“Anak-anak nelayan?” (Refleksi-180121)

Kelas kemarin aku bertemu dengan Pak Parid Ridwanuddin! Aku harus cerita bahwa seneng banget dengerin Pak Parid cerita, penuh dengan semangat. Huhu, asik sekali. 

Kami mulai kelas pukul 7 malam WIB, seperti kelas sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan, jadi aku sudah takut tidak bisa fokus di kelas itu. Seperti biasa, sebelum kelas kami kenalan terlebih dahulu! Beliau ternyata berasal dari Garut, jadi sudah ada ketertarikan dengan laut dari sisi keluarga. 

Kami mendalami kembali perihal nelayan tradisional. Satu pertanyaanku, di kelas sebelumnya dikatakan bahwa nelayan tradisional itu yang kapalnya kurang dari 5GT. Tapi, di kelas ini kurang dari 10 GT. 

Hmmm, kira-kira sebenarnya yang benar yang mana yaaa?

Di kelas kemarin, aku juga mendengar banyak banget masalah dari perikanan! dari proyek reklamasi, pertambangan, minapolitan, sampai ke masalah pariwisata. Aku kemarin malah jadi penasaran dengan keberlangsungan nelayan tradisional di Indonesia. Dari beberapa percakapanku dengan orang-orang di sekitar, kemungkinan besar banyak orang tua nelayan menginginkan anaknya untuk tidak meneruskan menjadi nelayan. Asumsinya, karena mereka menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya. 

“Mending pergi ke kota dan belajar, lalu cari kerjaan. Jadi nelayan nanti miskin”

Aku penasaran, apakah itu yang menjadi salah satu faktor kenapa anak-anak nelayan tidak tertarik meneruskan menjadi nelayan?

Kemarin, aku dapat jawabannya dari Pak Parid. Beliau berkata bahwa itu juga menjadi salah satu alasan kenapa banyak anak nelayan tidak meneruskan menjadi nelayan. Banyak anak nelayan kemudian juga kebingungan bagaimana cara membantu orang tua mereka setelah pulang dari bersekolah.

Padahal, banyak cara juga untuk bisa meningkatkan perikanan di desa nelayan-nelayan. Seperti cerita Pak Parid di tambak udang Pasenna. Di sana, anak-anaknya di dorong untuk kembali pulang dan membantu sesuai minat dan bakat. Misal, membuat video ataupun akuntansi.

Aku juga mendengar banyak hal baru sih, yang paling menarik adalah menjadikan laut sebagai “Ruang Pembuktian” di Sulawesi Utara. Sebelum menangkap ikan ada ritual terlebih dahulu. Misal tidak boleh berbohong atau tidak boleh berantem. Sungguh menarik.

Setelah kelas ini aku jadi tertarik untuk mendalami permasalahan reklamasi. Dahulu, aku belum tau banyak. Kayaknya baru dari video Pak Parid deh! Setelah kelas, aku jadi membahas ini dengan rekan membuat peta pemikiranku, Lita. Lita memberikanku banyak buku dan tautan website untuk dibaca mengenai topik ini. Dan kami membahas dan menyaringnya menjadi beberapa pertanyaan.  

“Gya refleksinya telat lagi!!!”

Langganan banget ya bund~

wwkwkwk maaf! Akhir-akhir ini aku sedang benar-benar kesulitan untuk bisa membagi waktu antara kesibukan dan istirahat. Semua kegiatanku berkumpul di minggu ini :< minggu depan udah selo malah kegiatannya berakhir semua ….. oalah hidup ….

Akhir kata, terima kasih Pak Parid sudah bercerita! Dan terima kasih sudah membaca :>

Tinggalkan Komentar