Suku Bajau (Refleksi – 110121)

Hai, hai! Kembali lagi dengan sebuah refleksi Kelana Maya dari perspektif Gya! 

Hari Senin 11 Januari kemarin, kita ada kelas nih dengan Pak Tasfirin Tahara. Sebelum kelas, aku sudah membaca dulu buku yang dibagikan kakak-kakak di Google Classroom tentang “Suku Bajo”. Yaa, setelah membaca sedikit membuat terbayang akan cerita masyarakat sana, meskipun pastinya banyak hal yang masih belum dimengerti juga.

Di kelas kemarin, aku rasa aku mulai dengan awalan yang cukup segar dan siap untuk kelas. Kalau biasanya baru sampai rumah harus duduk tegak lagi, kemarin aku bisa santai-santai dulu sebelum kelas! 

Uhuk, mempersiapkan mental maksudnya

Jadi sebelum pukul 3 sore WIB, aku sudah duduk di meja dengan peralatan tulis.

Sekitar 10 menit sebelum kelas, Kak Inu tiba-tiba memberikan kabar di Whatsapp bahwa kelas diundur 30 menit karena narasumber masih ada acara lain. “ASIK, MUNDUR” batinku saat itu. Eh, beberapa detik kemudian Kak Inu menambahkan “Tapi tetep masuk jam 3 ya, kita refleksi tugas Peta Pemikiran dulu”

HIYAAAAA

Masuklah aku ke kelas Zoom pukul 3 dan kami mulai refleksi singkat mengerjakan tugas Peta Pemikiran sambil menunggu Pak Tasfirin. Refleksi berjalan sekitar 20 menit, berceritalah kami tentang lika-liku pengerjaan tugas. Aku yang dipasangkan dengan Kaysan untuk tugas kemarin bercerita singkat. Dari mulai bagaimana mulai kerjanya, saat pengerjaan, pemilihan waktu, dan sebagainya. Cukup singkat sih, karena kemudian terputus begitu Pak Tasrifin sudah memasuki ruangan. Kelas pun dimulai!

Seperti kelas-kelas sebelumnya, di awal dimulai dengan kenalan terlebih dahulu. Pak Tasrifin Tahara pun memperkenalkan diri beliau sebagai orang yang lahir dan besar di laut dan mulai bercerita tentang Suku Bajo.

“Suku Bajo”, “Suku Bajau”, atau “Suku Sama” adalah satu kelompok yang memiliki wilayah imajiner yang luas, laut adalah jantung mereka. Menurut mereka tidak ada batas-batas di laut, tidak melihat border negara sebagai batasan. Yang menurutku merupakan sesuatu hal sangat baru dan menarik. Mereka hanya kenal 2 suku di dunia, “Sama” atau sesama Suku Bajo dan “Bagai” orang diluar Suku Bajo.

Aku jadi berpikir apakah itu sebenarnya mempengaruhi sesuatu dalam negara-negara yang didatangi Suku Bajo. Kalau dari buku yang aku baca sebelum sesi kelas, tertulis bahwa

“Orang Bajo sudah mencatatkan diri mereka sebagai putra dunia di UNESCO, PBB dan orang Bajo bukan suku milik suatu negara.” 

Jadi, tidak perlukan Suku Bajo menjadi warga suatu negara? Atau diakui sebagai suku di seluruh penjuru dunia? Karena menariknya ini berhubungan dengan topik yang dibicarakan Pak Tasrifin juga tentang kemiskinan. Dengan tidak terhubungnya Suku Bajo dengan negara, tidak ada yang bisa bertanggung jawab atas kehidupan masyarakat Suku Bajo. Mereka juga tidak memiliki hak atas akses hal-hal tertentu, kesehatan dan pendidikan misalnya (Kita tidak masuk konteks bagaimana pemerintah sudah secara rata membantu masyarakatnya). 

Karena kalau dilihat dari kacamataku kemarin, aku juga tidak melihat Suku Bajo berada dalam garis kemiskinan. Kalau ini bukannya kembali lagi ke prinsip hidup masing-masing ya? Dalam pengetahuanku Suku Bajo hidup untuk hidup. Maksudnya, ada pilihan untuk menangkap atau menjual ikan dalam jumlah banyak, untuk mendapatkan lebih banyak pemasukan. Tidak hanya barter dengan orang di darat. 

Ya, tapi aku masih harus mendalami kesulitan yang dirasakan masyarakat Suku Bajo sih.

Keseluruhannya, kemarin aku mengenal lebih tentang Suku Bajo. Sebuah informasi baru bagiku apalagi sampai mengenal stereotip orang-orang terhadap Suku Bajo, bagaimana menyelam di laut merupakan warisan sosial, pengetahuan mereka soal laut yang diwariskan dari nenek moyang dan bahaya-bahaya yang dialami karena kurangnya akses pendidikan. Ayo kita ke Wakatobi! Hahahaha. Kalau lihat rumah Suku Bajo (yang terletak di atas laut terbuat dari kayu), kayaknya seru banget deh! 

Oh iya, satu lagi. Kemarin aku juga kepikiran tentang privasi dan keintiman Suku Bajo dengan keluarga mereka masing-masing. Keren lho …. bahkan 1 kapal saja bisa memuat 3 keluarga! Wow …. my family my team yak.

Terima kasih kepada Pak Tasrifin yang sudah berbagi, terima kasih juga untuk kalian yang sudah membaca! Sampai jumpa di refleksi selanjutnya~ maaf jika ada banyak kesalahan. Stay safe

Tinggalkan Komentar