Wah, hari terakhir! Gak kerasaaa, hari ke-4 kemarin juga terasa lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Kenapa ya?
Kami pagi itu akhirnya pergi ke pasar bersama Mas Gatot! Katanya sih, pasarnya jauh! Jadi penduduknya jarang pergi ke pasar. Tadinya, kalau kita ke pasar sendiri mau menggunakan sepeda. Tapi, Mas Gatot berbaik hati untuk mengantarkan kami ke pasar melewati sawah dengan berjalan kaki! Perjalanan pun dimulai pukul 5:40 pagi 🙂
Sebelum langsung ke pasar, kami ke rumah Mas Gatot dulu untuk memanggilnya. Kami sempat kebingungan bagaimana akan memanggilnya karena tidak ada tanda-tanda adanya manusia dari dalam.
Tapi kemudian, ia terlihat keluar dari rumah orangtuanya (kami naik ke lantai 2 rumahnya), ia menyusul dan mengambil jaket hitamnya. Kami segera berangkat ke pasar! tapi, sebelum itu pamit dulu ke ibunya Mas Gatot yang tengah memberi makan ayam-ayam.
Di jalan menuju pasar!
Rute kami melewati sawah untuk berangkat! Seger banget sih, hijau-hijau gitu dan basah karena embun. Sebenarnya tidak terlalu terasa sesuatu yang ‘WOOOOOW’ karena ya ….
tiap hari aku juga lewat sawah dan pas kecil juga sering banget main ke sawah setiap sore sampai ditegur petani. Tapi, pastinya ada charming point yang berbeda lah yawww /hiyahiya/
Pertama,
Yang aku lihat disini tuh, tanamannya kebanyakan padi dan cabai! Banyaaaak bangeeeet. Entah hanya penglihatanku saja atau bagaimana tapi, jagung lebih jarang(?)
Soalnya kebetulan, kalau di daerah rumahku orang-orang lebih sering menanam padi, cabai, dan jagung. Disana pastinya ada, cuman lebih banyak petani yang memilih menanam padi dan cabai.
Tidak bisa dipastikan juga mengapa, karena petani tuh memang punya favoritnya masing-masing! Kalau ditanya ke petani yang menanam cabai pasti, jawabnya karena lebih gampang dari menanam tanaman yang lain. Dan jika ditanya ke petani jagung, mereka juga akan menjawab hal yang sama! Hahaha
Jadi, memang sesuai selera sih! Karena kan pengairan disana tidak memiliki kesulitan juga.
Kalau masalah cepat panen … jagung malah lebih cepat dari padi atau bahkan padi merah!
Kedua,
Ada sampah di sawah! Sewaktu jalan ke pasar, aku melihat ada bungkusan makanan semacam wafer keju. Hmmmm sepertinya anak-anak disini masih kurang dalam hal buang sampah pada tempatnya T.T kenapa ya?
Ketiga,
Satu hal yang membuatku berkata ‘WOWWWW’ adalah setelah Aruna menunjuk kearah belakangku dan terlihat Gunung Semeru dan Gunung Merapi yang berada disamping satu sama lain! Wah, biasanya dari rumahku hanya merapi yang terlihat!
Dan ya, sepanjang perjalanan kami menikmati udara di pagi hari ~
Oiya, aku juga melihat ada pembibitan cabai juga seperti milik Ibu Ika!
Makan bubur super murah~ (•o•)
Tempat bubur ini sepertinya hits banget sih, karena RAMeEeee banget! Semuanya berburu sarapan iniiiii. Banyak yang dibungkus juga soalnya!
Kami memesan 3 bubur pedas (ini porsinya banyak banget!!!!) dan segelas air putih (untukku dan Aruna). Kami juga mengambil 2 gorengan/orang. Ada yang bisa menebak berapa uang yang kami habiskan?
Jeng jeng jeng
Rp 12.000 saja!
Jujur, aku kaget. Aku pikir satu porsi mungkin akan seharga Rp 5.000 :’)
Rasanya sih, pedas. Itu saja yang kuingat, mungkin besok lagi akan ku pilih yang tidak pedas agar bisa fokus ke rasa aslinya. Bubur itu tersaji dengan beberapa potongan kecil tahu dan kacang panjang. Porsinya lumayan banget, kami sampai makan lumayan lama karena harus diproses secara perlahan hahahah
Pasar Talun!
Hmmm, ini bodoh sih. Kami tidak bertanya apapun ke pedagang! Tapi, juga salah satunya karena kami harus pulang siang itu jam 1 (((alasan))) jadi kami di Pasar Talun benar-benar hanya untuk belanja dan jajan untuk 30 menit.
Ibu Ika sudah memberikan kami list titipan belanjanya. Beliau bilang punya lele goreng di rumah jadi, kami hanya ikut saja untuk pagi itu. Hanya membeli bawang merah, bahan-bahan jamu, dan tahu disebuah toko di dalam pasar.
Pasarnya lumayan besar! Dan ramaiiiiiii. Ada berbagai macam yang dijual disana seperti kebutuhan makanan sehari-hari, baju-baju, dan bahkan tempat-tempat makanan/minuman. Kami juga sempat jajan beberapa hal hehe. Ada gethuk, tahu bakso, dorayaki blueberry, dan juga semacam adonan panjang bertaburan gula bubuk. Kami menghabiskan Rp 13.500 untuk jajan itu dan langsung berjalan balik ke sanggar
Perjalanan ke sanggar . . .
Pulang ke sanggar, matahari yang sudah naik berada di depan mata kami persis. Wah, sungguh menyenangkan UwU diperjalanan pulang ini, kami mencoba membuat percakapan dengan Mas Gatot dengan tradisi di Sumber ((crosscheck)) karena kepala kami kan pusing banget ya …. tapi lalu, Mas Gatot menjelaskan bahwa pembagiannya itu ya tergantung berapa orang yang datang dan berapa banyak makanan yang dibuat.
Uhm … oke … kemarin complicated banget soalnya, udah kayak pertemananku saja T.T /eh malah curhat/
Diperjalanan pulang ini, kami melihat beberapa warga Desa Dukun, tengah membuat got di samping jalan besar. Ada lumayan banyak warga yang ada dan semuanya turun tangan! Kami pun melanjutkan perjalanan.
Kembali ke Sanggar!
– Bekel : Ini kalau di upin-ipin, Mei-mei jagonya! Misalnya, ada 6 batu. Nah, kamu harus mengambil satu per-satu dengan caraaaa …
1. Lempar bebas 6 batu secara bersamaan (ini menentukan lokasi batunya ya, tidak boleh berpindah).
2. Biasanya ada 1 batu yang akan dijadikan semacam ‘ketua’. Jadi, batu itu yang akan lempar ke atas. Jadi lempar keatas, ambil batu lain(boleh langsung berapa banyak pun), dan tangkap batu yang kamu lempar ke atas tadi. Jadi, HARUS GESIT BANGET. Aku juga gak jago-jago amat ini, katanya kemampuan motorikku lemah T.T
(Kalau belum mengerti, silahkan menonton mei-mei bekel di youtube. Terimakasih)
– Yeye : Lompat tali dengan karet!
– Engrang : Permainan tradisional yang terbuat dari bambu dan benar-benar membutuhkan keseimbangan! Tau kan?
– Pong-pong bolong : Semuanya mengepalkan tangan dan menyusunnya tinggi. Bernyanyi
‘Pong-pong bolong, gulu merah, gulu sapi. Pecah endhog e …… (siji/kabeh) BYAR!
Riuri-riuri mbyang ambyang widadari mak cleret kembang e opo?
Kembang …..
Kembang ……. si ……
Nah, intinya yang terakhir itu kalian harus membuat tembang!
Setelah itu juga, Aruna sempat belajar nembang lho. Nembang Pangkur. Aku sih, sudah pasti tidak bisa ya hahahaha. Pokoknya kata Pak Untung, kalau belum bisa tidak boleh berhenti. Soalnya, kalau sudah bisa pasti langsung tertanam (katanya dulu beliau tidak tidur semalaman untuk belajar nembang). Setiap lagu punya guru lagu sendiri dan setiap orang punya *cengkok-cengkok masing-masing.
*cengkok : ciri khas suara.
Renata, oleh-oleh, mandi, packing 🙂
Kami sempat bermain bersama Renata yang tengah disuapi makan, dia ini makannya susah banget!! Kami sampai ngakak+bingung cara nyuapinnya karena harus nunggu mulutnya terbuka dulu dan langsung ‘hap’ masukkan bubur bayinya.
Setelah itu, kamu bersiap-siap pulang! Wihiii, sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk kami packing-packing dan mandi. Kami juga memberi oleh-oleh kecil untuk Ibu Ika, berupa dompet dan sabun. Dan juga, foto keluarga di depan sanggar bersama Pak Untung, Lendra, Ibu Ika, dan Mas Thur.
Setelah itu, sambil menunggu Pak Sis datang, kami duduk/tiduran di area gamelan bersama Mas Thur. Ia ini salah satu pemuda di Dusun Dunber (uhmmm gapapa lah masukin kategori pemuda aja).
Kayaknya tidak banyak cerita soal Mas Thur, tapi sebenarnya aku dan Aruna juga banyak mengobrol dengannya. Seperti saat tiduran ini, kami sempat membuka facebook dan mencari pacar Mas Gatot HAHAHA soalnya Mas Thur gak punya :b kemudian berkolaborasi indie gamelan😂 ya pokoknya kami akhiri dengan tertawa-tawa.
Tepat, saat angkot Pak Sis terlihat. Bu Ika mengajak kami ke rumah Sekar untuk tradisi ‘Among-among’ memperingati hari kelahiran berdasarkan penanggalan jawa. Sayangnya, kami hanya dapat menikmati beberapa suap nasi, urap, dan kerupuk. Yang menikmati juga terlihat hanya kerabat-kerabat terdekat saja. Setelah itu kami langsung naik angkot~~
Angkot – Bis Cemara Tunggal
Selama perjalanan di angkot yang aku rasakan sedikit mual. Entah kenapa. Mana ada permen di kantong. Hmm, cobaan besar.
Dan perjalanan pulang ini jauh lebih cepat! Tiba-tiba saja aku langsung melihat jalanan kota dan boom, sampai di terminal Muntilan dengan selamat.
Kami harus menunggu bis Cemara Tunggal lumayan lama. Mungkin sekitar 1 jam kalau dihitung. Kata bapak-bapak petugas bis sih, setelah yang dari Muntilan berangkat, yang dari Jombor juga berangkat.
Selama menunggu ada seorang bapak-bapak yang mendekat ke kami. Duduk di belakang kursi kami dan berbicara sendiri, kemudian berusaha berbicara ke kami. Aku agak merasa tidak nyaman jadi, aku berdiri dan sesekali memperhatikannya. Kemudian, setelah 30 menit akhirnya berjalan berpindah posisi. Syukurlah, dia terlihat seperti ingin mengganggu soalnya.
Kemudian kami mengobrol dengan seorang bapak yang menunggu bis Cemara Tunggal juga. Beliau dari Kalimantan, pindah Jogja kelas 3 SD bersama orangtua dan sering ke Muntilan untuk mengambil rongsokan karena di Jogja banyak saingan. Beliau juga bercerita bahwa dulu Jogja enak hawanya, sejuk apalagi untuk bersepeda. Yang kemudian disetujui olehku dan Aruna.
Tadinya juga, aku ingin menanyakan nama beliau. Tapi, sepertinya tidak ada waktu yang pas dan akan malah terlihat aneh jika aku bertanya nama. Jadi, aku mengurungkan niat.
Bis kami kemudian datang! Akhirnyaaa! Penumpang di bis kali ini lebih bervariasi sih, lebih ke sama tujuannya, untuk ke Jogja (maksudku tidak banyak yang turun ditengah jalan, hampir semua turun di terminal Jombor).
Selama di bis, yang aku lakukan adalah mengamati jalanan. Cukup banyak kendaraan yang ada di jalan hari itu, mungkin karena hari jumat ya. Sempat macet juga tapi, kemudian lancar kembali. Sampai seorang simbah laki-laki masuk dan mulai mengucapkan permintaan restu untuk nembang dalam bahasa Jawa.
Jujur, aku tidak mengerti satu kalimat penuh tapi, ada beberapa kata yang ku tangkap menghasilkan bahwa tembang itu adalah tentang dunia dan akhirat. Diakhiri dengan pentingnya untuk tidak meninggalkan sholat 5 waktu sehari-hari. Wow, keren juga sebenarnya, sangat lantang. Kemudian, beberapa meter sebelum sampai di terminal, beliau turun dengan uang-uang yang diberikan penumpang bis dan mengucapkan terimakasih terutama kepada supir dan kondektur.
Sesaat sebelum sampai, sebelum bis memutar balik memasuki terminal. Seorang mbak-mbak yang ternyata adalah mahasiswi ini menuruni bis, namun kemudian terlihat masuk lagi ke dalam. Sang kondektur pun bingung. Rupanya, ia tidak tau jika bis akan memasuki terminal. Aku mengetahuinya karena mendengar percakapannya dengan sang kondektur tepat saat bis memasuki terminal.
Yeay! Kami akhirnya sampai dengan selamat! Kami menuruni bis dengan perlahan sambil memegang tas yang berada di pangkuan. Tepat saat akan turun, aku menengok ke belakang untuk mengecek apakah ada yang tertinggal dan ternyata ada! Sesuatu berwarna hitam yang ternyata adalah topi milik Aruna. Reflek, aku langsung kembali dan hampir menjatuhkan tasku. Untuk sang bapak kondektur baik membantuku mengangkat tas dan turun dari bis.
Ekspedisi triwulan pertama kami berakhir sampai disana! Hehe
Rasanya, legaaa. Karena jujur, sama seperti waktu refleksiku saat hari ke-3 bahwa ada rasa tekanan dari dalam diri sendiri. Dan sampai detik ini juga, aku sedang berusaha untuk settle it down.
Tapi, asik kok! Aku mencoba hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, benar-benar ditinggal tanpa jadwal ditempat yang juga belum aku ketahui dengan sangat dalam sebelumnya. Awalan yang terlalu menyenangkan dan selo (Kakak-kakak Jaladwara sangat setuju dengan point ini). Ada BANYAAAAK hal yang masih perlu dilatih lagi tapi, seperti series film yang sedang ku tonton sekarang. Katanya ’Trust the process’ /cie ilaaah/
Ya, semoga ke depannya bisa JAUH lebih baik lagi dari ini. (‘HARUSSSSS’ kata kakak-kakak Jaladwara yang tengah membaca).
byebyeee





























