan menunggu sekitar 15 menit untuk bis kedua yang harus kami naiki.

Di halte Giwangan ada banyaaaaak sekali orang yang menunggu bis. Bahkan karena haltenya kecil, terdapat kursi yang tersedia diluar halte untuk duduk menunggu.

Didalam bis yang kedua ini juga, tidak banyak penumgpang yang ada. Tapi, ada seorang penumpang yang tiba-tiba bertanya padaku sesuatu. Seorang bapak-bapak yang sudah agak sepuh, ingin tahu tentang helm yang kukaitkan pada tas. Ia bertanya itu helm/top dan helm untuk apa itu.

Sepertinya, ia sering melihat anak-anak bermain skateboard dan sepatu roda dengan helm seperti ini. Kemudia ia turun 3 menit setelah memulai percakapan.

Kami kemudian sampai di Halte Condongcatur sekitar pukul 7 malam. Hari benar-benar sudah gelap. Karena itu, kami langsung memilih pulang.

Aruna berada didepan dan aku dibelakangnya, itu karena lampu belakang Aruna mati. Naik sepeda malam hari sebenarnya seru, hanya saja agak sulit untuk melihat ujung aspal jalan. Bahkan Aruna sempat akan terjatuh karena tidak terlihat.

Kami sempat berhenti beberapa kali saat mengayuh pulang untuk minum. Sempat berpikiran untuk makan dulu tapi, sepertinya lebih baik cepat sampai rumah. Jadi, kami terus melaju.

Sampai didekat Pasar Gentan, tiba-tiba Aruna memberhentikan sepedanya dan seperti kehilangan penglihatan. Aku pikir awalnya karena lapar jadi, aku mencari tempat makan yang dekat. Sebelumnya, sempat beli minum dulu karena stok air kami habis.

Untungnya ada warung Mie Godhog beberapa langkah dari sana. Jadi, kami makan malam dan beristirahat sebentar untuk sekitar 30 menit. 

Kami kembali mengayuh pulang dan sampai di rumah pukul 8 malam 🙂

Sekian untuk cerita hari ini! Aku harap kalian suka 🙂

Dan ini sketch yang ku gambar di Malioboro sore itu! 

Overall,

Senang sih, bisa menikmati waktu seperti itu. Karena, aku belum pernah pergi keluar ruangan hanya untuk mengamati dan ‘Tidak ngapa-ngapain’.

Lebih berhati-hati dan tidak memaksakan sesuatu.

Sekian dan terimakasih,

warm hugs!

Pasar Pundong!

Aku berangkat dari rumah masih gelap! Sekitar jam 5 pagi. Aku dan Aruna berjanjian untuk bertemu di depan masjid yang biasa kami lewati.



Aku bangun pukul 4 pagi. Setelah sholat, aku langsung bersiap-siap. Hari ini akan panjang nih soalnya! Aku juga memilih baju dan memasak air untuk mandi. Pagi itu sebenarnya aku masih ngantuk banget! Baru tidur jam 1 pagi soalnya hehehe #anakdeadline



Sekitar jam 4.50, aku berangkat dari rumah. Diluar masih agak gelap. Bahkan tetanggaku yang sholat berjamaah di musholla belum masuk di rumah, beliau sedang berbincang dengan Pak Wandono, yang menjaga keamanan perumahan.



Jalanan didepan juga masih sepi, minimarket didekat rumah (yang tergolong buka awal) saja belum buka.



Samar-samar aku melihat Aruna dari kejauhan. Agak terkejut awalnya karena, ia menggunakan lengan panjang dan celana panjang. Lalu ia berkata ‘Kata ibuku harus tertutup dari sinar matahari’. Berbeda sekali denganku yang hanya menggunakan lengan pendek dan celana diatas lutut sedikit. Yasudahlah ya, kan senyamannya.



Kami pun lanjut mengayuh sepeda. Di jalan  banyak orang-orang sedang jalan kaki pagi! Kebanyakan sudah agak sepuh (dari penampilannya), ketika kami lewat tak lupa kami ucapkan ‘Monggo’ atau menunduk sambil tersenyum. Ada juga beberapa orang naik sepeda.



Jujur saja, bersepeda enak sekali pagi itu! Meskipun ada rasa ‘Huah pagi sekali, aku belum siap’. Oiya, Federal sudah diperbaharui lho! Semuanya diganti kecuali badannya saja hahahaha, bahkan dia sudah punya lampu yang juga aku pakai pagi ini.

 

Kemudian, ditengah jalan aku mengingat bahwa kami belum merekam apapun! Aruna langsung mengeluarkan kameranya dan kami mulai mencoba berbicara. Jujur saja, aku suka vlog. Rasanya seperti punya teman berbicara tapi, momen dimana aku melihat diriku, aku langsung ingin menyelesaikannya hahaha.



Kami pun harus cepat melaju, karena takut terlambat. Aku mengalungkan tali kamera di leher dan merekam Aruna dari belakang. Berharap nanti di imovie bisa distabilkan dengan baik.



Semakin ke arah selatan, semakin banyak juga kendaraan! Tapi, ya belum terlalu banyak. Karena kami lebih pagi, jadi masih banyak juga toko yang tutup.



Kami sampai di terminal sekitar pukul 5.30, memang niatnya ikut bis pertama. Saat sampai, ada 1 bis Trans Jogja yang terparkir didalam halte. Entah kenapa, karena kami lebih pagi atau karena itu hari Sabtu, tidak ada banyak sepeda disana! Biasanya sepeda kami harus nyempil-nyempil ditengah-tengah. Tapi, kali ini tidak.



Berhubung kunci hanya satu, kami posisikan sepeda sangat dekat dengan satu sama lain lalu menguncinya. Kami pun masuk ke dalam halte.



Tak perlu ribet sekarang, aku sudah memiliki kartu! Kebetulan karena sekarang lebih sering menggunakan Trans Jogja (thanks to Jaladwara!) Aku jadi meminta kartu e-money kepunyaan ayah.



Sampai di halte, kami langsung duduk. Tak ada banyak orang berada disana, hanya ada 1 penumpang lain. Sebelum masuk ke dalam bis, aku menyempatkan untuk mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Tapi, tak lama bis kami datang.



Sama seperti di halte, di bis pun dalamnya hanya ada seorang bapak dengan kopernya. Posenya santai banget hahahaha. Duduk dengan kaki diletakkan diatas koper.



Bis ini beda dari bis-bis yang kita naiki sebelumnya, rutenya beda! Awalnya agak panik sih, takut salah. Tapi, setelah ditanya ke mbak-mbaknya dibalas dengan anggukan kami langsung lega.



Sepanjang perjalanan bis kami habiskan membahas festival untuk halloween dan juga membahas hal-hal yang baru terjadi. Semakin menuju ke selatan, semakin bertambahlah penumpang di dalam bis. Aku sempat berbincang dengan seorang nenek yang merupakan penumpang langganan bis ini.



Beliau rupanya akan pergi bekerja, beliau menggunakan fasilitas Trans Jogja sehari-hari untuk berangkatnya saja. Dikarenakan mobil jemputan dari kantor dirasa terlalu pagi oleh beliau.



Beliau sudah sangat dipercaya oleh kantor, sehingga diumur 71 tahun masih dipercayai untuk bekerja. Anak-anaknya tinggal jauh dari rumah, sekarang sedang menatap di Amerika Serikat. Biasanya pulang hanya 2 tahun sekali.


Eyang juga bercerita bahwa tulang didaerah jempol kakinya sakit. Maka dari itu, beliau harus sering berjalan. Sebenarnya eyang ini gaul banget lho, kuku kakinya saja berwarna sparkly pink gitu hahahaha



Sesaat sebelum aku dan Aruna turun, aku menyempatkan bertanya tentang Pasar Pundong. Eyang pernah kesana tapi, sudah lama sekali kata beliau. Kemudian aku dan Aruna pamit, beliau langsung mengatakan ‘Iya, hati-hati ya’ sambil menyentuh lenganku.



Kami sampai di Halte Museum Perjuangan 15 menit lebih awal dari jam yang dijanjikan. Sambil menunggu, aku mengeluarkan lagi bekalku sambil merenggangkan otot-otot badan.



Sekitar pukul 6.30an terlihat Kak Inu, Kak Rintha, dan Kak Khrisna dari seberang jalan. Saat melihat mereka, aku langsung mengatakan hal yang sama saat aku melihat Aruna, ‘Aduh, kok celana panjang semua?’.



Saat mereka sudah menyebrang, Kak Inu langsung bertanya tentang plan kami (Bagaimana kami akan berangkat ke Pasar Pundong). Yang kami jawab dengan jawaban ‘Ke terminal Giwangan kak’. Tapi, ternyata oh ternyata. Bis ke Parangtritis juga melewati jalan itu! Kata mas-mas yang menjaga kounter Trans Jogja sih selalu lewat, bahkan katanya lagsung sampai pantai. Kami menunggu tak begitu lama, mungkin sekitar 5-10 menit dan langsung terlihat bis itu.



Jujur, itu pertama kalinya aku menaiki bis kota seperti itu! Dulu seringnya karena, sekolah yang menyewa. Aku lalu duduk disebelah Aruna.



Sepanjang perjalanan menuju ke Pasar Pundong, hanya ada 2 pikiran dikepalaku. Ini bagaimana caranya bilang bahwa kita ingin turun dipertigaan yang menuju ke Pasar Pundong dan bagaimana bayarnya? Film-film yang pernah kutonton sih selalu menepuk pintu dan langsung memberikan uang begitu saja.



Karena aku terus menerus berpikir dan jadi tidak tenang. Aku memutuskan untuk bertanya kepada bapak-bapak yang duduk diseberang kriku. Tapi, ia jawab dengan jawaban ‘Waduh, kurang tau mbak. Saya bukan orang sini’. Haduh. Anehnya juga, orang-orang tidak ada yang turun. Tapi, ada beberapa yang naik.



Didalam bis, penumpangnya lumayan banyak. Bisa dibilang hampir penuh ketika kami naik. Beberapa terlihat akan berangkat kerja, ke pasar, ke pantai, atau bahkan berjualan.

 

Karena bapak-bapak disebelah kiriku tidak mengetahuinya, aku memutuskan untuk bertanya kepada 2 orang laki-laki dibelakang. Mereka menamai diri mereka sendiri sebagai ‘Abang’. Salah satu dari mereka berkata ‘Tenang, abang lewat sini tiap hari kok. Sudah agak dekat’ meskipun, pada awalnya mereka juga bingung ada nama ‘Pasar Pundong’.



Lagak mereka sih … agak kurang meyakinkan, jadi aku memilih untuk jalan kedepan, bertanya kepada yang mengemudi langsung. Saat sudah bertanya, dengan serentak mengatakan sang supir dan penumpang-penumpang disekelilingnya mengatakan ‘Oh, masih disana mbak!’. Oh yasudah, aku kembali duduk dan mulai menikmati perjalanan.



Jalan Parangtritis sebenarnya mengingatkanku dengan berangkat sekolah yang kulakukan dulu. Wow, sudah 4 bulan?



Lalu bis berhenti dipertigaan, kami pun membayar dan langsung turun dari bis! Misi pertama, sukses! Kami langsung lanjutkan untuk berjalan menuju Pasar Pundong.



Di perjalanan, banyak sekali motor yang lewat. Entah kenapa, yang kurasakan sih seperti itu (apa karena kita menunggu pickup/truk?). Sembari berjalan, aku melihat banyak sekali puntung rokok dan sedotan ditanah yang kulewati. Entah kenapa, jarang ada sampah lain selain dua itu.



Kami berjalan sekitar 1 KM, sampai tiba-tiba ada satu truk merah besar yang berhenti. Padahal kami menunjukkan jempolnya malu-malu hahaha, bapaknya peka ya! Karena hanya cukup untuk 3 orang jadi, hanya aku, Aruna, dan Kak Khrisna yang menaiki truk ini.



Truk ini ternyata akan pergi ke goa Jepang untuk mengangkat pasir. Beliau melakukan hal ini minimal 5 kali sehari (pulang-pergi mengambil pasir) dan dilakukan setiap hari. Perjalanan cukup singkat karena kami juga sudah berjalan cukup jauh!


Kak Inu berkata untuk menunggu mereka di depan pasar jadi, itu yang kami lakukan. Setelah turun dan berterimakasih, kami berdiri dan menunggu di depan pasar. Wow, ada banyak sekali ayam! Entah akan dilombakan atau dimakan.



Kami menunggu sekitar 10 menit, lalu masuk ke dalam pasar bersama dengan Kak Inu dan Kak Rintha yang berakhir berjalan. Sewaktu masuk, aku langsung dapat melihat pengerajin besi yang sibuk deng peralatan mereka. Semakin masuk lagi, ada banyak sekali hal didalam.



Sebelum berkeliling, kami sarapan dulu! Menu pagi itu adalah telur, terong, tempe, dan mangut lele. Hm, mangut lelenya beda banget sih dari warung langgananku. Rasanya seperti lebih pekat dan beda. Kami juga sempat mengobrol.



Setelah itu, aku dan Aruna langsung berkeliling! Jujur, menge-vlog sangat sulit. Apalagi di pasar! Semua orang akan menatapmu sambil nenawari dagangan mereka. Ditambah lagi memang aku, anaknya tidak suka berada didepan kamera.



Di pasar, aku tak tau arah. Pasar Pundong kalau bolehku deskripsikan dengan 1 Bahasa Jawa adalah ‘Mbingungi’. Tak tau arah dan semuanya ada dimana-mana. Termasuk parkir.



Kami hanya berjalan terus dan kemudian berhenti disalah satu tempat penjual cendol. Cendolnya murah banget! Hanya Rp 2000 dan rasanya lumayan enak. Nenek yang menjual bernama Harsiah, setiap hari berjualan disana. Kami cukup menghabiskan banyak waktu berbincang.



Kami lanjutkan berjalan menuju (entah kemana, aku benar-benar buta arah) kami sampai ditempat mbah-mbah yang menjual cucur berwarna pink. Saat kami tanya, si mbah menjawabnya dengan Bahasa Jawa Krama. ‘Waduh, susah ini’ batinku. Jujur, aku mengerti kok Bahasa Jawa! Tapi ngoko yang lancar jaya kayak jalan tol hehehe. Satu hal yang ku banggakan dari diriku, aku mengucapkan ‘Ngagem niki mawon, mbah‘ saat beliau mengambil satu bungkus plastik. Yeaaahh, kulo niki wong yogja je!



Karena sempat kesulitan, sepertinya itu mengundang perhatian ibu-ibu yang berjualan tepat disebelah tempat simbah.



Beliau bernama ibu Sri Wedari, sudah berjualan di Pasar Pundong selama 34 tahun lamanya sejak beliau lulus SMP. Karena tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi oleh orangtuanya, ibu Sri Wedari memilih untuk berjualan sembako. Dana awalnya dihasilkan dari menjual gelang emas pemberian eyangnya  seberat 5 gram yang sewaktu itu, masih serharga Rp 37000. Ia menikah saat berumur 19 dan tetap melanjutkan untuk berjualan sembako.



Dahulu, beliau masih harus mengambil barangnya sendiri dari Pasar Beringharjo dengan sepeda dan keranjang. Tapi, sekarang semuanya sudah diantar tepat sampai ditempat dimana beliau berjualan. Ibu Sri Wedari melakukan semuanya dengan mandiri, suaminya memiliki profesi sendiri.



Ibu Sri Wedari berjualan dari pukul 6.30 sampai 12.00. Dahulu pada jaman Pak Soeharto, jualan sembako ibu Sri Wedari akan ramai pengunjung. Tapi, sekarang semakin banyak minimarket yang buka dimana-mana. Membuat penjualannya jadi sepi pembeli. Tapi, ibu Sri berkata bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, beliau berkata bahwa kita semua harus sabar menghadapinya.



Saat tahun 2006, ibu Sri Wedari ternyata sudah berjualan di Pasar Pundong. Beliau bercerita tentang bagaimana dashyatnya gempa dan pasar runtuh. Ada sekitar 80 guncangan yang terjadi. Pasar Pundong yang berada tepat diatas titik gempa pun tak kuat menahan guncangan tersebut.



Kerennya, Pasar Pundong yang sedang direnovasi itu. Ternyata masih memiliki beberapa infrastruktur dari jaman Londo duku. Bahkan besi penyangganya saja juga dari jaman Londo.

Setelah berbincang, ibu Sri merekomendasikan kami untuk makan gethuk pink yang berada disebelah mbah penjual kue cucur tadi!

Jujur, aku bisa tau kenapa gethuk yang berwarna merah muda itu bisa terkenal! Rasanya enak banget! Harus coba deh. Kelapanya kerasa dan manis. Kami pun membeli seharga Rp 2000 yang kemudian diberikan ekstra.

Sebaiknya kalau ingin beli, kalian wajib datan pagi! Ibu ini loyal banget sama pembelinya! Kalau sudah pesan, tidak mungkin akan dijual. Saat berada disana saja, sudah banyak sekali orang yang ia tolak ketika ada yang ingin membeli.

Kami kemudian berjalan kearah keramaian ada. Sepertinya ada ayam yang sedang ditarungkan. Jujur, sangat tidak nyaman berada disana. Banyak sekali laki-laki yang menatap kami dan menawari kami dengan jualan mereka. Jadi, aku memilih mundur dan pergi kearah lain.

Kami kemudian berjalan ke area dimana burung-burung dijual. Saat kami bertanya ke salah satu penjual, ia terlihat sangat tidak suka dan hanya jalan begitu saja hahahaha. Sepertinya, karena ia tau kami hanya ingin bertanya dan tak tertarik membeli salah satu dari jualannya.

Kami kemudian berjalan kearah pengrajin besi! Disini sebenarnya berisik banget! Tapi, satu hal yang kupelajari adalah tentang perbedaan cangkul dari daerah Sleman dan Bantul.

Kalau dari Sleman, mereka hanya akan menggunakan 1 besi. Berbeda dengan Bantul yang akan menggunakan 2 besi yang digabungkan. Sang pengrajin juga bercerita bahwa, pekerjaan ini sudah turun-temurun dalam keluarganya. Ia membuat banyak sekali macam pisau dan juga cangkul.

Setelah itu, kami kembali ke tempat dimana Kak Inu berada. Kami kembali sekitar pukul 10.30, di warung tengah pasar. Setelah sadar bahwa belum banyak klip yan kami buat, kami memutuskan untuk kembali memutari pasar sekitar 30 menit.

Saat memutari pasar inilah, dimana kami bertemu dengan pedagang yang menjual banyak aksesoris rambut. Penjualnya bernama bapak Rusdiyani. Sesuatu mencolok mataku dan Aruna, itu adalah scrunchie. Lagi tren banget nih jaman sekarang!

Kalau beli di mall bisa sampai Rp 50000 dan kalau beli ditempat teman akan seharga Rp 15000. Dan ini harganya hanya Rp 2500! Aku bertanya apakah ia membuat ini senndiri yang dijawab dengan tertawa ‘Ya nggak tho mbak‘, ya siapa tau pak.

Bapak Rudiyani ini memiliki inisiatif sendiri untuk berjualan seperti ini. Beliau bilang ‘Pasti laku’. Biasanya beliau akan berjualan di Pasar Pundong saat ‘Wage’ dan saat ‘Kliwon’ akan berada di Pasar Bantul.

Setelah berusaha membuat klip, kami kembali. Sempat bertegur sapa juga dengan ibu Hasiah (mbah penjual cendol), beliau berkata ‘Ayo pulang, atau mampir deket kok’.

Kami kemudian bertemu kakak-kakak dan berjalan pulang. Perjalanan pulang sangatlah panaaaaas. Kali ini malah mobil jarang sekali lewat. Sampai mungkin sekitar 1 KMan kami berjalan ada pickup yang lewat. Kami pun naik dan mendapatkan tumpanga yang menyenangkan!

Kami kemudian sampai dipertigaan, mungkin hanya selang 3 menit bis menuju Kota langsung muncul! Wah, sangat menyenangkan bukan? Kami pun langsung naik dan membayar Rp 5000/orang untuk sampai di Halte Museum Perjuangan.

Selama perjalanan, awalnya kami sempat bercanda gurau tapi, lama-kelamaan kami hanya dian dan mengistirahatkan badan.

Setelah sampai di Halte, kami benar-benar langsung pulang karena kebetulan aku ada acara sore hari itu.

Kami masuk Trans Jogja pukul 12.59 dan menghabiskan sepanjang perjalanan bermain filter Instagram dan Snapchat (jarang banget lho kita!). Bahkan bisa dibilang kami berisik didalam bis hahahah untungnya bis tidak terlalu rame sih.



Sampai di Condongcatur, kami pergi ke kamar mandi dan langsung mengayuh pulang. Jalanan sungguh panas. Bahkan, aku dan Aruna berhenti cukup sering hanya untuk berteduh dan minum air putih. Setengah jalan menuju rumah, kami memutuskan untuk mencoba hitchhiking lagi! (Kami melihat ada 2 pickup tanpa muatan lewat). Kami berhenti disebuah restoran. Sempat meminta air putih juga (kami sudah mencoba membayar tapi, ia tidak mau).



Sekitar 5 menit kami menunggu dan … sayangnya, tidak ada. Kami pasrah dan mengayuh sepeda secara pelan-pelan sampai rumah.  Oiya, anehnya juga saat bersepeda pulang, aku jadi melihat banyak bis kota lewat! Ada sekitar 5 dari utara dan selatan.



Overall,


  • Harus bisa menguatkan kerjasama! Masih kurang banget disini.
  • Cuek tapi waspada.
  • Jangan pernah lupa untuk tanya nama 🙂

Sekian, maaf kalau banyak salah dalam penulisan!

Warm hugs!

Book#2 !!

Hai haiii, kembali lagi dengan Gya disini. Langsung aja to the point bahwa aku akan membaca buku ‘Kelana’ karya dari Famega Syavira Putri.

Hmmm, awalnya aku pikir ini bakal jadi perjalanan yang serius. Yang benar-benar sudah di-plan semua. Tetapi justru salah besar! A really really adventurous one!

Nah, sembari membaca ada beberapa hal juga nih yang terlintas dibenakku. Kali ini sih gak banyak yang mengingatkanku dengan pengalamanku karena jujur, negara-negara yang dikunjungi belum pernah aku kunjungi sebelumnya (kecuali Melaka dan Thailand) dan tidak ada plan sama sekali!

  1. Songkran! Dulu sewaktu aku pergi kesana juga pas Songkran dan emang diguyur hahaha, tapi pistol airnya mereka emang keren banget sih! Ada tas punggung untuk tempat airnya lalu menyambung dengan pistolnya. Sayangnya, aku tidak bisa bebas ikut paradenya #bajunyapas-pasan
  2. Sewaktu kesana juga imigrasinya lucu! Alih-alih menggunakan pakaian hitam dan muka tegas, mereka menggunakan kemeja bunga berwarna warni dengan muka tersenyum!
  3. Wah, melewati imigrasi selama 8 jam?? Kayak apa ya?
  4. Aku juga pernah melewati imigrasi perbatasan Malaysia dan Thailand. Tapi, pengalamanku berbeda banget! Perbatasan sepi, tidak banyak orang. Tidak perlu antri dan tidak berantaka (menurutku)
  5. Tips untuk trip kedepan: Selalu waspada dan memperhatikan perilaku orang sekitar! Jangan terlihat polos.
  6. Stasiun tiket ditulis tangan! Wih, keren!
  7. Baru dengar cerita kereta dikunci dan penumpang tidak bisa masuk ;.; bakal panik sih kalau aku! Mungkin teriak-teriak juga ada. Itu kalau tidak ada orang yang lewat, lalu ketinggalan bisa serem banget! (Dari fotonya gelap stasiunnya)
  8. Pengen coba ‘bus dari neraka’ deh! Sepertinya aku akan tetap tidur nyenyak didalamnya!
  9. Kereta berdiri 24 jam? Uhm, ini mau menyiksa diri? Tidak bisa terbayang seperti apa.
  10. At the end it’s so hearwarming to read! Gak kepikiran bakal ada orang-orang yang rela berdiri! Bahkan sampai ditawari makanan juga. Dan itu keseruannya melakukan suatu perjalanan, something that surprises you!
  11. Jujur bacanya aja udah capek banget itu, gak kebayang di kereta 24 jam dengan keadaan gak punya tempat duduk. Waktu sampe bakal aku habisin waktu di tempat tidur juga sih!
  12. Dari tadi baca selalu penasaran rasanya bis dengan tempat tidur, kalau kereta sih aku pernah! Hm, sepertinya nyaman. Sudah seperti di hotel ber-bintang gak ya?
  13. ‘Menyeduh teh sambil melamun memandangi hamparan rumput dan ternak-ternak’ didalam kereta. Wow, how nice could that be?
  14. Menginap di ger (semacam tenda layaknya disirkus) sepertinya seru! Tapi entah kenapa, aku bisa memikirkan betapa dinginnya tidur disana
  15. Makan mata kambing dan langit mulut kambing … mungkin kalau langit mulut kambing aku masih bisa nikmati. Tapi mata kambing? What?!
  16. Tur 5 hari tapi cuma punya kesempatan mandi sekali! Wah, cocok banget
  17. Kayaknya di Mongolia banyak hal menarik. Meskipun mau tidak mau harus mengikuti sebuah tur tapi, tetap bisa merasakan kehidupan asli di Mongolia (seperti tur yang ia lakukan)
  18. Karena penasaran aku search nyanyian tenggorokan Mongolia, tapi gak muncul! Jadi jangan search pakai bahasa Indonesia hahaha pakai bahasa Inggris aja. Dan unik banget! Kuat banget nahan nafasnya, dan cocok dengan pemandangan Mongolia (yang aku tonton dari video sih). Would love to visit!
  19. Dua pulu derajat di Jakal aja udah bikin menggigil, gimana kalau ke Rusia! Musim semi saja -3° T^T
  20. Tidak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan kalau berada didalam taksi dengan dua pria supir taksi yang seram dan mau uang. Ekstrim!
  21. Jujur, kalau jalan di Indonesia emang tidak menyenangkan sih. Trotoarnya saja kadang tidak ada, kalaupun ada dibuat parkir dan berjualan. Secara segi keamanan juga … ya masih begitu.
  22. Another heartwarming one, tersentuh dengan teman-teman Olya dan ayahnya yang membantu. Padahal baru kenal juga kan ya?
  23. Berbicara lewat gambar, sepertinya menarik dan seru untuk dicoba!
  24. Buku ini kok banyak cerita yang heartwarming ya? Bayangkan mendapatkan patung bebek dari stranger dengan kalimat ‘Kamu akan ingat ada cinta yang besar dari Rusia setiap kali kamu melihat bebek ini’. Wow, klo itu aku, mungkin aku akan menangis.
  25. Aaaaa ini sih rasanya seperti punya keluarga dari beda negara, sangat menyentuh hati. Aku tidak bohong dan tidak bermaksud lebay tapi aku hampir menangis.
  26. Bekal perjalanan besok juga perlu ditambah ‘Bagaimana cara lompat dari mobil atau motor secara aman’
  27. Jatuh cinta sama kehangatan orang-orang ini!
  28. Another tip: selalu waspada!!!
  29. Unik banget ada hari membuang kertas dan hari membuang sampah-sampah lainnya.
  30. Tidak tau harus berkata apa, terlalu fokus dengan perjalanan dan pengalaman yang dinikmati bersama teman-teman baru.

Overall,

Aku hampir menangis membacanya-ralat sudah mengeluarkan air mata. Mendapat banyak bantuan dari banyak orang, membuat teman, saling membantu. Bukankah itu makna dari hidup? Jujur, aku sudah kehabisan kata-kata karena memang benar-benar hangat! Bahkan dari membacanya saja dan melihat beberapa hasil foto, aku bisa melihat adanya rasa kekeluargaan.

Sepertinya, aku sudah salah fokus dan terlalu fokus disisi satu itu.

Tapi, perjalanan itu memang banyak sekali pelajarannya! Dari segi travelling ya harus selalu waspada, berani bertindak, cepat mengambil keputusan, dan selalu optimis.

Menghargai orang lain juga penting! Memperkenalkan masing-masing negara, bertukar cerita, opini, dan kisah hidup. Dan sama-sama belajar dari sana.

Sekian dari saya dini hari ini,

Warm hugs!

Ps. Can’t help it but to say that I fell in love with all the people who have helped in that book, so heartwarming!

book #1

Hai haii, Gya disini. Aku kembali dengan sesuatu baru uWu

Jadi, aku dikasih tugas nih gais untuk mengulas buku. Buku tentang perjalanan seseorang pastinya, dan aku akan membaca buku karya Trinity! Kebetulan, aku memang belum pernah baca serinya The Naked Traveler. Tapi, bukunya yang Duo Hipppo Dinamis favoritku banget sejak kecil!

Karena itu, aku memilih untuk membaca The Naked Traveler yang pertama. Sembari membaca, ada beberapa hal yang terlintas nih! Ada beberapa yang mengingatkanku dengan pengalaman pribadiku dulu juga.

1. Tidur di bandara? Langganan klo itu mah! Ibu klo beli tiket pastinya yang murmer jadi klo gak pagi banget, ya malem banget hehehehe. Untung belum pernah diusir sih, klo ditatap sama satpam mungkin pernah kali ya.

2. Ibu juga sering bawa kain bali! Klo di bandara ya buat ‘selimut’ atau ‘sprei’ seadanya hahaha


3. Oiya, dulu juga aku pernah tidur diatas trolley dengan tas-tas sebagai kasurnya. Kebetulan sih emang anaknya bisa tidur dimana-mana.


4. Baru kejadian baru-baru ini nih! Ternyata di Singapura, toiletnya akan mengguyur secara otomatis kalau kita sudah berdiri. Dan juga disana tidak ada toilet shower jadi …. bawa botol kemana-mana.


5. Random check di bandara pasti tidak menyenangkan. Mungkin besok, aku bakal kena juga (jangan sampe sih!). Kalau sekarang sih masih aman ya!


6. Wow, aku searching penerbangan dari Jakarta ke LA akan memakan waktu 17 jam 55 menit ….. movie marathon seru banget kayaknya hahaha.
7. Aku baru tau apa itu conveyor belt …. gak pernah tau namanya

8. Karena kalau berpergian jarang menggunakan bagasi, jujur aku tak begitu tau banyak! Tapi, berbahaya juga kalau disuruh ambil sendiri.


9. Oiya, Kamboja udah improve banget! Aku pergi kesana kebetulan cuacanya pas lagi panas banget, bahkan angin lewat aja hangat dan bandara ACnya bisa mengalahkan hawa panas (Menurutku ini canggih sih). Sudah modern lah, gedungnya tinggi, ada eskalator, lift, bahkan ada toko donut Krispi Kreme juga!


10. Aku penasaran banget sama airport Tanjung Redeb di Kalimantan Timur! (Setelah searching ternyata sudah ganti nama jadi Bandar Udara Internasional Raja Alam, dari fotonya juga terlihat keren! Langitnya tinggi gitu)  Penasaran sih dulu bentuknya bagaimana, berarti dulu terbuka banget dong ya? Masa sampai anak-anak main bola ditengah-tengah landasan. Tiga sirinenya juga hahahaha


11. El Nido airport di Filipina, sebenarnya aku tidak heran sih kalau tidak ada bangunan bentuk airportnya. Yang bikin heran, itu beneran pakai satu ember pasir kalau memadamkan api? Terima lari saja kalau begitu mah! Dan juga setelah aku searching airportnya lagi, sekarang sudah pakai bis! Tidak pakai tricycle dan tidak harus menunggu pesawat pergi! (Sepertinya mereka membesarkan jalan dan memanjangkannya)


12. Di Kamboja sekarang, bukan hanya ojek dan taksi lagi yang menjadi transportasi dari bandara menuju pusat kota. Ada sebuah kereta (Royal Railway Station) yang memakan waktu sekitar setengah jam ke pusat kota Kamboja. Jalannya sangat pelan karena semuanya masih manual. Bisa saja kereta berhenti dan kondektur turun dengan tangga yang sudah disiapkan untuk menyingkirkan batang pohon kayu yang berada diatas rel. Untuk belok saja tidak bisa langsung (jadi ketika akan belok harus maju beberapa meter lalu sang kondektur akan berjalan keujung kereta satunya. Dari kereta kita juga bisa melihat perbedaan drastis dari perekonomian warga Kamboja. Tapi meskipun begitu, AC kereta ini juga dingin banget! Menggigil beneran.


13. Tempat duduk pesawat kayak hammock buat pohon? Kayak apa itu? Apa nyaman? Tapi, menarik banget sih, penumpang tidak boleh tau rute terbang hahaha ini penumpangnya harus selo beneran sih.


14. Seru juga mungkin ya, mengobrol dengan pilot sewaktu penerbangan. Katanya serasa naik mobil terbang! Serasa mau ke Hogwarts dong?


15. Kebetulan,karena naiknya selalu Air Asia, aku terbiasa tidak mendapatkan makanan ketika terbang. Dulu sewaktu naik Garuda bersama teman-teman dari Jakarta, ketika ditawari minum oleh pramugarinya, aku langsung bertanya pada temanku “Eh ini gratis apa bayar?” Huhhh katrok.


16. Naik garuda saja sudah begitu, gimana kalau business classnya Emirates? Haduh!


17. Waw, sepertinya baru pertama kali mendengar porter orang. Bagaimana rasanya digendong sama stranger ya? Keren sih, unik! Tapi, serem juga.

Btw, klo disini udah pasti diteriakin gak muhrim mungkin ya?


18. Kalau research di internet memang perlu banyak crosscheck nih!


19.  Nah, kalau naik pesawat. Ibu pasti akan datang ke bandara minimal 2 jam sebelum keberangkatan. Biar bisa leha-leha. Jadi kadang, lebih lama menunggu di bandaranya daripada nanti di pesawatnya XD

20. Besok, kalau sudah ada larangan pasti akan kupatuhi. Serem juga ada yang mencolek dan memanggil nama sepanjang jalan. Hiiii


21. Bisa kenalan dengan sesama travelers lainnya! Ini seru sih, dulu pernah bertemu dengan seorang ibu dan anaknya di bandara Jogja. Sampai sekarang masih berteman di Instagram!

22. Oiya, dulu sewaktu berada di KL Central tahun 2011. Aku pernah berkenalan dengan seorang anak kecil berambut pirang, ia bersama keluarganya juga sedang travelling. Tak banyak yang kuingat karena umurku masih 7 tahun. Tapi yang kuingat dengan jelas, ia bercerita tentang bagaimana ia sangat menyayangi bonekanya sampai selalu ia bawa kemanapun dan sudah diompoli beberapa kali. Hahaha anaknya talkative banget, sayangnya bahasa Inggrisku masih sangat buruk kala itu.


22. Sejauh ini belum pernah liat tempat makan fast food yang tidak ada kursinya sih. Kasian, makanannya nggak disaring dong.


23. Cari makan murah mah, setiap nge-trip! Pasti selalu ada budget yang tidak boleh dilewati.


24. Seru juga makan-makanan khas suatu daerah, apalagi yang ekstrim. Sayangnya yang ekstrim biasanya tidak halal XD


25. Searching dimana Andorra dan wow … 20 jam penerbangan! Dari ceritanya kayaknya fancy and luxurious gitu sih. Tertarik banget sama jacuzzi sambil lihat pemandangan gunung bersalju! Jet ski nya juga!

26. Harus membiasakan diri untuk tidak panik karena orang lain T^T

Overall,

Dari segi Travelling sih, sama dengan apa yang aku sudah aku lakukan. Basically backpackers, as cheap as possible. Dimulai dari sana dan pengalaman langsung ikut.

Pengen coba sih nginep di hostel! Kemarin mau dicoba tapi belum bisa tercapai. Sepertinya bisa dapat banyak pengalaman dari sana.

Dan menurutku yang paling spesial dari cara dia nge-trip itu, Trinity bisa bikin tripnya versi dia! Selain cari museum, hal kedua yang dia cari itu tempat dugemnya orang lokal dan menurutku itu unik banget! Gak pernah terpikirkan sih bagiku hahaha

Adventure-nya juga! Never imagined naik jeep bareng babi.

Anyways, that’s all! Maaf kalau banyak salah kata atau bahkan ada yang aneh (well, that’s me).

Sampai jumpa,

warm hugs!

Tantangan#2 !

Kita kembali lagi dengan tantangan kedua! Yup, kita akan ke markas Jaladwara lagi tanpa diantar orangtua ataupun ojek online. Tapi, ada kejadian nih!

Jadi, sehari sebelum hari tantangan. Aku dan Aruna berencana untuk menyelesaikan beberapa tugas yang belum kami kerjakan. Sewaktu berangkat menuju rumah Aruna, bannya sudah benar-benar flat.

Setelah banyak lika-liku berpikir mencari cara dan berbicara dengan Kak Inu lewat aplikasi Whatsapp, aku pun diperbolehkan untuk diantar sampai terminal Condongcatur.

Keesokan harinya,

05.30 Pagi

Aku bangun dengan jantung yang berdetak sangat kencang. ‘Kirain telat’ pikirku dalam hati setelah melihat jam. Aku pun dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan menunaikan sholat.

Setelah itu, aku memanaskan air untuk mandi dan pergi bersiap-siap (semalamnya aku terlalu pusing memikirkan sepeda, jadi belum siap-siap sama sekali). Selesai bersiap-siap, aku pun mandi.

06.30 Pagi

Aku sudah memesan ojek online. Tapi anehnya, kenapa orangnya tidak bergerak sama sekali? Aku kirimkan pesan juga tidak dibalas. Setelah 5 menit, aku pun membatalkannya dan memesan yang baru.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir aku bisa saja diantar oleh ayah. Tapi, karena aku sudah tau jalur mana yang akan ayah pilih. Aku memutuskan untuk tidak berangkat bersamanya.

Sekitar jam 6.45 aku berangkat dari rumah bersama mas ojek online.

Dan, benar tebakanku! Mas ojek online memilih untuk melewati Jalan Kaliurang yang sudah kupastikan, tak mungkin kulewati jika aku berangkat dengan ayah.

Karena melewati Jalan Kaliurang, aku jadi melewati Sekolah Dasar yang ada didekat pasar. Banyak sekali muridnya, kebanyakan sih sedang jajan didepan sekolah. Bahkan, aku juga melihat guru yang sedang jajan makanan.

Kemudian, aku melewati Pasar Gentan, tidak begitu ramai. Sama seperti Jalan Kaliurang. Entah kenapa, pagi itu jalanan masih sepi. Hanya ada kurang lebih 5 motor dari arah utara. Enak juga ya, masih sepi.

Kemudian, masnya membelokkan motornya kearah Jalan Gandok. Di jalan itu, sama seperti minggu kemarin. Banyak yang bakar sampah di pagi hari.

Lalu, aku juga melihat banyak kakek-kakek dan nenek-nenek yang sedang bersiap untuk melakukan senam. Mereka semua sudah berdiri di halaman sebuah rumah, beberapa sedang berbincang dengan satu sama lain. Pakaiannya warna-warni!

Para pedagang juga sedang bersiap untuk membuka toko mereka. Belum terlihat adanya penampakan makanan sih.

Sebelum sampai di terminal, aku sempat mencium bau makanan dari warung yang berada tak jauh dari terminal. Aku tidak yakin masakan apa itu, tapi dari baunya sih sangat enak.

Aku sampai di terminal Condongcatur sekitar pukul 07.00, aku kemudian samar-samar melihat seseorang melambaikan tangannya kepadaku. ‘Oh sudah masuk’ batinku (ya mukanya Aruna buram, aku tidak menggunakan kacamata). Aku langsung membayar 3.500 untuk masuk.

Di dalam halte terdapat jauh lebih banyak orang, jauh lebih banyak dari minggu lalu. Aku kemudian duduk di sebelah Aruna. Kami memulai untuk membaca buku yang harus kami buat refleksinya (Kelana dan The Naked Traveler). Sempat juga kami tertawa karena cerita yang lucu dari buku yang tengah kami baca tersebut.

Pukul 07.07, bis kami datang. Tak jauh berbeda dari bis minggu lalu, penumpang yang ada berjumlah 8 orang termasuk dengan aku dan Aruna.

Yang diputar dalam bis ini sayangnya bukan radio. Jadi, ada beberapa lagu yang tidak sesuai dengan mood pagi hari! Malah bikin galau dan mengerutkan kening (ini aku dan Aruna sih). Ini pertama kalinya aku mendengar lagu dengan lirik ‘Satu dua tiga empat lima enam tujuh lapan, itu hati apa kos-kosan’. Uhm, what?

Untuk misteri minggu lalu … (apakah bis minggu lalu melewatkan satu halte) Jawabannya, tidak. Tidak ada halte baru yang kami hampiri.

Didalam bis, aktivitas yang dilakukan orang-orang hanya kalau tidak bermain dengan ponsel pintar, ya hanya melihati jalanan. Tidak seperti minggu lalu yang lebih bervariasi.

Oiya, kalau minggu lalu kebanyakan orang turun di Malioboro, sekarang tidak! Hanya ada 5 orang yang turun di Malioboro tapi, didalam bis masih ada beberapa penumpang.

Bis ini …. entah kenapa, terasa begitu cepat. Apa karena sopirnya bejo ya? Jadi, jarang kena lampu merah hahaha

Tapi juga, selama di bis kami sempatkan membaca buku dan tertawa karena cerita lucu sih! Mungkin karena itu juga.

Beberapa saat sebelum sampai, kami sudah bersiap (biar tidak ketinggalan lagi!). Kami turun di halte Sugiono 2 dan langsung berlanjut untuk jalan ke markas.

Di jalan sebelah trotoar ada banyak bunga! Warna-warni gitu.

Sambil terus berjalan, kami harus melewati 4 orang (sepertinya 2 masih pemuda dan 2 orang lagi jauh lebih berusia). Mereka sedang tbercanda gurau sambil merokok. Saat kami akan lewat, aku dapat melihat mereka tersenyum. Huh, aku tau kita tidak boleh judge orang begitu saja …. tapi karena aku merasa itu sedikit menyeramkan, aku hanya pasang muka datar dan jalan dengan percaya diri.

Kami pun lanjut berjalan sampai markas!

08.02

Kami sampai di markas! Cukup pagi, bahkan Kak Rintha belum datang karena kita datang 30 menit lebih awal.

Sambil menunggu, kami makan roti dan juga mendengarkan radio yang diputar Kak Inu. Sempat juga membahas tentang kebakaran yang terjadi di SMA Teladan 1 Wirobrajan.

Kak Rintha tak lama datang, bersamaan dengan Kak Inu yang sedang bersiap mandi. Kami pun menunggu Kak Inu yang sedang mandi dengan berselancar di aplikasi twitter tentang kebakaran yang terjadi pagi itu.

Kegiatan#2!!

Pagi itu, aku dan Aruna diperlihatkan banyak foto dari laptop milik Kak Inu. Kami diminta untuk mengeluarkan pertanyaan dari foto-foto tersebut. Sesi pertama dilakukan secara langsung dan sesi kedua dilakukan dengan menulis pertanyaannya pada kertas.

Sebenarnya, agak sulit diawal. Karena aku takut pertanyaanku salah atau aneh. Tapi, Kak inu selalu berkata ‘Apa aja yang dipikiran kalian’. Hmmmm ragu terus hehehehe

Kami diperlihatkan banyak foto pedagang-pedagang yang sedang berjualan, pedagang yang tidur diatas kacang panjang, sampai nelayan yang berburu lumba-lumba. Banyak bangetttttt.

Kami mengakhiri sesi pertama untuk makan siang! Kami pergi ke warung dekat dengan markas. Disana aku pesan lele bakar dengan nasi bayam. Dan beneran enak banget! Murah lagi.

Setelah selesai makan, kami pulang ke markas. Sebelum memulai sesi berikutnya, kami menyempatkan diri untuk menonton trailer film ‘Ratu Tanah Jahanam’ hahaha. Kayaknya bakal nobar nih!

Sesi kedua dimulai!

Kami akan menonton wawancara video, lalu setelah menonton, kami akan menulis semua hal yang diingat dari wawancara tadi! Hmmmm susah sih buat aku.

Dulu waktu masih Kumon aja, susah banget hafalin hasil dari sin, cos, tan T^T padahal tiap hari ketemu, huft.

Alasan banget ya kan.

Kami menonton 3 video, berakhir sekitar pukul 3 sore. Karena sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk langsung pulang!

Waktu pulang ….

Aku dan Aruna mau menyebrang untuk ke halte bis TransJogja. Tapi, jalanan sangat ramai! Mungkin karena jam waktu pulang kerja dan sekolah ya ….

Bahkan saat menyebrang pun, kami sempat stuck ditengah jalan raya. Agak panik sih, tapi berusaha tenang. Kendaraan dari arah kiri banyak banget sih! Kami bergandengan tangan sambil memperhatikan kendaraan (berharap ada yang memberi jalan).

Kemudian, ada sebuah mobil yang berhenti! (Ini … entah karena aku dan Aruna sudah agak sedikit maju kearah jalan atau dari hati nurahni wkwk). Kami pun menyebrang dengan sedikit berlari.

Nah, perbedaan didalam bis kali ini adalah kebanyakan bukan murid sekolah lagi! Aku lebih banyak melihat orang pulang kerja dan orangtua (kakek dan nenek, dari RS Dr. Sardjito).

Sampai di terminal Condongcatur …

Daritadi sebenarnya masih berpikir akan pulang naik gojek atau mau jalan kaki nekad sampai dekat rumah. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki! Karena sudah sore, aku memutuskan untuk sholat dulu di terminal, bersamaan dengan Aruna yang ingin pergi ke kamar mandi.

Saat mencari mushola, aku sempat kebingungan. Aku pergi kearah utara terminal, kupikir mushola pasti dekat dengan kamar mandi. Dan tidak ada! Lalu, aku bertanya kepada salah satu pedagang disana. Ternyata mushola berada diarah selatan. Aku pun berjalan lagi keujung sebelah selatan.

Musholanya tidak terlalu besar, ya cukup lah untuk sholat. Disebelahnya ada tempat wudhu dan kamar mandi. Meskipun terlihat sedikit kotor, tapi tidak bau sama sekali! Kurang tau sih kamar mandinya. Tapi, kata Aruna, kamar mandi yang berada ditengah terminal bau!

Aku pun menunaikan sholat sekitar 5 menit. Dipenuhi kegelisahan karena takut nanti akan terlalu gelap. Aku cepat-cepat melipat mukena dan menggunakan sepatuku.

Ada seorang ibu yang duduk didepan kamar mandi, sepertinya sedang menjaga kotak uang. Aku lalu menundukkan kepala sambil tersenyum yang dibalas dengan kata ‘Monggo’ dan senyuman. Aku kemudian berjalan dengan setengah berlari ke tengah terminal.

Setelah melihat keberadaan Aruna, kami langsung memulai berjalan pulang. Eh, sebelumnya sempat goyah untuk makan es campur seberang terminal hehehe tapi, sadar sudah akan gelap kami pun mengurungkan niat.

Oiya, saat Aruna akan mengambil sepedanya, aku akhirnya mengetahui siapa pemilik sepeda-sepeda lain yang berada disana. Sekumpulan laki-laki mahasiswa (dari penampilannya sih begitu, casual menggunakan jeans, t-shirt, dan kemeja yang ditali ke badan).

Tak lama setelah kami berjalan, kami menyempatkan diri untuk pergi ke CircleK. Alasannya karena, aku ingin mencoba Hydr* C*c* hahaha. Aruna juga membeli yoghurt.

Kukira Hydr* C*c* akan sangat manis seperti kata Aruna. Ternyata tidak, tidak manis dan tidak enak (dilidahku).

Kami kemudian melanjutkan berjalan. Jalanan ramai banget! Banyak motor, ya jam-jam pulang kerja memang semua jalanan pasti ramai kan.

Bahkan, saat akan menyebrang sebuah gang aku juga hampir ditabrak sepeda motor! Tenang, tidak se-dramatik itu kok. Saat aku akan menyebrang, aku melihat kearah kanan lalu kiri. Nah, masalahnya aku ragu! Jadi …..

Seingatku setelah itu, tidak ada suara bel dari motor. Aku langsung melanjutkan menyebrang dengan jantung yang berdetak lebih kencang. Aku langsung menoleh ke Aruna dan berkata ‘Itu kedua kalinya aku hampir ditabrak’ sambil menyentuh dada sebelah kiri.

Lalu, aku mulai bercerita tentang bagaimana aku dan seorang temanku menyebrang jalan besar didepan Lippo. Yang itu parah banget soalnya! Waktu itu, kami tidak bisa melihat motornya karena mobil-mobil yang berhenti menunggu lalu lintas. Lalu … ya, kalian bisa menebak. Bahkan, sampai bel kencang keluar membuat kami terkejut. Rasanya hampir mati!

Lalu, kami berjalan dengan aku yang berada didepan dan Aruna dibelakangku. Saat melewati tempat karaoke, sempat kami bercanda dengan mengatakan ‘Gimana? Mau mampir dulu?’ lalu dibalas dengan Aruna ‘Yuk’ lalu tertawa.

Tempat karaoke sepertinya rame. Banyak motor yang terparkir diluar. Mungkin karena hari Jumat ya. Saat kami lewat juga ada seorang siswi yang sedang dijemput dengan sepeda motor. Hmmm, yuk besok!

Tak lama setelah berjalan, ada seorang bapak yang keluar dari mobil. Ia kemudian menggendong anaknya yang berada dibagian tengah mobil. Saat sedang menutup pintu mobil, ia menjatuhkan kuncinya. Untung saja aku sedang fokus kearah mereka, jadi aku tau (kami sudah berjalan sampai didepan mobilnya).

Aku pun berteriak memanggil ‘Pak!!’ Dan ia menoleh.

‘Kuncinya jatuh’ kataku

‘Oh iya, makasih ya mbak’ balasnya

Wah, lega. Keraguanku untuk memilih berjalan kaki pulang langsung hilang. It was all worth it!

Hari kemudian mulai gelap, sebenarnya aku tidak enak dengan Aruna. Jadi aku menyuruhnya untuk melaju dengan sepedanya duluan.

Ya kan, aku bisa saja memesan ojek online kapan saja. Tapi, Aruna tetap menolak. Padahal ia sepertinya lelah, bukan apa-apa dia kan hanya menggunakan sendal jepit! Ia bahkan mulai menghitung langkah kaki yang kemudian aku ikuti.



Kami memutuskan untuk menyudahi berjalan sampai cafè yang kami datangi minggu kemarin, cafè bernama Ivy Coffee. Yap, kebetulan banget sampai didepan cafè ketika adzan maghrib berkumandang. Aruna langsung memasangkan lampu untuk sepedanya dan aku memilih menunggu.



Maksudku biar nanti ia jalan duluan dan aku bisa berada dibelakangnya saat dijalan bersama ojek online. Aruna pun berangkat duluan dan aku langsung order ojek. Huft, kukira ojek tersebut akan datang dengan cepat. Ternyata lumayan lama. Sampai kupikir orangnya sholat dulu.



Saat naik ojek….

Aku bertemu dengan Aruna dijalan! Untung saja ketemu (membutuhkan timing waktu dan telepati lho ini!). Aku pun meminta izin kepada bapak-bapak ojek untuk berada dibelakang Aruna.



Aku pikir ia akan melewati jalanan yang melewati rumah warga (lebih terang dan aman) tapi, ia ternyata lurus. Melewati jalan yang disekelilingnya sawah tanpa lampu. Jalan ini sangat tidak direkomendasi saat malam hari, terlalu risky!



Saat di jalan itu juga, Aruna kemudian berhenti. Kupikir karena lelah tapi ternyata, karena dudukan sepedanya yang semakin naik sehingga membuatnya tidak nyaman. Otomatis si bapak ojek berhenti. Membuatku juga merasa tidak enak. Disatu sisi aku ingin menemani tapi, disatu sisi juga aku tidak enak dengan si bapak.



Akhirnya aku memutuskan untuk duluan. Tapi, sangat pelan. Ya, pokoknya aku masih bisa lihat lampu sepedanya. Saat sudah dijalan besar, baru motor melaju dengan lebih cepat.



Saat motor melaju lebih cepat, aku sempat berbincang dengan bapak ojek. Dan daritadi aku salah … dia ternyata bukan bapak-bapak, melainkan mas-mas SMK yang baru saja lulus 3 bulan lalu. Setelah lulus, ia sebenarnya sudah bekerja dari awal lulus tapi, entah kenapa keluar dari pekerjaannya itu (aku lupa dia bilang atau tidak alasannya).



Ternyata juga ia baru memulai ojek online 3 hari yang lalu! Aku pun mengomentari dengan ‘Wah ya nek itu baru banget mas’



Mas, hehehe



Setelah ia berkata bahwa ia baru lulus, aku langsung mengganti panggilan ‘Pak’ dengan ‘Mas’. Ia juga bercerita bahwa ia membeli akun ojek onlinenya itu (itulah kenapa awalnya aku mengira dia seorang bapak-bapak).



Kemudian, kami sampai didepan rumah!



Reflection :

Overall, untuk hari ini

  • Aku belajar untuk cepat berpikir, cepat untuk mengeluarkan pertanyaan. Susah sih, karena masih banyak ragu.
  • Mengingat informasi! Nah ini … butuh banyak improvisasi :]
  • Tidak ragu dan lebih berhati-hati. Apalagi dalam menyebrang :))
  • Semua yang kita lakukan pasti ada hikmah dan kekurangannya! Kalau aja aku milih naik ojek online dari awal, aku gak bakal tau sudut mushola dimana, pemilik sepeda-sepeda yang sering aku lihat di terminal siapa, dan juga bagaimana rasa Hydr* C*c* hahaha. Senang juga bisa membantu si bapak yang tak sengaja menjatuhkan kunci mobilnya.

Yaa … meskipun pada akhirnya kaki pegal dan sampai rumah langsung naudzubillah baunya, tapi it was all worth and fun!

Sekian untuk hari ini! Mohon maaf kalo ada banyak salah ketik atau error. I’ll see you next time!

Warm hugs♡