Nonton Film!

Hai! Gya kembali lagi dengan tantangan di Ekspedisi Remaja 2.0 wihiiiiii. Di ER 2.0 ini kami mempunyai tema lhooo …. yaitu tentang Masyarakat Pesisir dan Perikanan! Maka dari itu, kami memulainya dengan membaca sebuah makalah milik mahasiswa ITB tahun 2018, Adam Irwansyah Fauzi dan menonton film dari Ekspedisi Indonesia Biru berjudul ‘Huhate’.

Nah, dari film ada beberapa hal nih yang bikin aku kepo! Aku list saja ya.

  • Jika mereka bertemu nelayan asing, apa tindakan pertama yang mereka lakukan?
  • Apakah ‘Fish Finder’ yang digunakan adalah bagian dari subsidi pemerintah?
  • Ada gak sih koperasi nelayan di Tomalou, Maluku Utara? Jika iya, apakah membantu?
  • Ada tidak sih bahan bakar selain solar?

Sekarang waktunya, opiniku ~~

  • Keren Nelayan di Tidore menolak menggunakan Cantrang karena dapat merusak lingkungan. Mengingat bahwa memancing menggunakan Cantrang lebih mudah.
  • Selain kemarin membahas tentang kurangnya koordinasi pemerintah dengan pemerintah daerah, aku menemukan sebuah komentar dari video tentang masalah korupsi daerah yang masih merajalela sehingga dana tidak sampai ke nelayan. Hm, susah juga kalau seperti ini. Sebaiknya pemerintah punya cara untuk memastikan bahwa dana bisa sampai.
  • Oiya, dan seharusnya tepat pada kebutuhan nelayan di masing-masing daerah!
  • Aku sudah baca tentang adanya BaKamLa atau Badam Keamanan Laut Republik Indonesia. Yang ternyata terdapat banyak tersangka korupsi bahkan diawal tahun baru ini. Wow, aku tidak kaget. Padahal kalau ini bisa dimaksimalkan akan berperan besar bagi negara ini. Jadi, ketika nelayan lokal bertemu/melihat kapal asing mengambil ikan bisa langsung menghubungi.
  • Setelah membaca tulisan milik Kumparan, aku baru tau bahwa masyarakat Tomalou sebagian besar merupakan nelayan dari jaman dahulu. Dan hanya sebagian kecil yang bertani. Berarti memang sudah turun menurun ya.
  • Nah, setelah ikan-ikan hasil tangkapan didaratkan, yang perempuan mempunyai pekerjaan mengambil hasil ikan (biasa disebut dibo-dibo). Setelah mengetahui itu, aku malah jadi penasaran ada gak sih perempuan yang bekerja diatas kapal atau berlayar? Mungkin ada tapi menggunakan kapal tradisional ya.

Refleksi nonton film :

Menurutku filmnya menarik! Aku jadi lebih tau tentang bagaimana nelayan berlayar, apa saja yang perlu disiapkan, dan yang paling mengejutkan adalah modalnya yang sangat besar! Aku penasaran sih kenapa mereka tetap bertahan menjadi nelayan. Bayangkan saja berapa usaha yang sudah dikeluarkan dengan upah mereka yang bahkan tidak tentu.

Refleksi baca makalah :

Hm, aku membaca makalah di pagi hari dengan menghiraukan berbagai macam kesalahan penulisan yang ada. Kemudian, aku membacanya ulang dengan Aruna dan kami berakhir kebingungan bersama. Ya, tulisannya penuh dengan typo atau kesalahan penulisan. Bahkan ada paragraf yang tidak selesai. Ada juga, informasi-informasi yang tidak valid dan aneh. Mungkin ini juga reaksi kakak-kakaknya membaca tulisanku sih :b tapi terlepas dari itu, memang ada beberapa informasi baru. Seperti pengelompokan berat kapal, Gross Ton).

Referensi:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51202794

https://news.detik.com/berita/d-4859223/kpk-tahan-tersangka-kasus-korupsi-proyek-bakamla/1

https://kumparan.com/ceritamalukuutara/pengalaman-kala-berkunjung-ke-tomalou-kampung-nelayan-di-tidore-1sZ6Gj4d1vL

Sekian, pembahasan awal tentang nelayan. Terimakasih sudah membaca!!

Tinggalkan Komentar