16 Mei 2020
Hari itu aku dan Aruna tengah dalam sebuah panggilan video rutin dengan kakak-kakak Jaladwara, kami sedang mengobrol santai tentang pengalaman kelas online yang diikuti selama pandemi. Di percakapan itu keluarlah sebuah kalimat,
“Eh, ada nggak sih kelas online khusus remaja gitu? Yang dimana sesama remaja saling diskusi dan ngobrol. Kayaknya jarang deh atau malah ga ada?”
Benar juga, aku baru sadar. Kelas online yang aku ikuti tidak ada kelas yang dikhususkan untuk remaja, ya ada sih kelas untuk para remaja perempuan, tapi tidak diurus dan dibuat oleh remaja. Di bayanganku langsung terbayang akan seru sih, apalagi dirancang oleh remaja. Keren banget kayaknya, bisa jadi semacam “Safe Space” buat sesama di masa pandemi yang …. sangat membosankan ini.
Dari percakapan online singkat itu berkembang lah menjadi sebuah rencana acara. Aku dan Aruna sangat semangat untuk membahasnya, apalagi untuk mencari kawan-kawan yang akan kami wawancara untuk narasumber. Question Box di Instagram Story langsung kami keluarkan malam itu juga, jam 21:54 saking semangatnya. Setelah dengan kakak-kakak Jaladwara, kami melanjutkan rutinitas Video Call lewat Skype sampai sekitar jam 01:00 pagi untuk berbincang lebih. Wah, pokoknya bagai api yang disiram bensin.
22 Mei-31 Mei (Wawancara)
Setelah itu bertemu lah kami dengan kebingungan pertama, membuat daftar pertanyaan untuk para calon narasumber. Jujur, kami sempat bingung saat membuat pertanyaannya. Rasanya tuh kayak tahu mau mencatat apa. Tapi, kayak tidak ada juga. Nah, lho bingung kan. Sampai kami dapat usulan dari salah satu mentor tercinta kami, kakak Mel
“Aku usul, coba kalian berdua bikin simulasi. Misal Diandra calon narsum, Dana yg tanya2 gali info (atau dibalik juga bisa).
Mungkin dengan begitu lbh kebayang apa yg mau digali. Dan pertanyaannya spt apa… :D”
Kami bermain-main membuat semacam percakapan di Google Document sambil mencatat ide-ide yang muncul. Kira-kira begini penampakannya,

Pertanyaan kami berakhir menjadi 12 butir pertanyaan. Mulailah perjalanan kami wawancara narasumber!
Tanggal 22 Mei kami mewawancarai 3 calon narasumber sekaligus (Liris, Sofi, dan Mia). Tanggal 25 Mei dengan Kaysan, tanggal 30 Mei dengan Ayska, dan calon narasumber terakhir Yla & Vyel di tanggal 31 Mei. Senang sih, aku jadi menambah teman baru! Dan menurutku asik karena tidak canggung (terima kasih untuk Kenali Sekitar). Apalagi waktu mewawancarai Yla dan Vyel yang sampai ngakak-ngakak. Padahal itu kali pertama kami berbicara dengan satu sama lain!
Lalu setelah wawancara narasumber …. apa? Mungkin ini yang bikin persiapan acara BINSAR lebih menarik sih. Mungkin ini juga yang paling dikepoin oleh kakak-kakak juga HAHAHA. Untuk beberapa hari aku dan Aruna tidak berbincang oleh satu sama lain. Bahkan untuk rutinitas Video Call setiap malam tidak kami lakukan. Kalau dari aku sih, di beberapa hari itu memang sedang aneh. Bawaannya takut untuk memulai percakapan tentang BINSAR, padahal kepikiran terus. Jadi tidak ada yang memulai, kami sama-sama membiarkan hari-hari berlalu begitu saja. Sampai di titik grup Ekspedisi Remaja bagai padang pasir di animasi Oscar Oasis alias, kering bos!
Tanggal 3 Juni kami disindir halus di grup, aww jadi malu
“[21:44, 6/3/2020] Kak Mel: Ini grup sepi amat yak… org2 nya lg pada di lockdown ya? 🤔
[21:45, 6/3/2020] Kak Mel : Apa kbr bincang2 santuy remaja? Lagi santuyyy bgt ya? 😅”
Ya, sebenarnya kami memang sudah janjian sih untuk bertemu sih, agar semuanya bisa lebih jelas dan semangat kembali menyala. Lagi pula rumah kami hanya berbeda gang, jadi tidak terlalu sulit.
Tapi, muncullah pesan baru di grup yang bikin aku dan Aruna tercengang dan bingung bahkan sampai sekarang *masukkan emoji menangis*
[18:32, 6/4/2020] : Tertekan kenapa Gi?
[18:32, 6/4/2020] : Aruna juga tertekan?
[18:33, 6/4/2020] : Pengen ikut perpisahan virtual, tp ga bisa yaa? 😬
HAHHHHHH, APAAAAAA T.T bingung heiiiiii, gak boong deh. Lalu kami juga dibilang gak punya temen. Hei candaannya suka tepat dan menyakitkan ya HAHAHAHA HAHAH A H a h a …. … . . . . .
6 Juni-19 Juni
Jujur di hari itu (6 Juni) aku merasa tidak SE-PRODUKTIF itu sih, tapi kami berhasil menemukan semangat seperti seorang manajer kelas dunia yang seharusnya haha. Dan kami juga akhirnya mengerti bentuk workplan yang dimaksud! Langsung berasa sih perbedaannya. Langsung terasa ringan karena semuanya sudah terpecah di Google Spreadsheet.
Setelah ada workplan, aku rasa kemajuan dan pekerjaan kami jauh lebih jelas dan terlihat. Jadi, lancar aja sih! Benar-benar 2 hari penuh aku di depan laptop sampai lupa mandi dan makan (ini juga ayah dan ibu udah sampe teriak-teriak). Gatau juga, mungkin saking semangatnya.
Pokoknya selama 13 hari itu kami mengerjakan semua kebutuhan acara. Kemudian, kami mengajak teman kece kami yang terkenal dan jago banget gambar, Maria Angelita untuk masuk dalam tim BINSAR. Semakin seru dah tuh. Apalagi persiapan poster dan kawan-kawannya. Mungkin karena gaya yang berbeda jadi cukup sulit untuk bisa menggabungkan ide dari kakak-kakak dan dari Litanya sendiri. Tapi, justru disitu sih belajarnya. Kami juga jadi bisa lihat gaya kakak-kakak Jaladwara. Asumsi-asumsi komentar kakak-kakak sudah terbaca sedikit demi sedikit sekarang HAHAHA
“Ini kayaknya nanti dikomentari sih”
“Ini pasti ditanya kenapa begini sih”
“Ini B sama A-nya dibuat lagi deh”
Selain itu aku juga belajar aplikasi baru! Yap, aku berperan untuk mengurus Youtube Live. Beberapa hari sebelum acara kami berganti aplikasi yang harusnya menggunakan Jitsi menjadi menggunakan Google Meet karena kuota yang ternyata cukup banyak. Karena pakai Google Meet, aku jadi harus belajar menggunakan OBS. Sebuah pengalaman sih. Aku berguru ke teman baik Aza, Lita, mas-mas Youtube, dan Google. Untungnya otakku connect dan gak butuh waktu yang lama!
Setelah itu aku gak inget ada masalah besar lainnya sih, mungkin hanya panik-panik kecil ketika respon kakak-kakak di grup hanya berupa emoji atau ya … agak mengkhawatirkan HAHAHAH
OH, adalagi pengalaman baru yang kudapat. Yaitu, menjadi admin. Ya Gusti butuh kesabaran extra jos memang. Poster yang kami unggah bagai tak terlihat isinya. Banyak banget pertanyaan yang jawabannya sudah terpampang jelas di poster. Seperti,
“ituu yg buat acara binsar itu make app yaa?”
Euhm, oke. Baik. Boleh. Apa kurang besar ya tulisan Jitsinya? Atau mereka tidak tau Jitsi itu apa? Ya, pokoknya aku, Aruna, dan Lita belajar sabar untuk membalas pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Pengen banget rasanya mengikuti jejak kakak-kakak menjawab dengan “Apakah pertanyaan itu harus kami jawab? :)” tapi mungkin belum untuk sekarang.
Oiya …. waktu kami mengirim email balasan …. kami sempat salah menulis tanggal hari acara …. bodoh … padahal udah dibaca berkali-kali. Dan dibaca oleh aku dan Aruna dalam waktu yang berbeda. Untung beberapa menit setelahnya saudara dan temanku langsung mengabari lewat aplikasi Whatsapp, jadi bisa langsung kami klarifikasi dengan teriakan panik dan rasa malu. Duh, pokoknya BINSAR selanjutnya persiapan harus lebih mantap T.T jadi tidak ada ke-hemsyongan sejenis ini lagi.

Hari-H
Sampailah kami ke hari-H acara. WAAAHH MENEGANGKAN. Pokoknya riweuhnya dimulai 30 menit sebelum acara. Kami sudah mempersiapkan segala perkakas di depan komputer, bahkan sudah mempersiapkan balasan-balasan yang kemungkinan akan kami kirim di kolom chat Google Meet tapi tiba-tiba Nara datang, ku pikir hanya untuk mengecek komputernya sebentar. Ternyata ….
“Lho, Nara les tho??” tanyaku
“Iya, EF” jawab Aruna
Waaaah, oke. Tiga puluh menit lagi mulai nih. Lalu ternyata dia tidak mau berpindah, oke Nar. Itu sempat terjadi perdebatan dulu tuh. Sampai akhirnya kami berpindah menggunakan ipad. Mau tak mau, kami mengulang persiapan perkakas. Mulai dari berpindah menggunakan ipad, login gmail, cari posisi laptop untuk semua, dan mengecek Live Stream. Bahkan karena ruangan kami bersebelahan, Ibunya Aruna sampai menyekat ruangan dengan sebuah kasur.
“Gapapa, yang penting udah mencoba” jawab beliau saat Aruna berkata bahwa itu tidak akan mempengaruhi apapun.
Jujur, aku sudah takut sih karena aku merasa pasti akan susah banget buat membalas chat menggunakan ipad. Kalau dengan laptop atau komputer hanya tinggal copy paste saja kan. Tapi seperti biasanya, “Yaudahlah ya, mau gimana lagi”. “Just Do It” lah kalau kata salah satu brand sepatu ternama.
Disitu belum panik, begitu mencoba Live Stream … NAH ITU
Tiba-tiba terhenti!! Padahal tautan Live Stream sudah kami bagikan. Katanya ada copyright … padahal tak ada suara musik atau video yang diputar. Hanya ada suara adzan ashar yang berkumandang. Masa iya karena adzan??? Gak mungkin lah ya. Buru-buru aku panggil Lita yang berada di lantai 2 (laptop untuk Live Stream ada di lantai 1 karena noise).
“Lit, Live Streamingnya mati. Masa mau buat lagi, nanti linknya gimana lek?”
Hanya berpikir dan membahas untuk sekitar 1 menit langsung kami putuskan untuk membuat tautan Live Stream baru. Setelah aku pelajari sekarang, mungkin karena adanya pihak ketiga mereka memberhentikan Live Stream. Euhm, ya aneh sih. Soalnya selama latihan Live Stream pun baik-baik saja, kenapa saat hari-H yang harus ada masalah sih? Hei Youtube, ayo klarifikasi. Aku berasumsi nih #insidejokekelasfilsafat.
Oke, masalah awal udah. Acara lalu berjalan dengan cukup lancar. Aku dan Lita bekerjasama dalam hal membalas komentar dan mengamati kolom komentar dan peserta. Lita sambil memperhatikan kapan ia sharescreen dan menghitung durasi per-segmen, aku sambil mendengarkan Live Stream dan naik-turun tangga untuk mengecek (takut tiba-tiba berhenti lagi).
Riweuh dah tuh, para peserta saking semangatnya berbagi cerita sampai lupa untuk komentar dahulu sebelum berbicara. Padahal di kolom chat sudah kami ingatkan berkali-kali. Benar-benar setiap ada yang berbicara kami langsung chat,
“Tolong bagi yang mau bicara bisa chat dulu ya :)”
“Ayo habis ini siapa yang mau bicaraa?”
Tapi ya … masih ada saja yang suka menyelonong masuk. Aku yang berada di belakang kamera sampai gemes lihatnya. Mungkin untuk BINSAR selanjutnya harus lebih sering diingatkan secara lisan kali ya? Mungkin komentarnya mereka tutup jadi benar-benar fokus melihat muka kawan-kawan. Dan juga aku harus belajar untuk mematikan mikrofon secara cepat sih. Aku rasa itu penting (meskipun justru diskusinya ada disitu ya) karena pastinya itu berat di moderator.
Selain itu, pesan Whatsapp juga …. membuat sedikit panik. Bangga banget aku sama mbak moderator, bisa tenang ketika aplikasi Whatsapp-nya pasti dipenuhi oleh saran dan kritik orang-orang. Biasanya dia panikan banget. Pokoknya yang paling deg-degan itu waktu konklusi acara. Panik mode menyala. Mungkin terdengar suara bergetar ku yang tiba-tiba masuk. Iya, panik itu bertiga (panik mulu ya hhhh).
Tapi setelah itu perasaannya legaaa. Jujur badanku keringatan bukan main. Beuh, bau badannya dah kayak nyepeda ConCat-rumah. Gak bohong deh HAHAHA. Aku sih cukup bahagia dengan kelas BINSAR perdana ini, seru kok. Meskipun kekurangannya juga banyak. Aku syukuri fakta bahwa acaranya berjalan! Tidak tiba-tiba berhenti ditengah jalan. UUUU MANTAPPPPPP.
Di BINSAR kedua yang pastinya harus kami perbaiki adalah:
- Management waktu. Udah ngerti work plan harusnya udah lebih jago sih. Lebih fokus juga saat mengerjakan persiapan.
- JANGAN PANIK dan berpikiran positif.
- Persiapannya harus lebih mantap, tidak boleh mepet deadline.
Sepertinya itu dulu cerita dari kacamata saya~ terimakasih sudah membaca! Maaf kalau ada banyak salah kata. Sampai berjumpa lagi 🙂