Haiii, Gya disinii. Beberapa hari yang lalu aku dan Aruna dapat tantangan baru lagi nih! Kami harus berkeliling-keliling sekitaran rumah dan mencari minimal 2 narasumber! Hope you enjoy reading ❤
Hari pertama, 12 November 2019
Siang itu pukul 14.00, aku berangkat dari rumah. Pikiranku sih, hanya ingin berputar-putar saja. Dari arah utara dahulu, lalu ke arah selatan dan ke barat (sekalian ingin ke pasar untuk membeli ikan buat kucing di rumah!).
Aku langsung mengayuh sepeda ke arah utara, menuju ke jalan yang biasa dilewati oleh para petani dan warga setempat. Jalannya berpasir dan berbatu. Tidak bisa dibliang jalan kecil sih, karena mobil masih bisa melewati jalan tersebut.
Jalannya dikelilingi oleh sawah. Tapi, siang itu tidak terlihat keberadaan bapak/ibu petani. Hanya ada sinar matahari yang setia memancarkan sinarnya.
Sampai sekitar beberapa meter kemudian, aku melihat beberapa sepeda motor terpakirkan di sisi jalan. Tapi, tidak ada orang yang terlihat! Hingga kemudian setelah aku mengayuh lagi, aku melihat sekumpulan ibu-ibu petani yang sepertinya sedang mencabuti sesuatu di bawah tenda terpal berwarna biru. Aku tidak dapat melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan, tapi yang pasti mereka melakukannya sambil berbincang/bercanda dengan satu sama lain! (aku melihat beberapa memperlihatkan giginya).
Sempat terpikirkan olehku untuk berhenti dan menyusul mereka ke tengah sawah. Tapi kemudian, aku memilih untuk tetap melaju karena ingin mencari hal yang lain.
Setelah melewati sawah-sawah, aku melewati rumah-rumah warga. Sebenarnya sudah sering sih lewat sini! Dulu kalau Kumon atau jalan sehat bersama ibu, pasti lewat sini.
Kemudian seiring aku mengayuh, terlihat warna oranye cerah dari sebelah kananku- arah timur. Tiga nenek terlihat sedang mengupas jagung dari kulitnya. Aku lalu berhenti karena melewati gang rumah tersebut (rumahnya agak menjorok ke dalam, tidak di tepi jalan). Kemudian aku membalik arah dan berhenti- ralat, bersembunyi dibalik tembok rumah yang berada disebelah selatan ‘gang’ itu.
Aku kemudian berpikir ‘Haruskah aku datangi?’ uhm …. ‘Masuk gak ya?’. Kira-kira butuh sekitar 3 menit sampai akhirnya aku memberanikan diri dengan mindset ‘Yaudahlah, apapun yang akan terjadi, yang penting udah dicoba’.
Aku membelokkan sepeda ke arah kanan, dengan posisi sudah aku tuntun. Membuka masker dan memperlihatkan senyumku. Nenek-nenek itu menyapaku ramah dengan pertanyaan sejenis ‘Ada apa?’ dan ‘Mau ngapain?’.
Dan … kata-kata yang keluar dari mulutku adalah … ‘Hehe, mau tanya-tanya sedikit boleh?’. Sungguh cara yang bagus untuk memulai, bukan?
oke, itu tadi sarkas.
Mereka langsung menjawabnya dengan sangat ramah dan tersenyum ‘Oh iya siniiii, bolehhhhhh’. Aku lalu menempatkan sepedaku di depan joglo rumah, di samping pot-pot bunga dan langsung naik ke teras rumah itu.

Perkenalkan! Nenek yang menggunakan jilbab berwarna hijau adalah Mbah Wardoyo. Yang duduk diatas adalah Mbah Mul dan yang dibelakang sana adalah ibunda dari Mbah Yoedjim.
Mereka sedang panen jagung (biasanya untuk makan ayam dan brondong). Dalam setahun katanya akan panen jagung/kacang dan padi. Padi dua kali dan Jagung satu kali.
Setelah dilepas semua kulitnya dan dijemur, nanti akan diangkut oleh peternak ayam (rumahnya di ujung utara jalan!) menggunakan, nanti akan digiling dengan mesin.
Rumah tempat kami mengupas kulit jagung ini adalah rumah Mbah Mul. Beliau diberi kepercayaan oleh pemilik rumah yang sudah meninggal untuk menempatinya. Sementara anak dan cucunya merantau semua di luar Jogja (di Jakarta dan di Bandung).
Mbah Mul tinggal di rumah itu sendirian, padahal rumahnya tergolong cukup luas, bahkan setelah bagian utaranya disewakan ke orang lain. Sebelah timur rumahnya adalah dapur dan warung kecil milik Mbah Mul. Berjualan sembako, permen-permen, dan krupuk.

Sudah mulai bertani sekitar 10 tahunan, karena tidak ingin menganggur di rumah (Wow, keren ya?). Tapi, dari kecil memang sudah mulai bertani dengan orangtua. Rumah dan sawah, semuanya turunan dari orangtua (kecuali Mbah Mul yang pindah).
Memilih menanam jagung karena kalau dijual hasilnya lumayan, dijualnya per/petak sekitar 1-2 jutaan. Kalau cabe kata Mbah Wardoyo ‘Tidak ada tenaganya’.
Satu petak ditanam bersama-sama kalau di desa. Ya kira-kira 6-7 orang. Tidak sampai sepuluh pokoknya hahaha. Setiap pagi mengusir burung di sawah tapi, kalau banyak yang menanam ya tidak perlu (burungnya mencar mencari makan).
Mbah Mul, pemilik rumah ini tinggal sendirian karena suaminya telah meninggal (sudah lupa kapan, kata beliau) dan anak-anaknya semua merantau. Di Jakarta 2 anak dan di Bandung 1. Kata Mbah Mul sih, anak dan cucunya jarang pulang ke Jogja. Bahkan ketika lebaran sekalipun.
Tapi, beliau sempat tinggal di Jakarta 3 bulan. Karena Merapi meletus tahun 2010. Tapi, di rumah ponakannya dan katanya tidak betah hahaha.
Keseharian Mbah Mul ya hanya di sawah atau di rumah. Bahkan ke pasar saja jarang, karena sudah langganan dengan pedagang sayur keliling yang naik motor atau ambil dari hasil tanamnya/tetangga. Kalau dagangannya di warung itu, beliau menitipkan ke tetangganya untuk membeli bahan-bahan di pasar.
Mbah Mul bilang, sehari-hari tidak punya target untuk hasil bertaninya. Beliau berkata ‘Yo nek kesel, turu‘ (kalau capek, tidur), ‘Mulainya terserah, jam berapa aja. Nek capek yo mandheg‘ (kalau capek ya berhenti) kata beliau saat ditanya pukul berapa mereka memulai aktivitas.
Mbah Wardoyo dengan ibunda-nya ternyata hanya akan membantu sampai adzan Ashar berkumandang setiap hari ya, beliau kemudian pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitas sebagai ‘Nenek’ dan ‘Ibu rumah tangga’. (Saat mengobrol, sepertinya beliau suka menonton televisi di waktu senggang!).
Di waktu itulah sebenarnya aku juga ingin pamit, tapi kasian dengan Mbah Mul yang sendirian. Jadi, aku memutuskan untuk berada disana lebih lama lagi.
Mbah Mul ini umurnya sudah 80an, tapi masih kuat banget! Masih bisa membungkuk untuk mengambil kulit jagung dan membakarnya, menata jagung-jagung di atas terpal, dan melindungi mereka dari air hujan.
Kenapa kulit jagungnya harus dibakar?
Jawabannya sih, karena dari dulu memang seperti itu. Berbeda dengan daerah bandung yang memanfaatkannya menjadi jenang.
Setelah membantu Mbah Mul memasukkan jagung-jagung ke terpal (karena langit agak gelap, tanda kemungkinan akan hujan) aku pun pamit. Dioleh-olehi sebuah krupuk diplastik yang- tidak bisa aku tolak itu, aku pun pulang.
Tapi, aku tidak langsung pulang begitu saja. Aku memilih untuk pulang lewat jalan yang lebih jauh (naik ke arah utara dulu, lalu belok ke arah barat dan baru turun ke selatan).
Di perjalanan pulang, aku melewati tempat peternak ayam yang terlihat terdapat 2 pemuda sedang sibuk dengan kendaraan mereka. Lalu, aku berbelok ke arah barat melewati sebuah minimarket dengan seorang nenek yang tengah duduk menonton jalanan. Aku tersenyum sambil menundukkan kepala yang disambut dengan senyuman juga.
Bertemulah aku dengan jalanan yang lebih besar. Banyak motor dari arah utara maupun selatan. Aku pun langsung menuju ke arah selatan.
Saat sedang menikmati perjalanan (kan turunan jalannya) aku melihat sebuah keluarga tengah panen jagung juga! Berniat untuk kembali dan merekam hal tersebut, eh! samar-samar aku melihat ada sepeda juga dari arah utara yang tak asing. Aku tak yakin tapi kemudian juga aku tau bahwa itu Aruna! Ia berpakaian santai tanpa mengenakan helm ataupun tas dipunggungnya.
Ternyata Aruna hanya sedang bersepeda saja. Kami berbincang sedikit lalu turun sampai ke arah gang menuju rumahku (karena sudah agak gelap). Berhenti sebentar untuk mengobrol di pertigaan yang kemudian terhenti karena sebuah mobil membunyikan klaksonnya.
Kami lalu berpisah dan pulang!!
Sebenarnya pada tanggal 13 November, aku juga pergi berkeliling. Tapi, tidak menemukan 1 narasumber pun! Hanya dapat oleh-oleh kulit yang gosong setelah bersepeda di jam 12 siang (paginya aku ke rumah Mbah Mul lagi!).


14 November 2019
Pagi itu, aku berangkat jam 8 dari rumah. Hari itu, niatnya akan pergi ke arah selatan. Ke sawah-sawah yang sering aku lewati ketika bersepeda ke kantor ibu.
Matahari belum bersinar terik, jadi masih adem gitu! (ya daripada jam 12 kan …) Jalanan juga ya … tidak bisa dibilang ramai juga. Aku bersepeda ke arah jalan Wali Sanga, lalu ke selatan lagi. Dan baru kusadari bahwa …. itu sebenarnya lebih dari 1 KM dari rumah! Meskipun sudah berputar 2 kali di tempat yang sama itu. Aku kembali bersepeda ke arah utara. Untungnya.
Aku lalu berbelok ke Jl. Taraman Lima. Bersepeda sampai ujung jalan sampai seorang Nenek dengan gendongan dibelakangnya (sepertinya mau panen) yang tengah mengobrol dengan ibu-ibu yang berada di tengah sawah menyapaku. Aku langsung memberhentikan laju sepedaku dan bertanya ‘Boleh liat sawahnya?’. Sang nenek dan si ibu langsung memperbolehkanku dengan semangat.
Aku lalu melihat-lihat sawah milik si ibu yang ternyata, tengah mencabuti rumput disekitar tanaman cabe miliknya. Sementara si nenek, tengah panen cabe di sawah sebelah.

Perkenalkan, Ibu Darwati namanya. Umurnya 41 tahun dan sudah bertani sejak kecil. Aku membantunya mencabuti rumput disekitar tanaman cabe beliau. Kami berbicara lumayan lama dan inilah beberapa hal yang kami bicarakan :
- Kami mencabuti rumput, biar kena matahari, dan tidak terserang hama. sudah beberapa bulan tidak dicabuti soalnya.
- Ibu Darmawati punya 2 petak sawah yang ditanami, satunya dekat gudang sampah, dan dua-duanya ditanami tanaman cabe. Satu petak sawah di Taraman tidak ditanami karena tidak ada air.
- Kalau musim hujan Ibu Darwati akan menanam padi, sedangkan kemarau akan menanam cabe/kacang.
- Dulu sempat kering cabenya, karena telat diairi.
- Tidak setiap hari harus ke sawah, hanya waktu panen saja ( sistem panennya itu ketika sudah banyak cabe yang merah, jadi belum tentu.)
- Ibu Darwati sehari-hari tidak pergi ke sawah. Hanya kalau sedang mau panen atau mengairi (apalagi kalau banyak yang nanem juga).
- Di daerah itu ada penggiliran air (setiap malem minggu), bergantian dengan Ngemplak yang menggunakannya di waktu siang hari.
- Terkadang tetap beli air (kalau kesusahan air) akan iuran dengan pemilik sawah yang lain. Biasanya 50.000-60.000/petak (standard-nya)
- Sewaktu aku kesana habis dipanen jadi tidak banyak cabe yang merah.
- Ketikaku tanya sejak kapan sudah bertani, bu Darwati langsung menjawab ‘Sudah dari kecil bertani, namanya aja anak petani’, lalu tertawa.
- Menurut bu Darwati, menanam jagung itu ribet perawatannya, jadi tidak pernah menanam jagung. Dan juga butuh air yang subur, karena kalau telat mengairi bisa langsung gagal panen.
- Beliau memiliki 2 anak, perempuan dan laki-laki. Yang paling besar perempuan, kelahiran 2000 bernama Yulia. Yang kedua laki-laki, kelahiran 2007 yang sudah kelas 6 SD.
- Ibu Darwati kadang bisa setengah hari berada di sawah. Kadang dzuhur pulang. Tergantung panas atau tidaknya hari itu.
- Hebatnya ibu Darwati adalah semuanya dikerjakan sendirian. Hanya jika panen saja akan dibantu dengan buleknya.
- Kata Ibu Darwati, saat hujan pertama (tgl 13 Nov) itu membuat tanaman kuning-kuning. Seperti membawa penyakit.
- Sekarang susah cabai merah keluarnya. Butuh waktu lebih lama.
- Dahulu harga cabai sekilo bisa mencapai RP 64.000 tapi sekarang menjadi Rp 19.000/kg.
- Tikusnya sudah merajalela sekarang!
- Ibu Darwati pindah ke Jogja menemani bapak beliau, setelah peninggalan ibu.
- Suami ibu Darwati tinggal di Ngawi.
- Saat merapi meletus, Ibu Darwati tengah berada di sawah. Beliau rupanya malah mengira itu adalah suara molen yang lewat.
- Akan beralih ke padi kalau airnya sudah melimpah. Mungkin bisa jadi di bulan Januari.
- Bapak dan ibu beliau berasal dari Jogja, dan beliau lahir dan besar disini.
- Ibu Darwati menempuh pendidikan di SD Gentan, SMP Gentan, dan SMK SUNEA. (Entah aku yang salah dengar atau bagaimana. Tapi, SMK SUNEA tidak ku temuka di google).
- Nnaknya yang perempuan les mata pelajaran UN di tempat mbak Wulan (seseorang yang aku kenal dari Perhimpunan Remaja Taraman).
- Sedangkan anak laki-lakinya les mata pelajaran di kelurahan yang diadakan setiap sabtu sore.
- Kegiatan bu Darwati setiap hari ketika menanam cabe adalah, pagi ke sawah lalu pulang ke rumah saat menjelang siang (panas), nanti sore ke sawah lagi. Kalau padi bisa lebih santai katanya. Apalagi kalau banyak yang menanam juga.
- Di bulan Ramadhan kemarin, sewaktu me-marit di sawah, saking semangatnya sampai kena jari kelingking hingga kuku beliau lepas.
- Beliau cerita jikalau punya rejeki, beliau ingin membangun rumah/toko di Taraman, lalu nanti dikontrakkan.
- Menurut Ibu Darwati lebih untung menanam cabe daripada tanaman lainnya. Apalagi padi karena terkadang banyak yang tidak ada isinya.
- Ketika menanam cabai ini, beliau membeli bibit seharga Rp 7.000/100 biji cabai.
- Ibu Dareati ini saudaranya banyaaak sekali. Dari sisi ayah dan sisi ibu. Jadi agak sedikit membingungkan bagiku. Tapi, salah satu kakak perempuannya bekerja di Bank Sampah disekitar sana.
Pukul 10.24
Karena matahari mulai menunjukkan sinarnya, aku pun ingin pamit pulang (bodohnya, aku tidak membawa botol minum karena aku kira akan pulang saat masih pagi), jadi aku ingin sekali pulang. Tapi, ternyata ibu Darwati berinisiatif mengantarkanku ke Bank Sampah (sekalian beliau akan pulang dan melihat sawahnya juga). Karena merasa ini waktu yang bagus, aku memutuskan untuk ikut pergi bersamanya.

Beliau lalu menunjukkanku sawahnya seiring kami mengayuh sepeda. Huft, aku sudah terbakar! Aku hanya berpikir untuk mampir sebentar dan bertanya tentang proses lalu pulang.
Sampai di Bank Sampah aku disambut hangat oleh 3 pekerja disana. Dua perempuan (salah satu dari mereka adalah kakak dari ibu Darwati dan satunya lagi merupakan ibu dari teman main masa kecilku) dan satu laki-laki.
Laki-laki tersebut bernama Bapak Andi, yang merupakan pengelola dari Bank Sampah.