Aku berangkat dari rumah masih gelap! Sekitar jam 5 pagi. Aku dan Aruna berjanjian untuk bertemu di depan masjid yang biasa kami lewati.
Aku bangun pukul 4 pagi. Setelah sholat, aku langsung bersiap-siap. Hari ini akan panjang nih soalnya! Aku juga memilih baju dan memasak air untuk mandi. Pagi itu sebenarnya aku masih ngantuk banget! Baru tidur jam 1 pagi soalnya hehehe #anakdeadline
Sekitar jam 4.50, aku berangkat dari rumah. Diluar masih agak gelap. Bahkan tetanggaku yang sholat berjamaah di musholla belum masuk di rumah, beliau sedang berbincang dengan Pak Wandono, yang menjaga keamanan perumahan.
Jalanan didepan juga masih sepi, minimarket didekat rumah (yang tergolong buka awal) saja belum buka.
Samar-samar aku melihat Aruna dari kejauhan. Agak terkejut awalnya karena, ia menggunakan lengan panjang dan celana panjang. Lalu ia berkata ‘Kata ibuku harus tertutup dari sinar matahari’. Berbeda sekali denganku yang hanya menggunakan lengan pendek dan celana diatas lutut sedikit. Yasudahlah ya, kan senyamannya.
Kami pun lanjut mengayuh sepeda. Di jalan banyak orang-orang sedang jalan kaki pagi! Kebanyakan sudah agak sepuh (dari penampilannya), ketika kami lewat tak lupa kami ucapkan ‘Monggo’ atau menunduk sambil tersenyum. Ada juga beberapa orang naik sepeda.
Jujur saja, bersepeda enak sekali pagi itu! Meskipun ada rasa ‘Huah pagi sekali, aku belum siap’. Oiya, Federal sudah diperbaharui lho! Semuanya diganti kecuali badannya saja hahahaha, bahkan dia sudah punya lampu yang juga aku pakai pagi ini.
Kemudian, ditengah jalan aku mengingat bahwa kami belum merekam apapun! Aruna langsung mengeluarkan kameranya dan kami mulai mencoba berbicara. Jujur saja, aku suka vlog. Rasanya seperti punya teman berbicara tapi, momen dimana aku melihat diriku, aku langsung ingin menyelesaikannya hahaha.
Kami pun harus cepat melaju, karena takut terlambat. Aku mengalungkan tali kamera di leher dan merekam Aruna dari belakang. Berharap nanti di imovie bisa distabilkan dengan baik.
Semakin ke arah selatan, semakin banyak juga kendaraan! Tapi, ya belum terlalu banyak. Karena kami lebih pagi, jadi masih banyak juga toko yang tutup.
Kami sampai di terminal sekitar pukul 5.30, memang niatnya ikut bis pertama. Saat sampai, ada 1 bis Trans Jogja yang terparkir didalam halte. Entah kenapa, karena kami lebih pagi atau karena itu hari Sabtu, tidak ada banyak sepeda disana! Biasanya sepeda kami harus nyempil-nyempil ditengah-tengah. Tapi, kali ini tidak.
Berhubung kunci hanya satu, kami posisikan sepeda sangat dekat dengan satu sama lain lalu menguncinya. Kami pun masuk ke dalam halte.
Tak perlu ribet sekarang, aku sudah memiliki kartu! Kebetulan karena sekarang lebih sering menggunakan Trans Jogja (thanks to Jaladwara!) Aku jadi meminta kartu e-money kepunyaan ayah.
Sampai di halte, kami langsung duduk. Tak ada banyak orang berada disana, hanya ada 1 penumpang lain. Sebelum masuk ke dalam bis, aku menyempatkan untuk mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Tapi, tak lama bis kami datang.
Sama seperti di halte, di bis pun dalamnya hanya ada seorang bapak dengan kopernya. Posenya santai banget hahahaha. Duduk dengan kaki diletakkan diatas koper.
Bis ini beda dari bis-bis yang kita naiki sebelumnya, rutenya beda! Awalnya agak panik sih, takut salah. Tapi, setelah ditanya ke mbak-mbaknya dibalas dengan anggukan kami langsung lega.
Sepanjang perjalanan bis kami habiskan membahas festival untuk halloween dan juga membahas hal-hal yang baru terjadi. Semakin menuju ke selatan, semakin bertambahlah penumpang di dalam bis. Aku sempat berbincang dengan seorang nenek yang merupakan penumpang langganan bis ini.
Beliau rupanya akan pergi bekerja, beliau menggunakan fasilitas Trans Jogja sehari-hari untuk berangkatnya saja. Dikarenakan mobil jemputan dari kantor dirasa terlalu pagi oleh beliau.
Beliau sudah sangat dipercaya oleh kantor, sehingga diumur 71 tahun masih dipercayai untuk bekerja. Anak-anaknya tinggal jauh dari rumah, sekarang sedang menatap di Amerika Serikat. Biasanya pulang hanya 2 tahun sekali.
Eyang juga bercerita bahwa tulang didaerah jempol kakinya sakit. Maka dari itu, beliau harus sering berjalan. Sebenarnya eyang ini gaul banget lho, kuku kakinya saja berwarna sparkly pink gitu hahahaha
Sesaat sebelum aku dan Aruna turun, aku menyempatkan bertanya tentang Pasar Pundong. Eyang pernah kesana tapi, sudah lama sekali kata beliau. Kemudian aku dan Aruna pamit, beliau langsung mengatakan ‘Iya, hati-hati ya’ sambil menyentuh lenganku.
Kami sampai di Halte Museum Perjuangan 15 menit lebih awal dari jam yang dijanjikan. Sambil menunggu, aku mengeluarkan lagi bekalku sambil merenggangkan otot-otot badan.
Sekitar pukul 6.30an terlihat Kak Inu, Kak Rintha, dan Kak Khrisna dari seberang jalan. Saat melihat mereka, aku langsung mengatakan hal yang sama saat aku melihat Aruna, ‘Aduh, kok celana panjang semua?’.
Saat mereka sudah menyebrang, Kak Inu langsung bertanya tentang plan kami (Bagaimana kami akan berangkat ke Pasar Pundong). Yang kami jawab dengan jawaban ‘Ke terminal Giwangan kak’. Tapi, ternyata oh ternyata. Bis ke Parangtritis juga melewati jalan itu! Kata mas-mas yang menjaga kounter Trans Jogja sih selalu lewat, bahkan katanya lagsung sampai pantai. Kami menunggu tak begitu lama, mungkin sekitar 5-10 menit dan langsung terlihat bis itu.
Jujur, itu pertama kalinya aku menaiki bis kota seperti itu! Dulu seringnya karena, sekolah yang menyewa. Aku lalu duduk disebelah Aruna.
Sepanjang perjalanan menuju ke Pasar Pundong, hanya ada 2 pikiran dikepalaku. Ini bagaimana caranya bilang bahwa kita ingin turun dipertigaan yang menuju ke Pasar Pundong dan bagaimana bayarnya? Film-film yang pernah kutonton sih selalu menepuk pintu dan langsung memberikan uang begitu saja.
Karena aku terus menerus berpikir dan jadi tidak tenang. Aku memutuskan untuk bertanya kepada bapak-bapak yang duduk diseberang kriku. Tapi, ia jawab dengan jawaban ‘Waduh, kurang tau mbak. Saya bukan orang sini’. Haduh. Anehnya juga, orang-orang tidak ada yang turun. Tapi, ada beberapa yang naik.
Didalam bis, penumpangnya lumayan banyak. Bisa dibilang hampir penuh ketika kami naik. Beberapa terlihat akan berangkat kerja, ke pasar, ke pantai, atau bahkan berjualan.
Karena bapak-bapak disebelah kiriku tidak mengetahuinya, aku memutuskan untuk bertanya kepada 2 orang laki-laki dibelakang. Mereka menamai diri mereka sendiri sebagai ‘Abang’. Salah satu dari mereka berkata ‘Tenang, abang lewat sini tiap hari kok. Sudah agak dekat’ meskipun, pada awalnya mereka juga bingung ada nama ‘Pasar Pundong’.
Lagak mereka sih … agak kurang meyakinkan, jadi aku memilih untuk jalan kedepan, bertanya kepada yang mengemudi langsung. Saat sudah bertanya, dengan serentak mengatakan sang supir dan penumpang-penumpang disekelilingnya mengatakan ‘Oh, masih disana mbak!’. Oh yasudah, aku kembali duduk dan mulai menikmati perjalanan.
Jalan Parangtritis sebenarnya mengingatkanku dengan berangkat sekolah yang kulakukan dulu. Wow, sudah 4 bulan?
Lalu bis berhenti dipertigaan, kami pun membayar dan langsung turun dari bis! Misi pertama, sukses! Kami langsung lanjutkan untuk berjalan menuju Pasar Pundong.
Di perjalanan, banyak sekali motor yang lewat. Entah kenapa, yang kurasakan sih seperti itu (apa karena kita menunggu pickup/truk?). Sembari berjalan, aku melihat banyak sekali puntung rokok dan sedotan ditanah yang kulewati. Entah kenapa, jarang ada sampah lain selain dua itu.
Kami berjalan sekitar 1 KM, sampai tiba-tiba ada satu truk merah besar yang berhenti. Padahal kami menunjukkan jempolnya malu-malu hahaha, bapaknya peka ya! Karena hanya cukup untuk 3 orang jadi, hanya aku, Aruna, dan Kak Khrisna yang menaiki truk ini.
Truk ini ternyata akan pergi ke goa Jepang untuk mengangkat pasir. Beliau melakukan hal ini minimal 5 kali sehari (pulang-pergi mengambil pasir) dan dilakukan setiap hari. Perjalanan cukup singkat karena kami juga sudah berjalan cukup jauh!
Kak Inu berkata untuk menunggu mereka di depan pasar jadi, itu yang kami lakukan. Setelah turun dan berterimakasih, kami berdiri dan menunggu di depan pasar. Wow, ada banyak sekali ayam! Entah akan dilombakan atau dimakan.
Kami menunggu sekitar 10 menit, lalu masuk ke dalam pasar bersama dengan Kak Inu dan Kak Rintha yang berakhir berjalan. Sewaktu masuk, aku langsung dapat melihat pengerajin besi yang sibuk deng peralatan mereka. Semakin masuk lagi, ada banyak sekali hal didalam.
Sebelum berkeliling, kami sarapan dulu! Menu pagi itu adalah telur, terong, tempe, dan mangut lele. Hm, mangut lelenya beda banget sih dari warung langgananku. Rasanya seperti lebih pekat dan beda. Kami juga sempat mengobrol.
Setelah itu, aku dan Aruna langsung berkeliling! Jujur, menge-vlog sangat sulit. Apalagi di pasar! Semua orang akan menatapmu sambil nenawari dagangan mereka. Ditambah lagi memang aku, anaknya tidak suka berada didepan kamera.
Di pasar, aku tak tau arah. Pasar Pundong kalau bolehku deskripsikan dengan 1 Bahasa Jawa adalah ‘Mbingungi’. Tak tau arah dan semuanya ada dimana-mana. Termasuk parkir.
Kami hanya berjalan terus dan kemudian berhenti disalah satu tempat penjual cendol. Cendolnya murah banget! Hanya Rp 2000 dan rasanya lumayan enak. Nenek yang menjual bernama Harsiah, setiap hari berjualan disana. Kami cukup menghabiskan banyak waktu berbincang.
Kami lanjutkan berjalan menuju (entah kemana, aku benar-benar buta arah) kami sampai ditempat mbah-mbah yang menjual cucur berwarna pink. Saat kami tanya, si mbah menjawabnya dengan Bahasa Jawa Krama. ‘Waduh, susah ini’ batinku. Jujur, aku mengerti kok Bahasa Jawa! Tapi ngoko yang lancar jaya kayak jalan tol hehehe. Satu hal yang ku banggakan dari diriku, aku mengucapkan ‘Ngagem niki mawon, mbah‘ saat beliau mengambil satu bungkus plastik. Yeaaahh, kulo niki wong yogja je!
Karena sempat kesulitan, sepertinya itu mengundang perhatian ibu-ibu yang berjualan tepat disebelah tempat simbah.
Beliau bernama ibu Sri Wedari, sudah berjualan di Pasar Pundong selama 34 tahun lamanya sejak beliau lulus SMP. Karena tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi oleh orangtuanya, ibu Sri Wedari memilih untuk berjualan sembako. Dana awalnya dihasilkan dari menjual gelang emas pemberian eyangnya seberat 5 gram yang sewaktu itu, masih serharga Rp 37000. Ia menikah saat berumur 19 dan tetap melanjutkan untuk berjualan sembako.
Dahulu, beliau masih harus mengambil barangnya sendiri dari Pasar Beringharjo dengan sepeda dan keranjang. Tapi, sekarang semuanya sudah diantar tepat sampai ditempat dimana beliau berjualan. Ibu Sri Wedari melakukan semuanya dengan mandiri, suaminya memiliki profesi sendiri.
Ibu Sri Wedari berjualan dari pukul 6.30 sampai 12.00. Dahulu pada jaman Pak Soeharto, jualan sembako ibu Sri Wedari akan ramai pengunjung. Tapi, sekarang semakin banyak minimarket yang buka dimana-mana. Membuat penjualannya jadi sepi pembeli. Tapi, ibu Sri berkata bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, beliau berkata bahwa kita semua harus sabar menghadapinya.
Saat tahun 2006, ibu Sri Wedari ternyata sudah berjualan di Pasar Pundong. Beliau bercerita tentang bagaimana dashyatnya gempa dan pasar runtuh. Ada sekitar 80 guncangan yang terjadi. Pasar Pundong yang berada tepat diatas titik gempa pun tak kuat menahan guncangan tersebut.
Kerennya, Pasar Pundong yang sedang direnovasi itu. Ternyata masih memiliki beberapa infrastruktur dari jaman Londo duku. Bahkan besi penyangganya saja juga dari jaman Londo.
Setelah berbincang, ibu Sri merekomendasikan kami untuk makan gethuk pink yang berada disebelah mbah penjual kue cucur tadi!
Jujur, aku bisa tau kenapa gethuk yang berwarna merah muda itu bisa terkenal! Rasanya enak banget! Harus coba deh. Kelapanya kerasa dan manis. Kami pun membeli seharga Rp 2000 yang kemudian diberikan ekstra.
Sebaiknya kalau ingin beli, kalian wajib datan pagi! Ibu ini loyal banget sama pembelinya! Kalau sudah pesan, tidak mungkin akan dijual. Saat berada disana saja, sudah banyak sekali orang yang ia tolak ketika ada yang ingin membeli.
Kami kemudian berjalan kearah keramaian ada. Sepertinya ada ayam yang sedang ditarungkan. Jujur, sangat tidak nyaman berada disana. Banyak sekali laki-laki yang menatap kami dan menawari kami dengan jualan mereka. Jadi, aku memilih mundur dan pergi kearah lain.
Kami kemudian berjalan ke area dimana burung-burung dijual. Saat kami bertanya ke salah satu penjual, ia terlihat sangat tidak suka dan hanya jalan begitu saja hahahaha. Sepertinya, karena ia tau kami hanya ingin bertanya dan tak tertarik membeli salah satu dari jualannya.
Kami kemudian berjalan kearah pengrajin besi! Disini sebenarnya berisik banget! Tapi, satu hal yang kupelajari adalah tentang perbedaan cangkul dari daerah Sleman dan Bantul.
Kalau dari Sleman, mereka hanya akan menggunakan 1 besi. Berbeda dengan Bantul yang akan menggunakan 2 besi yang digabungkan. Sang pengrajin juga bercerita bahwa, pekerjaan ini sudah turun-temurun dalam keluarganya. Ia membuat banyak sekali macam pisau dan juga cangkul.
Setelah itu, kami kembali ke tempat dimana Kak Inu berada. Kami kembali sekitar pukul 10.30, di warung tengah pasar. Setelah sadar bahwa belum banyak klip yan kami buat, kami memutuskan untuk kembali memutari pasar sekitar 30 menit.
Saat memutari pasar inilah, dimana kami bertemu dengan pedagang yang menjual banyak aksesoris rambut. Penjualnya bernama bapak Rusdiyani. Sesuatu mencolok mataku dan Aruna, itu adalah scrunchie. Lagi tren banget nih jaman sekarang!
Kalau beli di mall bisa sampai Rp 50000 dan kalau beli ditempat teman akan seharga Rp 15000. Dan ini harganya hanya Rp 2500! Aku bertanya apakah ia membuat ini senndiri yang dijawab dengan tertawa ‘Ya nggak tho mbak‘, ya siapa tau pak.
Bapak Rudiyani ini memiliki inisiatif sendiri untuk berjualan seperti ini. Beliau bilang ‘Pasti laku’. Biasanya beliau akan berjualan di Pasar Pundong saat ‘Wage’ dan saat ‘Kliwon’ akan berada di Pasar Bantul.
Setelah berusaha membuat klip, kami kembali. Sempat bertegur sapa juga dengan ibu Hasiah (mbah penjual cendol), beliau berkata ‘Ayo pulang, atau mampir deket kok’.
Kami kemudian bertemu kakak-kakak dan berjalan pulang. Perjalanan pulang sangatlah panaaaaas. Kali ini malah mobil jarang sekali lewat. Sampai mungkin sekitar 1 KMan kami berjalan ada pickup yang lewat. Kami pun naik dan mendapatkan tumpanga yang menyenangkan!
Kami kemudian sampai dipertigaan, mungkin hanya selang 3 menit bis menuju Kota langsung muncul! Wah, sangat menyenangkan bukan? Kami pun langsung naik dan membayar Rp 5000/orang untuk sampai di Halte Museum Perjuangan.
Selama perjalanan, awalnya kami sempat bercanda gurau tapi, lama-kelamaan kami hanya dian dan mengistirahatkan badan.
Setelah sampai di Halte, kami benar-benar langsung pulang karena kebetulan aku ada acara sore hari itu.
Kami masuk Trans Jogja pukul 12.59 dan menghabiskan sepanjang perjalanan bermain filter Instagram dan Snapchat (jarang banget lho kita!). Bahkan bisa dibilang kami berisik didalam bis hahahah untungnya bis tidak terlalu rame sih.
Sampai di Condongcatur, kami pergi ke kamar mandi dan langsung mengayuh pulang. Jalanan sungguh panas. Bahkan, aku dan Aruna berhenti cukup sering hanya untuk berteduh dan minum air putih. Setengah jalan menuju rumah, kami memutuskan untuk mencoba hitchhiking lagi! (Kami melihat ada 2 pickup tanpa muatan lewat). Kami berhenti disebuah restoran. Sempat meminta air putih juga (kami sudah mencoba membayar tapi, ia tidak mau).
Sekitar 5 menit kami menunggu dan … sayangnya, tidak ada. Kami pasrah dan mengayuh sepeda secara pelan-pelan sampai rumah. Oiya, anehnya juga saat bersepeda pulang, aku jadi melihat banyak bis kota lewat! Ada sekitar 5 dari utara dan selatan.
Overall,
- Harus bisa menguatkan kerjasama! Masih kurang banget disini.
- Cuek tapi waspada.
- Jangan pernah lupa untuk tanya nama 🙂
Sekian, maaf kalau banyak salah dalam penulisan!
Warm hugs!