Kenali Sendiri

Hai hai, Gya kembali lagi dengan topik baru! Hehe

Kali ini aku harus bicara dengan diriku sendiri dan memikirkan apa saja hal yang harus dipersiapkan untuk sebuah perjalanan!

Huh, seharusnya tidak sulit bagiku. Karena aku berbicara dengan diriku sendiri hampir setiap harinya. Iya, butuh teman. Nggak deng! Aku memang suka berbicara sendiri karena nantinya, aku tidak harus berpikir apakah omonganku tadi salah atau tidak.

Oke, kita off topic.

Nah, berbicara dengan diri sendiri ini untuk, mencari minimal 20 kemampuan yang menurutku perlu dimiliki untuk melakukan sebuah perjalanan.

Ini dia list nya,

1. Gampang Beradaptasi

Sebagai seseorang yang akan melakukan perjalanan, pasti harus bisa beradaptasi di tempat baru dengan cepat. Karena, untuk mendapatkan pengalaman yang baru. Kita harus bisa blend dengan orang-orang dan lingkungan disana, bukan?

2. Membaca Peta

Nah, ini sih skill yang gak semua orang punya. Termasuk ayahku.

3. Bisa Membuat Keputusan

Nggak manut aja. Duh, ini sih agak susah. Terkadang masih ragu untuk membuat sebuah keputusan.

4. Mengenal Dasar-Dasar Pertolongan Pertama

Ya, seperti kalau ada tulang yang patah, luka sobek, luka bakar, dsb. Karena kalau salah kan, bisa semakin parah.

5. Bisa Melindungi Diri Sendiri

Penting! Apalagi kalau ingin berpergian sendirian.

6. Kuat Fisik dan Mental

Ini bekal untuk hidup juga sih. Dan ya, susah mungkin untuk beberapa orang.

7. Bisa bekerja sama

Bisa menghargai orang lain yang melakukan perjalanan dengan anda. Jadi, gak boleh keras kepala. Semua harus didiskusikan dengan partner.

8. Peka

Kalau bepergian dengan seseorang ini penting banget! Peka dengan tempat sekitar juga.

9. Disiplin

Melakukan perjalanan sendiri berarti harus bisa disiplin juga. Terutama disiplin waktu. Kan kalau bangun pagi, tidak ada tour guide yang menggedor-gedor pintu. Disiplin juga dalam menjaga keuangan.

10. Bijak

Bijak dalam memilih. Memilih mana yang harus diprioritaskan, apalagi dalam hal yang mendadak/tidak dapat diprediksi.

11. Optimis

Optimis semuanya bisa berjalan dengan lancar. Klo nggak optimis, gimana bisa mulai perjalanannya?

/sedang menampar diri sendiri karena sering pesimis/

12. Berani

Berani bertindak, bertanya, dan berkata. Kalau ada yang aneh-aneh, gak boleh ragu untuk bertindak *baca gampar*

13. Mandiri

Harus bisa cari penginapan, makan, dan minum sendiri. Kalau mau pergi ke destinasi yang ingin dituju, juga cari kendaraannya sendiri. Ini nih, challenge dan keseruannya melakukan perjalanan tanpa tour.

14. Tidak Gampang Panik

Kalau dibawa panik, akan sulit untuk mencari jalan keluar suatu masalah. Meskipun sulit banget sih, aku panikan banget :<

15. Selalu Waspada

Tidak ada yang salah untuk selalu waspada. Di semua tempat dan situasi!

16. Teguh Pendirian

Nah, ini. Jangan sampai terhipnotis oleh kata-kata orang asing. Mungkin terkadang yang dia ucapkan adalah fakta tapi, bisa juga itu scam!

Tapi, teguh pendirian juga bukan berarti tidak bisa berdiskusi dengan partner travelling-nya. Harus bisa dibedakan!

17. Menerima Semua Hal Mengejutkan Yang Akan Terjadi

Yup! Ini dari ‘Open Road, Open Life’. Terkadang, dalam perjalanan ada beberapa hal yang harus di let it flow. Kayak, mungkin ditipu kena tarif yang lebih mahal. Ya….. rugi sih …. Tapi jadi ada ceritanya kan?

18. Mengetahui Budaya Sekitar (Do’s & Don’ts)

Harus tau apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di daerah itu. Kita harus menghargai dan mematuhi.

19. Research Tempatnya

Apakah tempat itu rawan terjadi kejahatan, kecelakaan, dekat dengan cagar alam, yang menarik dalam daerah itu, dan masih banyak lagi.

20. Tidak Mudah Lupa

Nah, ini. Sangat sulit sebenarnya (terutama bagiku hehe). Tapi, kalau pelupa susah dong! Apalagi, kalau perjalanannya dilakukan sendiri. Sebaiknya sih, bawa note kemana-mana.

Sekian, bekal perjalanan menurut otak saya.

Terimakasih! Warm hugs

Ini dalam bentuk mindmap nya! Yang dilingkari adalah kemampuan yang menurutku sudah ada (sedikit) dalam diriku 🙂

Tantangan pertama <333

Setelah pertemuan pertama kami pada hari Selasa, kami langsung mendapatkan tantangan pertama untuk Triwulan Pertama ini! Tantangan minggu pertama adalah pergi ke markas tanpa diantar orangtua dan naik ojek online. Bisa bersepeda, jalan kaki, naik transportasi umum, dan transportasi lainnya.

Sewaktu pertama kali membaca tantangan, bayanganku pertama memang langsung jatuh naik Trans Jogja atau biasa disebut TJ. Lalu, dari rumah naik sepeda ke terminal Condongcatur.

Kenapa Condongcatur? Karena, dari rumah ke terminal Condongcatur ada yang biasa kusebut jalan tikus! Jadi, kita tidak perlu melalui jalan besar seperti Jalan Kaliurang.

Karena belum tau halte apa yang ada disekitar markas Jaladwara, aku pun menyempatkan diri malam sebelumnya untuk mencari.

Ternyata ada 2 halte yang dekat, yaitu Sugiono 1 dan Katamso 1.

Aku pun mencatat nama halte dan mulai mempersiapkan barang untuk esok hari. Setelah memasukkan dompet, logbook, kacamata, parfum, pulpen, botol minum, note, topi, dan kunci sepeda ke dalam tasku, aku lalu beranjak ke atas tempat tidur untuk terbang ke alam mimpi.

Jam 05.10 WIB

Pagi hariku dimulai dengan suara pompa air yang menyala sangat kencang. Saking kencangnya, aku sampai kaget dan hampir terjatuh dari tempat tidur. Tak lama setelah itu, ayahku masuk ke kamar untuk menyuruhku sholat shubuh. Aku pun segera duduk dan mengumpulkan nyawa untuk pergi ke kamar mandi.

Selepas wudhu dan sholat, aku beranjak pergi ke dapur untuk memasak air hangat. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, memasak air untuk mandi (jogja klo pagi dingin!). Sambil menunggu air mendidih, aku pergi ke kamar untuk mempersiapkan pakaian. Memilih baju adalah pekerjaan tersulit di pagi hari! Meskipun pada akhirnya berakhir dengan baju yang dipakai beberapa hari lalu hahaha. Tak ingin lama menunggu, aku pergi lagi ke dapur untuk mengecek air. Air sudah cukup hangat, belum sampai mendidih tapi cukup hangat. Aku pun pergi mengambil handuk dan ember kecil untuk menuangkan air tersebut ke ember di kamar mandi.

Tepat pukul 05.38 aku sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian. Entah mengapa, cacing-cacing di perutku sudah meminta asupan pagi. Padahal biasanya mereka meraung-raung sekitar jam 7 pagi. Aku pun mencoba melupakan rasa lapar itu dengan, mengeringkan rambut dan menyisir rambut. Setelah itu aku mengisi botol minumku dengan air dan berjalan ke pintu depan untuk menggunakan sepatu. Yap! Aku berangkat cukup pagi karena harus mampir ke rumah Aruna. Aku lupa bilang bahwa sepedaku berada di rumahnya sejak pertengahan September hehehe, kebetulan waktu itu aku hendak pergi dengan Aruna jadi aku bersepeda ke rumahnya dan pulang dengan gojek. Selepas itu aku langsung ke rumah nenek untuk 2 minggu, jadi tak ada yang bisa mengambil sepeda Federal warisan eyangku itu.

Di pagi hari itu, jalanan banyak motor yang berlalu-lalang. Orang-orang hendak berangkat kerja dan sekolah. Ada banyak juga suara ayam berkokok dan anak-anaknya. Aku lalu melewati sebuah rumah yang terdengar dengan jelas suara minyak panas dari luar. Tepat setelah aku berbelok kiri, aku berpapasan dengan tetanggaku. Ia melihatku lalu berkata ‘Loh kok jalaan?’ tapi tidak sambil memberhentikan motornya. Akhirnya aku hanya tersenyum untuk membalasnya. Kemudian seiring aku berjalan, aku mulai bisa melihat sang surya yang sangat berwarna oranye pagi itu. Lalu melewati sebuah minimarket Raya yang masih belum ada pembelinya sama sekali.

Saat jalan mulai menurun, aku agak kesulitan berjalan. Karena, tidak ada jalan untuk pejalan kaki. Ada gundukan pasir yang menghalangiku jadi aku harus menepi ketika truk lewat. Tiba-tiba perutku kembali meminta pertolongan, ditambah lagi jalanan mulai menanjak (percayalah, jalanan dari Jl. Kaliurang ke rumahku itu naik turun layaknya bukit). Setelah jalan menanjak, ada tanjakan lagi yang lebih menanjak! Yay, legs workout! Sepanjang jalan menanjak aku bisa mendengar suara tokek, ayam, dan orang-orang yang sedang menyapu halaman mereka. Dan juga aku sudah hampir sampai!

Tepat jam 06.15 pagi aku sampai di rumah Aruna. Aku sudah bisa melihat tasnya di depan rumah dengan sepedanya. Tak lupa, si federal juga ada di sampingnya. Ia keluar lalu menyapaku dan kembali masuk kedalam. Sembari menunggunya aku mengikat ganda tali sepatuku dan mengecek kabar federal. Dan tebaklah apa yang terjadi, ban nya agak sedikit gembos. Setelah Aruna keluar dari rumahnya, ia pun menawariku memompa ban. Tapi kutolak karena ban nya memiliki kunci yang berbeda. Aruna juga sempat kebingungan dengan tas gitarnya yang besar itu. Setelah mencari posisi nyaman dan aman untuk bersepda kami pun berangkat dengan masalah masing-masing :b

Sebelum kami pergi ke terminal Condongcatur, aku memutuskan untuk melihat bengkel yang biasa aku lewati. Dan ternyata masih tutup! Padahal sudah lumayan berat untuk dikayuh. Sembari memutar balik arah karena tidak jadi pergi ke bengkel, kami melihat sebuah kunci motor yang terjatuh. Untungnya sih, tidak ditengah jalan. Jadi, kami hanya melewatinya begitu saja. Jalanan kemudian agak menanjak, membuatku agak tersengah-sengah dan orang-orang mulai melihati sepedaku yang tua dengan ban gembos(Life’s great!). Karena mulai kecapekan aku pun memberhentikan sepeda dan minum air putih. Setelah itu, kami memulai untuk mengayuh kembali.

Di jalan itu tidak banyak rumah penduduk, kanan dan kiri semuanya dipenuhi dengan lahan hijau segar dan petani yang sudah bekerja. Kami juga melewati bunga matahari yang berdiri tinggi, mengingatkan kami pada lagu Sunflower milik Post Malone yang langsung dinyanyikan saat itu juga. Tetangga ada yang lewat lagi! Memang sudah menjadi jalur favorit warga sekitar untuk menghindari Jalan Kaliurang. Kakiku sudah mulai terasa pegalnya sampai kami harus berhenti lagi hehehe. Belum setengah jalan saja sudah keringetan! Aruna juga sudah menawariku untuk bertukar sepeda tapi aku tolak mentah-mentah. Lalu, kami lanjut jalan dengan memilih jalur yang tidak menanjak. Jalannya lumayan besar jadi kendaraannya semakin ramai.

Karena jalanan mulai menurun, sepeda tidak terlalu terasa begitu berat lagi. Ya lumayan lah! (daripada pulangnya nanti). Seiring mengayuh aku bisa mencium banyak asap. Orang-orang masih banyak yang membakar sampah. Sampai aku harus beberapa kali menahan nafas agar tidak menghirup asapnya. Kami sempat berhenti sebentar untuk melepas jaket yang kami kenakan dan minum. Orang-orang juga sedang bersiap untuk membuka bisnis mereka. Sampai ada yang menawari kami untuk mampir. Tapi, hanya kubalas dengan senyuman karena percayalah, yang ada dibayanganku hanyalah sampai di terminal secepatnya! (Sedashyat itu gempornya sampai laparnya perut tidak terasa. Bahkan aku juga tak tau kalau Aruna ingin mampir). Kami pun mengayuh lagi. Saat sudah dekat aku sempat melihat tempat tambal ban yang masih tutup dan berencana untuk kesana pulangnya nanti. Jalanan mulai ramai, tapi kami tak kesulitan untuk menyebrang jalan masuk ke terminal.

Sekitar pukul 07.00 pagi, kami sampai di terminal. Sudah ada 2 bis yang datang pagi itu dan salah satunya adalah bis 2A (bis yang akan kami naiki). Karena Aruna lupa menggunting kunci sepedanya yang baru itu (masih disegel), ia harus pergi ke dalam terminal dan meminjam gunting. Lalu kami sibuk mengunci sepeda. Tepat saat kami selesai, bisnya pun berangkat (persis drakor banget!).

Kami pun memasuki halte dengan penuh keringat. Setelah memastikan bis yang kami harus naiki itu benar 2A (menandakan kami harus nunggu sekitar 15 menit). Kami pun masuk dengan membayar Rp 7.000/ 2 orang. Di dalam cukup ramai, mungkin juga karena ini pusat dari semua jalur. Dan yap! Kita bau banget :0 Sambil nunggu bis dateng, kita mencatat beberapa hal di buku dulu. Saat sedang sibuk mencatat, tiba-tiba masnya mengucapkan destinasi bis dengan sangat cepat. Ternyata itu bis kita! Kaget sampai hampir panik. Kami langsung mengambil tas dan mengantri masuk.

Didalem lumayan dingin. Aku duduk didekat pintu, sebelahku ada seorang mbak-mbak yang masih agak muda kelihatannya. Ia lalu menggeser tempat duduknya (ini entah karena mencium aroma tubuhku atau memberi jarak agar Aruna bisa menaruh gitarnya). Di bis itu ada 8 penumpang termasuk aku dan Aruna. Semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang main hp, baca koran, melihati perempatan kentungan yang macet, dan telfonan. Lagu di bis ini juga up to date banget! Soalnya muter Prambors FM, radionya anak jaman now hahaha. Aku sempat terkaget karena mendengar lagu Ariana Grande – 7 Rings. Di perempatan kentungan, kendaraan dari arah Selatan banyaaaak bangeeeet. Kami berhenti cukup lama disitu karena lalu lintas yang padat dan konstruksi yang ada. Bahkan, ibu-ibu yang membawa keranjang jualannya di depan menjadi penasaran sampai berdiri dan mendongakkan kepalanya.

Saat sampai di terminal Jombor, seorang bapak-bapak yang duduk di belakang keluar dari bis. Aku lalu memutuskan untuk pindah di belakang (dari dulu emang suka duduk di belakang hehe). Ada 2 orang yang masuk dari terminal jombor. Mereka tidak lepas dari hp masing-masing bahkan sampai duduk. Jam menunjukkan pukul 7.42, aku mulai merasakan perut ini berbunyi huhu. Tiba-tiba mbak-mbak kondektur memulai percakapan dengan pengemudi bis dengan bahasa Jawa ‘Lho kok nggak belok kanan?’ ‘Weh iya, lupa’ jawab pengemudi bis itu, tetapi kemudian dibalas lagi ‘Oh yaudah nanti saja’. Disitu aku dan Aruna saling menatap satu sama lain. Apakah ada halte yang terlewati? hmmmm tidak tau. Besok waktu kita naik lagi akan kucari tau! Kemudian bis melewati sekolah dasarku dulu, wah kangen banget. Aku bisa melihat anak-anak kecil sedang melakukan kegiatan luar kelas, mereka bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran.

Seiring bis berjalan, aku mulai sedikit mengantuk. Suasananya enak sih! Apalagi bisnya dingin (katrok banget kan aku). Kemudian, kami sampai di Jalan Malioboro. Percayalah, semua orang kecuali aku dan Aruna turun di jalan ini. Tidak langsung semua sih, di jalan itu kan ada 3 halte. Malioboro 1, Malioboro 2, dan Malioboro 3. Bis lalu kembali melaju. Aruna kemudian mulai berbincang dengan sang kondektur bis. Ternyata beliau sudah bekerja selama 6 tahun dan bekerja 12 jam sehari di TransJogja. Kemudian aku bergabung dan melontarkan pertanyaan

‘Mbak, halte Katamso 1 udah deket belum ya?’

‘Lho barusan itu mbak’ jawabnya

Aruna dan aku kaget. Tapi, kemudian aku menanyakan lagi

‘Oh, kalau Sugiono 1?’

‘Itu tadinya lagi mbak’ jawabnya lagi

Waaaah bagaikan apapun aku sangat kaget dengan itu, ditambah lagi halte selanjutnya sangat jauh. Kami harus menyebrangi 3 lalu lintas dulu.

Akhirnya, mbak-mbak konduktor merekomendasikan kami untuk turun di halte RSI lalu menyebrang ke halte PSKY.

Kami pun berterimakasih dan jalan keluar bis. Untungnya halte RSI dan PSKY tidak terlalu jauh. Hanya menyebrang lalu berjalan sekitar 200 meter sudah sampai.

Kami pun membayar Rp 7.000/2 orang lagi untuk menaiki bis jalur 2B.

Di halte itu jauh lebih sepi. Mungkin karena halte kecil juga. Kami menunggu lumayan lama sampai jam 7.24 yang dihabiskan untuk berbincang.

Saat bis datang, kami pun bersiap masuk. Di dalam cukup ramai, belum sampai 5 menit kita masuk sudah ada berita yang kami dengar, SMA 1 Wirobrajan kebakaran. Sepertinya mbak-mbak kondektur mendapatkan info itu dari grup sesama kondektur TransJogja yang lain. Karena, ia berkata ‘Iya si /nama temannya/ lewat depannya tadi’ dengan bahasa Jawa. Oiya, di bis ini lagunya lebih ke dangdut. Sampai ada seorang ibu yang menggerakkan tangannya sesuai irama kendang hahaha. Kami lalu turun setelah 1 halte bersamaan dengan seorang ibu-ibu yang pergi ke arah yang sama, kami bahkan menyebrang bersama. Ia juga bertanya kami kuliah dimana #nasibmukanyatua yang kami jawab dengan senyuman ‘Masih SMP dan SMA kok hehehe’

‘Oh, sekolah dimana?’ tanyanya sambil tersenyum

oh no, here we go again

Kami pun menjelaskan bahwa kami anak homeschooling (lupa bilang kalau sekolahnya di Jaladwara, ups!) lalu kami akhiri perbincangan singkat itu. Si ibu juga sepertinya buru-buru untuk masuk ke toko. Setelah beberapa langkah kami dipertemukan dengan jajanan di depan gang. Kami memutuskan untuk membeli beberapa jajanan dengan tempat makan yang dibawa Aruna. Setelah membeli jajanan itu, kami kembali berjalan. Kami berjalan sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, entah kenapa. Kami sampai di markas sekitar pukul 09.00, terlambat 30 menit karena salah turun*add laughing emoji*.

Sampai di rumah Kak Inu….

Kami langsung disambut oleh Kak Rintha yang membukakan kami pintu masuk. Kami pun masuk dan langsung menaruh tas.

Karena kami belum sarapan, kami ijin untuk makan jajanan yang baru kita beli pagi itu. Hmmmm risol dengan isi kentang dan wortel itu terasa cukup lezat (apa karena kita kelaparan?), ditambah dengan donut meses coklat, dan cemplon (kue khas Jogjakarta yang terbuat dari ubi dan singkong dengan isi gula jawa).

Setelah kami selesai makan, kami langsung memulai aktivitas perdana!

Kak Inu keluar dari ruangannya dengan board games. Rupanya kami akan bermain game, yeay!

Game yang akan kami mainkan adalah ‘Melempar dadu’. Jadi, cara bermainnya adalah terdapat 2 buah dadu yang akan dikocok dalam sebuah gelas, lalu juga ada sebuah kertas bertuliskan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dinomori. Berapapun penjumlahan yang dihasilkan oleh 2 dadu tersebut akan menjadi nomor pertanyaan yang harus kita jawab.

Pertanyaannya sih masih sekitar hal-hal favorit, seperti buku, film, hal yang disukai diluar ruangan, mainan favorit, atau makanan favorit.

Oiya, ada challenge-nya juga nih! Kalau kamu mendapatkan angka yang sama untuk kedua kalinya. Kamu harus menunjuk orang lain untuk menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sudah kamu katakan. Melatih otakku banget yang memorinya udah mau njebluk ini hahaha.

Permainan pun dimulai! Seru banget sih, aku pun mulai bisa mengenal kakak-kakak ini dan juga Aruna.

Permainan ini membuat kami sadar bahwa, kami semua adalah orang-orang yang dilupakan oleh sahabat masing-masing. Mari bertepuk tangan dan menangis bersama.

Sesi pertama cukup lama, kami berhenti untuk makan siang. Siang itu menu kami adalah ayam kecap (?) dengan nasi dan sambal. Cukup 2 kata, enak banget! Aku gak bohong.

Setelah itu, aku sholat dzuhur dulu dan kami melanjutkan permainan sesi kedua!

Di sesi kedua pertanyaannya lebih personal. Ada 5 pertanyaan juga yang aku dan Aruna buat. Ada yang menanyakan quotes favorit, lagu favorit, hal yang ditakuti, bahkan kejadian ter-hemsyong yang pernah terjadi.

Permainan kemudian berlanjut ke ‘Never Have I Ever’ disini juga mulai semakin membuka cerita-cerita lama (atau, bisa dibilang aib :> ).

Kami pun mengakhiri pertemuan sekitar pukul 14.00 siang dengan foto didepan markas Jaladwara. Berjalan kembali menuju halte dan menaiki bis nomor 3A.

Di dalam bis ini, lebih banyak diisi oleh siswa-siswi sekolah. Aku pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu siswi.

Ia bernama Ratri (sama dengan nama ayahku T.T) awalnya aku agak bingung bagaimana harus memulai hehe. Tapi, kemudian mengalir juga.

Ratri menggunakan TransJogja karena lebih murah daripada menggunakan ojek online. Ia diantar orangtuanya ke terminal dan dijemput di tempat yang sama setiap harinya.

Setelah itu, aku bertanya ia duduk dikelas berapa yang dijawab ‘Kelas 10’. Wow! Seumuran ternyata. Aku pun langsung mengajaknya berjabat tangan.

Kami pun sampai di Terminal Condongcatur. Sebelum pulang, kami sempatkan untuk pergi ke bengkel yang berada tak jauh dari terminal. Kejadian memalukan pun terjadi.

Ketika bapak-bapaknya sedang mengisikan angin ke ban sepedaku. Tak sengaja, aku melepaskan peganganku ke setir sepeda. Yang membuat setir dan badan sepedanya jatuh ke bapak-bapaknya! Wah malu sekali.

Bahkan beliau sampai berkata ‘Yo nek nggak dipegangi aku susah yo mbak’ (trans bahasa: ‘Ya kalau nggak dipegangi aku susah dong mbak’).

Aku terlonjak. Lalu dengan cepat aku menegakkan kembali posisi sepedaku dan meminta maaf. Kami pun lanjut mengayuh sepeda.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah kafe yang kami lewati. Saat hendak pulang pukul 16.30, aku sadar bahwa sepedaku gembos lagi! Dan ini lebih para. Benar-benar flat, sampai aku hampir terjatuh dari jalan aspal.

Karena hari sudah beranjak gelap, aku pun menyuruh Aruna untuk pulang duluan.

Niat awalnya sih, mau dituntun sampai rumah. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku melihat ada tambal ban. Puji Tuhan!

Dengan setengah berlari aku menyebrang jalan. Sampai si bapak-bapak berkata ‘Gak usah lari, orang bakal sampai’. Aku langsung tersenyum bahagia saat itu juga.

Pengerjaan tambal ban cukup lama. Bahkan aku sempat berbincang sembari bapaknya menambal ban. Hari pun mulai gelap, tambal ban selesai sekitar pukul setengah 6 sore. Ayahku sampai datang karena khawatir bagaimana aku harus melewati jalanan yang gelap (aku belum punya lampu waktu itu. Tapi, tenang saja! Sekarang sudah kok).

Aku pun bersepeda pulang dengan ayah yang berada dibelakang, menyinari jalan dengan lampu sepeda motor.

Ayah sempat menawariku untuk meninggalkan sepedanya disana dan diambil besok. Tapi aku tolak, karena perjanjiannya tidak boleh diantar. Kami kemudian sampai di rumah sekitar pukul setengah 7 malam.

Jadi, ini adalah tantangan pertamanya!

Overall,

hari ini seru, bau, sial, menantang, memalukan, dan menyenangkan! Aku jadi tau banyak hal tentang kakak-kakak Jaladwara dan juga Aruna. Kegiatannya juga rileks. Seru deh, aku jarang main game soalnya hehehe. Hari ini juga aku ditantang banget! Sebelumnya aku gak pernah naik sepeda sejauh itu. Paling cuma sampai minimarket dekat rumah.

Naik TransJogja juga seru. Ramai sama siswa-siswi, entah kenapa aku suka aja. Atmosfernya beda. Mungkin karena dari dulu keinginanku adalah berangkat dan pulang bersama teman-teman(tapi gak bisa karena gaada TransSleman dan TransBantul T^T).

Jadi, segitu aja untuk hari ini. I hope you enjoyed!

warm hugs!

first meeting! :)

Kemarin, pada tanggal 1 Oktober 2019. Aku, Aruna, Kak Inu, dan Kak Rintha berjanjian untuk bertemu di salah satu Kafe di daerah Gejayan. Kami sepakat untuk bertemu jam 4 sore waktu setempat dan aku datang jauh lebih awal dari jam yang dijanjikan. Jam menunjukkan pukul 3 sore saat aku sampai. Kenapa? Transportasi yang tidak memakan sepeser uang adanya hanya jam segitu, mau bagaimana lagi. *laugh emoji*

Setelah sampai, aku menaruh tas dan pergi ke kasir untuk memesan minuman. Pilihanku pasti selalu jatuh pada es milo. Karena kupikir akan memakan waktu lama menunggu, jadi aku memilih untuk juga memesan ‘Pizza mie’. Setelah memilih, aku memanggil sang juru masak yang tengah sibuk mempersiapkan bumbu dapur. Ia pun datang dan mengkonfirmasi bahan masakan untuk membuatnya ada. Tak berselang lama, ia kemudian melontarkan sebuah kalimat yang membuatku lumayan terkejut. Ia berkata bahwa wajahku tidak terlihat seperti wajah orang Jogja, melainkan mirip orang Sumatera. Hmmmm ia melihat wajahku dari sisi mana ya? hahahaha. Setelah ia melontarkan opini nya itu, aku hanya tertawa dan mengambil nota untuk membayar dari tangannya. Aku pun berjalan ke kasir.

Setelah masalah pembayaran selesai, aku kembali duduk. Sekitar 15 menit kemudian, semua pesananku keluar dan aku mulai menikmatinya. Kak Inu dan Kak Rintha tak lama datang dengan helm sepeda pada kepala masing-masing. Aku pun mengangkat tangan untuk menandakan keberadaanku di dalam kafe. Mereka kemudian dduk tepat diseberangku. Tetapi, ada hal janggal dari mereka yang sampai sekarang aku masih belum mengerti. Bagaimana bisa keringat mereka tidak berbau. Justru malah sebaliknya! Wah … aku masih penasaran sampai sekarang. #tolongberikantipsnyapadaku

Mereka kemudian duduk tepat dihadapanku. Sekitar 2 menit setelah itu, Aruna datang. Mereka kemudian memesan minuman bersama. Karena tak ingin membuang waktu, Kak Inu langsung memulai pertemuan itu setelah membayar pesanannya.

Pertemuan itu dimulai dengan membahas apa yang sudah dibicarakan para kakak-kakak dengan orangtuaku dan orangtua Aruna. Mereka memilih untuk membagi ekspedisi menjadi beberapa bagian. Nah, dari bulan 1 Oktober – 31 Desember 2019 akan dimulai dengan Triwulan Pertama. Di Triwulan Pertama ini kami akan mulai mendapatkan tantangan dan tugas setiap minggunya. Seperti contohnya, searching, reset tempat, dan observasi. Ya, biar ada jembatan agar kami bisa menggali lebih banyak informasi disananya nanti. Oiya, semua itu akan dilakukan di Google Classroom. Dari mulai memberikan tantangan sampai mengumpulkannya.

Setelah membahas dasar-dasar tersebut, kami mulai membahasa komitmen yang akan dipatuhi oleh kami sendiri. Kak Inu dan Kak Rintha memberikan Aruna dan aku waktu untuk berpikir sekitar 16 menit (totalitasnya sampai keluar ruangan!). Kami pun berakhir dengan 6 Komitmen.

  1. Taat dengan deadline.
  2. Belajar jadi anak yang menyenangkan.
  3. Belajar untuk menghadapi masalah, tidak lari dari konflik.
  4. Menjaga nama diri sendiri dan Jaladwara.
  5. Belajar kompak, kerjasama.
  6. Siap dan bersedia menerima konsekuensi dan tugas.

Setelah itu, kami juga membahas nilai-nilai yang akan diterapkan selama melakukan ekspedisi ini, yaitu

  1. Zero waste!
  2. Being a local.
  3. Hemat energi.
  4. Menyatu dengan orang-orang disana (bahasa, aktivitas).

Kami kemudian sharing cerita-cerita yang baru terjadi. Ada yang berhubungan dan bisa dijadikan pelajaran, ada juga yang nggak hahahaha. Gak deng! Kita semua harus bisa ambil positifnya :b

Pertemuan kami berakhir sekitar pukul 6. Kak Inu dan Kak Rintha pamit pulang terlebih dahulu, sedangkan aku dan Aruna menunggu orangtuaku untuk menjemput kami.

future triiiiip!

  • Apa yang ingin dipelajari / alami / dicoba?
  1. Naik kendaraan umum. Dibenak saya yang muncul adalah naik sebuah bis. Sepertinya seruuu.
  2. Mencoba makanan yang belum pernah dicoba / makanan khas setempat. Dengar cerita Aruna dan Kak Inu ke Bromo dan makan makanannya warga disana yang katanya rasanya spektakuler :b pengen coba juga kejutannya.
  3. Mencoba hal2 yang baru / Ketemu orang baru. Kayaknya mengikuti rutinitas orang lain bakal seru.
  4. Mempelajari adat istiadat setempat/bahasa. Pengen belajar bahasa daerah yang lain selain Bahasa Jawa (soalnya udah hehe) dan adatnya juga.
  5. Volunteer / bantu2 warga sekitar. Bisa mengajar anak-anak, membantu bersih-bersih, atau mungkin masak XD
  6. Mengunjungi taman nasional / cagar alam setempat. Selain menikmati keindahan alamnya sekalian ingin bertanya tentang bagaimana cara mereka menjaganya, apakah orang-orang yang berkunjung sering melanggar peraturan yang ada.
  7. Mencoba backpacker-an. Sebuah kewajiban, dari kecil sudah dilaksanakan hahahaha.
  8. Mencoba untuk mendokumentasikan perjalanan dengan lebih rapi & teliti (misal jurnal atau vlog). Sebuah kewajiban part 2. Katakan tidak pada malas!
  9. Belajar untuk berani mengambil keputusan. Berhubung sama-sama suka manut (ngikut aja), bakal jadi challenge terbesar yang satu ini 🙂
  10. Menerapkan konsep zero-waste dalam perjalanan. A 100% zero-waste. Not even a candy!
  11. Stay hydrated! Min. 2 liter 🙂 dari dulu selalu kurang minum air putih. Meskipun sekarang sudah minum lebih banyak tapi, sepertinya belum pernah teratur 2 liter/hari.
  12. Mencari tau bagaimana kehidupan masyarakat dengan terjadinya perkembangan teknologi (kalau di desa)/perubahan iklim(sekitar pantai). Apa yang telah berubah, apa yang sudah hilang, etc. Rasanya yang ini akan menarik. Terlebih dengan bagaimana kehidupan orang-orang yang kemungkinan sudah banyak berubah dengan adanya kemajuan teknologi. Atau bahkan mungkin mereka tidak menggunakannya karena merasa lebih nyaman dengan yang lama?

Apa hal yang ada di benak / ide untuk lokasi ekspedisi setelah menonton Open Road, Open Life?

This is hard hahhaha tapi, dalam pikiran saya akan mengunjungi suatu desa. Mungkin desa yang kuat dengan adat istiadatnya. Ataupun, hal lain yang bisa membuat desa itu berbeda/menonjol dari desa-desa lain.

Ke pantai hahaha, ini sih keinginan pribadi. Tetapi, selain itu juga untuk melihat apakah pantainya sudah jauh lebih bersih? Karena, kebetulan jarang main ke pantai dan setiap kalinya pergi pasti selalu ada sampah. Bahkan di hutan mangrove yang mungkin, sudah 5 kali berturut-turut saya menanam dan mengambil sampah disekitaran pantainya. Dan setiap kali kembali masih tetap ada. Padahal pengambilan sampah dilakukan oleh semua murid di Sekolah Menengah Pertama saya. Sampahnya sih bermacam-macam, ada sendal bekas, bungkus makanan, popok bayi, plastik-plastik, dan berbagai macam sampah lainnya.

Demikian, imajinasi dan pikiran yang sudah saya tumpahkan. Feel free to comment!

Warm hugs!

TEDTalk ‘Open Road, Open Life’ by Andrew Evans

a little intro :

Andrew Evans, pria biasa yang melakukan sebuah perjalanan darat dari kota rumahnya, Washington DC menuju Antartika. Perjalanan ini dimulai dari keinginan besar Andrew untuk pergi ke Antartika yang dimana orang lain berkata bahwa hal itu adalah hal yang mustahil jika kamu hanyalah orang biasa. Andrew mencari banyak cara dan mencobanya tapi yang ia temukan hanyalah tour ke Antartika seharga 30.000 – 40.000 dollar Amerika per orang. Andrew tidak menginginkan untuk mengikuti tour, yang ia inginkan adalah sebuah penjelajahan / journey.

opinion timee !

Sebenarnya perjalanan yang dilakukan Andrew Evans sudah pernah saya lakukan sebelumnya dengan keluarga. Mungkin, belum se-ekstrim itu. Tapi, kami sama – sama ingin mendapatkan pengalaman – pengalaman yang tak akan terlupakan di hidup. Pengalaman yang tidak dapat ‘dibeli’. Seperti kata Andrew “You can buy a tour of a country but not the experience of the country“.

Sebenarnya saya juga punya mimpi untuk travelling, melihat berbagai macam negara terstruktur, merasakan bagaimana kehidupan di negara itu, dan suasana di tempat itu bagaimana.

Karena yang saya dapatkan dari video tersebut adalah bagaimana Andrew menegaskan perbedaan dari Tour dan Journey, saya berikan beberapa poin dari sisi Tour dan Journey beserta cerita dari pengalaman saya sendiri.

Peserta Tour :

  • Praktis

Belum lama ini, saya pergi ke Surabaya dengan sebuah Agent Tour yang sudah menjadi langganan kantor ibu saya. Di perjalanan itu yang saya lakukan ya hanyalah duduk manis menunggu. Semuanya sudah disiapkan oleh Agent Tour. Mulai dari kendaraan, tempat makan, tempat beristirahat, destinasi, air minum, semuanya.

  • Perjalanannya memiliki jadwal yang sangat ketat

Semuanya sudah terjadwal dari awal. Baik untuk journey (yang pernah saya alami ya) ataupun Agent Tour pasti punya jadwal / list destinasi yang ingin dikunjungi. Tapi, kalau didalam Agent Tour pasti jadwalnya akan lebih ketat. Apalagi jika Tour nya ada banyak orang. Bagusnya sih, semua orang dipaksakan untuk menjadi disiplin haha. Tetapi, mereka tidak bisa membatalkan suatu acara langsung begitu saja. Waktu itu, tahun 2015 keluarga saya sedang dalam trip ke Penang, Malaysia. Disana, kami bertemu dengan beberapa kawan komunitas ibu saya di sebuah festival. Hari sudah mulai malam kala itu, seharusnya keluarga saya sudah pergi ke destinasi selanjutnya. Tetapi, dikarenakan saya yang masih ingin bermain bersama mereka jadi ibu saya memilih untuk tetap di festival sampai malam tiba. Kalau ikut Tour apakah bisa yaa? XD

Peserta Journey :

  • Mandiri

Semuanya dicari sendiri! Dari sebelum berangkat, hari keberangkatan, hingga sampai di tempat tujuan. Mungkin agak challenging sih ini. Apalagi, kalau destinasi nya bukan daerah wisata / berbeda bahasa. Seperti waktu saya dan keluarga pergi ke Shenzhen, Cina. Mencari makanan halal dan restoran yang ber-alfabet merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan. Waktu itu setelah tersesat karena kebingungan, kami sampai di restoran dengan semua list makanan dalam Bahasa Mandarin dan pemilik yang tak bisa berbahasa Inggris. Untungnya, di dinding restoran terdapat foto-foto makanan dalam menu. Jadi, kami memesan dengan menunjuk foto.

  • Mempunyai target sendiri dalam perjalanannya

Ada yang ingin menyebarkan kebaikan, ada yang ingin tripnya low-budget, ada yang tujuannya belanja, ada yang untuk eksplorasi / pengalaman, dsb. Kebetulan sih saya memang lebih banyak mendengar cerita – cerita trip low-budget dan pengalaman seru mereka. Seperti memilih tinggal di tempat orang lain (Coachsurfing), minum menunggu es cair (biar gratis/lebih murah XD), dan ikut kontes foto.

  • Menerima semua hal mengejutkan yang mungkin saja terjadi

Andre Evans pointed out -> membiarkan semua hal yang terjadi menjadi bagian dari perjalanan. Sesuatu yang baru saya sadari setelah menonton video ini. Dulu, saya pernah nyaris tidak bisa pulang dari Kuala Lumpur karena Gunung Kelud meletus dan bandara Jogja ditutup. Waktu itu, semua agak kacau karena ayah dan ibu harus bekerja keesokan harinya. Kami dipaksa menginap lagi semalam dan kembali ke bandara dengan jawaban yang sama bahwa bandara Jogja masih tutup. Dengan semua bantuan dari kawan – kawan komunitas kami akhirnya bisa terbang ke ibukota tanah air. Pulang ke Jogja pun butuh perjuangan untuk lari – lari menuju stasiun kereta karena jangka waktu yang berdekatan.

Last thought :

Jujur, waktu nonton saya memang sudah bisa membayangkan perbedaan dari Tour dan Journey karena sudah pernah mengikuti perjalanan keduanya. Tapi, beberapa hal yang di point out oleh Andrew Evans memang membuat saya sadar some things are meant to be that way. Terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan (dalam perjalanan atau bahkan hidup) tapi, itu yang membuatnya lebih spesial.

“You can make lots of unexpected things part of your journey”

Mindmap!

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.