Sore di Malioboro

Haiiii, Gya disini.

Kemarin pada hari Kamis 31 November 2019, aku dan Aruna diminta untuk pergi ke ‘Taman’ Museum Halte Vredeburg nih! Kami diminta untuk membawa peralatan untuk menggambar/sketsa dan bersiap-siap untuk tidak melakukan apapun disana. 

Yup! Kami akan mengamati sekitar sambil berduduk tenang disalah satu bangku. Dari awal sih, aku udah antusias banget! Terdengar menyenangkan bagiku.

Aku dan Aruna berjanjian untuk bertemu pada pukul 2 di Terminal Condongcatur. Kami memutuskan untuk berangkat terpisah karena, Aruna memiliki keinginan untuk mampir ke Toko Merah dahulu. Aku pun mulai mengayuh sepeda pada pukul setengah dua siang,

Saat aku mulai bersepeda, matahari sedang bersinar terik diluar. Untungnya, kendaraan juga tidak terlalu banyak siang itu. 

Aku bersepeda sambil menyanyikan beberapa lagu, aku menggunakan masker untuk bersepeda kali ini! Dan jujur, aku akan menggunakan masker juga untuk kedepannya hehehehe. Selain untuk menutupi mulutku agar bisa menyanyi-menyanyi sendiri, aku juga dibantu untuk tidak mengirup debu-debu/polusi.

Aku ingat ada sebuah mobil berwarna putih yang mendahuluiku dan melewati semacam tumpukan pasir/tanah secara cepat. Membuat mereka langsung berterbangan! Aku yang berada tak jauh dibelakang mereka pun harus menutup mata dan menahan nafas diwaktu yang bersamaan.

Jujur, panas banget sih! Aku juga memilih untuk menggunakan celana panjang dengan kaus dan jaket (pengalaman dari sebelumnya). Membuat hawa semakin lebih panas dan baju yang lebih berkeringat.

Saat melewati semacam training dorm untuk kerja di Jepang, terlihat beberapa dari keluarga dan peserta yang sudah bersiap disamping mobil. Sepertinya, mereka akan berangkat malam itu!

Semakin ke Selatan, kendaraan jauh lebih ramai. Aku bahkan melihat tetanggaku yang hendak pulang ke rumah dari sekolah. Aku tak menyapa karena memang kami tidak dekat dan ia adalah orang yang pemalu.

Saat berada di perempatan, aku tidak mengalami kesulitan! Ya, lebih percaya diri lah sekarang. Tidak grogi-grogi seperti awal-awal bersepeda. 

Nah, saat sudah lumayan dekat dengan terminal. Entah kenapa aku masih bisa mencium bau asap. Asap penbakaran sampah. Tidak pagi, tidak siang semuanya selalu ada waktu dimana orang-orang akan membakar sampah. Apakah mereka tau seberapa berbahayanya membakar sampah itu untuk kesehatan dan lingkungan kita?

Saat melewati Toko Merah, aku menengok sedikit untuk melihat keberadaan Aruna. Tapi, sepedanya sudah tidak ada. Aku pun meneruskan menayuh sepeda sampai Terminal Condongcatur.

Oiya, ini pertama kalinya aku bersepeda ke Terminal sendiri lho! Jujur, tidak mengalami kesulitan/ketakutan, yeay! 🙂

Di Terminal ….

Saat pertama kali melihat Aruna, yang aku sadari adalah pilihan baju kami lagi. Kali ini ia yang menggunakan semua serba pendek! Wah, sepertinya memang harus janjian besok hahahaha

Karena kunci sepeda Aruna yang masih berada di Jakarta, aku menguncikan sepeda kami berdua bersama ke besi disana. Kami pun masuk ke halte!

DI halte, lumayan ramai. Ya, ada beberapa orang yang tidak kebagian tempat duduk.

Kami menunggu bis untuk mengarah ke Malioboro sekitar 5 menit. Kemudian bis 2A datang. Sebenarnya, kami ingin naik bis 3A, bis yang tidak melewati perempatan Kentungan (karena pasti macet) tapi, kami dipaksa untuk naik bis itu!

Mas-mas yang berada di halte benar-benar berkata ‘Malioboro sini aja, udah naik, ayo naik!’ membuat kami kebingungan tapi, akhirnya mau tak mau ya kami naik!

Mungkin karena isi bis yang tidak ada banyak penumpang, membuat kami harus mengisinya. Kami harus ke arah Barat dulu, ke Terminal Jombor baru kami akan melewati Jl. AM Sangaji menuju Selatan.

AC bis ini sebenarnya tidak terlalu kencang, membuatku memutuskan untuk pindah ke kursi pojok kanan yang berada tepat dibawah AC. Sedangkan Aruna dipojok kiri.

Lalu mulai dari situ, sepanjang perjalanan aku habiskan tidur hehehehe. Enak banget tidur di Transjogja! Bayangkan saja diluar panas, masuk didalam ada AC, dan kursi empuk. Itu udah mewah sih. Aku ingat betul aku mimpi sesuatu, tapi sayangnya aku lupa jalan cerita dan tokohnya.

Aku benar-benar sudah terbangun saat berhenti di Halte Malioboro 1, tidak jauh dari halte yang kami tuju yaitu, Malioboro 3.

Kata Aruna sih, ada seorang mas-mas yang memperhatikanku dari awal dia masuk bis. Sayangnya, kepekaanku langsung mati begitu saja karena tertidur.

Saat kami sampai, belum terlihat keberadaan kakak-kakak disana! Tapi, tak lama terlihat Kak Rintha dengan baju merahnya. 

Karena aku belum makan siang, kami memutuskan untuk berkeliling mencari makanan. Yang diakhiri dengan makan di sebuah warung yang terletak di parkiran Pasar Beringharjo. 

Hanya aku yang makan. Kak Rintha dan Aruna tidak. Aku pun menikmati ayam dan terongku siang itu, sembari dengan kami yang mengobrol basa-basi tentang beberapa topik.

Setelah aku selesai makan (total Rp 13.000), kami pun kembali ke depan benteng. Tapi, Kak Inu masih belum terlihat keberadaanya. Kak Rintha pun sempat khawatir sampai didetik dimana Kak Inu terlihat menggunakan kaus yang sama. Ia langsung berubah hahaha.

Kemudian, kami duduk dibangku yang tersedia. Kak Khrisna menawari kami cookies buatannya dan wow! Enak banget. 

Setelah itu, Kak Inu mulai menjelaskan apa yang akan kami lakukan. Kak Khrisna juga sempat bercerita tentang pengalamannya travelling dan memiliki hari untuk tidak melakukan apapun. 

Awalnya, bingung sih harus mengamati apa. Karena ada banyak hal yang terjadi. Mulai dari, burung berterbangan, ibu-ibu heboh foto, bapak yang merokok disamping anaknya, murid-murid study tour, dan becak dengan tumpukan keranjang yang melebihi muatan.

Kami mengamati mungkin sekitar 30 menit, lalu kami pindah tempat ke seberang jalan dan mulai menggambar.

Aku awalnya lagi-lagi kebingungan ingin menggambar apa, tapi akhirnya jatuh pada lampu Malioboro yang khas sekali. Belum pernah aku perhatikan detail-detail kecil dari lampu itu. Dari yang tajam, yang tumpul, dan bentuk. 

Aku menghabiskan kurang lebih 20 menit menggambar lampu, yang kemudian aku lanjutkan dengan menggambar Bank BRI dibelakangnya. Aku memang lebih memperhatikan ke detailnya sih. 

Suasananya juga asik banget untuk menggambar dan me-rileks-kan pikiran. Aku sih suka! Meskipun gambarku juga jelek. Mungkin, akan lebih rileks lagi kalau sambil mendengarkan musik. Kalau versiku sih begitu.

Sekitar pukul 5, aku ijin untuk sholat sebentar. Ada masjid berwarna biru yang nyempil diantara bangunan Malioboro. Masjidnya bagus! Aku sudah beberapa kali kesana. Bersih, wangi, dingin, dan terjaga. 

Aku kemudian kembali dan menyelesaikan gambarku sedikit. Kami mengakhirinya dengan berfoto dan membahas hasil dari trip ke Pasar Pundong. Karena matahari sudah mulai tenggelam, kami pun pulang!

Aku dan Aruna kembali naik Transjogja lagi, kali ini kami bersama Kak Rintha menunggu bis bersama di halte. Bis kemudian datang sekitar 5 menit kemudian, lalu kami pamit untuk pulang duluan.

Didalam bis, sama seperti waktu berangkat tidak banyak penumpang. Ya, mungkin sekitar 7 orang. Kami memilih untuk duduk disamping kanan bis dan menikmati perjalanan pulang itu. 

Tapi, tak lama setelah kami naik. Kami ditanyakan halte mana yang dituju. Setau kami sih, bis itu langsung menuju Condongcatur. Tapi, ternyata salah. Kami disuruh turun di halte terminal Giwangan dan menunggu sekitar 15 menit untuk bis kedua yang harus kami naiki.

Di halte Giwangan ada banyaaaaak sekali orang yang menunggu bis. Bahkan karena haltenya kecil, terdapat kursi yang tersedia diluar halte untuk duduk menunggu.

Didalam bis yang kedua ini juga, tidak banyak penumgpang yang ada. Tapi, ada seorang penumpang yang tiba-tiba bertanya padaku sesuatu. Seorang bapak-bapak yang sudah agak sepuh, ingin tahu tentang helm yang kukaitkan pada tas. Ia bertanya itu helm/top dan helm untuk apa itu.

Sepertinya, ia sering melihat anak-anak bermain skateboard dan sepatu roda dengan helm seperti ini. Kemudia ia turun 3 menit setelah memulai percakapan.

Kami kemudian sampai di Halte Condongcatur sekitar pukul 7 malam. Hari benar-benar sudah gelap. Karena itu, kami langsung memilih pulang.

Aruna berada didepan dan aku dibelakangnya, itu karena lampu belakang Aruna mati. Naik sepeda malam hari sebenarnya seru, hanya saja agak sulit untuk melihat ujung aspal jalan. Bahkan Aruna sempat akan terjatuh karena tidak terlihat.

Kami sempat berhenti beberapa kali saat mengayuh pulang untuk minum. Sempat berpikiran untuk makan dulu tapi, sepertinya lebih baik cepat sampai rumah. Jadi, kami terus melaju.

Sampai didekat Pasar Gentan, tiba-tiba Aruna memberhentikan sepedanya dan seperti kehilangan penglihatan. Aku pikir awalnya karena lapar jadi, aku mencari tempat makan yang dekat. Sebelumnya, sempat beli minum dulu karena stok air kami habis.

Untungnya ada warung Mie Godhog beberapa langkah dari sana. Jadi, kami makan malam dan beristirahat sebentar untuk sekitar 30 menit. 

Kami kembali mengayuh pulang dan sampai di rumah pukul 8 malam 🙂

Sekian untuk cerita hari ini! Aku harap kalian suka 🙂

Dan ini sketch yang ku gambar di Malioboro sore itu! 

Overall,

Senang sih, bisa menikmati waktu seperti itu. Karena, aku belum pernah pergi keluar ruangan hanya untuk mengamati dan ‘Tidak ngapa-ngapain’.

Lebih berhati-hati dan tidak memaksakan sesuatu.

Sekian dan terimakasih,

warm hugs!

Tinggalkan Komentar