TEDTalk ‘Open Road, Open Life’ by Andrew Evans

a little intro :

Andrew Evans, pria biasa yang melakukan sebuah perjalanan darat dari kota rumahnya, Washington DC menuju Antartika. Perjalanan ini dimulai dari keinginan besar Andrew untuk pergi ke Antartika yang dimana orang lain berkata bahwa hal itu adalah hal yang mustahil jika kamu hanyalah orang biasa. Andrew mencari banyak cara dan mencobanya tapi yang ia temukan hanyalah tour ke Antartika seharga 30.000 – 40.000 dollar Amerika per orang. Andrew tidak menginginkan untuk mengikuti tour, yang ia inginkan adalah sebuah penjelajahan / journey.

opinion timee !

Sebenarnya perjalanan yang dilakukan Andrew Evans sudah pernah saya lakukan sebelumnya dengan keluarga. Mungkin, belum se-ekstrim itu. Tapi, kami sama – sama ingin mendapatkan pengalaman – pengalaman yang tak akan terlupakan di hidup. Pengalaman yang tidak dapat ‘dibeli’. Seperti kata Andrew “You can buy a tour of a country but not the experience of the country“.

Sebenarnya saya juga punya mimpi untuk travelling, melihat berbagai macam negara terstruktur, merasakan bagaimana kehidupan di negara itu, dan suasana di tempat itu bagaimana.

Karena yang saya dapatkan dari video tersebut adalah bagaimana Andrew menegaskan perbedaan dari Tour dan Journey, saya berikan beberapa poin dari sisi Tour dan Journey beserta cerita dari pengalaman saya sendiri.

Peserta Tour :

  • Praktis

Belum lama ini, saya pergi ke Surabaya dengan sebuah Agent Tour yang sudah menjadi langganan kantor ibu saya. Di perjalanan itu yang saya lakukan ya hanyalah duduk manis menunggu. Semuanya sudah disiapkan oleh Agent Tour. Mulai dari kendaraan, tempat makan, tempat beristirahat, destinasi, air minum, semuanya.

  • Perjalanannya memiliki jadwal yang sangat ketat

Semuanya sudah terjadwal dari awal. Baik untuk journey (yang pernah saya alami ya) ataupun Agent Tour pasti punya jadwal / list destinasi yang ingin dikunjungi. Tapi, kalau didalam Agent Tour pasti jadwalnya akan lebih ketat. Apalagi jika Tour nya ada banyak orang. Bagusnya sih, semua orang dipaksakan untuk menjadi disiplin haha. Tetapi, mereka tidak bisa membatalkan suatu acara langsung begitu saja. Waktu itu, tahun 2015 keluarga saya sedang dalam trip ke Penang, Malaysia. Disana, kami bertemu dengan beberapa kawan komunitas ibu saya di sebuah festival. Hari sudah mulai malam kala itu, seharusnya keluarga saya sudah pergi ke destinasi selanjutnya. Tetapi, dikarenakan saya yang masih ingin bermain bersama mereka jadi ibu saya memilih untuk tetap di festival sampai malam tiba. Kalau ikut Tour apakah bisa yaa? XD

Peserta Journey :

  • Mandiri

Semuanya dicari sendiri! Dari sebelum berangkat, hari keberangkatan, hingga sampai di tempat tujuan. Mungkin agak challenging sih ini. Apalagi, kalau destinasi nya bukan daerah wisata / berbeda bahasa. Seperti waktu saya dan keluarga pergi ke Shenzhen, Cina. Mencari makanan halal dan restoran yang ber-alfabet merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan. Waktu itu setelah tersesat karena kebingungan, kami sampai di restoran dengan semua list makanan dalam Bahasa Mandarin dan pemilik yang tak bisa berbahasa Inggris. Untungnya, di dinding restoran terdapat foto-foto makanan dalam menu. Jadi, kami memesan dengan menunjuk foto.

  • Mempunyai target sendiri dalam perjalanannya

Ada yang ingin menyebarkan kebaikan, ada yang ingin tripnya low-budget, ada yang tujuannya belanja, ada yang untuk eksplorasi / pengalaman, dsb. Kebetulan sih saya memang lebih banyak mendengar cerita – cerita trip low-budget dan pengalaman seru mereka. Seperti memilih tinggal di tempat orang lain (Coachsurfing), minum menunggu es cair (biar gratis/lebih murah XD), dan ikut kontes foto.

  • Menerima semua hal mengejutkan yang mungkin saja terjadi

Andre Evans pointed out -> membiarkan semua hal yang terjadi menjadi bagian dari perjalanan. Sesuatu yang baru saya sadari setelah menonton video ini. Dulu, saya pernah nyaris tidak bisa pulang dari Kuala Lumpur karena Gunung Kelud meletus dan bandara Jogja ditutup. Waktu itu, semua agak kacau karena ayah dan ibu harus bekerja keesokan harinya. Kami dipaksa menginap lagi semalam dan kembali ke bandara dengan jawaban yang sama bahwa bandara Jogja masih tutup. Dengan semua bantuan dari kawan – kawan komunitas kami akhirnya bisa terbang ke ibukota tanah air. Pulang ke Jogja pun butuh perjuangan untuk lari – lari menuju stasiun kereta karena jangka waktu yang berdekatan.

Last thought :

Jujur, waktu nonton saya memang sudah bisa membayangkan perbedaan dari Tour dan Journey karena sudah pernah mengikuti perjalanan keduanya. Tapi, beberapa hal yang di point out oleh Andrew Evans memang membuat saya sadar some things are meant to be that way. Terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan (dalam perjalanan atau bahkan hidup) tapi, itu yang membuatnya lebih spesial.

“You can make lots of unexpected things part of your journey”

Mindmap!

Tinggalkan Komentar