Setelah pertemuan pertama kami pada hari Selasa, kami langsung mendapatkan tantangan pertama untuk Triwulan Pertama ini! Tantangan minggu pertama adalah pergi ke markas tanpa diantar orangtua dan naik ojek online. Bisa bersepeda, jalan kaki, naik transportasi umum, dan transportasi lainnya.
Sewaktu pertama kali membaca tantangan, bayanganku pertama memang langsung jatuh naik Trans Jogja atau biasa disebut TJ. Lalu, dari rumah naik sepeda ke terminal Condongcatur.
Kenapa Condongcatur? Karena, dari rumah ke terminal Condongcatur ada yang biasa kusebut jalan tikus! Jadi, kita tidak perlu melalui jalan besar seperti Jalan Kaliurang.
Karena belum tau halte apa yang ada disekitar markas Jaladwara, aku pun menyempatkan diri malam sebelumnya untuk mencari.
Ternyata ada 2 halte yang dekat, yaitu Sugiono 1 dan Katamso 1.
Aku pun mencatat nama halte dan mulai mempersiapkan barang untuk esok hari. Setelah memasukkan dompet, logbook, kacamata, parfum, pulpen, botol minum, note, topi, dan kunci sepeda ke dalam tasku, aku lalu beranjak ke atas tempat tidur untuk terbang ke alam mimpi.
Jam 05.10 WIB
Pagi hariku dimulai dengan suara pompa air yang menyala sangat kencang. Saking kencangnya, aku sampai kaget dan hampir terjatuh dari tempat tidur. Tak lama setelah itu, ayahku masuk ke kamar untuk menyuruhku sholat shubuh. Aku pun segera duduk dan mengumpulkan nyawa untuk pergi ke kamar mandi.
Selepas wudhu dan sholat, aku beranjak pergi ke dapur untuk memasak air hangat. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, memasak air untuk mandi (jogja klo pagi dingin!). Sambil menunggu air mendidih, aku pergi ke kamar untuk mempersiapkan pakaian. Memilih baju adalah pekerjaan tersulit di pagi hari! Meskipun pada akhirnya berakhir dengan baju yang dipakai beberapa hari lalu hahaha. Tak ingin lama menunggu, aku pergi lagi ke dapur untuk mengecek air. Air sudah cukup hangat, belum sampai mendidih tapi cukup hangat. Aku pun pergi mengambil handuk dan ember kecil untuk menuangkan air tersebut ke ember di kamar mandi.
Tepat pukul 05.38 aku sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian. Entah mengapa, cacing-cacing di perutku sudah meminta asupan pagi. Padahal biasanya mereka meraung-raung sekitar jam 7 pagi. Aku pun mencoba melupakan rasa lapar itu dengan, mengeringkan rambut dan menyisir rambut. Setelah itu aku mengisi botol minumku dengan air dan berjalan ke pintu depan untuk menggunakan sepatu. Yap! Aku berangkat cukup pagi karena harus mampir ke rumah Aruna. Aku lupa bilang bahwa sepedaku berada di rumahnya sejak pertengahan September hehehe, kebetulan waktu itu aku hendak pergi dengan Aruna jadi aku bersepeda ke rumahnya dan pulang dengan gojek. Selepas itu aku langsung ke rumah nenek untuk 2 minggu, jadi tak ada yang bisa mengambil sepeda Federal warisan eyangku itu.
Di pagi hari itu, jalanan banyak motor yang berlalu-lalang. Orang-orang hendak berangkat kerja dan sekolah. Ada banyak juga suara ayam berkokok dan anak-anaknya. Aku lalu melewati sebuah rumah yang terdengar dengan jelas suara minyak panas dari luar. Tepat setelah aku berbelok kiri, aku berpapasan dengan tetanggaku. Ia melihatku lalu berkata ‘Loh kok jalaan?’ tapi tidak sambil memberhentikan motornya. Akhirnya aku hanya tersenyum untuk membalasnya. Kemudian seiring aku berjalan, aku mulai bisa melihat sang surya yang sangat berwarna oranye pagi itu. Lalu melewati sebuah minimarket Raya yang masih belum ada pembelinya sama sekali.
Saat jalan mulai menurun, aku agak kesulitan berjalan. Karena, tidak ada jalan untuk pejalan kaki. Ada gundukan pasir yang menghalangiku jadi aku harus menepi ketika truk lewat. Tiba-tiba perutku kembali meminta pertolongan, ditambah lagi jalanan mulai menanjak (percayalah, jalanan dari Jl. Kaliurang ke rumahku itu naik turun layaknya bukit). Setelah jalan menanjak, ada tanjakan lagi yang lebih menanjak! Yay, legs workout! Sepanjang jalan menanjak aku bisa mendengar suara tokek, ayam, dan orang-orang yang sedang menyapu halaman mereka. Dan juga aku sudah hampir sampai!
Tepat jam 06.15 pagi aku sampai di rumah Aruna. Aku sudah bisa melihat tasnya di depan rumah dengan sepedanya. Tak lupa, si federal juga ada di sampingnya. Ia keluar lalu menyapaku dan kembali masuk kedalam. Sembari menunggunya aku mengikat ganda tali sepatuku dan mengecek kabar federal. Dan tebaklah apa yang terjadi, ban nya agak sedikit gembos. Setelah Aruna keluar dari rumahnya, ia pun menawariku memompa ban. Tapi kutolak karena ban nya memiliki kunci yang berbeda. Aruna juga sempat kebingungan dengan tas gitarnya yang besar itu. Setelah mencari posisi nyaman dan aman untuk bersepda kami pun berangkat dengan masalah masing-masing :b
Sebelum kami pergi ke terminal Condongcatur, aku memutuskan untuk melihat bengkel yang biasa aku lewati. Dan ternyata masih tutup! Padahal sudah lumayan berat untuk dikayuh. Sembari memutar balik arah karena tidak jadi pergi ke bengkel, kami melihat sebuah kunci motor yang terjatuh. Untungnya sih, tidak ditengah jalan. Jadi, kami hanya melewatinya begitu saja. Jalanan kemudian agak menanjak, membuatku agak tersengah-sengah dan orang-orang mulai melihati sepedaku yang tua dengan ban gembos(Life’s great!). Karena mulai kecapekan aku pun memberhentikan sepeda dan minum air putih. Setelah itu, kami memulai untuk mengayuh kembali.
Di jalan itu tidak banyak rumah penduduk, kanan dan kiri semuanya dipenuhi dengan lahan hijau segar dan petani yang sudah bekerja. Kami juga melewati bunga matahari yang berdiri tinggi, mengingatkan kami pada lagu Sunflower milik Post Malone yang langsung dinyanyikan saat itu juga. Tetangga ada yang lewat lagi! Memang sudah menjadi jalur favorit warga sekitar untuk menghindari Jalan Kaliurang. Kakiku sudah mulai terasa pegalnya sampai kami harus berhenti lagi hehehe. Belum setengah jalan saja sudah keringetan! Aruna juga sudah menawariku untuk bertukar sepeda tapi aku tolak mentah-mentah. Lalu, kami lanjut jalan dengan memilih jalur yang tidak menanjak. Jalannya lumayan besar jadi kendaraannya semakin ramai.
Karena jalanan mulai menurun, sepeda tidak terlalu terasa begitu berat lagi. Ya lumayan lah! (daripada pulangnya nanti). Seiring mengayuh aku bisa mencium banyak asap. Orang-orang masih banyak yang membakar sampah. Sampai aku harus beberapa kali menahan nafas agar tidak menghirup asapnya. Kami sempat berhenti sebentar untuk melepas jaket yang kami kenakan dan minum. Orang-orang juga sedang bersiap untuk membuka bisnis mereka. Sampai ada yang menawari kami untuk mampir. Tapi, hanya kubalas dengan senyuman karena percayalah, yang ada dibayanganku hanyalah sampai di terminal secepatnya! (Sedashyat itu gempornya sampai laparnya perut tidak terasa. Bahkan aku juga tak tau kalau Aruna ingin mampir). Kami pun mengayuh lagi. Saat sudah dekat aku sempat melihat tempat tambal ban yang masih tutup dan berencana untuk kesana pulangnya nanti. Jalanan mulai ramai, tapi kami tak kesulitan untuk menyebrang jalan masuk ke terminal.
Sekitar pukul 07.00 pagi, kami sampai di terminal. Sudah ada 2 bis yang datang pagi itu dan salah satunya adalah bis 2A (bis yang akan kami naiki). Karena Aruna lupa menggunting kunci sepedanya yang baru itu (masih disegel), ia harus pergi ke dalam terminal dan meminjam gunting. Lalu kami sibuk mengunci sepeda. Tepat saat kami selesai, bisnya pun berangkat (persis drakor banget!).
Kami pun memasuki halte dengan penuh keringat. Setelah memastikan bis yang kami harus naiki itu benar 2A (menandakan kami harus nunggu sekitar 15 menit). Kami pun masuk dengan membayar Rp 7.000/ 2 orang. Di dalam cukup ramai, mungkin juga karena ini pusat dari semua jalur. Dan yap! Kita bau banget :0 Sambil nunggu bis dateng, kita mencatat beberapa hal di buku dulu. Saat sedang sibuk mencatat, tiba-tiba masnya mengucapkan destinasi bis dengan sangat cepat. Ternyata itu bis kita! Kaget sampai hampir panik. Kami langsung mengambil tas dan mengantri masuk.
Didalem lumayan dingin. Aku duduk didekat pintu, sebelahku ada seorang mbak-mbak yang masih agak muda kelihatannya. Ia lalu menggeser tempat duduknya (ini entah karena mencium aroma tubuhku atau memberi jarak agar Aruna bisa menaruh gitarnya). Di bis itu ada 8 penumpang termasuk aku dan Aruna. Semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang main hp, baca koran, melihati perempatan kentungan yang macet, dan telfonan. Lagu di bis ini juga up to date banget! Soalnya muter Prambors FM, radionya anak jaman now hahaha. Aku sempat terkaget karena mendengar lagu Ariana Grande – 7 Rings. Di perempatan kentungan, kendaraan dari arah Selatan banyaaaak bangeeeet. Kami berhenti cukup lama disitu karena lalu lintas yang padat dan konstruksi yang ada. Bahkan, ibu-ibu yang membawa keranjang jualannya di depan menjadi penasaran sampai berdiri dan mendongakkan kepalanya.
Saat sampai di terminal Jombor, seorang bapak-bapak yang duduk di belakang keluar dari bis. Aku lalu memutuskan untuk pindah di belakang (dari dulu emang suka duduk di belakang hehe). Ada 2 orang yang masuk dari terminal jombor. Mereka tidak lepas dari hp masing-masing bahkan sampai duduk. Jam menunjukkan pukul 7.42, aku mulai merasakan perut ini berbunyi huhu. Tiba-tiba mbak-mbak kondektur memulai percakapan dengan pengemudi bis dengan bahasa Jawa ‘Lho kok nggak belok kanan?’ ‘Weh iya, lupa’ jawab pengemudi bis itu, tetapi kemudian dibalas lagi ‘Oh yaudah nanti saja’. Disitu aku dan Aruna saling menatap satu sama lain. Apakah ada halte yang terlewati? hmmmm tidak tau. Besok waktu kita naik lagi akan kucari tau! Kemudian bis melewati sekolah dasarku dulu, wah kangen banget. Aku bisa melihat anak-anak kecil sedang melakukan kegiatan luar kelas, mereka bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran.
Seiring bis berjalan, aku mulai sedikit mengantuk. Suasananya enak sih! Apalagi bisnya dingin (katrok banget kan aku). Kemudian, kami sampai di Jalan Malioboro. Percayalah, semua orang kecuali aku dan Aruna turun di jalan ini. Tidak langsung semua sih, di jalan itu kan ada 3 halte. Malioboro 1, Malioboro 2, dan Malioboro 3. Bis lalu kembali melaju. Aruna kemudian mulai berbincang dengan sang kondektur bis. Ternyata beliau sudah bekerja selama 6 tahun dan bekerja 12 jam sehari di TransJogja. Kemudian aku bergabung dan melontarkan pertanyaan
‘Mbak, halte Katamso 1 udah deket belum ya?’
‘Lho barusan itu mbak’ jawabnya
Aruna dan aku kaget. Tapi, kemudian aku menanyakan lagi
‘Oh, kalau Sugiono 1?’
‘Itu tadinya lagi mbak’ jawabnya lagi
Waaaah bagaikan apapun aku sangat kaget dengan itu, ditambah lagi halte selanjutnya sangat jauh. Kami harus menyebrangi 3 lalu lintas dulu.
Akhirnya, mbak-mbak konduktor merekomendasikan kami untuk turun di halte RSI lalu menyebrang ke halte PSKY.
Kami pun berterimakasih dan jalan keluar bis. Untungnya halte RSI dan PSKY tidak terlalu jauh. Hanya menyebrang lalu berjalan sekitar 200 meter sudah sampai.
Kami pun membayar Rp 7.000/2 orang lagi untuk menaiki bis jalur 2B.
Di halte itu jauh lebih sepi. Mungkin karena halte kecil juga. Kami menunggu lumayan lama sampai jam 7.24 yang dihabiskan untuk berbincang.
Saat bis datang, kami pun bersiap masuk. Di dalam cukup ramai, belum sampai 5 menit kita masuk sudah ada berita yang kami dengar, SMA 1 Wirobrajan kebakaran. Sepertinya mbak-mbak kondektur mendapatkan info itu dari grup sesama kondektur TransJogja yang lain. Karena, ia berkata ‘Iya si /nama temannya/ lewat depannya tadi’ dengan bahasa Jawa. Oiya, di bis ini lagunya lebih ke dangdut. Sampai ada seorang ibu yang menggerakkan tangannya sesuai irama kendang hahaha. Kami lalu turun setelah 1 halte bersamaan dengan seorang ibu-ibu yang pergi ke arah yang sama, kami bahkan menyebrang bersama. Ia juga bertanya kami kuliah dimana #nasibmukanyatua yang kami jawab dengan senyuman ‘Masih SMP dan SMA kok hehehe’
‘Oh, sekolah dimana?’ tanyanya sambil tersenyum
oh no, here we go again
Kami pun menjelaskan bahwa kami anak homeschooling (lupa bilang kalau sekolahnya di Jaladwara, ups!) lalu kami akhiri perbincangan singkat itu. Si ibu juga sepertinya buru-buru untuk masuk ke toko. Setelah beberapa langkah kami dipertemukan dengan jajanan di depan gang. Kami memutuskan untuk membeli beberapa jajanan dengan tempat makan yang dibawa Aruna. Setelah membeli jajanan itu, kami kembali berjalan. Kami berjalan sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, entah kenapa. Kami sampai di markas sekitar pukul 09.00, terlambat 30 menit karena salah turun*add laughing emoji*.
Sampai di rumah Kak Inu….
Kami langsung disambut oleh Kak Rintha yang membukakan kami pintu masuk. Kami pun masuk dan langsung menaruh tas.
Karena kami belum sarapan, kami ijin untuk makan jajanan yang baru kita beli pagi itu. Hmmmm risol dengan isi kentang dan wortel itu terasa cukup lezat (apa karena kita kelaparan?), ditambah dengan donut meses coklat, dan cemplon (kue khas Jogjakarta yang terbuat dari ubi dan singkong dengan isi gula jawa).
Setelah kami selesai makan, kami langsung memulai aktivitas perdana!
Kak Inu keluar dari ruangannya dengan board games. Rupanya kami akan bermain game, yeay!
Game yang akan kami mainkan adalah ‘Melempar dadu’. Jadi, cara bermainnya adalah terdapat 2 buah dadu yang akan dikocok dalam sebuah gelas, lalu juga ada sebuah kertas bertuliskan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dinomori. Berapapun penjumlahan yang dihasilkan oleh 2 dadu tersebut akan menjadi nomor pertanyaan yang harus kita jawab.
Pertanyaannya sih masih sekitar hal-hal favorit, seperti buku, film, hal yang disukai diluar ruangan, mainan favorit, atau makanan favorit.
Oiya, ada challenge-nya juga nih! Kalau kamu mendapatkan angka yang sama untuk kedua kalinya. Kamu harus menunjuk orang lain untuk menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sudah kamu katakan. Melatih otakku banget yang memorinya udah mau njebluk ini hahaha.
Permainan pun dimulai! Seru banget sih, aku pun mulai bisa mengenal kakak-kakak ini dan juga Aruna.
Permainan ini membuat kami sadar bahwa, kami semua adalah orang-orang yang dilupakan oleh sahabat masing-masing. Mari bertepuk tangan dan menangis bersama.
Sesi pertama cukup lama, kami berhenti untuk makan siang. Siang itu menu kami adalah ayam kecap (?) dengan nasi dan sambal. Cukup 2 kata, enak banget! Aku gak bohong.
Setelah itu, aku sholat dzuhur dulu dan kami melanjutkan permainan sesi kedua!
Di sesi kedua pertanyaannya lebih personal. Ada 5 pertanyaan juga yang aku dan Aruna buat. Ada yang menanyakan quotes favorit, lagu favorit, hal yang ditakuti, bahkan kejadian ter-hemsyong yang pernah terjadi.
Permainan kemudian berlanjut ke ‘Never Have I Ever’ disini juga mulai semakin membuka cerita-cerita lama (atau, bisa dibilang aib :> ).
Kami pun mengakhiri pertemuan sekitar pukul 14.00 siang dengan foto didepan markas Jaladwara. Berjalan kembali menuju halte dan menaiki bis nomor 3A.
Di dalam bis ini, lebih banyak diisi oleh siswa-siswi sekolah. Aku pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu siswi.
Ia bernama Ratri (sama dengan nama ayahku T.T) awalnya aku agak bingung bagaimana harus memulai hehe. Tapi, kemudian mengalir juga.
Ratri menggunakan TransJogja karena lebih murah daripada menggunakan ojek online. Ia diantar orangtuanya ke terminal dan dijemput di tempat yang sama setiap harinya.
Setelah itu, aku bertanya ia duduk dikelas berapa yang dijawab ‘Kelas 10’. Wow! Seumuran ternyata. Aku pun langsung mengajaknya berjabat tangan.
Kami pun sampai di Terminal Condongcatur. Sebelum pulang, kami sempatkan untuk pergi ke bengkel yang berada tak jauh dari terminal. Kejadian memalukan pun terjadi.
Ketika bapak-bapaknya sedang mengisikan angin ke ban sepedaku. Tak sengaja, aku melepaskan peganganku ke setir sepeda. Yang membuat setir dan badan sepedanya jatuh ke bapak-bapaknya! Wah malu sekali.
Bahkan beliau sampai berkata ‘Yo nek nggak dipegangi aku susah yo mbak’ (trans bahasa: ‘Ya kalau nggak dipegangi aku susah dong mbak’).
Aku terlonjak. Lalu dengan cepat aku menegakkan kembali posisi sepedaku dan meminta maaf. Kami pun lanjut mengayuh sepeda.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah kafe yang kami lewati. Saat hendak pulang pukul 16.30, aku sadar bahwa sepedaku gembos lagi! Dan ini lebih para. Benar-benar flat, sampai aku hampir terjatuh dari jalan aspal.
Karena hari sudah beranjak gelap, aku pun menyuruh Aruna untuk pulang duluan.
Niat awalnya sih, mau dituntun sampai rumah. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku melihat ada tambal ban. Puji Tuhan!
Dengan setengah berlari aku menyebrang jalan. Sampai si bapak-bapak berkata ‘Gak usah lari, orang bakal sampai’. Aku langsung tersenyum bahagia saat itu juga.
Pengerjaan tambal ban cukup lama. Bahkan aku sempat berbincang sembari bapaknya menambal ban. Hari pun mulai gelap, tambal ban selesai sekitar pukul setengah 6 sore. Ayahku sampai datang karena khawatir bagaimana aku harus melewati jalanan yang gelap (aku belum punya lampu waktu itu. Tapi, tenang saja! Sekarang sudah kok).
Aku pun bersepeda pulang dengan ayah yang berada dibelakang, menyinari jalan dengan lampu sepeda motor.
Ayah sempat menawariku untuk meninggalkan sepedanya disana dan diambil besok. Tapi aku tolak, karena perjanjiannya tidak boleh diantar. Kami kemudian sampai di rumah sekitar pukul setengah 7 malam.
Jadi, ini adalah tantangan pertamanya!
Overall,
hari ini seru, bau, sial, menantang, memalukan, dan menyenangkan! Aku jadi tau banyak hal tentang kakak-kakak Jaladwara dan juga Aruna. Kegiatannya juga rileks. Seru deh, aku jarang main game soalnya hehehe. Hari ini juga aku ditantang banget! Sebelumnya aku gak pernah naik sepeda sejauh itu. Paling cuma sampai minimarket dekat rumah.
Naik TransJogja juga seru. Ramai sama siswa-siswi, entah kenapa aku suka aja. Atmosfernya beda. Mungkin karena dari dulu keinginanku adalah berangkat dan pulang bersama teman-teman(tapi gak bisa karena gaada TransSleman dan TransBantul T^T).
Jadi, segitu aja untuk hari ini. I hope you enjoyed!
warm hugs!