Hai, kembali lagi dengan tantangan baru! UwU
Kali ini aku melakukan tantangan yang pernah aku lakukan sebelumnya lhooo, hehe. Yap! Seperti yang kalian bisa baca di judul, aku mengelilingi rumahku beradius 2 KM. Dan kali ini, aku melakukannya dengan Aruna (di hari Jumat)! Kalian bisa cek blognya (wanderlust-soul01.blogspot.com). Kira-kira siapa aja yang aku ajak bicara yaaa? Selamat membaca!
Kamis, 27 Februari 2020
Pagi itu, aku memulai perjalanan jam 9 pagi dan matahari sudah bersinar terik. Awalnya agak bingung sih mau tanya-tanya ke siapa. Harusnya sih lebih percaya diri ya, kan udah pernah :b perasaanku juga seperti itu. Rasanya lebih percaya diri aja gitu, lebih yakin. Tapi, masih bingung mau mulai gimana wakaka. Pikiranku sih ingin bertanya ke orang yang memiliki warung. Karena pada Kenali Sekitar 1.0 kemarin, aku sudah bertanya kepada 2 orang petani.
Entahlah, aku ingin saja membuat obrolan santai dengan pemilik warung sambil duduk-duduk menikmati XD. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti di sebuah warung setelah berkeliling singkat.
Aku duduk, memesan segelas es teh dan mulai berpikir bagaimana caranya memulai obrolan. Mungkin setelah beberapa menit, kami memulai obrolan dari jam buka warung.
Warung Azriel
Usut punya usut ternyata Azriel merupakan nama dari anak pertama bapak pemilik warung, Pak Arip. Beliau berasal dari Kuningan, Jawa Barat dan pindah ke Jogja tahun 1999 setelah bersekolah. Beliau pindah ke daerah Ngaglik kurang lebih bulan Desember 2019 dan langsung memilih membuat warung ‘Indomie’.
Sebelumnya, beliau berjualan ketoprak di daerah Godean. Tapi pindah karena lingkungan yang menurutnya ‘Buruk’.
‘Ada yang ternak babi didekat warung, aromanya tercium’ kata Pak Arip. Karena melihat adanya tempat ‘nganggur’ dari internet, beliau memilih untuk pindah dan memulai bisnis baru ini dengan istrinya.
Istri beliau orang Jawa Barat juga, di Cikarang tepatnya dan bekerja di sebuah restoran disana. Pindah ke Jogja setelah menikah dengan Pak Arip 2 tahun lalu.
‘Belum sempat ambil gerobaknya mbak, lagipula masih musim hujan. Susah’ jawab beliau ketika aku bertanya kenapa tidak berjualan ketoprak lagi. ‘Padahal belum ada yang jualan ketoprak ya mbak di sini’ lanjutnya.
Orangtua beliau juga mempunyai bisnis sebagai ‘Pemborong buah’ dan setelah anak-anaknya dibekali, nformasi tentang berbisnis, mereka mengikuti jejak orangtuanya untuk berjualan. Pak Arip memiliki 7 saudara. Salah satunya meninggal dunia, 5 memilih membuat warung di Jogja, dan yang 1 bekerja di Jakarta. ‘Kalau saya sih pernah berkunjung ke Jakarta, cuma gak kuat mbak. Perasaannya beda’ kata Pak Arip.
Kelima saudara beliau yang berada di Jogja juga membuka semacam warung layaknya Pak Arip, hanya target konsumennya saja yang berbeda karena warungnya terletak di dekat UGM, UPN, dan Sanata Dharma.
Beliau rupanya telah berkeliling Jogja ketika pertama kali datang, kata beliau karena kerja dan harus ikut orang. Dari daerah Gejayan ke UGM dan beberapa daerah lainnya. Tapi, Pak Arip bercerita betapa tidak sukanya beliau untuk kerja ikut dengan oranglain. ‘Capek mbak. Dikejar terus’ kata beliau. Dari situlah, Pak Arip memutuskan membuat bisnisnya sendiri.
Warungnya dibuka dari jam 05.00-24.00 setiap harinya. Pergi berbelanja ke Pasar Gentan pukul 6 pagi dan dilanjutkan dengan memasak untuk warung. ‘Enaknya sih, bisa sambil di rumah. Kalau capek, ada anak’ kata beliau.
Beliau kemudian bercerita kenapa memilih menjadi penjual, beliau bercerita bahwa dari kecil sudah diajarkan bahwa penjual itu mulia. ‘Kalau butuh apa-apa pasti kan nyari penjual tho mbak’ lanjutnya.
Beliau juga rupanya tidak menghitung pengeluaran dan pemasukan. Ketika berbelanja, ya membeli sesuai kebutuhan saja. Pusing katanya kalau dihitung semua. Nah, ini yang kebanyakan aku lihat dari pedagang sekitar rumah. Mereka jarang sekali menghitung keuntungan/kerugian! Ya, karena suka dan bisa saja. Yang penting uang tetap ada. Keren yak!
Jumat, 28 Februari 2020
Pagi hari jam 10, aku berjanjian dengan Aruna untuk melakukan tugas ini bersama. Kami membuat janji untuk bertemu di depan masjid seperti biasa. Setelah sekitar 5 menit kepanasan di bawah matahari ^^ akhirnya Aruna datang. Dan kami memulai eksplorasi!! Tujuan kami pertama adalah Pasar Gentan!!!
Jamu Di Pasar Gentan
Setelah sekitar beberapa menit berkeliling pasar, kami bertemu dengan deretan penjual dawet dan jamu. Aku pun memulai percakapan dengan bertanya ‘Jamu ya bu?’ yang kemudian dibalas dengan sangat ramah ‘Iya nok, tapi udah habis’.
Waaahhhh, kami langsung bertanya dari jam berapa si ibu mulai berjualan yang ternyata dimulai dari jam 7 dan jam 11 pasti sudah pulang. Kami lalu berkata akan datang besok untuk mencicipi jamu Ibu Atun.
Ibu Atun ini rumahnya di utara Universitas Islam Indonesia, jadi lumayanlah ya dari Pasar Gentan. Dulu sempat jualan di Pasar Sleman tapi pindah ke Pasar Gentan lebih dari 10 tahun yang lalu. ‘Kalau di Pasar Pakem udah banyak mbak soalnya’ kata Ibu Atun.
Ternyata oh ternyata … di Pasar Gentan yang jualan jamu hanya 2 lho! Yang satunya lagi berasal dari Pakem. Kami tidak bertemu sih, sayangnya. Karena si penjual jamu tersebut sudah pulang.
Bisnis jamu Ibu atun ini ternyata sudah turun temurun dari simbah, jadi ada resep tersendiri katanya. Jamu yang dijual ada kunyit asem, beras kencur, dan uyup-uyup. Bahan-bahannya beliau beli sendiri di Pasar Beringharjo sekitar sebulan sekali, jadi langsung beli banyak dan bisa mencapai 5 juta. ‘Ongkos kesananya juga lumayan, kan harus naik mobil’ kata beliau.
Satu hal yang membuatku kaget adalah, beliau ternyata menggunakan aplikasi Gojek lho setiap harinya, dari rumah ke Pasar Gentan. ‘Nggak bisa naik motor e mbak’ merupakan alasan kenapa si ibu tidak menggunakan motor sendiri. Beliau dikaruniai 2 anak dan keduanya merupakan laki-laki. Yang besar belum menikah dan yang kecil masih kuliah. ‘Susah mbak, nek lanang‘ curhat Ibu Atun ketika kami tanya akankah diturunkan resep jamunya.
Ibu Atun mulai membuat jamu sekitar pukul 2 atau 4 pagi. Jadi, memang fresh setiap harinya. Bahkan kalau jamu botolan, kalau ada pembeli berniat menunggu, akan langsung dibuatkan oleh Ibu Atun ditempat.
Oiya, Ibu Atun kadang masih menumbuk kunyit sendiri lho. Meskipun berat dan capek tapi rasanya lebih enak. Sekali numbuk bisa 2 KG. ‘Kalau pakai blender kan berair tho mbak, jadi beda’ kata beliau.
Sayangnya, karena kami datang agak siang jadi belum bisa merasakan. Dengar dari cerita Ibu Atun sih, langganannya ada banyak. Terutama perempuan atau ibu menyusui.
Ketika kami tanya kenapa memilih berjualan jamu, Ibu Atun menjawab dengan berkata bahwa sudah menjadi keahliannya membuat jamu, sebenarnya ada peluang untuk hal lain tapi sekalian juga ingin melestarikan tradisi dan pengobatan tradisional. ‘Lha dokter, perawat sekarang juga minum jamu kok mbak’ lanjut Ibu Atun.
Selain jamu, Ibu Atun juga menjual barang-barang titipan orang. Seperti sabun mandi, jamu instan, lulur, dan madu. Kata beliau kalau jualan sekarang tetap harus ada jualan sampingan selain jamu. Mungkin untuk menambah pemasukan juga ya.
Kami juga sempat bertanya tentang masalah modal dan pemasukan ‘Pusing mbak, nek dihitung’ jawab beliau. Memang begitu kah ya? Jarang ada orang menghitung masalah modal dan pemasukan, apalagi kalau itu bisnis pribadi. Yang penting uang ada.
Setelah itu, kami pamit dan berjanji akan datang besok untuk mencicipi jamu Ibu Atun.



Aku dan Aruna kemudian melanjutkan perjalanan berkeliling-keliling sekitar!!
Terimakasih sudah membaca!
DENAH




