Hari Jumat kemarin, merupakan hari terakhir Kelana Maya tahap 2. Waw, tidak terasa bung! Sudah 4 pekan kami lewati, menemui dan mendengar narasumber-narasumber dengan cerita dari sisi mereka masing-masing. Sebuah pengalaman daring yang “bagaikan ombak” kalau Lita biasanya bilang.
Kelas terakhir ini, kami mendapatkan kesempatan untuk bisa berbincang langsung dengan nelayan JARI dan dari Aruna.id! Sebelum tahap 2 sih, aku dan teman-teman sudah mendalami sedikit tentang Aruna.id. Kami menonton “Sunrise At The Sea”, sebuah film tentang awal mula Aruna dibentuk. Dulu ketika mendengar website Aruna.id, aku langsung berpikir bahwa itu sebuah website yang berhubungan dengan nama teman seperjuanganku di Kelana Maya, yap nama mereka sama-sama Aruna! Ternyata, Aruna.id merupakan sebuah aplikasi perikanan e-commerce Indonesia.
Aku lumayan tertarik mengenai teknologi di bidang perikanan, apalagi setelah membaca buku bacaan “Konflik Sosial Nelayan, Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan.” Di buku itu terdapat beberapa perspektif tentang bagaimana dampak teknologi di kehidupan para nelayan. Aku jadi penasaran dengan bagaimana implikasinya di kehidupan secara nyata dan di era 4.0 sekarang ini. Bagaimana sih cara teknologi dapat membantu kehidupan nelayan?
Jadi, aku tanyakan pertanyaan itu langsung ke Pak Amir dan Pak Bun dari JARI, serta Mbak Utari dari Aruna.id. Melihatnya dari 2 perspektif nelayan langsung dan seseorang yang berada di siklus perikanan, aku bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa teknologi bisa sangat merugikan. Bahkan menurut Pak Amir, setelah listrik dan ponsel genggam masuk ke Poto Tano, NTB, tradisi-tradisi baik menjadi hilang. Beliau bercerita bahwa dahulu ketika mereka masih menggunakan lampu minyak, nelayan-nelayan di sana akan menunggu bulan untuk berbincang. Wih, romantis banget. Aku mendengarnya saja sampai tersenyum sendiri. Selain itu, komunikasi jadi berkurang. Mungkin karena sekarang semua sapaan berada di aplikasi layaknya Whatsapp jadi tidak perlu lagi untuk bertemu secara tatap muka untuk berkomunikasi.
Mbak Utari juga menguatkan opini tersebut. Dari perspektif beliau, perlu diketahui dulu permasalahan yang sedang dialami nelayan. Bukan hanya dilihat dari “Oh, teknologi akan memudahkan”. Tidak bisa semuanya dipikul rata seperti itu. Selama ini aku berpikir teknologi di bidang perikanan hanya sampai fish-finder, kapal. Ternyata jauh lebih dari itu lho!
Sektor Pemasaran, misalnya. Seperti apa yang tengah digeluti Aruna.id sekarang ini. Dengan bantuan teknologi, proses jual-beli nelayan bisa langsung ke konsumen. Dari domestik hingga internasional. Aruna.id juga membantu membina nelayan di desanya, terdapat 31 titik “Rumah Nelayan Aruna” yang tersebar di Indonesia.
Masih berhubungan dengan teknologi, aku juga penasaran tentang overfishing. Selama ini yang aku tahu tentang teknologi di perikanan kebanyakan adalah fish-finder, dampak dari beberapa kasus menceritakan bahwa fish-finder sangat merugikan ekosistem bawah laut karena membuat nelayan bisa melakukan overfishing. Jadi, kemarin aku bertanya ke Mbak Utari akan hal itu, peran edukasi menangkap ikan. Biasanya yang ditangkap hanya 1 komoditas, jadi penting bagi nelayan untuk tau banyak ikan di pasar dan pesaingnya. Ajaran tangkap ikan jenis beda, alat tangkap beda, dan ikan-ikan tertentu sesuai musim.
Lalu juga dengan anak-anak muda penerus nelayan. Beberapa orang tua, asumsinya tidak ingin anaknya meneruskan di jejak yang sama. Sama seperti yang terjadi di pertanian Indonesia sekarang ini, kebanyakan orang tua akan berkata
“Ngga usah jadi nelayan, miskin”
Seperti pengalaman Mbak Utari sendiri yang tidak didukung orang tuanya untuk ikut masuk di siklus perikanan. Tapi ada beberapa nelayan yang menitipkan pekerjaan nelayan sebagai warisan atau hidayah. Anak-anak muda yang dulu tidak mau meneruskan menjadi nelayan punya mimpi untuk bisa membantu komoditas nelayan.
Kelas kemarin aku senang sih, aku merasa telah mengklarifikasi beberapa hal yang selama ini menjadi sebuah pertanyaan sepanjang kelas Kelana Maya. Aku juga belajar dan mengenal hal-hal baru! Seperti kehidupan di Poto Tano, model pengelolaan, dan kesepakatan-kesepakatan nelayan.
Kata akhir yang ingin aku highlight!
“Yang dibutuhkan adalah solusi bukan teknologi. Dan coba pertimbangkan apakah teknologi itu bisa masuk atau tidak.”
Terima kasih atas ceritanya, Mbak Utari, Pak Bun, dan Pak Amir 😀