Hai, hai! Apa kabar semua? Aku kembali lagi dengan sebuah refleksi dari pertemuan Kelana Maya!
Pertemuan kemarin, aku lebih mendalami lagi Data Kuantitatif! Kayaknya sih, aku belum pernah dijelaskan terlalu rinci soal ini. Jadi, pertemuan kemarin tuh banyak banget hal barunya. Aku belajar dari mulai perbedaan antara deskriptif dan eksperimental, karakteristiknya, sampai kekurangannya. Yang paling menarik menurutku sih, karakteristik numerik! Itu kayak hal baru sih, kayak “Oh, iya ya. Bisa juga ya”
Aku jadi kepikiran riset-riset makanan dan hal-hal lain yang menurutku merupakan rasa dan preferensi dari orang-orang, karena relatif jadi harus ada angkanya! Kayak
“Ada gak sih faktor yang membuat orang bisa suka ini?” “Kenapa ya?”
Aku tidak tahu kenapa aku menemukan suatu perbedaan begitu menarik. Nah, kemarin aku menyebutkan sate padang dan santan. Terinspirasi dari liat Lita di zoom dan kebetulan aku sedang ingin sate padang. Aku pikir sate padang ada santannya … ternyata tidak? Padahal aku cari dulu di Cookpad sebelum ngomong dan ada 12 menu :0 baru tau setelah dikasih tau Kak Mel T.T
Lalu yang riset selalu objektif! Awalnya aku kayak bingung sih. “Hah, emangnya iya?” Ternyata kalau dipikir-pikir, aku baru sadar, iya juga ya. Apalagi setelah Om Yanuar menggunakan contoh yang diberi oleh Kaysan yang korelasi tempat tinggal dengan gaji.
Jadi lebih menarik sih kalau ada contohnya! Aku jadi bisa ingat dan mengimplementasikan-nya ke contoh disekelilingku dan yang dekat denganku 😀
Aku sebenarnya masih dalam proses untuk bisa mengingat detail-detail yang disebutkan sih, tapi kalau dibilang kebingungan juga nggak. Jadi, sepertinya masih harus lihat untuk kedepannya. Tapi aku akan pastikan untuk selalu bercerita!
Oiya, di akhir sesi kemarin, Om Yanuar sedikit menjelaskan tentang interpretivisme yang sempat membuatku bingung tapi menarik juga. Sampai aku dibantu oleh foto yang dikirimkan Kak Mel di grup dan Lita! Pikiranku langsung “Wow, interpretivism is how I see life lol”.
Sebenarnya aku menantikan untuk masuk belajar data! Apalagi karena aku sedang magang di Perusahaan Start-Up Data Analyst jadi bisa sekalian tanya-tanya dengan orang-orang di sana saat sedang senggang! Karena kalau aku baca catatanku lagi … waw, cukup rumit juga dan banyak hahaha.
Haiii, Gya kembali di sini dengan sebuah refleksi dari Kelana Maya. Seminggu yang lalu, aku ‘berkenalan’ dengan riset bersama Om Yanuar dan kawan-kawan seperjuanganku (a.k.a Lita, Aruna, dan Kaysan). Sebenarnya bukan pertama kali sih aku tau soal riset. Sepertinya waktu dulu aku masih sekolah formal, aku juga pernah dijelaskan. Tapi, tidak terlalu ingat wakakaka. Kalaupun iya, mungkin hanya permukaan saja, tidak seperinci penjelasan Om Yanuar kemarin, dari definisi sampai ke urutan riset.
Sebenarnya belajar banyak banget sih, bahkan dari definisinya saja. Ternyata riset bukan hanya mengumpulkan informasi atau memindah fakta saja (#throwbackrisetdusunsumber), bukan secara acak dan tanpa interpretasi juga! Jadi bertambah pengetahuanku tentang riset, terus juga yang menarik dari pertemuan kemarin adalah:
“Kalau kita sudah tau faktanya, bagi kita itu bukan riset”
Entahlah, sepertinya sebelum dijelaskan kemarin, aku belum akan sadar tentang itu.
Oiya, sebelum Kelana Maya, kita kan ada Kelas Filsafat Remaja juga. Jadi sudah dikenalkan dengan Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis yang ada di Problem Statement.
Tapi meskipun udah dikenalkan, waktu langsung diminta untuk memberi contoh, aku langsung agak bingung sih. Mungkin karena efek benar-benar habis pulang dari magang juga wkwkwk. Apalagi kemarin contoh yang aku buat adalah ‘rambut’. Salah awalannya dah, bikin pusing sendiri🤣
Kemudian ada juga “Siklik” atau Cyclic kalau dalam Bahasa Inggris. Ibaratnya kalau dalam Socratic Question sama seperti poin ke-enam kali ya, yang Questions about Question.
Nah, setelah penjelasan soal riset, kami lalu memasuki sedikit ke hubungan data dan riset. Data Primer dan Data Sekunder. Data yang dicari sendiri dan Data yang sudah ada sebelumnya (Dari pihak lain) dengan contoh-contohnya.
Kalau tentang Kuantitatif dan Kualitatif, sepertinya aku sudah pernah dengar sebelumnya. Belum diperinci sih karena selebihnya akan dijelaskan di kelas berikutnya. Tapi, Om Yanuar menyebutkan juga Positivistik dan Interpretivistik yang belum pernah aku dengar.
“Positivistik? P-positif??”
Mungkin begitu pikiranku saat mendengar kata itu hahaha.
Ya, keseluruhan kelas kemarin memperjelas tentang riset secara general sih. Aku jadi dapat pengetahuan baru juga! Harusnya di masa yang akan datang, bisa ya membedakan mana riset yang benar XD
Sekian Refleksiku kali ini, terima kasih sudah membaca ❤
Bonus: Terima kasih juga untuk Kak Mel yang sudah chat aku karena lihat mukaku yang pasti mrengut di recording kelas. Tenang, tenang, aku akan selalu mengabari kok hihi 🙂
Hai, Gya di sini! Aku kembali lagi hahahaha. Dari beberapa hari yang lalu, aku mulai dapat tantangan untuk mengenal data statistik nih! Biar gak kaget waktu ketemu di pertemuan Kelana Maya selanjutnya. Kalau boleh aku bilang, cukup mengingatkanku pada hari-hari lalu. Sekolah, Kumon, dan Ujian Nasional (hiya hiya). Ada beberapa yang sudah aku lupa dan hal baru, jadi sempat ada kesulitan, apalagi yang Two-Way Tables. Yang lainnya menurutku cukup mudah.
“Wah, ada Sets …”
Fun-fact tentang Sets! Aku kesulitan banget saat SMP dengan materi itu. Ingat banget waktu itu evaluasi matematika 2 materi, salah satu materinya adalah Sets. Yang materi satunya dapat 7/7, Setsnya dapat 1/7 HAHAAHAHA (Semoga ayah, ibu, dan guru Kumonku gak baca ini, Amin). Tidak tau juga kenapa, masih misteri hingga detik ini di hidupku. Lalu untuk median, mean, dan mode, itu kayaknya santapan setiap hari waktu Ujian Nasional. Kalau yang lainnya sih, lumayan asik (kayak main game jadinya).
Kebetulan karena jadwalku akhir-akhir ini cukup banyak dan aku masih menyesuaikan, jadi belum bisa menuntaskan soal-soalnya dengan maksimal. Tapi sudah aku cicipi semuanya yang di list. Semua soal berhasil aku kerjakan kecuali yang Two-Way Tables.
Video penjelasannya, menurutku menyenangkan sih untuk dilihat. Penjelasannya cukup mudah untuk dimengerti dan pembawaannya juga santai dan menyenangkan. Pertanyaannya juga lucu-lucu! dari yang Harry Potter sampai ke upil. Suaranya juga bagus wakaka :’) aku coba untuk mengerjakan soal dulu sih, sebelum menonton video penjelasan (untuk menghemat waktu).
Karena aku belum sempat untuk eksplor lebih ke contoh-contoh lainnya, aku belum mendapatkan keinginan untuk mengerjakan hal lain yang spesifik sih! Kalau hitung-hitungan aku umumnya akan tertarik #akibatles8tahun. Bukan berarti jago juga sih :p
Tapi keseluruhan menurutku, asik juga. Jadi membuatku harus mengingat lagi materi-materi yang lama dikubur di otak 🙂
Hai, kayaknya gak afdol kalau tidak dimulai dengan menyapa dulu nih. Apa kabarnya? Selamat datang kembali di blog yang sudah lama kering ini. Udah berapa lama ya aku gak menulis di blog? Tapi, untungnya dan akhirnya aku telah kembali! Hooray!
Dalam 7 bulan ke depan, harusnya sih tambah rutin untuk bisa menulis di blog ini! Cukup gila rasanya untuk mengatakan bahwa banyak hal telah terjadi dan berubah dalam beberapa bulan terakhir, dan aku belajar banyak banget hal baru. Jadi … mungkin harapan /dibaca ekspektasi/ baru dalam hal menulis ??? Aku berharap begitu!
Teman kami juga akhirnya … bertambah! Ya, sebenarnya kami sudah kenal jauh sebelum ini sih, tapi ya, menambah teman seperjuangan. Geng Kelas Ekspedisi ini ada 4, aku, Aruna, Kaysan, dan Lita! Hiya, mari berjuang bersama kawan. Tapi asikk, jadi tambah rame :p
Kenapa namanya Maya? Karena kami akan berkelana lewat Dunia Maya, waw sangat filosofis, aku suka. Aku juga baru tau kemarin sih, saat Kak Inu menjelaskan di kelas perdana.
Kemarin tanggal 19 November, Kelas Ekspedisi Maya pertama bersama kakak-kakak Jaladwara. Sebuah awal baru untuk kelas yang akan kita tempuh sekitar 7 bulan ke depan ini! Semoga sukses, amiin. Kelas Ekspedisi ini pastinya akan berbeda dengan Ekspedisi Remaja kemarin, kali ini temanya akan mengarah ke kelautan, daerah pesisir, dan nelayan. Jadi, udah fokus!
Kelas perdana kemarin, seperti biasanya, kakak-kakak pasti akan memulai dengan perkenalan dan pemaparan, kira-kira kita bakal ngapain aja ya 7 bulan ke depan. Sangat amat pengertian, untung tidak semuanya menjadi pilihan remajanya ya *eh. Dan juga, emang biasanya aku suka waktu kenalan, seru aja gitu untuk lebih bisa mengetahui seseorang. Kami bermain game yang dibuat oleh Kak Inu dan Kak Mel lewat Kahoot dan presentasi. Dimulai dari menebak foto masa kecil, menebak perilaku masa kecil, lalu ada juga game yang dari lukisan-lukisan karya maestro Indonesia. Jadi ingat setahun lalu kenalan di markas Jaladwara dengan Kak Inu, Kak Rinta, dan Aruna. Kita waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan secara berurutan dengan mengocok dadu. Gak kerasa udah setahun!
Setelah permainan perkenalan yang dimenangkan oleh Aruna dengan skor tertinggi (Tapi aku sempat menduduki peringkat pertama lho😝), kami lanjut ke agenda selanjutnya yaitu pemaparan kelas! Wihiiii, seram. Seram, seru, agak takut, tapi kayaknya menyenangkan juga. Karena ya, pastinya karena ini hal baru! Bahkan sampai aplikasi yang akan kita gunakan juga hal baru. Keren sih, kita akan berkelana lewat Google My Maps! Nanti masing-masing bisa membuat semacam list informasi tempat-tempat yang ditemukan dari internet lalu kita jelajahi bersama.
Oiya, upayaku untuk bisa membagi dan mengelola waktu harus lebih besar sekarang, karena adanya kegiatan lain di luar kelas ini! Tapi, aku positif sih akan lebih baik dari Gya setahun lalu yang ikut Ekspedisi Remaja HAHAAHAH. Amiin.
“Emang Gya setahun lalu, kenapa?”
Jujur, kayaknya belum berubah banyak sih. Tapi, aku sendiri merasa bahwa aku jauh lebih berani sekarang dibanding diriku setahun yang lalu. Lebih kuat juga. Lebih bisa rileks kalau mengajak bicara orang yang baru dikenal, bisa mencoba mencari topik-topik, dan beberapa hal lain lagi. Yaaa, meskipun kadang tetap masih takut untuk beropini atau bertanya, tapi kita akan sampai di sana 😀
Agenda terakhir adalah membuat kesepakatan dan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan! Nah, ini. Aku dan Aruna jadi throwback tahun lalu di Remen HAHAHAAHA. Kami juga menyebutkan beberapa kesepakatan yang dulu ada di Ekspedisi Remaja, hmmmm harusnya sekarang tidak boleh sering dilanggar lagi sih 🥳kemarin sih, cukup terkumpul banyak ya!
Yaaa, kelas kemarin seru sih! aku ‘berkenalan’ lagi dengan teman-teman seperjuangan dan lebih mengetahui apa yang harus aku persiapkan dan hadapi beberapa bulan ke depan. Harapanku sebenarnya masih sama. Bisa menikmati pembelajaran dan menggunakannya dengan baik kemudian. Bisa improve banyak hal juga!! Semoga semuanya lancar :)))
Terima kasih sudah membaca, sampai ketemu di pertemuan selanjutnyaa!! <333
Bonus coret-coretanku saat kelas. Kak Inu tidak ada soalnya koneksi jelek wkaakkaka
Oiya, udah lama juga tidak mengunggah refleksi di Google Classroom. Barusan aku mau upload, jadi teringat! Kangen juga XD
Halo semua! Lama tak jumpa. Gimana nih kabarnya? Udah memasuki bulan keempat kita self-quarantine/social distancing nih. Tambah semangat, tambah bingung, tambah bosen, apa tambah nyaman di rumah aja? Hm, kalau aku sih tambah bingung HAHAHAHA waktu tuh rasanya kayak lewat gitu aja. Gak kerasa kan kita udah di bulan ke-7 di tahun 2020 ini! Huhu, sedih.
Di masa pandemi ini, ayahku membeli mesin pencukur rambut layaknya di barbershop. Sudah kali kedua di masa pandemi ini aku yang menjadi tukang pencukur rambutnya. Mungkin karena efek pandemi juga, aku menjahili ayah dengan hampir memotong seluruh rambutnya sampai hampir gundul. Ya, biar tidak cepat panjang kan! Alhasil, sekarang kalau ayah pergi-pergi selalu menggunakan bucket hat HAHAHAHA.
Selain itu juga, di masa pandemi ini cucian piring semakin menumpuk. Karena harus #DiRumahAja tandanya tidak ada dolan, jajan, atau makan diluar. Jadi hemat sih :p
The New Normal
Selamat datang di New Normal. Akhirnya setelah 3 bulan berada di rumah, aku bisa keluar. Tentu dengan mengikuti protokol kesehatan pastinya! Sudah beberapa kali aku bersepeda keliling Jogja bersama dengan teman-temanku. Rekor terjauh sih, dari rumah sampai Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman :p iya …. langsung ekstrim memang. Sebelum pandemi, bersepeda paling jauh hanya sampai Condong Catur. Begitu hiatus 3 bulan langsung sok iye XD
Dan kafe-kafe di Jogja sudah bisa dine in lho! Aku dan teman-temanku sempat pergi ke 2 kafe di masa New Normal ini. Di salah satu kafe, mereka tidak menerima menggunakan gelas dan hanya menggunakan gelas plastik saja. Masuk akal sih. Cukup sulit untuk bisa mengurangi sampah di masa pandemi ini. Beruntunglah di kafe yang kami kunjungi satunya menggunakan gelas tanpa perlu diminta.
Di kafe itu juga dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang mengingatkan para pembelinya untuk berjaga jarak! Terutama di setiap meja dan di depan kasir.
Tak hanya di kafe saja, beberapa waktu lalu aku juga mengunjungi Pasar Beringharjo dengan bude, pakde, dan ayah. Hampir semua sudut toko punya tanda seperti ini. Bahkan di jalan ruko-ruko juga ada tanda ‘X’ di lantai untuk dijadikan tanda tempat berdiri.
Oiya, sebelum masuk Pasar, kalian juga harus memasuki sebuah kotak untuk menyemprot disinfektan! Canggih.
Selain ke Pasar Beringharjo, aku juga pergi memotret di depan UNY dengan Aruna. Kami ingin memotret tentang New Normal. Penjual sekarang terlihat menggunakan masker dan faceshield, tidak semua menggunakan faceshield sih. Tapi, semuanya pasti menggunakan masker. Kalau si mas ini, saat aku foto tengah bernyanyi-nyanyi lagu Bahasa Thailand dengan bersemangat.
Kami juga melewati kawasan rumah penduduk dan bisa kupastikan selalu ada tempat cuci tangan di setiap sudutnya. Semua rumah pasti menyiapkan tempat cuci tangan di muka.
Tidak semua tempat cuci tangan ada pesan yang tertulis, jadi kuabadikan salah satunya!
Oiya, poster soal cara mencegah penyebaran COVID-19 juga menempel diberbagai tembok rumah!
Semuanya terlihat sudah kembali ke aktivitasnya masing-masing dan menggunakan masker! Aku harap semuanya akan selalu mengikuti aturan dan protokol kesehatan 🙂
Ada juga pedagang yang menutupi tokonya dengan penutup plastik dan membuat semacam jaring untuk batasan berdiri pelanggan.
Kami juga sempat berkunjung ke salah satu tempat perbelanjaan di Jogja. Ada 3 penjaga di pintu dan kami harus mengisi data pengunjung dari gawai masing-masing. Setelah itu, baru dicek suhu badan. Hm, sebenarnya aku kurang yakin sih dengan teknik ini, karena pengisiannya saja dilakukan mandiri. Yakin semuanya bakal ngisi kalau tidak diawasi?
Di eskalator juga di-desain untuk mengurangi kontak fisik. Tapi, ya aku masih melihat beberapa orang tetap saja berdiri di tangga yang tertulis ‘X’. Apa kurang merah dan bold ya? Atau mungkin lupa kalau harus Social Distancing.
Kuakhiri Photostory kali ini dengan tulisan ini! Sebuah tulisan yang ada di tempat cuci tangan sebuah tempat perbelanjaan di Jogja. Kalau kita semua bekerja sama dan sabar, pasti pasien positif COVID-19 bisa berkurang. Mau sampai kapan bertambah seribu pasien positif per-harinya??
Hari ini saja bertambah 1,752 pasien ……
SPECIAL GUESTS
Dua orang yang meminta untuk dipotret! Say cheese dengan masker 😀
Setelah aku mengabadikan bapak ini, beliau berkata
“Jangan lupa pakai masker!” lengkap dengan jempol yang masih diacungkannya.
Tapi setelah kusadari, itu masker tidak sampai hidung pak … PUNTEN T.T
Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di post selanjutnya. Jangan lupa jaga kesehatan dan gunakan masker 🙂 sampai hidung oke, jangan setengah-setengah AHAHAHAHAH
Hari itu aku dan Aruna tengah dalam sebuah panggilan video rutin dengan kakak-kakak Jaladwara, kami sedang mengobrol santai tentang pengalaman kelas online yang diikuti selama pandemi. Di percakapan itu keluarlah sebuah kalimat,
“Eh, ada nggak sih kelas online khusus remaja gitu? Yang dimana sesama remaja saling diskusi dan ngobrol. Kayaknya jarang deh atau malah ga ada?”
Benar juga, aku baru sadar. Kelas online yang aku ikuti tidak ada kelas yang dikhususkan untuk remaja, ya ada sih kelas untuk para remaja perempuan, tapi tidak diurus dan dibuat oleh remaja. Di bayanganku langsung terbayang akan seru sih, apalagi dirancang oleh remaja. Keren banget kayaknya, bisa jadi semacam “Safe Space” buat sesama di masa pandemi yang …. sangat membosankan ini.
Dari percakapan online singkat itu berkembang lah menjadi sebuah rencana acara. Aku dan Aruna sangat semangat untuk membahasnya, apalagi untuk mencari kawan-kawan yang akan kami wawancara untuk narasumber. Question Box di Instagram Story langsung kami keluarkan malam itu juga, jam 21:54 saking semangatnya. Setelah dengan kakak-kakak Jaladwara, kami melanjutkan rutinitas Video Call lewat Skype sampai sekitar jam 01:00 pagi untuk berbincang lebih. Wah, pokoknya bagai api yang disiram bensin.
22 Mei-31 Mei (Wawancara)
Setelah itu bertemu lah kami dengan kebingungan pertama, membuat daftar pertanyaan untuk para calon narasumber. Jujur, kami sempat bingung saat membuat pertanyaannya. Rasanya tuh kayak tahu mau mencatat apa. Tapi, kayak tidak ada juga. Nah, lho bingung kan. Sampai kami dapat usulan dari salah satu mentor tercinta kami, kakak Mel
“Aku usul, coba kalian berdua bikin simulasi. Misal Diandra calon narsum, Dana yg tanya2 gali info (atau dibalik juga bisa).
Mungkin dengan begitu lbh kebayang apa yg mau digali. Dan pertanyaannya spt apa… :D”
Kami bermain-main membuat semacam percakapan di Google Document sambil mencatat ide-ide yang muncul. Kira-kira begini penampakannya,
Pertanyaan kami berakhir menjadi 12 butir pertanyaan. Mulailah perjalanan kami wawancara narasumber!
Tanggal 22 Mei kami mewawancarai 3 calon narasumber sekaligus (Liris, Sofi, dan Mia). Tanggal 25 Mei dengan Kaysan, tanggal 30 Mei dengan Ayska, dan calon narasumber terakhir Yla & Vyel di tanggal 31 Mei. Senang sih, aku jadi menambah teman baru! Dan menurutku asik karena tidak canggung (terima kasih untuk Kenali Sekitar). Apalagi waktu mewawancarai Yla dan Vyel yang sampai ngakak-ngakak. Padahal itu kali pertama kami berbicara dengan satu sama lain!
Lalu setelah wawancara narasumber …. apa? Mungkin ini yang bikin persiapan acara BINSAR lebih menarik sih. Mungkin ini juga yang paling dikepoin oleh kakak-kakak juga HAHAHA. Untuk beberapa hari aku dan Aruna tidak berbincang oleh satu sama lain. Bahkan untuk rutinitas Video Call setiap malam tidak kami lakukan. Kalau dari aku sih, di beberapa hari itu memang sedang aneh. Bawaannya takut untuk memulai percakapan tentang BINSAR, padahal kepikiran terus. Jadi tidak ada yang memulai, kami sama-sama membiarkan hari-hari berlalu begitu saja. Sampai di titik grup Ekspedisi Remaja bagai padang pasir di animasi Oscar Oasis alias, kering bos!
Tanggal 3 Juni kami disindir halus di grup, aww jadi malu
“[21:44, 6/3/2020] Kak Mel: Ini grup sepi amat yak… org2 nya lg pada di lockdown ya? 🤔
[21:45, 6/3/2020] Kak Mel : Apa kbr bincang2 santuy remaja? Lagi santuyyy bgt ya? 😅”
Ya, sebenarnya kami memang sudah janjian sih untuk bertemu sih, agar semuanya bisa lebih jelas dan semangat kembali menyala. Lagi pula rumah kami hanya berbeda gang, jadi tidak terlalu sulit.
Tapi, muncullah pesan baru di grup yang bikin aku dan Aruna tercengang dan bingung bahkan sampai sekarang *masukkan emoji menangis*
[18:32, 6/4/2020] : Tertekan kenapa Gi?
[18:32, 6/4/2020] : Aruna juga tertekan?
[18:33, 6/4/2020] : Pengen ikut perpisahan virtual, tp ga bisa yaa? 😬
HAHHHHHH, APAAAAAA T.T bingung heiiiiii, gak boong deh. Lalu kami juga dibilang gak punya temen. Hei candaannya suka tepat dan menyakitkan ya HAHAHAHA HAHAH A H a h a …. … . . . . .
6 Juni-19 Juni
Jujur di hari itu (6 Juni) aku merasa tidak SE-PRODUKTIF itu sih, tapi kami berhasil menemukan semangat seperti seorang manajer kelas dunia yang seharusnya haha. Dan kami juga akhirnya mengerti bentuk workplan yang dimaksud! Langsung berasa sih perbedaannya. Langsung terasa ringan karena semuanya sudah terpecah di Google Spreadsheet.
Setelah ada workplan, aku rasa kemajuan dan pekerjaan kami jauh lebih jelas dan terlihat. Jadi, lancar aja sih! Benar-benar 2 hari penuh aku di depan laptop sampai lupa mandi dan makan (ini juga ayah dan ibu udah sampe teriak-teriak). Gatau juga, mungkin saking semangatnya.
Pokoknya selama 13 hari itu kami mengerjakan semua kebutuhan acara. Kemudian, kami mengajak teman kece kami yang terkenal dan jago banget gambar, Maria Angelita untuk masuk dalam tim BINSAR. Semakin seru dah tuh. Apalagi persiapan poster dan kawan-kawannya. Mungkin karena gaya yang berbeda jadi cukup sulit untuk bisa menggabungkan ide dari kakak-kakak dan dari Litanya sendiri. Tapi, justru disitu sih belajarnya. Kami juga jadi bisa lihat gaya kakak-kakak Jaladwara. Asumsi-asumsi komentar kakak-kakak sudah terbaca sedikit demi sedikit sekarang HAHAHA
“Ini kayaknya nanti dikomentari sih”
“Ini pasti ditanya kenapa begini sih”
“Ini B sama A-nya dibuat lagi deh”
Selain itu aku juga belajar aplikasi baru! Yap, aku berperan untuk mengurus Youtube Live. Beberapa hari sebelum acara kami berganti aplikasi yang harusnya menggunakan Jitsi menjadi menggunakan Google Meet karena kuota yang ternyata cukup banyak. Karena pakai Google Meet, aku jadi harus belajar menggunakan OBS. Sebuah pengalaman sih. Aku berguru ke teman baik Aza, Lita, mas-mas Youtube, dan Google. Untungnya otakku connect dan gak butuh waktu yang lama!
Setelah itu aku gak inget ada masalah besar lainnya sih, mungkin hanya panik-panik kecil ketika respon kakak-kakak di grup hanya berupa emoji atau ya … agak mengkhawatirkan HAHAHAH
OH, adalagi pengalaman baru yang kudapat. Yaitu, menjadi admin. Ya Gusti butuh kesabaran extra jos memang. Poster yang kami unggah bagai tak terlihat isinya. Banyak banget pertanyaan yang jawabannya sudah terpampang jelas di poster. Seperti,
“ituu yg buat acara binsar itu make app yaa?”
Euhm, oke. Baik. Boleh. Apa kurang besar ya tulisan Jitsinya? Atau mereka tidak tau Jitsi itu apa? Ya, pokoknya aku, Aruna, dan Lita belajar sabar untuk membalas pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Pengen banget rasanya mengikuti jejak kakak-kakak menjawab dengan “Apakah pertanyaan itu harus kami jawab? :)” tapi mungkin belum untuk sekarang.
Oiya …. waktu kami mengirim email balasan …. kami sempat salah menulis tanggal hari acara …. bodoh … padahal udah dibaca berkali-kali. Dan dibaca oleh aku dan Aruna dalam waktu yang berbeda. Untung beberapa menit setelahnya saudara dan temanku langsung mengabari lewat aplikasi Whatsapp, jadi bisa langsung kami klarifikasi dengan teriakan panik dan rasa malu. Duh, pokoknya BINSAR selanjutnya persiapan harus lebih mantap T.T jadi tidak ada ke-hemsyongan sejenis ini lagi.
Hari-H
Sampailah kami ke hari-H acara. WAAAHH MENEGANGKAN. Pokoknya riweuhnya dimulai 30 menit sebelum acara. Kami sudah mempersiapkan segala perkakas di depan komputer, bahkan sudah mempersiapkan balasan-balasan yang kemungkinan akan kami kirim di kolom chat Google Meet tapi tiba-tiba Nara datang, ku pikir hanya untuk mengecek komputernya sebentar. Ternyata ….
“Lho, Nara les tho??” tanyaku
“Iya, EF” jawab Aruna
Waaaah, oke. Tiga puluh menit lagi mulai nih. Lalu ternyata dia tidak mau berpindah, oke Nar. Itu sempat terjadi perdebatan dulu tuh. Sampai akhirnya kami berpindah menggunakan ipad. Mau tak mau, kami mengulang persiapan perkakas. Mulai dari berpindah menggunakan ipad, login gmail, cari posisi laptop untuk semua, dan mengecek Live Stream. Bahkan karena ruangan kami bersebelahan, Ibunya Aruna sampai menyekat ruangan dengan sebuah kasur.
“Gapapa, yang penting udah mencoba” jawab beliau saat Aruna berkata bahwa itu tidak akan mempengaruhi apapun.
Jujur, aku sudah takut sih karena aku merasa pasti akan susah banget buat membalas chat menggunakan ipad. Kalau dengan laptop atau komputer hanya tinggal copy paste saja kan. Tapi seperti biasanya, “Yaudahlah ya, mau gimana lagi”. “Just Do It” lah kalau kata salah satu brand sepatu ternama.
Disitu belum panik, begitu mencoba Live Stream … NAH ITU
Tiba-tiba terhenti!! Padahal tautan Live Stream sudah kami bagikan. Katanya ada copyright … padahal tak ada suara musik atau video yang diputar. Hanya ada suara adzan ashar yang berkumandang. Masa iya karena adzan??? Gak mungkin lah ya. Buru-buru aku panggil Lita yang berada di lantai 2 (laptop untuk Live Stream ada di lantai 1 karena noise).
“Lit, Live Streamingnya mati. Masa mau buat lagi, nanti linknya gimana lek?”
Hanya berpikir dan membahas untuk sekitar 1 menit langsung kami putuskan untuk membuat tautan Live Stream baru. Setelah aku pelajari sekarang, mungkin karena adanya pihak ketiga mereka memberhentikan Live Stream. Euhm, ya aneh sih. Soalnya selama latihan Live Stream pun baik-baik saja, kenapa saat hari-H yang harus ada masalah sih? Hei Youtube, ayo klarifikasi. Aku berasumsi nih #insidejokekelasfilsafat.
Oke, masalah awal udah. Acara lalu berjalan dengan cukup lancar. Aku dan Lita bekerjasama dalam hal membalas komentar dan mengamati kolom komentar dan peserta. Lita sambil memperhatikan kapan ia sharescreen dan menghitung durasi per-segmen, aku sambil mendengarkan Live Stream dan naik-turun tangga untuk mengecek (takut tiba-tiba berhenti lagi).
Riweuh dah tuh, para peserta saking semangatnya berbagi cerita sampai lupa untuk komentar dahulu sebelum berbicara. Padahal di kolom chat sudah kami ingatkan berkali-kali. Benar-benar setiap ada yang berbicara kami langsung chat,
“Tolong bagi yang mau bicara bisa chat dulu ya :)”
“Ayo habis ini siapa yang mau bicaraa?”
Tapi ya … masih ada saja yang suka menyelonong masuk. Aku yang berada di belakang kamera sampai gemes lihatnya. Mungkin untuk BINSAR selanjutnya harus lebih sering diingatkan secara lisan kali ya? Mungkin komentarnya mereka tutup jadi benar-benar fokus melihat muka kawan-kawan. Dan juga aku harus belajar untuk mematikan mikrofon secara cepat sih. Aku rasa itu penting (meskipun justru diskusinya ada disitu ya) karena pastinya itu berat di moderator.
Selain itu, pesan Whatsapp juga …. membuat sedikit panik. Bangga banget aku sama mbak moderator, bisa tenang ketika aplikasi Whatsapp-nya pasti dipenuhi oleh saran dan kritik orang-orang. Biasanya dia panikan banget. Pokoknya yang paling deg-degan itu waktu konklusi acara. Panik mode menyala. Mungkin terdengar suara bergetar ku yang tiba-tiba masuk. Iya, panik itu bertiga (panik mulu ya hhhh).
Tapi setelah itu perasaannya legaaa. Jujur badanku keringatan bukan main. Beuh, bau badannya dah kayak nyepeda ConCat-rumah. Gak bohong deh HAHAHA. Aku sih cukup bahagia dengan kelas BINSAR perdana ini, seru kok. Meskipun kekurangannya juga banyak. Aku syukuri fakta bahwa acaranya berjalan! Tidak tiba-tiba berhenti ditengah jalan. UUUU MANTAPPPPPP.
Di BINSAR kedua yang pastinya harus kami perbaiki adalah:
Management waktu. Udah ngerti work plan harusnya udah lebih jago sih. Lebih fokus juga saat mengerjakan persiapan.
JANGAN PANIK dan berpikiran positif.
Persiapannya harus lebih mantap, tidak boleh mepet deadline.
Sepertinya itu dulu cerita dari kacamata saya~ terimakasih sudah membaca! Maaf kalau ada banyak salah kata. Sampai berjumpa lagi 🙂
Hai, semua! Apa kabar? Sudah lumayan lama ya gak nulis di sini :p udah lama juga gak sepedaan dan naik TJ 😦 huee kangen juga sebenarnyaaaa HAHAHAHA tapi hari ini aku mau cerita! Tentang aktivitas-aktivitas apa aja yang aku lakuin di rumah selama quarantine ini!
Lebaran Yang Berbeda
Pastinya lebaran kali ini sangat berbeda! Biasanya aku akan pergi ke Jakarta atau Jawa Timur untuk bertemu dengan keluarga besar. Biasanya di hari lebaran mami akan berjalan bersama ke masjid untuk sholat Ied lalu dilanjut dengan sungkem dan makan opor😋 tapi untuk tahun ini pertemuannya jadi online! Sekitar pukul 10 pagi kami melakukan Video Call untuk berbagi kabar. Sedih banget sebenarnya karena lebaran jadi sepi dan di rumah aja :’) Oiya, kami Video Call dari kota masing-masing! Jakarta, Jember, Kertosono, dan Jogja.
Tapi positifnya, aku dan ayah jadi bisa membersihkan garasi yang penuh debu setelah renovasi pintu garasi! Iyaaaa, tetap produktif untungnya. Karena rencana awalnya hanya ingin sholat, makan, lalu tidur :b
Selain garasi, tentu barang-barangnya juga dibersihkan! Mulai dari motor, tempat sampah, sampai mesin penguras kolam. Asik sih, sekalian main air setelah sekian lama.
Tambahan foto ketika eyang, bude, ibu, dan ayah sedang menunjukkan “Finger Heart” ala-ala anak jaman sekarang XD
Sehari setelah hari lebaran, keluargaku memutuskan untuk menjenguk adik-adik kecil di rumah tante. Pastinya dengan syarat yaitu, mandi dulu sebelum bermain dengan mereka. Dulu sebelum corona, kami pasti akan bertemu paling tidak seminggu sekali atau paling lama dua minggu. Tapi, setelah corona jadi hanya Video Call saja. Kami menghabiskan sehari penuh di sana, karena sudah sekitar sebulan nih tidak bertemu. Senang banget bisa bertemu Danen, Nevan, Attar, Rafif, dan Sheera setelah sekian lama!
Aktivitas Sehari-Hari
Meskipun ada coronavirus, ibuku masih bekerja seperti biasa. Ya, agak pulang sedikit lebih cepat daripada sebelum corona, tetapi tidak terlalu berbeda. Yang dulunya pukul 16:30 menjadi pukul 15:00. Jujur aku sih sedih! Rumah ini dengan 3 orang saja biasanya sepi, bagaimana dengan 2 orang? Itupun terkadang ayahku juga keluar untuk mengurus kantornya yang akan segera dijual. Yaaaaa sepi bangetttttt.
Jam masuk tetap jam 07:00 pagi dan biasanya diantar ayah. Perbedaan signifikan adalah kendaraan yang digunakan! Dulu bisa saja naik motor dan bahkan sempat berniat menggunakan sepeda. Sampai beli sepeda baru! Eh belum dicoba, corona datang. Sekarang sih jadi harus selalu menggunakan mobil!
Meskipun kerja juga, ibu tetap memasak di pagi hari! Aku terkadang membantu, jujur jarang sih karena belum bangun! Tetapi kalau aku bangun, biasanya aku yang akan meneruskan masakan ibu agar beliau bisa bersiap pergi berangkat kerja.
“Lalu kamu ngapain, Giyem?”
Apalah hidup Gya tanpa mencuci baju. Ini sih rutinitas sebelum, saat, dan sesudah corona nanti sih HAHAHAH. Tapi aku jadi ingin cerita kenapa aku lumayan suka mencuci baju. Karena aku menjemur baju di atas, aku jadi bisa melihat pemandangan dan menikmati angin yang lewat. Sambil mendengarkan lagu juga. Wah, kenapa berasa kayak kopi dan senja gitu ya. Oiya, kadang aku juga suka melihat ada anak kecil yang berlari mengelilingi perumahan dengan kakaknya!
Di quarantine ini, aku jadi mengikuti beberapa kelas online! Ini salah satunya, aku mengikuti kelas SEBAYA “Why Gvrls Supposed To Be Changing The World, Not Pregnant“. Jujur sungguh menarik untukku! Apalagi pertemuan kemarin, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti kelas Psikologi Remaja bersama dengan WILOKA. Di kelas ini juga ada beberapa tantangan yang menarik! Di foto, aku sedang menggambar aktivitas-aktivitas yang membuatku bahagia! (Mohon ditunggu di IG saya @gyagiyem :p).
Meskipun begitu, ada pengalaman menarik juga nih! Ini pertemuan kelas kemarin, ketika kelas Psikologi. Aku tidak bisa masuk kelas Zoom-nya! Panik dong, karena kepo banget ingin ikut. Butuh waktu sekitar satu jam sampai aku akhirnya terpikir jalan lain untuk mengikuti kelas. Aku memutuskan untuk menonton dari web. Susahnya jadi tidak bisa lihat polling! Dan wajah kawan-kawan lain. Ternyata Zoomku harus di-update ke versi yang lebih baru!
Selain kelas SEBAYA, aku menantang diriku untuk ikut Book Club Online dari BecomeMoreJkt. Kami membahas buku “Becoming” milik Michelle Obama. Seru sih mendengarkan opini orang-orang yang bermacam-macam. Malah menurutku durasinya kurang lama! Diskusi ini dilakukan 2 minggu sekali dan membahas bagian-bagian buku yang sudah dibagi menjadi 3 bagian. Sebuah tantangan baru!
Kemarin tanggal 1 Juni 2020, aku dan Aruna juga mengambil kelas online Agustinus Wibowo! Kelasnya tentang cara menceritakan perjalanan. Jujur, mengingatkanku tentang kakak-kakak Jaladwara HAHAHAAHA persis dah! Pokoknya mirip latihan-latihan yang diberikan selama Ekspedisi Remaja. Aku jadi merasa beruntung bisa mendapatkan pengalamannya diumur 15. Yaaa, meskipun banyak naik turunnya! Tapi rasanya aku memang jadi lebih berani sih setelah mengikuti Ekspedisi Remaja 🙂 bahkan aku dapat kesempatan melontarkan pertanyaan secara langsung (iya, tidak diketik) ke Agustinus!
Mungkin salah satu alasan terbesar kenapa quarantine bisa lebih seru, aku jadi punya teman baru! Bahkan lebih dari satu. Kami jadi sering Video Call dan bermain game bersama! Pernah juga NoBar atau ngobrol santai tentang banyak hal! Dari mulai mimpi terbesar, lagu favorit, opini tentang suatu hal, insecurity, atau sharing tentang apa saja! Seru banget sih, pengalaman baru juga karena sebelumnya juga jarang Video Call dan curhat. Kalau lagi Video Call kan juga jadi rame 🙂
Oiya, terimakasih untuk VTSnya ya kakak-kakak~ kalau tidak ada VTS kami tidak akan berteman~~~
Ngomongin Video Call dengan kawan-kawan, kami biasanya main Gartic! Lihat aku, aku mau sombong karena menang paling banyak. Biasanya aku jarang menang soalnya! :<
Hal baru lain adalah, aku jadi belajar mencukur rambut! Bahkan setelah corona selesai, ada ide untuk aku les cukur rambut. Menarik juga sih ternyata, ilmu yang unik tapi dibutuhkan di seluruh dunia. Aku juga jadi ingin belajar 😀
Sekian Photostory kali ini! Terimakasih sudah membaca~ sehat terus ya 🙂
Hai, Gya disini! Kali ini aku mau cerita pengalamanku ikut Eksplorasi Online Pandemik hari Senin tanggal 13 April lalu. Eksplorasi ini seru banget! Jadi agen rahasia gitu, aku dari SD suka sama hal yang berbau misi begini. Nah, misinya itu kami harus membagikan angka rahasia ke agen lainnya dengan cara menelpon. Waktu main sebenarnya sempet ragu mau telepon duluan, jadi aku sempat menunggu beberapa detik tapi tidak ada yang masuk. Karena terasa seperti membuang waktu jadi aku telepon duluan deh!
Waktu menelpon sebenarnya dilakukan sangat singkat, karena kami membagikan angka rahasia. Setiap telepon harus diawal dengan sandi ‘Virus’ dan dibalas dengan sandi ‘Waspada’ baru setelah itu angka milik masing-masing dibagikan. Setelah dibagi lalu kami kali dan catat. Pokoknya udah berasa agen rahasia gitu deh. Kalau masih bingung aku lampirkan fotonya ya!
Waktu aku bermain sebenarnya sudah sadar ‘Lho, kalau ketemu angka nol berarti nol terus dong’ dan benar! Angka pertamaku adalah satu dan aku ditelpon seseorang dengan angka nol di ronde kedua. Langsung aku sadar bahwa ini mencerminkan arti pentingnya dari ’Social Distancing’/’Self Isolation’.
Telepon itu bak bertemu dengan seseorang. Kita yang tadinya sehat (angka 1) bertemu dengan orang lain yang mungkin tanpa kita ketahui ternyata tidak sehat (angka 0) bisa tertular! Lalu kita bertemu dengan orang lagi dan menularkannya. Kalau begitu bagaimana ini semua bisa selesai? Karena itu, ’Social Distancing’/’Self Isolation’ ini penting banget untuk kita semua, untuk kesehatan bersama.
Jadi teman-teman, jangan meremehkan ‘Social Distancing’/’Self Isolation’ ini ya! Ini untuk kesehatan kita semua. Hanya sementara kok, apalagi kalau himbauan ‘Social Distancing’/’Self Isolation’ ini dilakukan. Pasti sangat membantu membuat suasana lebih cepat pulih.
Eh iya, kayaknya ini kali pertama aku berbagi cerita diluar Ekspedisi Remaja deh hehe. Terimakasih sudah membaca, jangan lupa jaga kesehatan! Stay safe 🙂
Hari dimana aku diberitahu tentang proyek ini. Proyek menyusuri perjalanan Agustinus Wibowo di buku Titik Nol. Sebenarnya awal dapat tugas ini aku merasa ‘Wah, asik juga nih proyek seni’, meskipun belum kebayang sih mau kayak apa hasilnya. Agak khawatir juga karena sedang dalam masa ‘Isolasi diri sendiri’, aku rasa bagian tersulitnya disitu. Biasanya kalau mengerjakan tugas yang menurutku cukup sulit, aku kerjakan di luar. Di cafe biasanya. Karena suasananya membantu banget buatku! Dan juga dikelilingi beberapa orang. Membantu banget untuk pikiranku biar gak kemana-mana dan bisa lebih fokus tapi, karena harus di rumah aja jadi lebih sulit.
Dua hari setelah tugas diunggah, aku masih belum bisa fokus. Rasanya bingung gitu, pokoknya gak bisa. Jadi, aku habiskan waktu untuk menonton acara hiburan. Susah juga sih mau apa-apa karena di pikiranku isinya ‘Peta woyyyy’ tapi di sisi lain otakku berkata ‘Gapapa, masih ada waktu. Ayo ngakak dulu’.
Sampai hari Rabu tiba dan aku panik! ‘Mampus lu belum apa-apa’ pikirku. Dari siang aku terus mikir dan puncaknya datang jam 3 sore. Nangis ‘nggilani’ menyerang, kalau aku lihat sekarang kayak lebay banget sih tapi, ingatlah saudara bahwa ini bagian dari ‘Perjalanan’ (*uhuk*). Memakan waktu kira-kira 2 jam sampai aku cukup tenang, bahkan di hari itu tangan kiriku sampai lemas. Mungkin saking ‘nggilani’nya.
Saking tidak fokusnya aku hari itu, sampai aku lupa merebus air untuk Ibu mandi! Alhasil, aku kena marah wakakakaka. Sepertinya ayah sadar akan itu, jadi aku langsung di’wawancara’. Kami juga mengobrol setelah itu, lalu keluarlah ide menggunakan papan yang menganggur di rumah dan pin. Malamnya, aku jadi bisa memulai mengerjakan proyek! Rasanya keren, entah kenapa.
Ini ketika aku senang karena otakku mulai mengerti
Keesokan harinya yaitu hari Jumat, ada pertemuan rutin Jaladwara yang memakan waktu cukup lama. Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan di hari Sabtu.
Pagi hari Sabtu tiba, aku langsung mandi pagi agar merasa produktif dan termotivasi. Tapi setelah mandi rasanya malah dingin, setelah berjemur satu setengah jam pun masih dingin. ‘Wah, kenapa ini ya …’ pikirku. Lama kelamaan malah ditambah pusing, jadi aku hanya tidur. Hari Minggunya masih sama! Rasanya kepala berat terus sakit di bagian belakang, yasudah hari lain untuk tidur. Setelah dicek ternyata tensiku rendah, huft memang sungguh sebuah perjalanan.
Hari Rabu aku meneruskan proyek! Mulai dari melanjutkan mencari informasi, menggambar, sampai mencari titk-titik kota. Setelah itu Pak Kumis a.k.a ayahku membantu untuk memasang pin karena harus menggunakan palu. Jujur, waktu menggambar negara dan mencari daerahnya adalah hal yang paling seru menurutku. Jadi lebih tergambar perjalanannya. Terus ada perasaan keren gitu, apalagi sewaktu mengaitkan benang. Padahal petanya masih polos!
Nah, setelah itu semua terjadi kami melakukan pertemuan online lagi! Jujur, setelah pertemuan itu jadi lebih tenang sih. Apalagi diberikan waktu lagi, ehm sebenarnya gak bisa aku gunakan dengan baik. Sedang lumayan sulit untuk produktif! Tapi, aku banyak berpikir untuk petanya.
Apa harus aku cat ya? Uhm, tapi susah nanti hilang semua gambarnya.
Apa harus aku tempelkan beberapa gambar? Susah juga penempatannya, nanti bikin pusing.
Apa harus aku lepas semua benang dan pinnya? Agar lebih mudah menjelaskan transportasi yang Ming gunakan seperti saran kakak-kakak Jaladwara? Wah, aku sungguh tidak ingin melakukan itu. Ada cukup banyak pin, setelah aku pikir mungkin ada cara lain.
Jadi, disinilah aku. Tepat di hari sebelum pengumpulan, kebingungan. Huh, kenapa juga aku tidak bertanya dengan kakak-kakak Jaladwara? Atau ayah dan ibu? Ya iya, penyesalan tuh memang adanya di akhir. Padahal sudah ditekankan banget dari awal untuk cerita semuanya hihi.
Tapi diluar itu semua, aku rasa ini adalah proyek yang paling banyak ceritanya. Prosesnya panjang, penuh dengan naik-turun hahaha. Yang diawal proyek cari pelarian dulu sebelum ngerjain, kemudian ‘ditampar’ realita, terus sakit, gak punya ide, sampe ngerjain semuanya dalam 1 hari. Kayaknya proyek iniyang punya paling banyak cerita. Hal positif lainnya sih, aku yakin banget bakal ingat ini dalam jangka waktu yang lumayan lama! Apalagi aku belajar lebih tentang manejemen waktu dan diriku sendiri.
FOTO!
Peta saat aku selesai menggambarCatatanku!Ayah membantu memasang pinIni sebenarnya bentuk awal catatanku! Tapi, apa itu catatan rapi di hidup GyaSemua catatan pasti akan berakhir berantakan dan membingungkan. Aku juga tidak tahu kenapa, padahal lebih enak catatan rapi. Cuma aneh aja gitu.Peta
Hai, semua! Di pertemuan terakhir aku dan Aruna diminta untuk memberikan opini dari 5 pertanyaan seputar buku Titik Nol. Jujur, aku juga agak bingung yakin gitu hehe selamat membaca!
Bagaimana pendapat/opini tentang fenomena bagi-bagi hadiah oleh turis ke warga lokal?
Aku rasa mungkin kurang tepat untuk membagikan snack-snack atau makanan ringan. Mungkin bisa dilihat dulu dari adat dan kebiasaan penduduk di sana karena belum tentu bisa dikonsumsi dan menghargai. Menurutku mungkin lebih baik bermain permainan daerah atau memberikan suvenir ciri khas daerah masing-masing (misal, gantungan kunci).
Menurutku dengan begitu jadi sama-sama memiliki pengalaman dan informasi baru.
‘Perjalanan pasti mengubah manusia’
Setelah aku pikir-pikir, sepertinya memang sebuah perjalanan pasti mengubah manusia. Kemana pun dan bagaimana pun. Karena di perjalanan pasti akan menemukan hal yang baru. Menurutku dengan begitu, mau tidak mau kita jadi beradaptasi dan membuka pikiran tentang hal-hal yang baru. Mungkin contoh kecilnya saat aku pergi ke Singapur, orang-orang di sana menaiki eskalator dengan rapi dan teratur. Kalau tidak buru-buru bisa berdiri di sisi kiri eskalator dan di sisi kanan untuk orang-orang yang mengejar waktu. Jujur kalau tanpa pengalaman itu mungkin aku tidak akan pernah tahu dan sekarang juga menjadi kebiasaan sendiri.
Kaitan dengan Ekspedisi Remaja? Kenapa diminta membaca buku itu?
Menurutku kenapa buku ini dipilih karena perjalanan yang dilalui Agustinus Wibowo menunjukkan perjalanan menjadi seperti orang lokal yang sebenarnya. Cara Agustinus bisa cepat beradaptasi, pandai membuat percakapan, dan tidak gampang menyerah harus bisa dicontoh. Selain dari isi dalam cerita, cara penulisan Agustinus juga bisa dijadikan contoh bahwa catatan perjalanan tidak semua harus detail.
Hal sepele untuk bahagia
Dengerin Musik
Nonton film atau drama
Lihat anak kecil
Gambar
Baca buku
Ngobrol sama orang atau diri sendiri
Cucian gak banyak
Tidur/rebahan
Hari libur atau hari bebas
Langit dan sunset
Makan pete, dendeng balado, dan sambel goreng kentang
Mengetahui arti tanpa subtitel
Main sama temen-temen atau anak kecil
Menari
Menyanyi
Di kulkas ada cemilan
Otak bekerja dengan baik saat mengerjakan tugas
Tidak lama menunggu kedatangan bis Transjogja
Main Twitter/ngobrol sama teman-teman online
Kalau ketemu Ming mau ngomong apa?
Halo, Ming. Apa kabar? Hahaha mungkin daripada ngomong aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan saja. Aku cukup kepo dengan bagaimana Ming bisa menangani tekanan dan ketakutan dengan baik apalagi dengan kondisi sendirian, di tempat baru, dan tanpa kepastian. Apakah berdiam diri dan membiarkan waktu berlalu adalah salah satu cara Ming untuk mengembalikan semangat atau ada cara lain? Selain itu aku juga penasaran catatan Ming selama perjalanan, aku yang pergi 5 hari aja udah keteteran dan lupa ingat hahahaha. Apakah mencatatnya lewat voice record atau catatan semacam logbook?
Sekian untuk blog hari ini! Jujur, aku agak tidak yakin karena tulisanku selalu singkat-singkat hahahaha. Terimakasih sudah membaca 🙂