Sesuatu di Dusun Sumber

Haiiii, Gya disini setelah menyelesaikan jurnal lima hari kemarin! Hehe. Nah, kali ini gilirannya untuk membahas salah satu topik yang aku temui disana dan yang menurutku cukup menarik. Topiknya adalah ….

Membuang sampah sembarangan

Gemes banget aku, ketika melihat orang-orang tidak membuang sampah pada tempatnya. Padahal itu adalah hal yang paling simple untuk dilakukan! Huft, kenapa orang-orang tidak ada rasa bersalahnya ya? Atau bahkan terpikirkan akibat setelahnya?

Sewaktu aku pergi ke Dusun Sumber, aku berkenalan dengan beberapa anak disana. Saat kami sedang mengobrol/berbaur, tiba-tiba saja salah satunya membuang bungkus es krim yang telah selesai ia makan ke selokan. Dibuang dengan cueknya. Langsung saja, aku dan Aruna tegur tanpa ragu.

Itu jika ada kami, lalu kalau biasanya gimana ya? Apakah ada yang menegurnya juga? Hmmm, terkadang bingung juga sih, kenapa bisa kebanyakan orang melakukan hal seperti itu padahal justru tinggalnya dekat dengan alam. Karena faktanya, salah satu tetanggaku juga ada yang memiliki kebiasaan seperti itu. Sering sekali membuang di selokan kecil (atau got) yang letaknya di sebelah sawah. Padahalkan seharusnya ia tau bahwa itu juga sumber air untuk petani.

Kenapa ya? Kalau aku pikir-pikir lagi sih, orangtua berperan penting banget dalam hal ini. Untuk menjaga dan mendidik anak-anak mereka untuk memiliki lifestyle hidup yang bersih.

Tapi faktanya lagi, masih banyak dari mereka yang membuang sampah di sungai! Suatu pagi saat kami hendak berjalan-jalan mengelilingi Dusun Sumber, kami berpapasan dengan seorang ibu yang hendak pergi ke sungai dengan sebuah ember hitam penuh. Kami menyapa dan bertanya ‘Mau kemana bu?’ Dan dijawab ‘Ke sungai mbak, mau buang sampah’ dan langsung melanjutkan aktivitasnya.

Dari 5 hari ku berada disana juga, sepertinya warga memang mengurusi sampahnya masing -masing, tidak ada yang namanya ‘Pengambil sampah’ yang datang ke rumah-rumah warga. Dan Bank Sampah yang dulu sempat ada, juga berhenti beroperasi karena masyarakat yang kurang berkontribusi. Berarti memang, mau tidak mau harus mengurus masalah sampah sendiri, kan?

Mungkin karena kurangnya informasi dan kesadaran diri itu tadi, yang membuat warga membuang sampahnya di sungai atau mungkin membakarnya. Ada tiga kemungkinan sih kenapa itu masih dilakukan (menurutku),

1. Males ribet

Indonesia banget ini …. tapi, kalau aku lihat lagi ya. Membuang sampah bagi orang indonesia kan umumnya memang hanya ‘Memasukkan semuanya dalam sebuah kantong plastik’ tanpa memilah, tanpa tau apa itu 3R atau bagaimana melakukannya. Mereka, sudah terbiasa dengan hanya membuang/membakar.

2. Kurangnya informasi

Nah, ini juga. Warga-warga tidak tau apa akibatnya nanti dalam jangka panjang setelah membuang sampah di sungai atau membakar sampah. Yang mereka ketahui adalah, sampahnya sudah hilang dari penglihatan mata mereka. Padahal sampah tersebut masih tetap akan ada wujudnya, bahkan sampai beratus-ratus tahun ke depan.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi juga. Telepon pintar seharusnya bisa mengatasi permasalahan ini. Apalagi ditambah adanya Televisi dan koran. HHHhhHHH

Atau seharusnya langsung dilakukan aksi nyata dari sebuah lembaga? Layaknya di kota-kota besar. Karena setelah aku membaca sebuah artikel milik Bapak Hamdani tahun 2018 di Kompasiana, aku baru sadar bahwa industri-industri besar melakukan program peduli lingkungan hanya di kota-kota besar saja untuk diliput atau dengan kata lain #pencitraan.

Tapi, sebenarnya ya … yang paling penting itu adalah

3. Kepekaan dan rasa sayang terhadap lingkungan dari diri sendiri

hahahaha ini kenapa jadi cheesy begini??

Kebanyakan mungkin juga sudah mengetahui apa yang terjadi dengan dunia. Tapi, tidak memiliki niat untuk melakukan apapun. Hmmmmm, susah juga kan?

Kalau sudah sampai seperti ini, menurutku sebaiknya RT/RW/Desa melakukan program Peduli Lingkungan untuk seluruh warganya. Karena peran penting dipegang oleh orangtua, seharusnya dapat mendidik anak-anaknya untuk dapat menjaga lingkungan dan kebersihan. Karena kalau tidak dimulai sekarang, hal ini akan berputar terus layaknya roda sampai nanti akibatnya baru terasa.

Salah satu hal lagi yang menurutku agak membantu anak-anak muda untuk menjaga lingkungan di kota-kota adalah dengan adanya beberapa trend dari Sosial Media. Yang membuat semakin banyak anak muda sadar dan mulai untuk take the new steps.

Sayangnya, di Dusun Sumber itu kebanyakan anaknya baru menggunakan telepon pintar untuk bermain game. Ini kembali lagi ke orangtua juga untuk mengawasi dan mendidik.

Hehehe, segini dulu untuk blogku! Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau banyak kata-kata yang salah

Bye!

Tinggalkan Komentar