Nelayan Perempuan (Refleksi-140121)

Kelas kemarin kita kedatangan Kak Ria dari Jakarta! Dan topik yang akan dibicarakan adalah tentang peran perempuan di bidang perikanan. Jadi ingat setahun yang lalu, tepatnya tanggal 12 Maret 2020, aku dan Aruna di Ekspedisi Remaja 2.0 sempat juga membahas perihal topik ini. Setahun yang lalu, kita sudah menikmati video yang menceritakan Ibu Masnu’ah dari Demak yang memperjuangkan hak-hak nelayan perempuan. Jadi, sebelumnya aku sudah mengetahui adanya permasalahan ini. 

Kelas dimulai pukul 7 malam, kalau aku boleh jujur, sebenarnya bukan hal terbaik. Aku sih lebih suka kelas sore ya, hihi. Dan seperti biasa, kami mulai berkenalan! Kelas kemarin mungkin menjadi kelas perdana yang cukup interaktif, Kak Ria selalu mencoba untuk membuat percakapan dua arah dan terus-menerus bertanya kepada kami. 

Kak Ria ternyata tidak hanya mendalami isu perempuan nelayan, ia mendalami seluruh masyarakat pesisir. Perempuan nelayan itu hanya satu isu dari banyak isu perikanan. Bagian dari perikanan yang tidak boleh dilupakan. Aku dapat beberapa info baru juga kemarin! Bahwa semua orang yang berperan dalam proses perikanan adalah seorang nelayan.

Iya sih, benar. 

Tapi yang spesifik untuk memisahkan ikan dengan jaring dan pekerjaan-pekerjaan kecil namun penting lainnya … sepertinya belum pernah dengar.

Hm, sepertinya ini berhubungan dengan permasalahan pengakuan dari masyarakat tentang nelayan perempuan. Kemarin Kak Ria bercerita bahwa langkah awal untuk mendapatkannya dimulai dari nelayan perempuan yang mengakui dirinya sebagai nelayan. Ketika ditanya perihal pekerjaan, mereka harus dengan lantang menjawab “Nelayan” bukan seorang “Ibu Rumah Tangga”. Mereka harus bisa yakin bahwa apa yang dilakukan bukan hanya sebatas membantu suami, tapi sebuah pekerjaan yang berhak mendapatkan akses-akses tertentu. 

Jadi, percaya diri juga penting! Kalau kata Kak Inu mah, “Bu Masnuah dikloning harusnya” hahahaha. 

Aku rasa cukup sulit sih kalau sudah masuk ke masyarakat yang bias, karena itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Itu yang “Normal”. Yang pastinya harapan kita semua, itu harus diubah. Tapi, dari kacamataku ini akan menjadi lebih baik dengan generasi baru yang akan datang. Seiring waktu berlalu ya.

Jujur di kelas kemarin kami malah sibuk membahas tentang pentingnya nelayan tradisional/nelayan kecil di sektor perikanan. 

“Sebenarnya peran mereka apa sih?” “Apakah mereka akan hilang?”

Pastinya kalau mereka hilang, rantai perikanan akan hancur. Tapi, apa alasan mereka untuk tetap menjadi nelayan tradisional? 

Kalau dari aku sih, kembali ke prinsip hidup, bukan sih? Kalau dari Kelas Filsafat mah, “Virtue or Pleasure”. Mungkin memang ingin menikmati pekerjaannya, tidak ingin merasa dikejar dan terkekang. Layaknya beberapa petani yang aku wawancarai ketika Kenali Sekitar di Ekspedisi Remaja sebelumnya!

Kami mengakhiri kelas itu dengan pertanyaan yang masih aku pertanyakan itu! 

“Gya Refleksinya Telat!!!!”

Huehuehue iyaaa, sekarang benar-benar sedang dikejar banyak hal wkwkwk. Tapi weekend kemarin, aku, Aruna, dan Kaysan mengikuti sebuah rangkaian program bernama “Case-A-Thon”. Hari Sabtu dan Minggu dipenuhi dengan mendengarkan banyak narasumber dan bertemu teman-teman baru. 

Tiga  kata untuk mendeskripsikan, capek dan seru. Bayangkan 2 hari penuh berada di depan laptop untuk Zoom. Pantesan anak sekolah capek ya /bersyukur atas pilihanku homeschooling tepat sebelum pandemi/. Bahkan screen time laptopku sampai menyentuh 15 jam! 

Jujur, imposter syndrome meningkat setelah mengetahui bahwa panitia-panitia di acara itu adalah anak-anak remaja seumuranku. Keren banget! Apa kabar BINSAR UwU 

Menurutku sesi paling asik sih mendengarkan Kak Nadine, Kak Faye, dan Kak Ayu Kartika Dewi bercerita, seperti ditampar wkwkwk. Disebutkan bahwa refleksi dan logbook itu sangat penting! Hahaha. Aku juga highlight 1 kata, 

“Ambillah resiko sebelum kamu berpikir kamu siap” 

Dan juga untuk mengenali diri dan tidak membandingkan diri … ya bilangnya gampang sih, eksekusinya susah wkwk.

Oh, aku dan Aruna juga sudah punya teman-teman baru lho! Kami berkenalan setelah acara Hari Sabtu dan langsung ngobrol santai bersama sampai langsung buat grup. Grupnya dinamakan “Ukhti-Ukhti Hitz” yang anggotanya berasal dari Magelang, Magetan, Jogja, Jakarta, dan Bogor. Seru!

Kemungkinan besar, seminggu ini akan jadi minggu paling hectic 2021 ku (sejauh ini). Semesta, ayolah bantu aku. 

Terima kasih sudah membaca! Terima kasih juga untuk Kak Ria yang sudah berbagi ❤ sampai jumpa, maaf kalau banyak salah :p

Tinggalkan Komentar