Hai, hai! Kembali lagi dengan sebuah refleksi Kelana Maya dari perspektif Gya!
Hari Kamis 7 Januari kemarin, kita ada kelas nih dengan Kak Wiro Winandi dari Econusa~ Jujur, aku belum pernah mendengar apapun sebelumnya, jadi begitu menyenangkan untuk bisa mendengar ceritanya langsung dari Kak Wiro!
Kak Wiro memulai kelas dengan memperkenalkan Econusa, “Wih apa tuh?”
Jadi, Econusa adalah sebuah yayasan yang memperkenalkan ke anak muda soal laut, membangun kepemimpinan, dan bagaimana menjaganya. Dan ternyata, awalnya dimulai dari hutan lho! Dari hutan di Papua, ke Maluku, lalu baru terjun ke laut.
Yang aku suka dari cerita Kak Wiro juga adalah, benar-benar dimulai dari dasar banget. Kita ngobrolin dan menyatukan opini tentang “Nelayan Tradisional” agar kita bisa berada di halaman yang sama. Waktu kelas kemarin aku sih aku jawab “Masih menggunakan alat tradisional, perahu misalnya”, dan setelah itu kami pecah seluruh definisi Nelayan tradisional
- Perahu tidak pakai mesin/Perahu kecil di bawah 5GT.
- Alat tangkap kayu dan besi.
- Jarak penangkapan yang tidak terlalu jauh.
- Setelah ditangkap, biasanya untuk keperluan rumah tangga.
- Bagian dari suatu adat.
Salah satu contohnya Panglima Laot di Aceh! Ini udah pernah aku baca hihi jadi sedikit tahu deh.
Sebelumnya aku juga belum tahu kalau Indonesia adalah pemasok 10% komoditas perikanan Indonesia. Waw! Dan jumlah nelayan di Indonesia yang mencapai lebih dari 2,7 juta.
Jujur, aku jadi tahu banyak hal deh setelah kemarin! Bahkan sesimpel pohon bakau yang disebut ‘mangi-mangi’ sampai menangkap Karaka alias Kepiting Hitam dengan umpan daging hiu di Hutan Bakau Papua. Terus banyak juga daerah-daerah baru yang aku belum pernah dengar sebelumnya~
Ada Pulau Bawean, Gresik yang tradisinya masih kental. Dari cerita kemarin sih, yang bikin menarik soal Bahasa Madura dengan logat melayu itu. Bahkan sampai mengikuti adanya lumba-lumba untuk mengetahui keberadaannya ikan! Kereeeen.
Oiya, kemarin Kak Wiro juga memperlihatkan soal slide 3 Pilar Pembangunan Menuju Laut Mada Depan Bangsa! Ini jadi inget video Bu Susi yang aku tonton semasa liburan~ yang bunyinya
- Tidak melanggar hukum.
- Tidak merusak lingkungan.
- Tidak merugikan nelayan.
Side note, saat kelas Zoom kemarin sebenarnya sedang agak ambyar yak wkwkwk. Malamnya aku hanya tidur 2 jam, posisi masih di kantor karena malamnya harus urus event yang persiapannya belum selesai. Aduh, memang sebuah hari yang indah untuk hidup emang. Jadi, kemarin agak panik-panik diam gitu.
Meskipun adanya banyak kendala di hari itu, aku tetap enjoy sih dengan Kelas ini! Aku bisa mendengar dan belajar akan hal-hal yang baru. Meskipun kayaknya setengah dari Zoom itu, aku kayak spaced out. Kayak kata-katanya tuh melayang dan aku berusaha memproses satu persatu. Soalnya dibawa keliling Indonesia gitu! Jadi dengan kondisiku di hari itu yang kurang maksimal …. kayak ketinggalan jiwanya wkwkwk.
Tapi itu adalah pengalaman yang luar biasa! Aku melihat apa yang Kak Wiro lakukan sebagai hal yang sangat menginspirasi untuk dilakukan. Terima kasih atas ceritanya, Kak!